
“Ah, sudah mulai musim hujan rupanya,” gumam Chloe.
Telapak tangannya yang halus menampung tetessan air hujan, yang berjatuhan dari atap balkon. Udara dingin menyelimuti dirinya, yang hanya berbalut blouse sederhana. Bola matanya menyapu seluruh pemandangan dari lantai dua rumahnya.
Jauh dari pandangannya, terdapat sebuah perkampungan yang sederhana yang didominasi warna coklat atap rumah dan hijaunya kebun yang sedang bermandikan hujan.
“Entah sejak kapan, aku berpindah dari tempat penuh kenangan itu,” ujarnya. Tangannya memegang lembaran foto yang diberikan Wilson beberapa hari yang lalu.
“Hahhhh…” Chloe menghembuskan napas dalam-dalam. Pikirannya melayang ke masa dua puluh lima tahun yang lalu, di sebuah kota metropolitan.
Hujan rintik-rintik membasahi semen dan paving block berlumut di belakang kompleks pertokoan. Seorang gadis mungil bermata biru, berjalan terseok-seok di antara rintik hujan yang membasahi kulitnya yang halus bak sutra. Tangannya saling menggenggam, menghambat emisi panas dari tubuhnya. Kakinya yang kecil dan ringkih beberapa kali tersandung di jalanan yang berlubang.
Hatinya yang kalut tidak mengenal rasa takut. Pikirannya hanyalah dipenuhi oleh sosok pria paruh baya yang kini berbaring seorang diri di sebuah rumah reot.
“Pa, bertahanlah,” tangis gadis kecil itu. Hatinya dipeuhi doa dan harapan, semoga masih ada cukup waktu sampai ia kembali.
Perutnya yang memberontak kejam, tak dihiraukannya. Sejak siang tadi belum ada diisi apa pun selain air putih. Akan tetapi tekad di dalam tubuhnya, bagaikan sumber energi ekstra yang mampu membuatnya berjalan ditengah gelap dan dinginnya udara perkotaan.
Tok… tok… tok…
“Permisi, dokter.” Gadis kecil itu menyerukan suaranya yang kian lemah.
Ckeklek! Sebuah pintu besi terbuka.
“Ya, ada apa?”
“Ayah saya sakit. Bisakah dokter memeriksanya di rumah. Saya mohon,” pinta remaja tiga belas tahun itu dengan air mata berlinang.
“Ehm… Tetapi saya bukan dokter. Saya hanya istrinya, dan suami saya sedang bertugas di rumah sakit,” jawab wanita usia tiga puluhan itu dengan ketus.
“Oh, begitu ya? Baiklah, maaf saya mengganggu.” Gadis itu membalikkan badannya. Kepalanya berpikir keras, ke mana lagi ia harus pergi?
“Kenapa tidak kamu terima saja dia?” seru seorang pria dari dalam rumah.
“Sepertinya dia orang miskin. Bagaimana dia membayar kita nanti? Kita juga butuh uang untuk hidup,” jawab wanita tadi dengan ketus.
__ADS_1
Gadis yang masih belum beranjak jauh dari rumah itu mendengar semuanya. Ia ingin mengeluh, tetapi menghela napas pun rasanya tak pantas. Itu adalah klinik ketiga yang didatanginya, dan semuanya menolak untuk membantu.
Meski usianya sangat belia, gadis itu tahu betul. Di dunia yang kejam ini, sedikit sekali manusia yang memiliki hati nurani. Mereka semua bergerak karena uang dan tahta. Para aristokrat kaya lah yang berhak merasakan nikmatnya kehidupan, bukan orang miskin dengan kasta terendah seperti dia.
Meski demikian, asanya tidak patah. Ia terus berjalan ditemani rintik hujan mencari pertolongan untuk sang ayah. Dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki remaja itu saat ini. Jika pria itu pergi, maka gadis itu akan menjadi sebatang kara yang hina di tanah yang asing ini. Dan diantara jutaan jutaan manusia berhati iblis, pasti ada satu malaikat yang mampu menyelamatkan hidupnya. Ia yakin itu.
Ceplak! Ceplak! Ceplak!
Terdengar suara langkah kaki di belakang remaja bersweater hujau tua itu. Jantungnya berdegup kencang, ia mempercepat langkahnya. Namun tak dikira, langkah kaki itu kian mempercepat langkahnya juga, mengikuti jejak remaja itu ke sebuah jalanan yang cukup besar.
Greb!
“Aaaaa…!” pekik gadis itu ketakutan.
“Hei, Dik. Tenanglah. Aku tak berniat jahat padamu.”
Gadis berwajah blasteran itu membuka matanya. Sosok wanita muda nan ayu berdiri tepat di sampingnya. Bulu matanya sangat lentik, rambutnya diikat rapi. Ia menggunakan seragam sebuah restoran cepat saji. Yang terpenting, tidak terpancar aura jahat dari wajahnya.
“Maaf kalau aku menakutimu. Tetapi apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu di tengah malam begini? AKu sudah memperhatikanmu sejak di depan minimarket tadi,” tanya wanita itu.
