Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 102 - Kamu akan Bebas!


__ADS_3

"Gimana, Nona? Sudah baikan?" tanya Wilbert khawatir.


Qiandra menutup botol air mineral yang diberikan Wilbert.


"Sudah agak mendingan. Terima kasih, Wilbert."


"Tidak apa-apa, Nona. Ini sudah menjadi tugas saya. Apa Nona mau jajan-jajan dulu? Mumpung kita lagi berhenti di pusat jajanan kaki lima," saran Wilbert.


"Duh, Wilbert. Kamu pikir ini sudah jam berapa? Aku juha sudah banyak makan kue tadi," tolak Qiandra.


Akan tetapi indra penciumannya tidak bisa menolak bau harum dari berbagai jenis jajanan yang di jajakan di sana.


"Sesekali gagal diet kan nggak apa-apa, Nona. Besok saya temani meraton di tepi danau, deh," bujuk Wilson.


"Hmm.. Ya udah deh kalau kamu maksa. Pilihkan jajan yang paling enak, ya."


"Aduh! Itu tugas yang sangat berat, Nona. Karena jajan di sini enak semua," jawab Wilbert.


"Kalau begitu yang higienis, deh." Qiandra mengganti permintaannya.


"Hhmmm... Bagaimana kalau gerobak yang nomor dua dari ujung. Saya pernah makan di situ, dan semua jajannya enak," usul Wilbert.


"Ya udah kalau gitu." Tanpa aba-aba, Qiandra langsung turun dari mobil dan menuju ke kaki lima yang ditunjuk Wilbert tadi.


Qiandra benar-benar antusias. Ia baru pertama kali merasakan jajan di tempat seperti ini.


"Kapan-kapan aku ajak Mikko dan Rania, ah. Mereka pasti suka juga," ucap Qiandra.


Wilbert tersenyum melihar Nona muda itu sudah jauh lebih ceria dari pada tadi.


Supir pribadi tersebut langsung membeli kue sanole, pisang asar dan juga kue kenari.


"Hmm enak! Ini mirip sekali dengan yang dijual Rania waktu itu. Sayang sekali aku tidak mencobanya dulu." Qiandra tersenyum riang.


"Wah, teman Nona bernama Rania, ya? Persis seperti nama anak kedua saya," ujar pedagang itu.


"Wah begitu, ya? Dulu teman saya Rania pernah dagang ini di sekolah. Tetapi saya tidak sempat makan waktu itu. Ternyata rasanya enak sekali," sahut Qiandra.


(*eps. 11)


"Wilbert, kita harus sering-sering beli ini," ucap Qiandra lagi sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan.


"Tidak usah, Nona. Yang ini biar saya traktir," tolak Wilbert.


"Berdagang di sekolah? Jangan-jangan itu memang Rania anak saya," ujar pedagang itu.


"Ini, Pak. Berapa semuanya?" ujar Wilbert.

__ADS_1


"Totalnya dua belas ribu," jawab pedagang itu, setelah menghitungnya.


"Eh, kok murah? Perasaan saya makan banyak tadi. Bapak nggak salah hitung, kan?" Protes Qiandra.


"Betul, kok."


"Pisang asar itu tiga ribu kan sebuah, lalu kue kenarinya lima ribu sepotong," ujar Qiandra.


"Lah, siapa yang bilang begitu?" pedagang itu bingung. Ia lalu menyebut harga kue itu satu per satu.


"Wah, Rania!!! Awas besok ya di sekolah," ucap Qiandra geram.


Drrtt... Drrt...


"Halo, Mikko. Ada apa?"


"Kamu di mana? Barusan aku mendapat telepon lagi."


"Hah? Apa lagi yang ditanyakan Sania?" ujar Qiandra kesal.


"Bukan Sania, tapi kakekmu. Dia terdengar sangat khawatir."


"Astaga! Aku lupa soal kakek. Baiklah, aku segera pulang. Terima kasih, Mikko."


"Wilbert, ayo kita segera pulang," perintah Qiandra.


Drrrt... drrt... Ponsel Qiandra kembali berdering. Kali ini dari sebuah nomor tidak dikenal.


"Ha-halo?" Jawab Qiandra ragu.


"Nona, ini Jupri," jawab seorang pria di seberang sana.


"Oh, iya. Bagamana hasilnya Jupri?" ujar Qiandra kembali bersemangat.


