
"Rania, apa kamu sudah menemukan tempat yang bagus? Di sini pemandangannya sangat bagus. Ikannya juga banyak," seru Geffie dari lembah danau.
"Aku di sini aja deh, Pa. Di sini aku bisa melihat pemandangan danau, hutan dan matahari sore sekaligus," balas Rania.
Ia menyusun peralatan lukisnya di atas sebuah batu cadas datar yang cukup lebar. Tak lupa, ia juga meletakkan sebuah kursi lipat kecil untuk tempatnya duduk.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau butuh apa-apa, nanti panggil Papa, ya," ujar Geffie lagi.
"Oke."
Rania memperhatikan lukisan alam yang sangat elok. Hijaunya hutan pinus yang berdiri cukup rapat, berpadu dengan birunya danau, sangat kontras dengan suasana langit senja yang berwarna jingga.
Matahari yang baru akan turun dari peraduannya, menyala merah, menunjukkan kekuatan panasnya menembus atmosfer bumi. Namun, udara yang sejuk di sekitar danau, mampu meredam panas tessebut tanpa mengurangi keelokan warna sang mentari.
Suara burung-burung yang berciap-ciap di pepohonan juga menambah indahnya suasana sore hari di danau ini.
Rania mulai mengabadikan pemandangan indah itu ke dalam lukisannya. Satu per satu, perpaduan etnik dari warna cat air mengubah warna kanvas yang semula putih polos, menjadi penuh warna yang memanjakan mata.
Sesekali Rania tergelak riang, melihat sang papa melonjak kegirangan ketika mendapat tangkapan ikan yang cukup besar.
Memang, di hari minggu seperti ini adalah waktu yang sangat tepat bagi keluarga Austeen untuk berkumpul bersama keluarga sambil merefreskan kepala.
Di saat itu pula lah, mereka memanfaatkan waktu untum menjalankan hobi masing-masing.
Sayangnya, saat itu Chloe tidak bisa ikut. Rapat dadakan akibat beberapa fashion show internasional yang segera dilaksanakan, membuatnya terpaksa absen dalam liburan keluarga kali ini.
Satu setengah jam kemudian, lukisan Rania hampir jadi. Matahari juga semakin mendekati peraduannya. Dari kejauhan, tampak Geffie mengemas peralatan memancingnya. Mereka harus segera pulang sebelum matahari benar-benar terbenam.
Tiba-tiba, sebuah suara aneh mengganggu indra pendengaran Rania
"Tolong!... Tolong...!"
"Hah? Siapa itu? Kedengarannya seperti suara seorang perempuan."
Rania mempertajam pendengarannya.
"Tolong...!"
Kecepak... Kecepuk...
Kali ini Rania bukan hanya mendengar suara meminta tolong. Tapi juga suara riak air yang membuat gelombang cukup tinggi.
"Astaga! Sepertinya ada yang tenggelam!" seru Rania.
Tanpa menunggu lama, Rania segera berlari menuruni jalanan yang curam untuk mendekati asal suara tersebut.
__ADS_1
Remaja itu meninggalkan peralatan lukisnya yang sangat berharga begitu saja.
"Rania, mau ke mana kamu?" seru Geffie ketika melihat Rania berlari ke arah semak belukar. Ia pun mengejar anak gadisnya tersebut.
"Papa, sepertinya ada orang tenggelam di sana. Aku mendengarnya meminta tolong," teriak Rania.
Geffie memasang telinganya baik-baik. Sayangnya, ia tidak mendengar apa pun seperti yang dikatakan putrinya.
"Wilson! Wilbert! Cepat ke sini. Ada masalah di bawah sini."
Geffie segera memanggil para pengawalnya.
Setelah itu, Geffie kembali mengejar Rania dan juga menahannya agar tidak terus pergi ke arah lembah yang dipenuhi semak belukar.
Tapi Rania justru memberontak, "Papa! Aku melihat seorang gadis melambaikan tangannya. Kita harus segera menolongnya. Kalau tidak, ia akan mati tenggelam," seru Rania.
"Tidak! Jangan menjauh lagi dari Papa. Wilson dan Wilbert akan segera datang untuk menolong gadis itu." Geffie menggenggam erat tangan putrinya agar tidak kabur.
"Ini aneh. Aku tak melihat apa pun yang dilihat oleh Rania. Aku juga tidak mendengar suara meminta tolong," gumam Geffie dalam hati.
Tiba-tiba Geffie teringat obrolan para pengunjung beberapa waktu yang lalu.
