Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 141 - Saling Menjauh


__ADS_3

Udara dingin mulai berhembus menusuk kulit. Awan gelap dengan jutaan uap air berjajar rapi di angkasa, menutupi indahnya mentari yang baru saja beranjak naik di langit biru.


Harum bunga kenanga bercampur melati begitu menyengat di indera penciuman. Beberapa daun pun mulai berguguran, seakan memberitahu, kalau titik air hujan akan segera menapak ke bumi.


Rania, gadis cantik keturunan Turki Rumania itu duduk termangu di bawah pohon randu yang tumbuh liar di area itu.


Bibirnya sedikit terbuka, hendak mengajak pulang cowok yang sedari tadi ditatapnya dengan hati terluka.


Arthur Mikko Walandou, cowok yang hampir menginjak usia delapan belas tahun itu masih betah duduk di depan gundukan tanah berwarna merah dan bertabur bunga di atasnya.


Sesekali lengan kanannya mengusap pipi, membersihkan air mata yang terus menganak sungai.


Sudah lebih dari tiga puluh menit ia duduk di situ, hanya beralaskan rerumputan hijau. Matanya tak lepas dari sebuah batu nisan bertuliskan nama "Rania Putri".


Hati Rania terasa sakit melihat pemandangan itu. Ini bahkan lebih sakit dibandingkan ketika Mikko dekat dengan Qiandra beberapa waktu lalu.


Hati Rania semakin yakin, kalau yang dicintai Mikko bukan lah dirinya, Edlyn Rania Austeen. Melainkan Rania Putri. Bagaimana pun juga, hanya wajah mereka yang mirip. Namun jiwa dan pribadi mereka sama sekali berbeda.


Tik! Tik! Tik!


Tetes air hujan mulai jatuh ke permukaan bumi. Namun tidak ada tanda-tanda Mikko akan beranjak dari situ.


"Aku pulang," kata Rania tanpa menoleh.


"Pulang? Biar aku antar. Tunggu aku sebentar lagi," kata Mikko.


"Nggak usah. Aku pulang duluan saja. Aku sudah pesan ojek online barusan. Kamu pasti madih merasa berat pergi dari sini," kata Rania.


"Oh... ya udah... Hati-hati, ya. Kabari aku kalau sudah sampai rumah," kata Mikko.


"What? Dia cuma bilang gitu aja? Gak ada basa basi apa kek gitu nahan aku biar gak pergi? Jadi selama ini aku dianggap apa? Pelarian karena tidak ada Rania Putri?" gumam Rania dalam hati.


Untung saja ojek online pesanan Rania segera datang. Ia tidak perlu berlama-lama bersama pria itu.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Loh, kok kamu basah kuyup gitu? Mikko mana?" sambut ibu di depan pintu rumah.


"Aku pulang duluan, Bu. Mikko masih ada urusan lain," jawab Rania sambil menundukkan kepala.


"Mata kamu merah banget. Pasti karena kena hujan tadi, ya? Mau Ibu bikinkan teh hangat?"


"Nggak perlu, Bu. Aku bisa bikin sendiri. Aku cuma perlu istirahat sebentar," jawab Rania lagi.


Bruk!

__ADS_1


Rania menghempaskan tubuhnya yang sudah berganti pakaian ke atas kasur kecil di sudut kamar. Ia menenggelamkan wajahnya ke bantal sambil menangis.


"Dasar aku bodoh! Kenapa aku selalu mengharapkan hati pria yang mencintai wanita lain?" tangis Rania.


Rania Austeen memang tidak mengenal langsung Rania Putri.


Meski mereka sekelas, namun sayangnya mereka tidak pernah bertemu langsung sejak menjadi siswa baru di SMA Internasional, hingga dua bulan kemudian Rania Putri menghilang.


Di awal tahunnya menjadi siswa SMA, Edlyn Rania Austeen justru disibukkan dengan syuting iklan dan fashion show di luar negeri.


Itulah sebabnya, kedua Rania tidak saling mengenal, dan orang-orang sekitar hampir melupakan bahwa ada dua Rania di SMA mereka.


Tling!


Rania mengambil ponselnya dengan malas.


"Sudah sampai di rumah? Kenapa masih belum ada kabar?"


