Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 41 - Interogasi


__ADS_3

"Eh, kenapa jawaban kalian berbeda? Qiandra bilang tidak dan kamu sebaliknya," sahut Pak Rayhan curiga.


"Maksud saya, benar kami mengikuti Rania karena melihatnya seorang diri. Saya tak menyangka kalau Qiandra berpikiran sama dengan saya," jawab Mikko.


"Dan maksud saya, tidak benar kami coba-coba masuk ke dalam gudang," jawab Qiandra pula.


"Terus?"


"Kaki saya tidak sengaja menginjak sarang semut, lalu bertabrakan dengan Mikko yang menyenggol pintu gudang, Bu."


"Oh, jadi itu sebabnya kaki kamu memerah," sambung Pak Rayhan.


"Pak, bukan itu fokusnya," tegur Bu Rosilah. Mikko hampir saja tertawa mendengarnya.


β€œDramatis sekali ya kejadiannya. Udah kayak ada scenario aja,” kata Pak Salamun.


"Ibu anggap jawaban kalian ini jujur. Tapi kalau di kemudian hari terungkap kebohongan kalian, harus siap menerima konsekuensinya," kata Bu Rosilah.


"Baik, Bu. Terima kasih."


"Apes banget aku hari ini. Masalah kemarin belum kelar, informasi tentang Rania belum dapat, eh malah ketimpa masalah baru," batin Qiandra setelah keluar dari kantor Wakil Kepala Sekolah.


"Hei, Qian. Aku mau bayar hutangku sekarang," seru Mikko.


"Hutang? Wah, kamu ngerti juga maksudku tadi," kata Qiandra.


"Pastilah. Wajahmu udah kayak induk singa kehilangan anak, tahu."


"Dasar! Jadi dengan cara apa kamu mau bayar hutang?" tanya Qiandra tak yakin.


Biasanya para cowok selalu mengajaknya makan bersama di luar, untuk berbalas budi padanya. Padahal Qiandra tahu, jika itu hanyalah modus mereka. Apakah Mikko juga seperti itu?


"Informasi tentang Rania. Aku juga menyadari, jika Rania banyak melakukan hal aneh belakangan ini," kata Mikko.


"Maksudmu? Kamu percaya dengan ceritaku tadi?" tanya Qiandra.


"Ya... belum sepenuhnya percaya. Tetapi aku memang mencurigainya. Terutama sejak fenomena Super Blue Blood Moon kemarin. Aku sempat melihat jejak pencariannya diinternet, semua berkaitan dengan hal mistis," jelas Mikko.


"Super Blue Blood Moon? Kapan itu?" tanya Qiandra. Ia tidak memperhatikan siswa-siswi yang berlalu lalang di sekitar sambil menyapanya.


"Malam saat kamu menghilang itu," jawab Mikko.


"Ini aneh," gumam Qiandra.


"Ya, memang aneh kan? Apa coba motifnya berbuat seperti itu?" balas Mikko.


"Maksudku bukan begitu. Yang aneh itu kamu. Kenapa pula kamu cerita padaku? Kita kan tidak dekat. Kalau hanya karena aku cerita soal tadi padamu, rasanya belum cukup sebagai alasan. Terutama bagi orang cerdas dan hati-hati seperti kamu," jelas Qiandra. Tetapi ia nggak menampik jika informasi yang diberikan Mikko sangat penting baginya.


Langkah Mikko terhenti seketika, "Iya juga. Kenapa aku mesti cerita padanya? Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya Qiandra seperti itu? Apakah ia benar-benar bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Kamu begini bukan untuk menjebakku, kan?" tanya Qiandra lagi.


"Tidak. Aku bukan orang yang seperti itu. Aku memberikan informasi ini karena aku yakin kamu orang yang bisa dipercaya, meski kamu tidak suka padanya. Dan sepertinya kita bisa bekerja sama untuk mencari tahu kebenarannya," kata Mikko.


Deg! Jantung Qiandra berdebar tak beraturan. "Duh, jantungku. Sabarlah... Jangan sering-sering baper sama cowok ini. Bisa-bisa nanti malaikat maut datang menyapa," batin Qiandra.


"Kenapa mukamu memerah? Kamu marah?" tanya Mikko tidak mengerti. Cewek itu memang makhluk spesial. Sulit untuk ditebak isi hatinya.


"Nggak, kok. Udah ya, aku duluan ke kelas," kata Qiandra sambil memalingkan wajahnya dari Mikko. Ia mempercepat langkahnya dua kali dari biasanya.


"Ugh... Dasar cowok jahat. Pura-pura nggak tahu sama perasaanku," ucap Qiandra lirih.


"Salahku apa, sih?" Mikko yang terpaku menatap kepergian Qiandra hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Apa maksud Mikko tadi, mereka mencurigaiku? Duh, rame banget tadi jadi nggak kedengaran, deh," keluh Rania sambil beranjak dari persembunyiannya.


Mulanya, Rania hanya penasaran dengan gosip yang beredar antara Mikko dan Qiandra. Gadis yang hendak menuju ke ruang guru menemui Pak Rayhan itu menguping pembicaraan sepasang remaja itu di sebalik tanaman perdu di depan kantor.


