Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 91 - Fania Ansley


__ADS_3

Mikko berdiri menghadap ke taman. Punggungnya yang bidang di sandarkan ke pohon mangga yang baru saja berbunga. Matanya yang hitam dan bulat, menatap gadis di depannya tanpa berkedip.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku punya hutang padamu?"


Rania yang sedang memangkas tanaman menggantikan ayahnya, merasa risih dengan sikap Mikko itu. Ini pertama kalinya mereka bercengkerama di rumah, setelah perang dingin menerpa beberapa waktu lalu.


"Bagaimana tadi?" tanya Mikko.


"Kamu dari tadi berdiri di situ tanpa berkedip, hanya untuk menanyakan hal itu?"


"Terus kamu berharap aku mengatakan apa? Merindukanmu?" Seulas senyum terukir di wajah pria muda itu.


Rania pun memasang wajah garang. Sayangnya, perpaduan tubuh yang atletis dan baju kaos hitam yang dikenakan pria itu, membuyarkan semua usahanya.


Walau hanya sepersekian detik, ia kembali terpesona dengan aura yang dipancarkan oleh pria Jawa - Manado tersebut.


"Rania, kamu dan Qiandra itu teman baikku. Dan aku khawatir dengan keadaan kalian sekarang," ucap Mikko dengan nada serius.


"Seperti yang udah diduga, dia membantah semua ucapanku dan menolak untuk kerja sama."


Rania meletakkan gunting tanaman ke rumput. Ia pun kemudian duduk berselonjor di atas karpet alami tersebut.


"Apa kamu sudah mengatakan, siapa orang tua kandungnya?" tanya Mikko.


Rania menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku tidak memiliki bukti yang lengkap. Kalau hanya mengandalkan ingatanku saja, dia pasti nggak akan percaya dan justru semakin menjauhiku."


Mikko manggut-manggut mendengarnya, "Terus, apa rencanamu berikutnya?"


"Entahlah, aku belum memikirkannya," ucap Rania.


"Apa memang sudah pasti, gelang yang kamu katakan itu kunci permasalahan ini?"


Mikko turut duduk di sebelah Rania, menikmati udara sore yang hangat dan bunga-bunga yang menyebarkan bau harum.


"Memang belum pasti seratus persen. Tetapi nggak ada salahnya kan kita coba, jika ingin memperbaiki semua kekacauan ini," jawab Rania sambil menghirup aroma melati yang sedang mekar.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Nona, besok pagi ada meeting dengan dewan direksi, untuk menentukan perwakilan pelaksana tugas di beberapa sektor yang saat ini masih dipegang oleh tuan serta beberapa divisi."


Sania menyampaikan jadwal kegiatan kepada Qiandra.


"Jadi aku besok nggak masuk sekolah lagi? Tanda tangan aku yang menggunung tadi masih belum cukup?" Qiandra merasa sangat lelah.


"Emm... Masih banyak yang harus diurus, Nona," jawab Sania hati-hati.

__ADS_1


"Lalu apa saja pekerjaan dewan direksi, kepala divisi dan ketua tim? Kenapa semua pekerjaan jadi menumpuk? Apa mama dan papa dulu juga begini?"


Qiandra merebahkan tubuhnya di kasur. Beberapa pelayan membantunya melepaskan aksesoris dan menghapus make upnya.


"Maaf, Nona. Tetapi beberapa divisi sekarang sedang kosong, karena terbukti melakukan kecurangan dan penyimpangan." Sania berusaha sabar menghadapi majikannya.


"Dan barusan saya juga mendengar sedikit kabar buruk dari tim fashion."


"Tim fashion?" Qiandra bangkit dari kasurnya.


"Iya."


Sania pun menceritakan kasus Fania yang baru saja terungkap.


"Dewan direksi mendesak, untuk sementara tim fashion dipegang oleh salah satu petinggi yang duduk di sana. Apakah itu Tuan Alberto, atau Dolce M. Sigmon."


"Ya... Itu keputusan yang cukup baik. Aku tak masalah. Mereka berdua memang pakar di bidangnya," sahut Qiandra.


"Tetapi, aku ingin penyelidikan tersendiri tentang Fania," lanjut Qiandra.


"Nona, tim kami sudah menyelidikinya lebih dulu. Ini juga terkait dengan kejadian yang menimpa Nona belakangan ini," ujar Felix.


"Informasi apa yang kalian peroleh?"


