
"Anak ibu kenapa, sih? Dari tadi wajahnya bertekuk aja," tanya ibu.
"Aku tebak, pasti masalah cowok," kata Livy.
"Huuu... Sok tahu," jawab Rania semakin kesal. Tetapi wajahnya memerah. "Eh, kamu ingat nggak email kakak?" tanya Rania.
"Hmm... gak hapal sih. Emangnya kenapa? Aplikasi email di HP kakak gak pernah dibuka lagi?" tanya Livy.
"Sudah log out. Gak ingat deh passwordnya apa," komentar Rania datar.
Mikko yang kebetulan mendengarnya menyipitkan mata. Satu lagi keanehan Rania yang ditangkapnya. Sejak kapan ia melupakan email dan passworfnya sendiri? Padahal itu salah satu kunci utamanya untuk menyalurkan hobinya itu.
"Bang Arka pasti tahu, tuh. Kan dulu kakak bikin emailnya. Atau... kenapa nggak tanya sama Bang Mikko aja? Dia kan juga sering buka email bareng kakak," ucap Livy.
"Cih, Mikko lagi," batin Rania. Entah mengapa saat mendengar atau melihat Mikko hatinya selalu kesal.
"Ntar malam aja, deh. Tanya sama Bang Arka," jawab Rania. Malas banget berurusan sama anak itu.
"Kamu berantem sama Mikko?" tanya ibu. Ia menghentikan belaian di rambut Rania.
"Nggak."
"Tapi jawabannya jutek mulu kalau membahas tentang Mikko?" tanya ibu.
"Duh, kenapa Ibu peka banget, sih?" batin Rania.
"Tuh kan, diam aja," kata ibu. “Gak baik lho berantem lama-lama.”
"Ih... Nggak ada apa-apa lho, Bu. Rania cuma lagi kesal sama email dan tugas sekolah aja," jawabnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah dinding.
Ibu dan Livy saling berpandangan. Pasti ada sesuatu antara Mikko dan Rania.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Nih, sudah kan?" Bang Arka memberikan ponsel pada Rania.
"Wah… Syukurlah..." ucap Rania senang.
"Lagian kamu aneh banget, sih? Masa email sendiri gak tahu? Kalau lupa password sih wajar," kata Bang Arka. "Jadi novel kamu gimana? Biasanya kan ngirim pakai email?"
Bang Arka terus mengomel sambil meminum segelas air tebu yang dibelikan Rania. Entah itu sebagai upah memulihkan email atau sogokan. Yang jelas, tumben banget Rania membelikan malaman untuk abangnya.
"Novel? Aku bikin novel?" batin Rania.
__ADS_1
Mata dan jemari Rania kompak mengecek isi email. Ada banyak sekali email masuk yang belum dibaca sejak satu tahun yang lalu.
“Udah lama banget emailnya gak di cek. Sedangkan aku baru dua bulan di sini," batinnya lagi. "Jadi 'Rania Putri' adalah penulis novel di aplikasi Noveltoon?"
Rania sebetulnya ingin sekali mengecek email satu persatu. Tapi lagi-lagi kuotanya terbatas.
Bang Arka memperhatikan Rania. Ia tahu betul jika Rania saat ini merasa kebingungan.
"Apalagi yang tidak kamu ingat? Teman SMP dan SD? Kampung halaman kita? Atau... semuanya?" tanya Bang Arka. Bola matanya yang kecoklatan, fokus menatap adik perempuannya yang beranjak dewasa itu.
"Arka, kok kamu berkata seperti itu?" tegur Ibu.
"Maaf, Bu. Aku bukan menyudutkan Rania. Justru aku ingin membantunya. Bagaimana jika ia tersesat di kota ini seorang diri, karena tak tahu apa-apa?" kata Bang Arka.
"Tapi, Nak..."
"Jika Rania memang belum pulih benar dari cidera kepala waktu itu, kita bisa segera mengobatinya. Tetapi jika kita terlambat mengetahuinya, terus masalahnya jadi semakin besar gimana?" kata Bang Arka lagi.
“Coba deh, kamu jawab. Ibu anak ke berapa? Kakek dan Nenek dari ayah sekarang gimana kabarnya?” tanya Bang Arka Pada Rania.
Rania terdiam. Jelas saja ia tak tahu jawabannya.
