
"Nona, kita sudah mengelilingi seluruh rumah ini tiga kali. Apa Nona nggak capek?" tanya Sania dengan napas terengah-engah.
"Aku belum menemukan apa yang aku cari. Apa kita benar-benar sudah mengelilingi seluruh rumah?" tanya Qiandra.
"Tentu saja. Apa Nona sudah lupa dengan rumah karena jarang berada di rumah?" selidik Sania.
Sedari tadi ia memperhatikan majikannya yang beberapa kali salah jalan maupun salah ruangan. Qiandra juga banyak tidak mengetahui fungsi dari beberapa ruangan tersebut.
"Sania, kamu benar-benar tidak merasa aneh dengan kejadian yang menimpaku?" tanya Qiandra.
"Hmm.. Ya, lumayan aneh sih. Tetapi menurut tuan dan beberapa orang penjaga, kemungkinan Nona saat itu dibius dan dikurung di dalam gudang bawah tanah oleh seseorang," jawab Sania.
"Siapa yang berani membius dan mengurungku di rumah sendiri? Dan lewat mana mereka mengurungku?" tanya Qiandra lagi.
"Memang belum diketahui dengan pasti. Tetapi malam kemarin memang kedatangan beberapa orang staf tuan di kantor dan mereka sudah cukup familiar di rumah ini," jelas Sania.
"Itu nggak mungkin, Sania. Saat aku pulang, rumah benar-benar sepi. Tidak ada beberapa orang sama sekali selain penjaga gerbang depan dan... Gennie. Apa benar ia telah meninggal? Kenapa aku tidak mengingatnya?" kata Qiandra.
"Nona, tidak semua orang menyukai keluarga ini, karena berbagai hal terutama persaingan bisnis. Apa Nona benar-benar pulang jam segitu?" sahut Sania. Ia duduk di salah satu anak tangga demi meluruskan kakinya.
"Gennie beneran sudah tiada, Nona. Kan Nona selalu menemani jenazahnya hingga dikebumikan," lanjuf Sania.
"Masa, sih? Apa mereka semua kompak berbual padaku? Aku tidak pernah melayat orang meninggal, apalagi menemaninya," pikir Qiandra.
"Kita semua sudah lihat CCTV itu, kan? Dan di situ kan terlihat kalau aku terekam CCTV selitar pukul delapan lewat. Saat ini yang berbohong itu aku apa kalian?" ucap Qiandra mulai kesal. Ia masih penasaran ingin mengungkap kejadian semalam.
"Aku yakin sekali, ada pintu di samping lukisan ini," ucapnya.
Tangan Qiandra melepaskan lukisan itu dari paku di dinding. Ia lalu meraba seluruh bagian dinding itu dengan perlahan. Biasanya di film-film seperti itu, kan? Ada ruang rahasia di balik dinding.
"Nona, pintu ruang bawah tanah itu telah ditemukan oleh para tukang kebun, berada di dinding air terjun buatan," jawab Sania.
"Wah... terus siapa yang paham betul seluk beluk rumah ini, hingga berani membiusku, membawa diriku ke ruang bawah tanah? Apa dia tidak takut demgan para penjaga? Kalau aku sih lebih yakin jika kejadian semalam itu karena hal gaib."
Asisten Qiandra memiliki pendapat yang berbeda. Sania benar-benar yakin, selama hampir sepuluh tahun bekerja di rumah ini, ia sama sekali tidak pernah melihat pintu misterius yang disebut Nona muda tersebut. Ia yakin Nona mudanya lah yang aneh, bukan orang sekitar apalagi rumah ini.
"Nona, tuan ada mencurigai beberapa orang, yang telah lama mengenal tuan dan nyonya, dan sering berkunjung ke rumah ini. Tetapi semua masih perlu dipastikan lagi," ucap Sania.
__ADS_1
"Hmm... ya udah... tapi kamu harus tepati janji kamu tadi, ya," ucap Qiandra.
"Anu..." Sania masih berusaha menego permintaan Nona muda tersebut. Itu benar-benar keputusan yang sulit bagi Sania.
"Ya kalau kamu nggak mau menemani tidur di kamar aku gak apa. Tetapi kalau aku hilang lagi nanti bagaimana? Semua ini bukan kehendak aku, lho," ucap Qiandra sambil melirik asistennya.
"Ah, benar juga. Jika Nona menghilang lagi, bisa-busa ini menjadi hari terakhir kami bekerja di sini," pikir Sania dalam hati.
"Gimana?" Qiandra menaikkan alisnya.
