Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 99 - Tertangkap!


__ADS_3

"Malfoy, pergi dari sini. Pergi!"


Fania berseru dari dalam rumahnya, ketika melihat Malfoy datang mengunjunginya.


"Kenapa aku harus pergi?" tanya Malfoy bingung.


Bukannya menghiraukan seruan Fania, lelaki itu malah menuju ke dapur dan mempersiapkan bahan masakan.


"Sepertinya aku tak bisa meloloskan diri lagi. Sebentar lagi statusku akan berubah menjadi tersangka. Aku akan dipenjara," ujar Fania panik.


"Tidak! Tidak begitu. Aku harus kabur dan kamu juga harus pergi jauh dari sini." Fania Tampak sangat stress. Kata-katanya tidak terkontrol lagi.


Wanita itu juga menarik-narik baju Malfoy, memintanya meninggalkan dapur.


"Hei, Fania! Siapa yang bilang begitu? Bukankah kita sudah aman? Semua bukti tidak menunjuk ke arah kita," seru Malfoy.


"Kamu memang aman. Tetapi aku tidak. Beberapa orang stafku telah tertangkap. Dan aku resmi dikeluarkan dari tim fashion," ucap Fania sambil mengemas pakaiannya ke dalam tas.


"Hentikan ini! Kamu nggak boleh kabur lagi," ujar Malfoy. Ia merampas tas koper milik istrinya.


"Aku nggak mau dipenjara! Mau ditaruh di mana wajahku, kalau aku sampai mendekam di sana?" Fania histeris.


Beberapa tetangga datang menghampiri mereka. Tetapi kemudian, Malfoy membuat mereka pergi.


"Kamu nggak akan di penjara. Menjadi tersangka tidak otomatis ditahan. Kamu masih bisa memberikan pembelaan. Aku akan menyiapkan pengacara terbaik." Malfoy berusaha menemangkan istri tercintanya.


"Kalau begitu, kamu harus pergi dari sini! Demi anak kita. Kamu tidak boleh tersangkut padaku," ucap Fania sambil menangis.


"Anak? Memangnya kita punya anak?" Malfoy menatap Fania lekat-lekat. "Atau... Kamu sedang hamil?"


"Gila kamu! Kita sudah nggak berhubungan lebih dari enam bulan. Bagaimana aku bisa hamil?" bantah Fania.


"Lalu? Anak yang mana?" Malfoy menuntut penjelasan dari super model itu.


"Entahlah. Ibuku berulang kali meneleponku. Ia terus menanyakan kabar cucunya, anak kita. Tetapi saat aku meminta fotonya, dia selalu tak bisa mengirimnya," kata Fania.


"Kamu yakin, itu ibumu? Bisa saja ada seseorang yang memperalat ibumu, untuk mengelabui kita. Memangnya sejak kapan kita punya anak? Atau kamu memang memiliki anak dari laki-laki lain?"


"Aku ini hanya berhubungan denganmu, brengs*k! Sekarang aku harus lekas pergi, sebelum mereka datang." Fania merebut kembali tas koper dari tangan Malfoy.


Drap! Drap! Drap!


"Semuanya harap diam di tempat! Jangan ada yang melarikan diri!

__ADS_1


Dalam waktu lima detik, rumah Fania dikepung dari segala sisi. Para penghuni apartemen lain diamankan.


Fania tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya terduduk di lantai rumahnya dengan mata sembab.


Menangis? Tidak! Air matanya sudah tidak bisa lagi mengalir.


Dengan mudah, polisi membekuk wanita itu tanpa peawanan. Jumlah polisi yang datang tidak memungkinkan mereka untuk melakukan perlawanan. Itu hanya tindakan bodoh yang dapat memperpanjang masalah.


Fania lalu di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Hati Malfoy hancur melihat wanita yang sangat dicintainya digiring polisi seperti itu.


"Anda boleh ikut kami ke kantor polisi, Tuan Malfoy. Asalkan Anda tidak mengganggu jalannya penyelidikan," ujar salah satu polisi tersebut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Beberapa jam, sebelum penangkapan Fania Ansley.


"Nona, apa ini benar? Nona dapat informasi ini dari mana?" tanya Felix.


Pria itu memegang beberapa lembar berkas dengan tatapan tak percaya.