"Apa kalian sudah dengar ceritanya? Danau ini sekarang jadi angker."
"Ya, aku juga mendengarnya. Setiap malam terdengar suara tangisan wanita yang merintih dan menyayat hati. Banyak juga yang melihat seorang gadis tenggelam, tapi ujung-ujungnya malah penyelamatny yang tenggelam."
"Iya, katanya hal ini mulai terjadi, semenjak tragedi hilangnya anak pramuka yang camping itu, kan? Bukannya abak itu sudah ditemukan selamat, ya?"
"Gak tahu juga, sih. Tapi dengar-dengar, satu anak lagi masih hilang karena pencarian dihentikan."
"Ih, seram. Padahal dulu danau ini sangat nyaman lho. Enak untuk wisata maupun camping keluarga.
Deg!
"Jangan-jangan yang dilihat Rania, yang dibicarakan oleh para pengunjung itu," pikir Geffie khawatir.
Saat itu, Rania terus meronta-ronta untuk melepaskan dirinya dari Geffie. Ini semakin aneh. Rania tidak pernah seperti ini sebelumnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Wilson dan Wilbert.
"Rania mendengar suara orang tenggelam dari arah sana. Coba kalian lihat dan jangan lupa panggil TIM SAR juga," perintah Geffie.
Krauk.
"Aaa!!!"
__ADS_1
Terlambat. Rania menggingit tangan papanya dan berlari sekejap mata ke dalam semak.
Ketiga pria dewasa itu mengikutinya. Tapi ternyata Rania sudah menceburkan diri ke dalam danau.
"Tolong aku."
Suara wanita itu kian melemah. Wajahnya pucat pasi. Telapak tangannya keriput dan dingin.
"Bertahanlah, aku akan menolongmu," ucap Rania.
"Tidak. Aku sudah tidak tertolong lagi. Sampaikan saja pesanku pada semua orang, kalau aku ada di sini. Dan untuk sementara, gantikan diriku di kehidupanmu. Semuanya akan baik-baik saja, jika kamu bersedia menolongku sebentar saja. Tolong..."
Blup! Blup! Blup!
Tubuh gadis itu semakin jauh ke dasar danau. Rania terus menyelam untuk menyelamatkan gadis itu.
Sementara di permukaan danau, para TIM SAR berusaha menyelamatkan Rania. Akan tetapi usaha mereka gagal. Hingga malam hari, tubuh Rania tak juga muncul ke permukaan.
Geffie menangis, tapi ia belum juga pasrah. Ia mengerahkan segala yang ia punya, untuk membantu mengeluarkan putrinya dari palung danau sedalam puluhan meter.
Tidak hanya itu, semua sisi danau juga diperiksa. Akan tetapi, keadaan tidak memihak pada mereka. Edlyn Rania Austeen tidak juga ditemukan.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Pelupuk mata Rania bengkak, akibat menangis terus menerus.
"Aku ingat! Aku mengingat semuanya. Jadi semua yang aku ingat saat pertama kali bertukar nasib itu bukanlah mimpi. Itu kenyataan yang aku alami," seru Rania dalam hati.
"Apa itu artinya Rania Putri ada di sana? Tapi kenapa? Apa tabrak lari yang dikatakan Nenek Esther dan juga penjaga danau waktu itu benar-benar terjadi?" pikir Rania bingung.
"Perasaanku dan Rania Putri juga seperti terhubung erat. Apa karena gelang sihir yang kami miliki, ya? Tapi kenapa harus Qiandra yang menggantikan posisiku sebagai anak mama dan papa? Kenapa bukan Audrey atau yang lainnya?"
Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Rania. Ia tidak tahu, mana yang harus di cari duluan jawabannya.
"Aku harus mengatakan hal ini pada Bang Arka dan juga Mikko. Ah, aku juga harus menceritakannya pada Kak Wilda. Tapi, apa aku harus memberitahu Qiandra soal ini?" Rania bingung.
"Maaf, Rania. Kenapa kamu berada di situ?" tegur salah seorang pelayan. Ia menatap Rania dengan curiga.
"Ah, tidak ada apa-apa. Saya hanya tersesat. Rumah ini besar sekali," ucap Rania bohong.
"Begitu, ya. Nona Qiandra dan juga temannya sudah menunggu Anda di ruang tamu," kata pelayan itu lagi.
"Oh, iya. Terima kasih," balas Rania.
(Bersambung)
__ADS_1