
Tahun 1932, tiga hari sebelum pergantian tahun. Desa Sirnea benar-benar dilanda musim dingin yang teramat parah, di negara itu.
Semua orang berdiam di dalam rumah menghindari badai salju yang kian memburuk. Jalanan tertutup oleh lapisan putih yang dingin dan tebal. Tak ada lagi makhluk hidup berkeliaran di luar.
Para hewan pun tak luput dari terjangan keganasan alam.
Menjelang malam, desa terpencil yang terletak di lembah perbukitan itu semakin sepi. Kecuali satu rumah yang terletak di paling ujung, hanya sungailah oembatas antara rumah dengan hutan di belakangnya.
"Cum? Au existat semne?"
(Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tandanya?)
*Bahasa Rumania.
Wanita cantik yang sedang terbaring lemah itu mengangguk, "Atat de trist," ucapnya.
(Pedih sekali)
"Fii răbdător, fiule. Toate mamele simt asta. Totul va fi bine." Wanita tua yang dianggap dukun kampung itu terus menguatkan sang wanita.
(Sabarlah, Nak. Semua ibu merasakan itu. Semua akan baik-baik saja.)
"Avem nevoie de niște condimente și miere pentru a-l menține cald. Pentru o livrare lină," ujar Noina, Dukun kampung tersebut.
(kita membutuhkan beberapa rempah dan madu untuk menjaganya tetap hangat. Agar persalinannya lancar.)
"În regulă, voi ajunge direct la depozit pentru a-l ridica," jawab seorang lelaki, yang juga suami dari calon ibu muda tersebut.
(Baiklah, aku akan segera ke gudang untuk mengambilnya.)
"Nu. Nu mă părăsi. Vreau să fiu cu tine până se naște copilul nostru."
(Tidak. Jangan tinggalkan aku. Aku ingin bersamamu sampai anak kita lahir.)
Tiba-tiba ruangan menjadi sangat terang, lalu... Cetar!!! Petir menyambar dengan kuat. Diiringi dengan angin yang sangat kencang.
"Bună durere! Ce este vremea astăzi? Ca venirea unui duh rău." seru Noina dan pelayannya.
(Astaga! Ada apa dengan cuaca hari ini? Seperti akan kedatangan roh jahat saja.)
"Noina, stomacul meu se îmbolnăvește."
(Noina, perutku semakin mulas.)
__ADS_1
Cetar!!! Cetar!!! Petir kembali menyambar kuat. Meninggalkan bau gosong menyengat. Entah benda apa kiranya yang terbakar oleh sambaran listrik jutaan watt tersebut.
Bersamaan dengan itu, terdengarlah suara tangisan bayi mungil yang baru saja terlahir ke dunia.
"O, Doamne, ce am greșit? De ce a trebuit să se nască în mâinile mele acest biet copil frumos?" ucap Noina.
(Ya Tuhan, apa salahku? Kenapa bayi malang yang cantik ini harus lahir di tanganku?)
"Ce vrei să spui, Noina?" tanya sang suami marah.
(Apa maksudmu, Noina?)
"Nașterea acestui copil este neobișnuită. La începutul prezenței sale a fost blestemat de natură. Nu vreau ca oamenii să știe că acest copil s-a născut cu mâinile mele," kata Noina.
(Kelahiran bayi ini tidak biasa. Di awal kehadirannya saja dia sudah dikutuk oleh alam. Aku tak mau orang tahu, kalau bayi ini lahir dengan tanganku.)
"Acest bebeluș nu greșește. Nici natura nu este supărată. Este doar un fenomen normal," bantah sang suami.
(Bayi ini tidak salah. Alam juga tidak marah. Itu hanya fenomena biasa.)
"Mi-am făcut treaba bine. Dar apoi voi, băieți, aveți grijă de voi. Vă spun un lucru, dacă acest copil rămâne în viață până când va fi adolescent, va aduce un blestem," kata Noina.
(Aku sudah menjalankan tugasku dengan baik. Tapi selanjutnya kalian urus sendiri. Kuberi tahu satu hal, jika bayi ini tetap hidup sampai remaja, ia akan membawa kutukan.)