"Beberapa hari yang lalu, aku mengirimkan dua orang private detective untuk menyelidiki Malfoy dan Fania. Aku juga meminta meletakkan penyadap di mobil mereka," ucap Qiandra.


Felix tampak ingin mengucapkan sesuatu, tetapi kemudian diurungkannya.


"Anehnya, semua akses dan jejak digital bisa bersih seketika."


Qiandra menutup kalimatnya lalu melemparkan pandangan kepada Felix, "Apa kamu melihat ada keanehan di situ?" tanyanya.


"Hmm... Semuanya data digital, baik email dan media sosial lainnya diakses dari IP rumah ini. Aneh juga. Kenapa tidak pernah terdeteksi, ya?" Felix bergumam sambil membaca lembaran-lembaran data tersebut.


"Ah, apa ini? Semua jejak penyadapan juga berakhir di rumah ini?" Wajah Felix semakin pucat membacanya.


"Iya. Aneh, kan? Pelakunya adalah orang dalam. Bahkan mungkin dia memiliki kedudukan yang tinggi di sini," ucap Qiandra.


"Apa ini bukan tindakan illegal?" protes Felix.


"Jelas tidak. Karena aku sudah koordinasi dengan kepolisian dan tim kejaksaan. Mereka memberikanku ruang untuk menyelidikinya, selama tidak melukai siapa pun," jelas Qiandra.


"Ta-tapi, Nona..."


"Kenapa kamu protes terus dari tadi? Bukankah seharusnya kamu senang mendengar kabar ini? Kamu tidak terlibat dengan mereka, bukan?" kata Qiandra sambil melirik ke arah pria tampan tersebut.


"Tentu tidak, Nona," jawab Felix cepat.

__ADS_1


"Lalu kenapa? Apa karena gadis pujaanmu juga terlibat dengan masalah ini?"


"Bukan begitu, Nona. Saya hanya mengkhawatirkan Nona," ucap Felix semakin gugup.


"Kalau begitu, bantu aku membereskan masalah ini. Buktinya sudah ada di depan mata, dan sudah aku serahkan pada kepolisian. Kamu hanya perlu mengawasi mereka. Jangan sampai kabar ini bocor," perintah Qiandra.


"Ba-baik, Nona."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Oh, begitu ya? Jadi ada dua Rania di sekolah ini?"


Rania tersenyum mendengarnya, "Aku memang tidak bisa mengambil foto buktinya. Tetapi aku masih bisa merekamnya. Dengan ini, aku bisa meminta untuk menindaklanjuti penyelidikan."


Ternyata, Rania merekam semua obrannya dengan Pak Ridwan tadi. Ia pun kini mendapatkan salah satu bukti, jika Edlyn Rania Putri itu benar ada, dan Rania Putri kini menghilang, bahkan sempat dinyatakan meninggal dunia.


Rania mengirim data tersebut ke cloud demi keamanan. Kepalanya kini sedang menyusun rencana baru.


"Ya, aku harus mengungkap semua fakta ini. Tetapi sebelum itu, aku harus menjalankan rencana awalku untuk membantu Qiandra mengurus perusahaan," tekad Rania.


"Emm.. Qian. Untuk jadwal siang nanti ada sedikit perubahan. Pertemuan dengan para manajer Holly Hotel ditunda hingga malam nanti. Siang ini ada rapat terbatas dengan tim fashion," ujar Rania.


"Ya, trims," jawab Qiandra santai.


Rania mengerutkan dahinya sambil berjalan kembali ke mejanya.


"Aneh, kenapa Qiandra tidak terkejut atau protes, ya? Padahal pertemuan para manajer Holly Hotel ini sangat penting dan sudah direncanakan sejak lama," pikir Rania.


Puk!


Alvi menepuk bahu Rania dengan pelan.


"Ada apa?" tanya Rania.


"Kamu serius, jadi asisten pribadinya Qiandra? Entar kamu makan hati, lho," ucap Alvi.


"Tenang... Dia gak bakalan gigit aku, kok," jawab Rania sambil tertawa.


"Ih, jangan bercanda. Aku lagi serius, nih. Gimana kalau dia semakin menekanmu?" ucap Alvi lagi.


"Aku tahu kamu khawatir. Aku sudah katakan tujuanku padanya, sebelum kami tanda tangan kontrak. Jadi nggak ada masalah lagi," ujar Rania.


Sementara itu, Qiandra tersenyum sambil menatap Rania dari kursinya. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2