
"Ketika kakek dan nenekmu bertemu kembali, kami menikah. Lalu wabah besar melanda Eropa. Nenekmu yang berusaha menolong mereka justru diusir dan dianggap sebagai penyebab kematian ratusan bahkan ribuan orang di sana." Nico mengakhiri ceritanya.
"Benar-benar nggak bisa dipercaya. Nenek yang menyembuhkan mereka malah dianggap penyihir?" Nada suara Rania penuh dengan emosi.
"Yah.. Ada yang bilang kalau salah satu segel mantra di perhiasan nenekmu terbuka tanpa diketahui sebabnya. Seperti ada pemicunya yang tidak diketahui sebabnya," jelas Nico. "Apa mungkin penyebab masalah ini juga karena segel sihir jahat yang terbuka?" lanjutnya.
"Ini persis dengan yang dikatakan Audrey tadi," pikir Rania.
"Tapi apa kakek kenal dengan Nenek Ester?" tanya Rania kemudian.
"Ester? Maksudmu Esthera? Kamu mengenalnya dari mana?" tanya Nico sambil membuka matanya lebar-lebar. Terlihat sekali ia terkejut mendengar nama itu.
"Y-ya. Baru-baru ini aku tanpa sengaja menemuinya. Dan ia juga merupakan pemilik buku sejarah Rumania yang aku pinjam di perpustakaan sekolah," jawab Rania.
"Ternyata dia masih hidup? Di mana kamu bertemu dengannya? Ester adalah teman baik ibumu. Dia adalah seorang perawat yang mengabdikan dirinya di palang merah dunia. Hal itulah yang membawanya sampai ke Indonesia," ucap Nico.
"Ternyata begitu... Aku menemuinya di dalam hutan dekat danau. Saat itu aku takut, apakah dia benar-benar manusia atau bukan," cerita Rania lagi.
"Rupanya dia bersembunyi di sana, ya? Dulu dia memang sempat bekerja di sekolahmu saat baru dibangun. Lalu entah bagaimana, ia dituduh sebagai pembunuh salah satu siswa di sana dan diancam hukuman mati. Dan setelah itu dia pun menghilang."
"Nenek Ester dituduh membunuh?" ulang Rania tidak percaya.
"Setelah dilakukan penyelidikan, tertanya hal itu tidak terbukti. Siswa tersebut memang telah mengalami pendarahan parah sebelum di bawa ke UKS. Tapi Ester tidak pernah kembali lagi sejak itu."
"Ah, apa kamu tahu kenapa kakek tetap mengingatmu meski semua orang melupakannya?" tanya Nico.
"Karena aku mirip dengan nenek waktu muda?" tebak Rania.
"Yah... Itu juga benar. Kamu memang sangat mirip dengan nenek saat remaja. Bahkan jauh lebih mirip dibandingkan mamamu. Tapi, kakek mengingatmu karena namamu."
"Namaku? Kenapa dengan namaku? Padahal semua orang sekarang memanggilku Rania Putri, Bukan Edlyn Rania Austeen," sela Rania bingung.
"Namamu itu bermakna ganda. Bisa diartikan Permaisuri Agung yang cantik dari Bangsawan Austeen. Tapi, kata 'Rania' itu sendiri merupakan akronim dari kata 'Rumania'. Itu sengaja disematkan di tengah namamu, agar kamu tidak melupakan kampung halaman ibu dan nenekmu."
"Aku baru tahu, kalau maknanya sedalam itu," gumam Rania.
"Oh, jadi gitu ceritanya..." Qiandra yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka di lantai dua hanya tersenyum sambil tertawa kecil.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Yah, ternyata Audrey udah pulang ke negaranya. Padahal aku belum sempat bicara lagi padanya," ucap Rania dengan nada kexewa.
Tok! Tok! Tok!
"Ya..."
__ADS_1
Ceklek! Pintu kamar terbuka.
"Pagi, Rania. Sarapan, yuk," ajak Qiandra dengan semangat.
"Wah, gila. Hari minggu gini kamu udah mandi?" sahut Rania.
Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih acak-acakan di tempat tidur, Qiandra justru telah berdandan cantik.
"Loh, emang kenapa dengan hari minggu?" kata Qiandra.
