
“Dua buah cermin dipasang berdekatan dengan sudut 40 derajat kemudian di depannya diletakkan sebuah benda, maka banyaknya bayangan yang terbentuk adalah…” Rania mencoret-coret buku latihannya dengan pensil.
“Duh, kenapa susah sekali sih? Kenapa juga harus memasang dua buah cermin berdekatan?” keluh Rania. Ia meletakkan pipi gempalnya ke meja makan mewah ini.
“Ah, cerminnya ada dua, sudutnya empat puluh derajat. Artinya jumlah bayangan yang terbentuk itu empat puluh di kali dua,” ujar Rania mengasal. Kepalanya sudah jenuh memikirkan fisika.
“Bukan seperti itu. Jumlah bayangan yang dihasilkan itu sama dengan, tiga ratus enam puluh derajat dibagi dengan sudut yang dibentuk cermin, yakni empat puluh derajat. Kemudian dikurangi satu. Maka hasil bayangannya sama dengan delapan,” jelas Mikko panjang lebar. Ia menuliskan semuanya di buku Rania.
“Ah, seperti itu rupanya. Tetapi kenapa kamu bisa tahu? Kamu kan anak IPS?” sahut Rania terkejut.
“Aku hanya anak IPS, bukan berarti buta pelajaran IPA. Anak IPS itu banyak yang pintar, lho. Hanya minat mereka saja yang berbeda,” jawab Mikko.
“Tetapi, aku jadi meragukan juara satu kamu di kelas? Yang katanya siswa paling cerdas di kelas dua sampai dapat beasiswa. Padahal itu soal yang sangat mudah,” lanjut Mikko.
“Hei, aku ini memang pintar. Aku hanya sedikit lupa karena terlalu lelah,” bantah Rania.
Ia menyesal, selama di kelas tadi, ia sibuk sendiri menulis buku diary dan merenungi nasibnya yang sengsara, tanpa memperhatikan Ibu Tresna, guru fisika mereka. Padahal kalau diingat kembali, materi ini telah ia dapatkan ketika SMP dulu.
“Oh, begitu. Tetapi kamu begitu percaya sama jawaban anak IPS, aku jadi semakin meragukanmu,” ucap Mikko sambil menyipitkan matanya.
“Kamu menipuku, ya?” jawab Rania sambil membuka gugel di ponselnya, ia mencari bantuan jawaban dari sana. Sebelumnya ia menghubungkan dengan wifi rumah ini.
“Eh, benar kok?” bisik Rania sambil membca ponselnya.
“Iya memang benar. Aku kan tidak pernah bilang kalau jawabanku salah, hanya saja, kamu langsung percaya pada anak IPS dengan polosnya. Hahahah…” tawa Mikko lalu pergi meninggalkan Rania.
“Menyebalkan….” teriak Rania kesal. Huh, moodnya untuk belajar jadi hilang.
“Rania… masih belajar, Nak? Bantu ibu mengepel teras belakang, ya,” panggil ibu.
“Iya, Bu. Rania segera ke sana,” sahut Rania. Kesempatan, nih. Ia bisa melampiaskan rasa kesalnya sambil mengepel.
“Akan aku gosok kuat-kuat, biar lantainya bersih bening seperti kaca,” gumam Rania sambil menuju ke arah ibu.
“Sini, Bu. Biar Rania saja yang kerjakan semuanya. Ibu istirahat saja,” ucap Rania sambil mengambil alat pel dari tangan ibunya.
“Benar nggak apa? PR kamu bagaimana?” tanya Ibu.
“Oh… Sudah selesai kok, Bu. Sekarang giliran Rania yang bekerja,” kata Rania sambil tersenyum malu. Sebenarnya kan Mikko yang mengerjakannya tadi. Ia juga tidak tega melihat wanita paruh baya itu terus bekerja berat.
“Baiklah. Ibu tinggal ke dapur, ya. Ibu mengelap meja kompor aja. Setelah itu istirahat,” sahut ibu kemudian.
“Siap nyonya Bos.”
Beberapa saat kemudian. Pinggang Rania mulai pegal. Teras ini terasa sangat luas seperti lapangan bola kaki. Sebetulnya Rania tidak pernah bekerja seperti ini di rumahnya dahulu. Semua telah beres oleh para asisten rumah tangga. Tetapi kini, ia tidak bisa berpangku tangan pada keluarga barunya.
“Yah, anggap saja ini sebagai pengalaman,” gumam Rania dalam hati.
“Mau dibantuin, nggak?”
__ADS_1
“Astaga!” Rania terkejut melihat tuan mudanya berdiri di depannya dengan jarak hanya sepuluh langkah.
“Tidak, tidak perlu,” ucap Rania. Ia lalu menegakkan punggungnya agar tidak kelihatan lelah oleh pria itu.
“Oh, begitu. Kalau gitu buatkan aku jus jeruk yang segar, dong. Haus, nih,” pinta Mikko. Ia kemudian duduk di kursi goyang dekat pohon delima yang berbuah lebat.
“Oh Tuhan. Lihatlah sikap tuan muda yang sombong dan menyebalkan itu. Apakah sikap dia memang seperti itu dari dulu?” bisik Rania dalam hati.
“Kenapa? Kamu tidak mau membuatkannya?” tanya Mikko dengan alis terangkat.
“Bukan seperti itu. Baiklah tuan muda. Akan saya buatkan sesuai permintaan anda,” jawab Rania dengan formal. Dalam sekejab, ia lalu menghilang dari tempat itu.