Mata gadis kecil itu berkaca-kaca. Inikah sosok malaikat yang akan menolongnya? Sedari tadi ia berjalan, tak seorang pun yang menegurnya, apalagi bertanya? Mereka semua memalingkan wajah, menutup hati nurani mereka agar tidak terlibat kehidupan kelam orang kasta rendahan seperti dirinya.
“Hmm… yah… selama aku bisa memenuhinya,” kata wanita itu.
“Ayahku sakit keras. Aku tidak tahu ia sakit apa. Tetapi saat ini ia sedang sendirian dan butuh pertolongan medis,” kata remaja itu lantang.
“Apa katamu? Di mana rumahmu? Aku punya kenalan seorang mantri. Semoga bisa membantu,” seru wanita itu.
Tanpa menunggu lama, kedua wanita itu berlari di tengah kegelapan, membelah jalanan kota metropolitan yang megah namun kumuh di belakangnya. Gedung-gedung yang dibangun tidak beraturan, bagaikan labirin yang membingungkan orang yang melaluinya. Mereka bergerak secepat kilat, sebuah nyawa sedang menunggunya di rumah.
“Papa!”
“Eilaria. Kamu datang, Nak,” ucap pria itu tak berdaya.
“Bertahanlah, Pa. Aku sudah membawakan bantuan,” ucap gadis yang bernama Eilaria itu.
__ADS_1
Seorang mantri dan seorang wanita yang masih berseragam restoran cepat saji, menyeruak masuk ke dalam rumah tak layak huni itu. Hampir seluruh atapnya bocor. Dinding rumahnya yang terbuat dari papan dan triplek bekas, seperti tak mampu menahan terpaan angina di atas kecepatan rata-rata. Tanpa banyak bicara, mantri berusia sekitar empat puluh tahun itu, menyelamatkan nyawa seorang pria lemah tak berdaya.
“Untuk sementara masa kritisnya telah lewat. Tetapi tetap harus dirawat intensif di rumah sakit. Peralatan medis milikku tidak mampu untuk menyembuhkannya. Ia menderita TBC dan gerd lambung yang cukup parah,” ujar pria tanpa jas putih itu.
Ayah Eilaria, kini sedang tertidur dengan lelap. Putrinya kini bisa sedikit tersenyum, “Terima kasih Pak Mantri, Kak,” ucapnya.
“Syukurlah. Terima kasih, Pak,” kata wanita dari restiran ceat saji itu. “Dik, papamu sudah selamat. Kamu berhasil menyelamatkannya.” Wanita itu memeluk erat gadis remaja yang terus mengigit bibirnya menahan tangis haru.
“Apa kamu punya asuransi kesehatan dari swasta atau pemerintah?” tanya sang Mantri yang belakangan diketahui bernama Alfarobi itu.
“Tidak ada. Kami di sini hanya imigran yang terbuang,” ucapnya lirih.
“Jangan menangis, Nak. Bapak akan membantumu,” ucap Pak Mantri. “Kami akan mengantarmu ke rumah sakit besar, agar ayahmu bisa dirawat dengan baik oleh dokter di sana,” lanjutnya.
“Terima kasih Pak Mantri, Kak…” ucap Eilaria cilik itu berulang kali.
“Jenni. Panggil aku Jennia,” sahut Jennia. Wanita berusia sembilan belas tahun yang bekerja paruh waktu di restoran cepat saji dan cleaning service di klinik Pak Alfarobi.
“Pak, nanti biaya perawatannya diambil dari gaji saya saja, ya,” bisik Jennia.
“Tidak usah. Kamu cukup menemani mereka hingga sembuh. Biaya akan saya tangani,” ucap Pak Mantri.
“Tetapi saya yang membawa Bapak ke sini,” bisik Jennia lagi.
“Tidak Jennia. Kamu pakai saja uang itu untuk sekolah kamu. Penghasilan Bapak masih bisa disisihkan sedikit untuk membantu mereka,” ucap Pak Mantri tulus.
“Aku sangat merindukannya,” bisik Chloe seorang diri. Puluhan tahun berlalu.
Puluhan tahun berlalu, Chloe tak pernah sehari pun melupakan gadis bernama Jennia itu dalam ingatannya. Atas bantuan kedua orang baik hati itu, Chloe Eilaria Vander, yang kini lebih dikenal dengan Chloe Eilaria Austeen masih bisa hidup nyaman dengan ayahnya.
Setelah keadaan ayahnya sedikit membaik pada saat itu, Jennia pun berpamitan untuk kembali melanjutkan pendidikannya di kota lain. Chloe yang tak memiliki apa-apa, hanya bisa memberikan sebuah cendera mata peninggalan neneknya sebagai ucapan terima kasih.
Sejak saat itu, kabar tentang gadis berhati malaikat pun menghilang. Bahkan Pak Mantri yang dikemudian hari menjadi ayah angkat Chloe, tak lagi menemukan jejaknya.
Awan mendung dan rintik hujan, perlahan digantikan dengan sinar mentari berwarna lembayung. Hembusan angin pun sedikit menghangat. Seperti halnya kerinduan Chloe yang mulai terobati. Apakah wanita dalam foto itu Jennia yang ia kenal?
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...