"Perusahaan lama yang diduduki Fania, terbukti melakukan kecurangan untuk menggulingkan 'pasar' kita. Sementara surat kontraknya bekerja di perusahaan kita dinilai tidak sah, karena tidak melalui persetujuan dari tim HRD," jelas Felix.


"Hmm.. Begitu, ya? Ada informasi yang lebih spesifik lagi?"


"Dia juga terbukti memiliki hubungan khusus dengan Darrrent, salah satu tangan kanan Tuan Geffie," tambah Sania.


"Anehnya lagi, sejak dulu Fania terkenal sebagai salah satu rival terkuat Nyonya. Tetapi entah bagaimana, kini Fania justru menduduki jabatan penting di perusahaan," lanjut asisten pribadi Qiandra tersebut.


"Kami curiga, kasus menghilangnya Nona waktu itu didalangi olehnya," ucap Felix.


"Begitu, ya?" Qiandra berusaha memuat semua informasi penting tersebut di kepalanya.


Ia merasa sangat lelah dan bingung. Sepertinya di sini hanya dia sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu perusahaan dan orang-orang di sekitarnya.


Ia seperti kehilangan banyak ingatan, dan baru membuat ingatan baru beberapa bulan yang lalu.


Masa kecilnya saja ia tidak bisa mengingatnya.


"Lanjutkan terus investigasinya. Laporkan padaku setiap saat. Aku yakin, mereka memiliki jaringan yang cukup luas," ucap Qiandra.


"Baik, Nona."


Setelah para asisten dan pelayannya pergi meninggalkan kamar, Qiandra kembali mengeluarkan sepucuk surat yang ditemukannya di kamar Chloe.


Ia membacanya berulang kali. Hatinya teriris mengetahui mamanya menyayangi orang lain. Ini mengingatkannya kepada mimpinya yang selalu merasa kesepian, walaupun ia di tengah keramaian.

__ADS_1


Apakah mungkin itu bukan sedekar mimpi, melainkan hal yang nyata?


Ia pun baru tersadar, ia tidak mengenali siapa pun anggota keluarga mama dan papanya. Tidak ada sepupu, tidak ada paman dan bibi. Ia hanya mengenal sang kakek, itu pun tak pernah mengakuinya sebagai cucu.


"Ke mana seluruh keluarga mama dan papa di saat mereka tersangkut kasus begini? Apa aku memang bukan anak kandung keluarga ini? Lalu bagaimana aku bisa berada di sini?"


Berbagai macam pikiran muncul di kepala remaja tujuh belas tahun tersebut.


Tok... Tok... Tok...


"Siapa, ya? Sepertinya aku nggak ada memanggil siapa pun?"


Qiandra melompat dari kasurnya dan membukakan pintu.


"Permisi, Nona. Ini air hangat dan buah anggur untuk cemilan malam."


"Terima kasih. Letakkan saja di dalam." Qiandra berbalik badan dan mempersilakan pelayan tersebut masuk.


Deg!


Langkah kaki Qiandra tiba-tiba berhenti. Demikian juga seluruh aliran darah di tubuhnya.


"Ge-genie?" gumam Qiandra.


"Benar, Nona. Ini aku. Aku merindukan Nona... Hihihihi...."


Suara wanita di belakang Qiandra berubah menjadi berat dan datar.


Hihihiiii....


Bruk!!!!


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Dari tadi senyum-senyum mulu. Lagi senang, ya?" tanya Rania pada sang adik.


Sejak pulang sekolah tadi, seulas senyum terus mengembang di wajahnya yang mungil. Matanya yang bersinar cerah juga menunjukkan, bahwa tubuhnya banyak melepaskan hormon serotonin ke seluruh tubuhnya.


"Hmm... Kakak tahu, nggak? Aku diundang di summer show minggu depan. Aku boleh membawa satu orang pendamping," ucap Livy.


"Oh, ya?" ucap Rania turut gembira. "Kasus yang menimpa perusahaan, ternyata tidak berdampak pada kegiatan itu, ya?"


"Awalnya memang agak terganggu. Tetapi akhirnya kembali berjalan dengan baik," jawab Livy. "Tapi yang lebih hebat lagi, mereka mengundang model internasional kelas atas. Wow..."


"Iya, kah? Siapa?" Rania ikut penasaran.


"Audrey Eikberg."


"Hah, siapa? Audrey Eikberg?"

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2