"Iya.. Iya... Aku tahu, tugas tetaplah tugas tanpa mengenal hari."
Rania menggeret tubuhnya dengan malas dari kasurnya yang empuk dan hangat.
"Hei! Hei! Untuk hari ini lupakan dulu tugas-tugasmu. Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama lalu membawamu ke tempat yang menarik," ucap Qiandra dengan mata berbinar.
"Tempat menarik? Bukan mall, kan?" Rania paling malas ke mall.
"Tentu bukan. Sekarang cepatlah bersiap, aku tunggu di meja makan."
Dua puluh menit kemudian...
"Loh, hanya kita berdua? Di mana kakek?" tanya Rania.
"Kakek tadi sarapan bubur di kamar, setelah itu beliau tidur lagi," ucap Qiandra.
"Yah, kakek emang baru tidur mendekati subuh tadi, sih," gumam Rania dalam hati.
Sepanjang malam, kakek menceritakan banyak hal. Ia pun jadi banyak tahu tentang kehidupan mamanya waktu kecil.
"Rania, kok malah bengong? Di makan dong," tegur Qiandra.
"Nggak apa-apa kan sarapan kita ini saja. Baru-baru ini, aku sangat menyukai masakan Indonesia. Atau kamu mau menu khusus yang dimasakkan musliha?" lanjut Qiandra lagi.
"Yah... Gak apa-apa, kok. Ini juga enak. Tapi makin hari kamu makin aneh."
Rania mengambil semangkok bubur kacang hijau dan segelas susu.
"Memangnya menyukai makanan Indonesia itu aneh? Kamu bilang dulu aku selalu sombong, kan? Karena terlalu banyak memilih makanan," kata Qiandra setelah menelan bakwan jagung yang dikunyahnya.
"Apa sejak tinggal dengan mama dan papa, sifatmu juga ikut berubah, ya?" celetuk Rania.
"Huhh? Anggap aja begitu."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1
Seusai sarapan, Qiandra mengajak Rania menyapa para pelayan ke seluruh ruangan bahkan taman. Ternyata beberapa pelayan lama telah berganti. Rania tidak mengenali para pelayan baru itu.
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Rania.
"Tempat yang paling menarik," jawab Qiandra.
Wanita yang baru saja mengubah warna rambutnya menjadi hitam itu, membawa Rania menyusuri lorong hingga ke ruang paling ujung, lalu berhenti di depan sebuah lukisan klasik.
"Mau ngapai kita di sini?" tanya Rania khawatir.
"Kamu ingat, kan, kalau aku cerita tentang ruang rahasia? Akan kutunjukkan ruangan ini padamu."
Qiandra menekan keramik di lantai sesuai pola, hingga dinding putih itu menghilang dan memunculkan sebuah pintu yang tak kalah aneh.
Ceklek! Qiandra membuka pintu itu dengan kunci khusus yang sudah di duplikatnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Aku benar-benar tak menyangka, kalau di rumah ini ada ruangan rahasia gini," gumam Rania.
"Itu belum seberapa." Qiandra membuka lemari dan memperlihatkan tangga ke bawah yang cukup berdebu.
"Ruang bawah tanah?" seru Rania kaget. Ia membuka matanya lebar-lebar, untuk melihat lorong yang tak berujung itu.
"Ya. Mikko pernah menceritakannya padamu, kan?"
"Tidak. Mikko hanya bercerita tentang ruang rahasia. Aku tidak tahu, kalau ternyata ruang rahasia yang dimaksudnya itu ruang bawah tanah seperti ini."
"Apa kau penasaran bagaimana di dalamnya? Tempat ini juga yang menjadi sarang produksi narkoba untuk di jual brbas dan bahan kosmetik."
"Eh, benarkah?" Rania ternganga mendengarnya.
"Ayo masuk. Aku sudah bawa senter untuk penerangan kita," ajak Qiandra.
"Kau lah duluan. Aku tak tahu jalan," kilah Rania. Padahal ia hanya menutupi rasa takut dan khawatirnya.
"Yaudah. Aku duluan nih."
Tanpa ragu, Qiandra menjejakkan kakinya di anak tangga itu. Rania pun mengikutinya.
"Huh, selamat tinggal, Rania," batin Qiandra sambil tersenyum tipis.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1