"Bu, yang dibilang Bang Arka itu benar. Aku tidak masalah, kok," kata Rania kemudian. Dia harus jujur dengan ketidak tahuannya, tetapi sekaligus juga menyembunyikan identitas sebenarnya hingga mendapat petunjuk yang jelas.
Rania menganggukkan kepala. Namun pikirannya masih melanglang buana.
"Benar kata Bang Arka. Semakin hari aku semakin tidak mengenal diriku yang dulu. Aku tidak mengingat semua masa laluku sebagai Rania Putri. Justru aku semakin meyakini, Rania Putri dan Edlyn Rania Austeen adalah dua orang yang berbeda. Sekarang yang jadi pertanyaan, ke mana Rania Putri yang asli dan mengapa aku berada di sini?" pikir Rania. Ia tak sabar untuk mencari petunjuk lainnya melalui email.
... 🌺🌺🌺🌺🌺...
Drrrtttt... "Halo, Malfoy?"
"Darrent, bagaimana laporan tentang kejadian malam itu?"
"Menurut laporan 'tikus satu', mereka berhasil melalui gerbang utama tanpa dicurigai. Dan mereka sempat menyisir seluruh lokasi hingga ke taman buah tropis," kata Darrent memberikan laporan.
"Terus?" tanya Malfoy tak sabar.
"Tak disangka, mereka menemukan jalan rahasia di dinding batu air terjun buatan. Akan tetapi putri mereka..."
"Kenapa dengannya?" tanya Malfoy. Ia penasaran kenapa Darrent berhenti bercerita.
"Kami gagal mengamankan putri mereka," lanjut Darrent. Ia menahan napas. Bersiap menerima respon dari Malfoy.
__ADS_1
"Lupakan tentang putri mereka. Kita fokus saja pada bisnis," kata Malfoy datar.
Sungguh di luar dugaan Darrent, Malfoy sama sekali tidak marah karena salah satu tugas gagal mereka jalankan.
"Lalu hanya tikus satu yang berhasil masuk?" tanya Malfoy lagi.
"Tidak. Ada tikus dua, kucing satu dan kucing empat. Mereka sekarang berperan sebagai asisten rumah tangga dan IT di sana," jawab Darrent.
"Bagus. Apa yang berhasil mereka peroleh?"
"Kami telah mendapatkan informasi mitra bisnis mereka di Jepang dan Skotlandia. Selain itu, bahan baku utama produk utama, berasal dari Indonesia. Ku rasa, kita bisa mulai dari sana. Mengintervensi pemasok bahan baku," jelas Darrent.
“Berikan aku profil dan alamat pemasok bahan baku itu,” pinta Malfoy.
“Baik. Nanti akan segera aku kirim,” balas Darrent.
“Bagaimana perkembangan bisnis mereka?” selidik Malfoy lagi.
“Untuk retail produk di Inggris dan Italia cukup sukses. Akan tetapi di Jerman, Belanda dan Swiss, sambutannya kurang baik,” lapor Darrent.
“Kenapa?”
“Material dan design yang mereka gunakan, dianggap tidak sesuai dengan tren season ini. Dan lagi, di Swiss hal itu sudah bukan sesatu yag baru lagi. Beberapa pegawai bahkan mulai mengeluh karena penjualan yang merugi.”
“Hahh… sudah kuduga,” kata Malfoy sambil tersenyum tipis. “Bagaimana dengan di Jepang?”
“Aku belum mendapat informasinya,” jawab Darrent.
"Baiklah, akan ku beri tahu misi kita selanjutnya nanti. Terus fokus pada tujuan utama kita. Dan jangan sampai lengah pada pengawasan mereka. Aku tunggu informasi berikutnya," kata Malfoy.
"Baik. Tapi ada satu hal..."
"Tenang saja. Aku tak lupa pada janjiku. Bonus untuk kalian akan segera ku transfer hari ini juga." Malfoy memotong ucapan Darrent.
"Baiklah. Terima kasih banyak." Darrent lalu menutup telepon.
"Bersiaplah kau Austeen... Tak lama lagi bisnismu akan terlibat dalam masalah besar," gumam Darrent.
Tak hanya kehancuran keluarga Austeen yang dinantikannya, ia juga tak sabar melihat reaksi istrinya ketika dirinya berhasil nanti.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi..
__ADS_1