"Oke deh. Malam ini aku tidur di kamar Nona. Nanti minta bawakan kasur tambahan untuk di bawah," jawab Sania kemudian.
"Gampang banget deh membujuk dia," batin Qiandra sambil tersenyum kecil.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Cih, padahal kata Nurul dan Dewi, Rania baik-baik saja tuh di sekolah. Ia sama seperti biasanya," gumam Qiandra sambil mengunyah buah pepaya.
Kamarnya kini lebih mirip dengan toko buah dan kue. Semua orang berlomba-lomba mengirimkannya parsel makanan ketika mendengar berita dirinya sakit. Yah, tentu tidak semua orang niatnya tulus. Tapi ia tetap diuntungkan bukan?
"Tuh fotonya. Dia lagi makan tahu isi. Emang ada apaan sih sama Rania?" Nurul mengirimkan sebuah foto.
"Sebenarnya kenapa ya? Kok akhir-akhir ini banyak banget kejadian aneh. Apa jangan-jangan dia ngirim santet padaku? Iya, pasti begitu," ujar Qiandra pada dirinya sendiri.
Tok... tok... tok... terdengar suara pintu kamat diketuk.
"Ya..." sahut Qiandra?
"Nona memanggil saya?" tanya Jupri.
"Benar. Masuklah," ucapnya. Jupri pun mengikuti perintah majikannya.
"Kamu yang bertugas malam kejadian itu, kan?" tanya Qiandra.
"Benar, Nona."
"Apa kamu melihat kejadian aneh malam itu?" tanya Qiandra lagi.
__ADS_1
"Ampun, Nona. Saya benar-benar tidak bersekongkol pada siapa pun," jawa Jupri takut.
"Haduuhh... Bukan itu maksudku. Apa kamu melihat wanita ini masuk ke dalam wilayah kita?" Qiandra memperbaiki pertanyaannya. Ia menunjukkan foto yang dikirim oleh Nurul tadi.
Jupri memperhatikannya lekat-lekat, "Hmm.. tidak Nona. Saya tidak pernah melihatnya," ucap Jupri yakin. "Ada apa dengan gadis itu, Nona?" tanya Jupri pula.
"Aku ada melihat cewek ini malam itu. Tetapi dalam wujud lain," sahut Qiandra.
"Wujud lain?" Jupri tak mengerti.
"Simpelnya mirip hantu," ucap Qiandra.
"Astaga. Masa, sih? Saya juga mendengar Nona melihat Gennie malam itu," ucap Jupri.
Qiandra mengangguk. "Aku nggak ngerti. Banyak banget kejadian aneh belakangan ini, seakan-akan aku hilang ingatan," ucapnya. "Hei, Jupri. Apa kamu tahu tentang santet?" lanjutnya kemudian.
"Hah? Ng-nggak paham begituan sih, Nona. Tetapi sering dengar aja. Memangnya apa hubungannya, Nona?" tanya Jupri.
"Ada seorang temanku yang selalu menerorku di sekolah. Ia bahkan mengetahui semua seluk beluk rumah ini. Aku curiga ia memiliki kenalan di sini dan bermaksud jahat pada kita," ucap Qiandra.
"Oh..." gumam Jupri.
"Cewek yang mendatangiku di malam itu adalah dia. Apa kamu pikir kejadian itu masuk akal?" kata Qiandra.
"Nggak, sih," jawab Jupri. "Tapi saya nggak bisa bantu kalau berhubungan dengan hal gaib gitu," lanjut pria umur tiga puluhan itu.
"Aku nggak minta itu padamu. Tapi apa kamu bisa memberikan peta rumah ini? Kamu kan petugas keamanan, pasti memilikinya," pinta Qiandra. "Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, ya?" ancamnya.
"Bener kata teman-teman, Nona jadi aneh. Apa dia nggak tahu kalau peta lengkap rumah ini hanya dipegang oleh tuan dan Pak Yahya? Lagian, masa dia gak hapal rumahnya senditi, sih?" batin Jupri.
"Hei! Lah... Kok malah melamun?" tegur Qiandra.
"Maaf, Nona. Ia nanti saya berikan," ucap Jupri. "Bodo amatlah. Aku kasih peta apa adanya aja," batinnya.
Petugas keamanan itu pun heran, apa sebenarnya yang disembunyikan majikannya? Kenapa ada banyak ruang yang dirahasiakan, bahkan dari putrinya sendiri? Terutama setelah kejadian yang menimpa putri mereka.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.