Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 130 - Tidur Selamanya


__ADS_3

[Episode ini mengandung adegan yang tidak patut ditiru. Mohon bijak dalam membaca. Selamat membaca. πŸ’•πŸ’•πŸ’•]


"Halo, Rania. Ini aku pakai HP papa. Aku cuma diberi tiga menit untuk telepon."


"Mikko? Dasar cowok pembohong! Kau bilang semuanya sudah terkendali. Kau bilang semua baik-baik saja. Lalu ini apa?" marah Rania.


"Ehm... Tenang dulu."


"Tenang gimana? Kamu tahu perasaanku sejak mendengar kabar kamu ditangkap?"


"Makasih ya udah khawatirkan aku," jawab Mikko tenang.


"Aku nggak khawatir. Aku tuh kesel. Kok bisa ketahuan, sih?"


Mikko tertawa kecil, mendengar Rania marah-marah.


"Iya. Aku emang teledor. Aku lupa menghapus jejak IPku. Tapi kamu jangan khawatir. Masalah ini gak bakal bikin aku mati, kok. Bang Arka juga nggak terlibat, karena yang mengusulkan ide ini kan aku. Laptop yang dipakai juga punyaku. Jadi kamu tenang aja, ya," jelas cowok tampan itu.


"Jangan nyantai gitu, dong."


"Ya karena aku nggak kenapa-kenapa. Aku cuma di skors selama dua minggu dan wajib lapor pagi sore," kata Mikko.


"Apa Om Ganendra gak membantumu? Kamu kan anak polisi?" tanya Rania.


"Papaku memang nggak akan berbuat kesalahan dua kali seperti masalah yang terjadi pada mama dulu. Papa pasti menolongku. Tapi aku yang membuat masalah ini sejak awal. Jadi aku harus bertanggung jawab," ucap Mikko.


"Lihat sisi baiknya, Pak Salamun jadi ikut bersaksi, kalau kejadian pramuka itu terjadi satu tahun yang lalu. Saat ia absen dari pembina pramuka untuk melanjutkan kuliah S-2. Pak Salamun bahkan menunjukkan bukti foto kegiatan itu," kata Mikko.


"Pak Salamun? Pembina pramuka kita, kan? Aku dulu juga pernah bertanya pada Pak Salamun. Dari beliau juga aku tahu, kalau kecelakaan yang menimpa Rania itu terjadi tahun lalu. Bukan saat kita kelas dua," jawab Rania. (Eps. 23)


"Tapi yang masih jadi pertanyaan sampai sekarang, di mana Rania Putri? Dan di mana Qiandra saat tragedi pramuka itu terjadi?" kata Mikko.


"Uh Rania, waktu meneleponku sebentar lagi habis. Aku cuma mengingatkan, selama dua minggu ke depan aku nggak bisa menolong kamu dan Qiandra. Kamu harus berjuang sendiri. Kamu pasti tahu, mana keinginan murni dari hatimu, dan mana keinginan yang diiringi sifat buruk. Sudah ya... Aku tutup teleponnya."


Klik. Telepon terputus.


"Dasar Mikko br*ngs*k! Kenapa dia nggak bisa menepati janji, sih, kalau semua nggak baik-baik aja? Kenapa dia juga harus terlibat dalam masalahku?" tangis Rania setelah Mikko menutup telepon.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Qiandra duduk di sudut kamarnya, menggunakan piyama mini yang memperlihatkan setiap jengkal lekuk tubuhnya.

__ADS_1


Tidak ada siapa-siapa di kamar itu. Hanya ia seorang diri. Bahkan sosok seram yang biasanya muncul pun, hari ini tidak terlihat.


Tangan Qiandra masih memegang HP. Baru saja, Felix memberi kabar terbaru mengenai Tuan Gregory dari Inggris.


"Kata Tuan Gregory, ia menerima seorang anak bernama Qiandra atas kesepakatan dari investor. Mereka meminta Tuan Gregory merawat anak itu, dengan balasan modal yang besar untuk mengembangkan usahanya. Surat adopsi itu juga diurus oleh sang investor," jelas Felix tadi.


"Jadi... Aku...?"


"Tapi itu belum tentu Nona, kan? Tuan Gregory tidak menunjukkan foto. Ia juga tidak mengatakan apa pun saat ditunjukkan foto Nona. Yang ia berikan hanya salinan surat adopsi saja," hibur Felix.