“Hihihi… Menyenangkan sekali mengganggu dia,” tawa Mikko ketika Rania telah pergi.
“Loh, kenapa Nak? Pekerjaanmu di sana sudah selesai?” tanya ibu yang masih membersihkan meja kompor.
“Tuan muda minta dibuatkan jus jeruk, Bu,” jawab Rania.
“Tuan muda? Maksudmu Mikko? Sejak kapan ia mau dipanggil tuan muda?” kata ibu. Rania hanya tersenyum sambil membuka kulkas.
“Ini tuan muda. Silakan diminum,” kata Rania sambil meletakkan segelas jus jeruk dingin di atas meja kecil.
“Terima kasih. Tetapi kenapa dari tadi kamu terus memanggilku tuan muda? Kamu lupa dengan perjanjian kita dulu?” kata Mikko.
“Eh, perjanjian?” gumam Rania bingung.
Rania mengambil alat pel untuk melanjutkan pekerjaannya. Tetapi kemudian matanya membulat, menatap ke seluruh bagian teras tersebut.
“Ini kamu yang mengerjakan?” tanya Rania. Saat ini hanya ada dirinya, sang ibu dan Mikko di rumah itu.
“Iya. Memangnya siapa lagi? Kenapa? Lebih bersih dari pekerjaanmu, kan?” ucap Mikko sambil menyeruput jus jeruknya.
Rania kesal mendengar ucapan Mikko, walau pun itu benar. Granit teras itu terlihat berkilauan seperti baru saja disikat dan disepuh kembali.
“Kenapa kamu kerjakan? Dan lagi… kamu mengerjakannya secepat itu?” ucap Rania.
“Aku ini terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sejak dulu. Ku lihat kamu beberapa hari ini kesulitan saat bekerja. Apa karena tugas sekolah yang semakin menumpuk?” kata Mikko.
“Bukan. Tetapi terima kasih ya sudah membantu,” ucap Rania tulus.
“Sama-sama,” sahut Mikko.
Suasana tiba-tiba menjai hening dan canggung.
“Aku boleh tanya sesuatu, nggak?” tanya Rania kemudian.
“Boleh, asalkan itu bukan tentang pacar,” jawab Mikko.
“Ih, Ge-eR. Siapa yang akan menanyakan itu? Aku hanya penasaran, kenapa kamu bersikap dingin di sekolah?” tanya Rania.
__ADS_1
“Rasanya biasa aja, tuh. Aku juga sering bergabung dengan teman-teman,” sahut Mikko.
“Maksudku dengan perempuan,” jelas Rania.
“Nah, kan… ujung-ujungnya soal perempuan,” sahut Mikko dengan wajah sebal. “Kamu mulai naksir padaku, ya?” lanjut pria tengil itu.
“Eh, bukan begitu. Si-siapa juga yang naksir,” gumam Rania salah tingkah. Ia tidak mau membalas pandangan Mikko. “Aku cuma penasaran. Berteman saja kan tidak apa-apa,” lanjut Rania.
“Aku malas saja berhubungan dengan makhluk ajaib dan tidak jelas seperti mereka. Bahasanya susah di mengerti. Apalagi para wanita bermuka dua itu,” jawab Mikko.
“Susah dimengerti bagaimana?” tanya Rania bingung.
“Jika mereka bilang tidak apa-apa, artinya kenapa-kenapa. Bisa juga beneran tidak apa-apa. Duh, pusing deh pokoknya.”
“Oh, begitu,” jawab Rania. “Tetapi kenapa sikap kamu denganku, di rumah dan di sekolah berbeda? Kamu selalu saja mengajakku bicara duluan jika di rumah,” tanya Rania lagi.
“Kamu kan bukan termasuk wanita? Tetapi kalau aku baik padamu di sekolah, nanti makhluk ajaib lainnya akan ribut minta perhatian juga,” jawa Mikko santai.
“Sialan. Kalau aku tidak dianggap wanita, lalu dianggap apa? Kupikir karena aku miskin,” ujar Rania kesal.
Mikko hanya tertawa melihat wajah Rania yang berubah seperti jeruk purut itu. “Aku bukan orang yang membeda-bedakan teman berdasarkan finansialnya,” jawab Mikko tegas.
“Hei, apa kamu sudah lama mengenalku?” tanya Rania tiba-tiba.
“Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku mengenalmu sejak orang tuamu bekerja di sini,” jawab Mikko.
“Oh…” gumam Rania kecewa. Ia tak mungkin bertanya, kan? Sudah berapa lama orang tuanya bekerja di sini.
“Lalu apa kamu mengenal keluarga Austeen?”
“Keluarga Austeen? Bahkan bayi baru lahir pun mengenal mereka,” sahut Mikko.
“Iya juga, sih,” balas Rania.
“Memangnya kenapa? Kamu terlibat persaingan dengan Qiandra lagi?” lanjut Mikko.
“Nah, benar kan? Kami memang selalu bersaing sejak dulu. Termasuk dalam hal fashion dan modelling,” jawab Rania.
“Fashion? Modelling? Maksudku, kamu dan dia bersaing dalam bidang akademis. Sejak kapan kamu bisa menyaingi fashion anak seorang model terkenal?” sahut Mikko.
“Ups…” Rania lupa jika dirinya tidak seperti dahulu lagi. Mikko saja mengatakan bahwa Qiandra putri keluarga Austeen.
“Oh, Tuhan. Tolonglah. Aku benar-benar butuh petunjuk,” ucap Rania dalam hati.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1