
Pak Rayhan menggendong tubuh lunglai Rania dari lantai dua menuju ambulans di koridor bawah. Ia merasa sangat bersalah, telah meminta gadis itu mengambil buku seorang diri.
Kaki Rania tampak berdarah, sepertinya tertimpa beberapa buku tebal dan besar dari rak bagian atas. Sementara lengannya membiru, entah tertimpa buku juga, atau terhempas ke rak lain sebelum terjatuh ke lantai.
"Kakek, mengapa bisa tinggal di Indonesia? Padahal kakek dan nenek bukan orang Indonesia, kan? Terus bagaimana kakek dan nenek bisa menikah?"
"Ceritanya panjang, Nak. Tetapi karena kamu masih terlalu kecil, kakek akan ceritakan secara ringkas. Kamu mau mendengarkannya, bukan?" tanya Kakek. Rania mengangguk.
"Rumania yang sekarang, bukanlah Rumania yang dulu. Dahulu di negara itu banyak terjadi perang. Lalu nenek dan keluarganya menyelamatkan diri ke Turki. Di sana lah kakek dan nenek bertemu," kakek memulai ceritanya.
"Memangnya perang sama siapa? Sama kerajaan lain, ya?" tanya Rania. Usianya yang baru menginjak enam tahun kala itu, belum mengerti bagaimana peliknya kehidupan dunia nyata.
"Ya, kira-kira mirip seperti itulah. Tetapi perang yang ini sangat besar. Melibatkan banyak kerajaan," jawab kakek.
"Berarti kakek dan nenek menikah di Turki?" tanya Rania dengan polosnya.
"Tidak, sayang. Setelah keadaan di kampung halaman nenek cukup membaik, nenek kembali ke Rumania. Kami saling berkirim surat, dan beberapa tahun kemudian, kakek mengunjungi nenek, lalu kami pun menikah," kakek mengakhiri ceritanya.
"Belum selesai, kek. Kakek belum cerita, bagaimana bisa berada di Indonesia," desak Rania ingin tahu.
"Oh iya, kakek lupa. Setelah ibumu lahir, kakek dan nenek bekerja sebagai pedagang obat tradisional di kampung halaman nenek. Namun beberapa tahun setelah itu, perang kembali terjadi. Semua orang mengungsi, dan kami menaiki sebuah kapal dagang hingga ke Indonesia," jelas kakek.
"Oh, gitu..." gumam Rania sambil tersenyum. Rasa penasarannya telah terobati.
"Kakek... Kakek... kenapa ramai sekali di sini...?" gumam Rania.
"Kamu sudah sadar, Nak?" seorang wanita menyentuh lengan Rania.
"Ibu?" bisik Rania ketika membuka matanya.
__ADS_1
Mata Wanita paruh baya tersebut terlihat sembab. Suara hiruk pikuk yang didengar Rania dalam mimpi tadi, ternyata suara kesibukan di rumah sakit. Apa yang telah terjadi? Di mana kakek?
Rania memutar kembali ingatannya. Terakhir kali ia berada di perpustakaan. Ah, ia baru ingat. Ia tadi mendengar suara bisikan aneh, sesaat sebelum lemari buku itu berderak dan terjatuh. Ingatannya berhenti sampai di situ.
Mata Rania beralih memandang bagian bawah tubuhnya yang mati rasa. Jantungnya berdegup kencang. Semoga bukan hal buruk yang terjadi.
"Rania, dokter baru saja memeriksa keadaanmu. Ada beberapa fraktur di tulang betis, dan harus segera di operasi. Para dokter sedang mempersiapkan segalanya," jelas ibu seakan mengerti isi hati Rania.
"Bu, boleh aku bertanya apa yang terjadi? Aku... tak begitu mengingatnya. Semua terjadi begitu cepat," ucap Rania.
"Menurut rekaman CCTV, bagian bawah rak buku dekat kamu berdiri tiba-tiba amblas. Sehingga bagian di atasnya runtuh dan menjatuhkan semua buku," kata ibu. Ia mengelap hidungnya yang penuh lendir.
"Terus?" tanya Rania penasaran.
"Bersyukur, kepingan kayu rak buku yang begitu berat tidak menimpamu. Hanya buku-buku besar di sebelah atas yang menimpa kaki dan sebagian tanganmu. Oh, Tuhan... kesalahan apa yang trlah aku lakukan, sampai anakku berkali-kali tertimpa hal buruk," ucap ibu.
