Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 65 - Gelang dan Teman Ibu


__ADS_3

Blam!


Chloe membanting pintu mobilnya cukup keras. Hatinya masih kesal karena gagal menemui Jennia Putri.


“Dasar wanita ambisius. Semua hal dianggap persaingan.” Chloe mengomel sepanjang jalan.


“Livy Talisa Putri. Aku ingat banget, dia itu salah satu kandidat pemenang lomba design kemarin. Tak kusangka, dia adalah Putri Jennia Putri.”


Chloe masih belum bisa mengalihkan pikirannya dari Jennia dan putrinya.


Hampir saja ia melaju di tengah lampu merah.


“Tunggu dulu! Jika dia dikontrak di Aslee Fashion, artinya memperbesar kemungkinan dia akan kembali ke kantor. Aku bisa lebih mudah untuk bertemu Jennia.”


Setelah lampu hijau menyala, Chloe kembali menginjak gas.


Tangan kirinya merogoh tas mencari ponsel.


“Siang, Tasya.”


“Siang, Bu.” Seorang wanita menjawab telepon Chloe di seberang sana.


“Apa saya bisa mendapatkan kontak Livy Talisa Putri?”


“Maaf, Bu. Kami tidak boleh memberikan informasi tentang tim designer tanpa izin ketua tim, Ibu Fania Ansley.”


“Oh… begitu, ya. Nanti aku tanyakan saja langsung padanya,” ujar Chloe.


“Baik, Bu.”


Chloe merasa kesal tapi nggak bisa marah. Karena memang seperti itu aturan pekerjaan mereka.


Saat ini Chloe tidak menangani lagi Aslee Fashion. Ia menyerahkannya pada Qiandra, putrinya.


Saat ini Chloe lebih focus pada CL cosmetics.


Sesampainya di rumah...


"Ma, kenapa aku mesti disibukkan mencari model juga, sih? Aku kan bukan ketua tim lagi?"


Qiandra menyambut sang mama dengan keluhan.


"Shhh... Yang ambil bagian ikut tim fashion kemarin kan kamu sendiri. Ya kamu selesaikan sendiri, dong."


Chloe membalas Qiandra dengan suara tinggi.


Para asisten terkejut. Jarang sekali Nyonya mereka marah seperti ini.


"Aku kan anak mama. Saham terbesar juga papa yang pegang. Masa mama papa sama sekali nggak bisa menolong?" Qiandra masih belum memahami situasinya.


"Ini bukan masalah kamu anak siapa? Atau pemegang saham terbesar siapa?" Chloe berusaha meredam amarahnya agar nggak meledak lagi.


"Tapi ini masalah tanggung jawab. Awalnya kamu sendiri yang ingij memegang tim ini," lanjut Chloe.


"Nah, sekarang malah kamu sendiri yang mengeluh?"


"Gimana caranya aku bisa mendapatkan belasan model hanya dalam waktu satu minggu?" ujar Qiandra.


"Masa tanya sama mama? Yang sekolah fashion dan modelling sampai luar negeri kan kamu."

__ADS_1


"Apa gunanya teman-teman sekolah kamu itu? Berapa banyak follower IG kamu? Ya usaha, dong. Kamu tuh udah dewasa."


Chloe benar-benar melepaskan kekesalannya.


"Hissshh..."


Qiandra menghentakkan kakinya ke lantai. Ia membalikkan badan hendak ke kamar.


Sama halnya dengan sang putri, Chloe pun membalikkan tubuhnya. Meninggalkan tempat itu.


Tapi baru dua langkah, ia kemudian berhenti.


"Kalau kamu bisa mendapatkan kontak dari Livy Talisa Putri, salah satu designer muda yang baru bergabung. Maka mungkin mama bisa membantumu."


Chloe coba membuat kesepakatan dengan putrinya.


Qiandra berpikir sejenak.


"Oke. Boleh aja," ujar Qiandra kemudian.


Qiandra sama sekali tidak terusik dengan sikap mamanya. Menurutnya, ia sudah biasa diperlakukan tegas dan dingin.


🌺🌺🌺🌺🌺


Tok! Tok! Tok!


"Iya, masuk," seru Rania.


"Makan malam dulu, Nak," ajak ibu.


"Iya, Bu."