Rania ingin membuktikan sendiri, apakah mereka benar-benar pacaran atau tidak. Tetapi malah sebaliknya, hal yang ia dengar sangat tidak terduga. Bahkan Mikko mencurigai dirinya soal fenomena alam yang langka itu.


Apa itu artinya Mikko dan Qiandra mencurigai identitasnya juga? Rania memang ingin memberitahu hal yang sebenarnya pada sepasang remaja tersebut. Tetapi kalau begini, ia jadi ragu, Mikko dan Qiandra ini bakal jadi kawan atau lawan?


"Rania, udah ketemu Pak Rayhan?" Alvi menepuk bahu Rania.


"Astaga, Vi. Kakiku lemes nih karena terkejut," kata Rania.


"Aku belum menemui Pak Rayhan," kata Rania.


"Astaga! Jadi kamu ngapain aja dari tadi di semak-semak?" ujar Alvi kesal.


"Hehehehe...." Rania salah tingkah.


"Hei, lihat! Itu Pak Rayhan. Cepat kejar sebelum ia pulang, kalau tidak ingin remedial semester ini," seru Alvi.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Pe-permisi, Pak," ucap Rania sambil mengatur napasnya. Ia berlari dengan kecepatan suara mengejar Pak Rayhan demi keselamatan nilainya.


"Ya?" sahut Pak Rayhan. Ia mengenakan kacamatanya. "Oh, Rania. Ada apa?" lanjutnya.


"Tugas mandiri yang diberikan melalui email kemarin belum saya terima, Pak," ujar Rania. Napasnya masih sedikit ngos-ngosan.


"Oh, ya? Apa nama kamu terpajang di mading juga?" Pak Rayhan mengambil smartphonenya, dan mengecek sesuatu. Ia tidak begitu ingat nama siswanya yang belum mengumpulkan tugas. Rania menunggu dengan sabar.


"Nah, alamat email yang kamu berikan salah. Makanya tidak terkirim," ujar Pak Rayhan. "Ini kamu bukan yang menulis?" Ia menunjukkan sebuah foto yang berisikan daftar email siswa yang dikumpulkan hari itu.


"Iya, Pak. Tapi itu benar email saya," ujar Rania.


"Tapi kenapa tidak terkirim, ya?" gumam Pak Rayhan. Ia mencoba kirim ulang, namun hasilnya tetap sama.

__ADS_1


"Astaga! Aku lupa, jangan-jangan emailku juga menghilang seperti data-data lainnya juga. Lalu email Rania Putri? Aku tak tahu," gumamnya panik.


"Begini saja, jika kamu tak punya email lainnya, besok pagi ke ruanhan Bapak untuk ambil tugasnya. Tetapi tidak ada tambahan waktu untuk mengumpulkan tugas, ya," kata Pak Rayhan.


"Baik, Pak. Terima kasih. Saya besok pagi akan ke ruangan Bapak dan segera menyelesaikan tugas," ucap Rania senang.


Syukurlah, masih ada harapan untuk menyelamatkan tugas. Kali ini ia harus lebih fokus pada studinya.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Kamu lagi ngapain, sih?" tanya Mikko. Sedari tadi Rania mengutak-atik HPnya dengan gusar.


"Bukan urusan kamu," jawab Rania ketus.


"Ya ampun... Galak amat, Mbak," ucap Mikko.


"Ckk... ganggu ketenangan aja... " geram Rania. Ia lalu berpindah ke kamar kecil di bawah tangga khusus untuk istirahat mereka ketika bekerja.


"Anak ibu kenapa, sih? Dari tadi wajahnya bertekuk aja," tanya ibu.


"Nggak ada apa-apa, Bu," jawab Rania singkat. Ia membaringkan tubuhnya di pangkuan ibu. Belaian tangan sang ibu membuat ketegangan di kepalanya sedikit berkurang.


"Nggak apa-apa. Cerita aja sama Ibu. Walau pun Ibu belum tentu bisa membantu, setidaknya uneg-uneg di hati kamu berkurang," kata ibu.


Rania berdiam cukup lama. Sebetulnya, masalahnya hanyalah alamat email tadi. Tapi ketika melihat wajah Mikko, rasa sebalnya meningkat jadi berkali-kali lipat. Ditambah lagi wajah pemuda itu selalu terlihat tampan.


"Masa sih aku cemburu karena gosip tadi? Nggak mungkin, ah," batin Rania.


"Aku tebak, pasti masalah cowok," kata Livy.


"Huuu... Sok tahu," jawab Rania. Tetapi wajahnya memerah.


"Kamu berantem sama Mikko?" tanya ibu. Ia menghentikan belaian di rambut Rania.


"Nggak."


"Tapi jawabannya jutek mulu kalau membahas tentang Mikko?" tanya ibu


"Duh, kenapa ibu peka banget, sih?" batin Rania.


"Tuh kan, diam aja," kata ibu.


"Ih... Nggak ada apa-apa lho, Bu. Rania cuma lagi kesal sama tugas sekolah aja," jawabnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah dinding.


Ibu dan Livy saling berpandangan. Pasti ada sesuatu antara Mikko dan Rania.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi

__ADS_1


__ADS_2