Rania menggenggam tangan ibunya. Ia ikut hanyut dalam kesedihan wanita itu, "Jangan menangis lagi, Bu. Aku kan tidak apa-apa. Aku yakin, setelah operasi nanti, akan segera sembuh," bisik Rania. Air matanya mengalir perlahan.
Tiba-tiba Rania teringat sesuatu. Awal mula dari masalah hari ini muncul.
"Bu, apakah ibu tahu di mana buku sejarah Negara Rumania yang kupegang tadi?" tanya Rania. Ia harus segera memastikannya sebelum bercampur dengan buku-buku lain yang jatuh berserakan.
"Ibu tidak tahu buku apa yang kamu maksud, Nak. Tetapi jika yang kamu tanyakan buku yang kamu peluk saat terjatuh, itu sudah disimpan oleh penjaga perpustakaan," jawab ibu.
"Permisi, Bu. Stok darah untuk transfusi A- tidak tersedia, Bu. Apakah keluarga ibu ada yang memiliki golongan darah A- atau O+?" tanya sang perawat yang mempersiapkan operasi untuk Rania.
"Ada. Adiknya juga bergolongan darah A-. Tetapi saya tidak tahu, apakah ia bisa donor atau tidak," jawab ibu ragu.
"Baik, Bu. Segera kabari kami jika sudah memiliki pendonor. Kami juga mengusahakannya," jelas perawat itu.
__ADS_1
"Bu, aku bukan golongan darah A-. Tetapi O+," ujar Rania.
Ibu mengernyitkan keningnya. Saat masih SMP Rania telah melakukan tes darah dan hasilnya A-, sementara dirinya A+, lalu suami dan anak pertamanya sama-sama memiliki golongan darah B+. Kenapa kini berubah?
Akhirnya sang perawat mengambil jalan tengah, ia kembali mengecek golongan darah Rania. Dan benar saja, hasilnya adalah O+.
"Bu, untuk golongan darah ini, stoknya tersedia. Anak ibu bisa segera dioperasi," ujar sang perawat, menyampaikan pesan dari dokter.
"Syukurlah," ucap ibu. Ia tidak terlalu memusingkan golongan darah anaknya. Yang penting ia bisa segera diselamatkan.
Rania menitikkan air mata. Semakin hari, ia merasa semakin berbeda dari keluarganya saat ini. Banyak ketidak cocokan di antara mereka. Ditambah mimpinya barusan, jelas-jelas itu adalah ingatannya saat masih kecil.
Tetapi, melihat raut wajah wanita yang dipanggilnya ibu itu, ia menjadi tak tega untuk bertanya. Wanita jahat mana yang mau bersusah payah menangis dan mengerahkan semua uang, waktu dan tenaganya demi calon korbannya? Pasti ada kesalahpahaman di sini.
Kalau dipikir-pikir, Rania juga masih belum tahu banyak tentang keluarga ini. Apakah mereka masih memiliki kakek dan nenek? Jika ada, di mana mereka tinggal saat ini? Apakah mereka memiliki sepupu? Ah, banyak sekali pertanyaan yang terlintas di kepala Rania.
Semua masalah yang muncul belakangan ini bagai kepingan puzzle yang tidak lengkap. Bagaimana ia akan menyelesaikan semua masalah ini?
"Tak akan bisa keduanya hidup, salah satu harus mati, salah satu harus mengorbankan dirinya agar keseimbangan kehidupan tidak terganggu." Rania mengingat jelas bisikan aneh yang didengarnya, sesaat sebelum rak buku di depannya runtuh.
Kira-kira apa maksudnya, ya? Apakah saat itu ia berhalusinasi? Seakan-akan ada Rania lain yang harus mati, selain dirinya.
"Bu, apakah aku memiliki saudara kembar?" bisik Rania.
Ibu mengerutkan dahi, "Apa maksudmu?" Ibu balik bertanya.
"Bu, sepertinya suntikan anastesi pada putri ibu sudah bereaksi. Makanya ia bicara melantur," ucap salah seorang dokter yang akan mengoprasi Rania.
"Oh, be-begitu?" ucap ibu tergagap, membuat Rania sedikit curiga. Jelas-jelas dirinya masih sepenuhnya sadar saat ini.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.