"Tapi Tuan Gregory mengakui, bahwa sejak kasus suapnya dengan para pejabat terbongkar, putrinya tersebut meninggalkan rumah dan tak pernah pulang hingga sekarang," lanjut Felix.


"Tapi tetap saja, kan? Data yang ada di dalam surat adopsi itu persis dengan data pribadiku. Data itu juga sama dengan kartu keluarga milik papaku Geffie. Coba kau pikir, siapa yang bisa memanipulasi data serapi itu?" kata Qiandra.


Felix hanya terdiam. Ia tidak mampu menjawabnya. Memang, semua yang terjadi ini tidak dapat dijelaskan secara logis. Semakin di pikirkan, justru semakin banyak plot hole-nya.


"Kami pasti membantu mencari data tentang Nona lagi. Bisa saja kita salah orang," hibur Felix sebelum menutup telepon.


"Jadi dengan kata lain, aku dijual? Aku ini anak yang tidak diinginkan? Tapi siapa orang tua yang berani menjualku?" tangis Qiandra seorang diri. Hatinya benar-benar hancur mendengar kenyataan ini.


Meskipun Felix mengatakan berita itu masih belum pasti, tapi hati Qiandra merasa yakin. Semua data dan peristiwa sangat cocok, jika dikaitkan dengan kejadian yang ia alami belakangan ini.


"Sudahlah, sebaiknya aku tidur saja... Semoga saja ada hal menarik setelah aku bangun tidur nanti," gumam Qiandra sambil meminum obat sakit kepala.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Ugh... Panas... Ugh... Ugh..."


"Sakit... Perutku sakit. Semua tubuhku sakit... Rasanya seperti mau keluar semua. Panas..."


"Hueeek.... Hueek... Panas... Gelap... Apa aku akan mati? Apa malaikat sedang mencabut nyawaku?"


"Tuhan... Maafkan semua kesalahanku. Jika Engkau mengambil nyawaku saat ini, aku sudah siap. Aku siap menanggung semua dosa-dosaku. Aku ingin tidur selamanya.


Bruk!!!


Cirp... Cirp... Cirp...


Mentari bersinar dengan sangat cerah. Udara pagi di ibukota terasa sejuk dan segar. Burung-burung kecil berlompat-lompatan di dahan pepohonan. Semua terlihat riang menyambut datangnya pagi, kecuali satu orang di rumah mewah tersebut.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Nona... Nona... Ini sudah jam tujuh pagi."


Tok! Tok! Tok!


"Nona..."


Para pelayan sibuk membangunkan Qiandra sejak pukul Enam tadi. Tapi nona muda itu belum menyahut juga.


"Bagaimana ini?" ucap para pelayan wanita di depan pintu kamar Qiandra.


"Ada apa?" tanya Wilbert dan beberapa orang bodyguard lainnya.


"Nona belum juga bangun. Ditelepon juga tak ada respon. Padahal biasanya pukul setengah enam pagi, nona sudah bangun dan bersiap pergi sekolah. Kami takut terjadi apa-apa pada nona," ucap para pelayan wanita itu.


"Astaga! Kalau begitu, pintu ini terpaksa di dobrak," ucap Wilbert.


Bruk... Brak...


Beberapa orang lalu berusaha membuka paksa pintu kamar Qiandra. Tapi ternyata sangat tidak mudah.


Mereka pernah mendengar tentang jalan rahasia menuju kamar nona, tapi tak ada satu pun yang tahu jalannya.


"Percuma kita buka dengan kunci cadangan. Karena Nona menggunakan kunci double slot dari dalam," ucap Wilbert kemudian.


"Aku ada ide," ucap Joe si tukang kebun. Ia mengangkat sebuah gergaji mesin.


"Kau gila?" teriak beberapa pelayan wanita.


"Ini jauh lebih baik, untuk segera menyelamatkan Nona," ucap Joe.


"Lakukan segera," kata Wilbert.


Dua puluh menit kemudian, mereka pun mendapati sang Nona muda dengan tubuh pucat dan kejang.


"Nona?" Wilbert mengguncang tubuh Qiandra beberapa kali.


Buih berwarna putih keluar dari tubuh sang Nona muda.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2