(Tangannya akan mampu menyembuhkan sekaligus membunuh orang dalam waktu bersamaan.)
"Nu cred ce spui. Dar mulțumesc pentru ajutor. Aceasta este recompensa ta," kata sang suami.
(Aku tak percaya pada ucapanmu. Tapi terima kasih sudah membantu. Ini upahmu.)
...🌺🌺🌺🌺🌺...
"Mama nggak pernah cerita banyak tentang nenek. Ia hanya menceritakan kalau nenek sangat pintar dan ahli pengobatan herbal," ujar Qiandra.
"Jadi ini semua barang-barang peninggalan nenekmu?" tanya Mikko.
Qiandra mengangkat kedua bahunya, "Aku nggak tahu. Karena yang aku dengar dari mama, nenek meninggal nggak lama setelah mereka sampai di Indonesia."
"Begitu, ya? Lalu barang-barang kuno ini dari mana? Milik siapa?" gumam Mikko.
Qiandra mengambil beberapa barang dari peti tua tersebut, diperiksanya satu per satu. Yang paling paling menarik perhatiannya adalah foto yang dilihatnya pertama kali, saat Mikko berhasil membuka peti tua tersebut.
Wanita cantik umur sekitar tiga puluh tahunan itu mengenakan pakaian tradisional Eropa Timur, lengkap dengan segala aksesorisnya.
__ADS_1
"Jadi apa kesimpulanmu setelah melihat ini semua?" tanya Mikko.
"Entahlah. Aku sendiri bingung. Aku selalu menuduh bahwa Rania lah yang menerorku. Tapi malah keluargaku sendiri yang aneh," kata Qiandra. Bola matanya merekam semua benda yang ada di sana.
"Pantas saja mama dan papa selalu mengelak kalau aku ingin mengusut masalah ini," lanjut gadis tujuh belas tahun itu.
"Sayang sekali aku nggak bisa membantumu lebih dari ini. Aku pun sama sekali nggak paham apa yang terjadi."
"Ayo kita cari jalan keluarnya. Aku nggak mau berlama-lama di sini. Teka teki pun juga tidak terpecahkan malah semakin rumit," kata Qiandra.
Mikko hendak menutup peti itu ketika matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik.
Selembar kertas yang mengabadikan foto dua orang gadis cantik. Masih dengan pakaian tradisional Eropa Timur, serta dandanan yang sangat sederhana.
Tapi yang paling menarik perhatian Mikko adalah wajahnya. Salah satu wanita tersebut memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rania.
Bahkan kalau orang tidak mengenalnya, mungkin saja menganggap bahwa Rania dan wanita di dalam foto tersebut adalah sama.
"Ada apa lagi? Ayo cepat cari jalan keluar. Di sini terlalu pengap," kata Qiandra.
Mikko menyelipkan foto tersebut diantara barang-barang lainnya agar tidak terlihat oleh sang Nona muda.
Namun sebelum itu ia sempat membaca tulisan di balik foto tersebut. "Freya Ludmila și Esthera, 1949."
(Freya Ludmila dan Esthera, 1949).
"Iya. Aku harus membereskan benda-benda ini seperti semula terlebih dahulu," kata Mikko.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Musim dingin ketiga, setelah kelahiran gadis spesial itu. Freya Ludmila, pertama kali diperkenalkan secara resmi ke warga desa oleh orang tuanya.
Tidak ada yang tahu bagaimana gadis itu lahir. Sang orang tua yang merupakan pemahat besi itu tak pernah cerita.
Noina, sang dukun beranak pun menutup rapat-rapat mulutnya. Ia tak mau ikut campur pada urusan gadis kecil yang dianggapnya terlahir dengan kutukan itu.
Waktu demi waktu berlalu, gadis cilik itu berubah menjadi remaja yang pintar dan cantik. Gadis itu pun dikenal sebagai ahli herbal yang mampu menyelamatkan banyak orang.
Namun satu hal yang luput dari perhatian orang tuanya. Setiap ia menyelamatkan satu nyawa dengan tangannya, maka nyawa lain akan hilang di malam yang sama, dengan cara yang misterius.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1