"Tuh, kan... bener dugaanku. Pasti Mikko yang mengirim pesan," gumam Rania lalu melemparkan ponselnya di kasur.


Ia malas membalas WA dari Mikko.


Tling! Sebuah pesan kembali masuk.


"Duh, apa sih maunya anak ini?" gerutu Rania sambil mengambil ponsel.


"Nona, apakah Anda tahu keberadaan Nona Qiandra? Sejak tadi pagi ia tidak ada di kamar. Namun semua barangnya tidak ada yang hilang," tulis Felix.


"Qian? Duh, kok aku bisa lupa, kalau anak itu akan pergi setelah kasus selesai?"


Rania melompat dari kamar lalu berlari ke ruang tengah.


"Bu, apakah aku boleh ke rumah utama hari ini? Aku janji akan kembali ke sini secepatnya," kata Rania.


"Tentu saja, boleh. Kamu mau tinggal di mana, itu pilihan kamu. Rumah ini selalu terbuka untukmu," kata ayah dan ibu.


"Terima kasih, Bu."


"Wilbert, jemput aku sekarang di rumah ibu." Rania mengirim pesan pada supir pribadinya.


Dalam waktu singkat, Rania telah sampai di rumah keluarga Austeen. Ia menemukan kamarnya tertata dengan rapi, tak ada satu barang pun yang hilang..


Ia juga menemukan smartphone nya yang selama ini digunakan untuk Qiandra.


"Bagaimana dengan CCTV? Apakah tidak ada yang melihatnya?" tanya Rania.

__ADS_1


"Kami sudah mengeceknya, Nona. Terakhir Nona Qiandra terlihat keluar dari kamar Tuan Nico," jawab tim pengawas CCTV.


"Menurut saya, Nona Qiandra sengaja pergi melalui spot-spot yang tidak terjangkau CCTV," ucap Felix.


Ah, benar juga. Qiandra kan sudah lama tinggal di rumah ini. Ia juga banyak mempelajari seluk beluk rumah ini ketika mencari para pelaku kejahatan yang menyeret Tuan dan Nyonya Austeen.


Rania menggunakan cara lain. Ia menghubungi pihak sekolah dan juga otoritas pelabuhan dan bandara. Namun hasilnya tetap nihil.


Pihak sekolah yang saat ini sedang mengganti kepala sekolah dan beberapa staf guru, hanya mengatakan bahwa Qiandra sudah mengurus surat pindah ke sekolah biasa. Namun di mana sekolah itu, mereka belum tahu pasti.


"Duh, apa sih yang dipikirkan anak itu? Dia pikir dengan pergi seperti ini, semuanya akan baik-baik saja?" gerutu Rania.


Gadis itu lalu mengunjungi sang kakek di kamarnya.


"Kakek tadi melihat Qiandra meletakkan surat di antara buah apel. Tapi kemudian diambilnya kembali," ucap Kakek.


"Kakek sudah menahannya pergi. Tetapi mungkin tinggal di sini akan lebih sulit baginya, diantara sebagian besar orang yang membullynya karena kesalahan orang tuanya. Gadis yang sangat malang," kata Kakek kemudian.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Satu bulan kemudian... Hari-hari Rania kembali menjadi putri konglomerat, di mana ia sibuk sekolah, menjadi model brand terkenal dan mengurus perusahaan di bawah bimbingan wakil CEO.


Keberadaan Qiandra masih menjadi misteri. Rania sudah mengerahkan seluruh intel dan koleganya untuk mencari Qiandra, namun keberadaan gadis itu masih tidak diketahui.


Hubungan Mikko dan Rania semakin menjauh, sejak mereka pergi ke pemakaman waktu itu.


"Rania, kamu berantem sama Mikko?" bisik Alvi dan Anjani melihat Mikko dan Rania tak bertegur sapa.


"Nggak."


"Masa sih? Kayaknya ada yang aneh deh di antara kalian?"


"Iya kok. Aku cuma lagi memberi ruang sama Mikko, yang masih berkabung karena kepergian Rania Putri aja kok."


"Hai, Rania."


"Hai, Valen," balas Rania.


"Nanti jadi kan ke perpus?"


"Jadi, dong," jawab Rania lagi.


"Ini aneh, Rania kok malah makin deket sama Valen?" bisik Alvi pada Anjani.


Anjani hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2