 "Hehehe... Rania lagi bersih-bersih, Bu."


"Nanti saja lanjutkan. Kita makan malam dulu," ujar ibu.


"Bu, aku boleh tanya sesuatu?"


"Hmmm... Soal apa itu?" tanya ibu.


"Gelang ini. Kenapa kita mempunyai gelang mahal seperti ini? Apa ibu menabung dulu?" Rania menunjukkan gelang kemarin.


Ibu duduk di samping Rania.


"Kamu penasaran kali, ya? Dari kemarin tanyain ini mulu."


Rania mengangguk kuat.


"Gelang ini diberikan oleh salah seorang teman Ibu. Udah lamaa... banget." Ibu memulai ceritanya.


"Teman Ibu?"


"Hu'um. Waktu itu kami bertemu secara nggak sengaja, lalu berteman baik. Entah mengapa, suatu hari, dia memberikan gelang ini pada ibu."


"Wah... Apa dia anak orang kaya?" Rania masih belum bisa menebak siapa teman ibu.


Ibu menggeleng.


"Dia bukan orang kaya, bahkan bisa dibilang saat itu dia sangat kesulitan ekonomi," jawab ibu.

__ADS_1


"Terus kenapa dia memberikan gelang ini?" Rania bingung.


Ibu mengangkat bahu, "Ibu juga nggak tahu. Katanya, Ibu salah satu teman baiknya. Jadi dia memberikan kenang-kenangan."


"Apa Livy juga punya?"


"Nggak. Gelang ini cuma ada satu. Kamu ingat, kan? Ibu memberikannya di ulang tahunmu yang ke-sepepuluh."


Tentu saja Rania nggak ingat.


"Untuk Livy, Ibu sudah menabung untuk membelikannya. Tapi belum cukup," ujar ibu.


"Tapi kenapa malah Ibu berikan padaku? Bukannya lebih baik Ibu yang menyimpan?"


Ibu tersenyum sambil mengelus rambut Rania. "Rasanya lebih bermanfaat kalau Ibu berikan padamu, daripada disimpan aja. Ibu yakin, dia pasti juga senang kalau gelang itu kamu pakai."


Sebuah pertanyaan lagi menggelitik pikiran Rania.


"Di mana teman Ibu sekarang? Apa masih berteman baik?"


"Mungkin saja kami masih berteman baik," jawab ibu sambil tersenyum.


Rania mengerutkan dahinya, "Maksudnya? Dia masih hidup, kan?"


"Ish kamu ini. Tentu aja dia masih hidup. Tapi kami sudah menjalani kehidupan masing-masing."


Ibu menjeda ceritanya sebentar.


"Sekarang dia sudah sukses. Bahkan bisa dibilang dia orang ternama di negeri ini. Ibu sangat bersyukur, dia diberi kelimpahan rezeki sama Allah."


Raut wajah ibu benar-benar terlihat bahagia.


"Wah, apa teman Ibu itu pejabat?"


"Bukan."


"Artis?"


Rania terus memancing informasi dari ibu.


"Nggak juga. Dia pengusaha. Lebih tepatnya model yang kini jadi pengusaha."


"Model? Pengusaha?" Rania terperanjat mendengarnya. "Terus sekarang dia jadi berubah sama Ibu?"


"Kami kan sudah lama nggak ketemu. Meski Ibu masih sangat mengingatnya, tapi Ibu malu kalau sampai mencari-carinya untuk bertemu," sahut ibu.


"Biarlah, masa lalu kami tetap tersimpan dengan indah. Ia menjadi sukses seperti sekarang saja ibu udah sangat bersyukur," lanjut ibu.


"Buuu.... Kok lama? Kita jadi makan malam nggak, nih?Aku lapar banget."


Arka muncul di balik pintu. Ia menepuk-nepuk perutnya yang kempes.


"Waduh, Ibu lupa. Yuk, makan dulu." Ibu beranjak dari duduknya.


Rania memperhatikan gelang emas itu sekali lagi.


"Model terkenal, pengusaha... Tapi dulunya kesulitan ekonomi? Dan gelang itu, aku sangat mengenalinya," gumam Rania.


"Bu." Rania menahan lengan ibunya. "Apa... Teman Ibu itu bernama Chloe Eilaria Austeen?" Rania memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


__ADS_2