Tadi dia sengaja meminta Jupri dan Hendra pulang lebih dulu, untuk menyelidiki rumahnya. Tak disangka, ia langsung mendapat kabar hanya dalam waktu dua jam.


"Menurut penyelidikan kami, Felix bukanlah pelakunya Nona. Dia justru sama seperti kita, dikelabui oleh sistem," Jupri memulai laporannya.


"Terus?"


"Ujung lorong di bawah halaman apartemwn Zumstein, kami menemukan sebuah workshop yang digunakan untuk mengolah narkotika, seperti yang ditemukan oleh para polisi di kapal," ucap Jupri.


"Selain itu, di sini juga terdapat bahan-bahan tertentu yang sama persis dengan yang digunakan di laborarorium CL cosmetics. Itu artinya, kosmetik produksi perusahaan Nona mengandung bahan narkotika tersebut."


"Astaga! Ini sama persis dengan yang dikatakan oleh Rania dan Wilda," ucap Qiandra.


"Kami sudah mengirim buktinya ke drive email baru Nona agar lebih aman. Tetapi untuk saat ini hanya itu yang bisa kaki temukan. Berkas-berkas lain tidak ada. Hanya ada bukti jual beli narkotika menggunakan stempel perusahaan, ke beberapa perusahaan di China dan Rusia."

__ADS_1


"Gila! Ini gila! Siapa yang melakukannya? Mama dan papa? Tidak mungkin! Mereka sudah susah payah merintis bisnis ini dari nol. Untuk apa mereka sendiri menghancurkannya?" Qiandra kembali meracau.


"Apakah Nona sudah membuka bukti yang dikirim mereka?" tanya Wilbert.


"Ah, benar juga."


Qiandra membuka laptopnya, dan membuka email barunya di sana.


"Astaga! Apa ini benar? Fania bekerja sama dengan dia? Jadi dugaanku selama ini benar?"


Qiandra bolak-balik melihat video CCTV dan rekaman suara dari penyadap yang dikirimkan oleh Jupri dan Hendra barusan.


"Wilbert, apa kamu tahu orang tua dari Sania?" tanya Qiandra pada supir pribadinya.


"Hmmm... Kenapa tiba-tiba Nona bertanya tentang hal itu?" perasaan Wilbert tak enak.


"Ingin tahu saja."


"Saya sendiri kurang tahu sih, Nona. Dia bekerja dengan Tuan lebih dulu dari pada saya," jawab Wilbert.


"Begitu, ya?" Qiandra sedikit merasa kecewa mendengar jawaban Wilbert.


"Ada yang mengatakan dia anak dari adik bungsunya Bu Rohaya. Lalu setelah adiknya itu meninggal, Bu Rohaya pun merawat Sania. Tapi ada juga yang bilang, Sania itu yatim piatu yang dulu dirawat dipanti, terus diangkat jadi anak asuh oleh Bu Rohaya," jelas Wilbert lagi.


"Hmm... Gitu ya? Aku masih sangat penasaran. Karena di data diri Fania dia menulis tidak memiliki anak, tetapi setelah ditelusuri lagi lebih lanjut, ternyata dia memiliki seorang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa," ujar Qiandra. "Tadinya aku sempat menduga, kalau Sania adalah anak dari Fania," lanjutnya lagi.


"Emm... Saya akan berpura-pura tidak pernah mendengar hal ini, Nona. Tetapi saya akan selalu berada di pihak Nona," ucap Wilbert.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Kembali lagi di hari penangkapan Fania.


(*Eps. 99)


Malfoy yang sangat shock melihat istrinya ditangkap, tidak bisa berbuat apa-apa selain membuntutinya hingga ke kantor polisi.


Dalam hatinya ia sangat menyesali langkah yang telah ia ambil. Kalau bukan karena dirinya, Fania pasti tidak akan mengalami hal berat seperti ini.


"Harusnya aku saja yang ditangkap! Harusnya aku yang menganggung hukuman ini, bukan Fania!" jerit Malfoy dalam hati.


"Fania, aku pasti akan membawakan pengacara terbaik untukmu. Kamu akan segera bebas. Bersabarlah sebentar," bisik Malfoy, ketika polisi mengizinkan mereka untuk bicara selama dua menit.


Fania hanya diam. Tidak menjawab dan juga tidak mengangguk. Setelah itu, ia pun digiring ke dalam sebuah ruangan untuk dimintai keterangan.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2