
"Benar-benar nggak masuk akal. Masa iya Kak Syifa berbuat curang di perusahaan? Untuk apa? Dia salah satu orang paling dipercaya oleh mama. Gajinya juga tinggi."
Rania tidak jadi tidur. Pikirannya melanglang buana, memikirkan semua ucapan Wilda tadi.
"Lalu kematian Gennie, apa benar ini ulah Om Darrent? Polisi sudah menyatakan kalau ini murni kecelakaan lalu lintas biasa," pikir Rania lagi.
"Tapi Kak Wilda hanya bicara tanpa menunjukkan bukti, gimana aku bisa percaya? Lagian apa hubungannya dengan kasus menghilangnya Rania Putri?"
Rania mengingat-ingat sesuatu, "Hei, apa mungkin ini sudah terencana? Hanya berselang beberapa hari dari kematian Gennie, ada seorang pelayan baru yang menggantikannya. Dan kalau nggak salah, itu atas saran Om Darrent."
Wajah Rania memucat. Ia curiga ada kelompok tertentu yang akan menggulingkan posisi orang tuanya di perusahaan.
"Apa mungkin keluarga Audrey dan Qiandra bersekongkol lalu memanfaatkan orang-orang terdekat kami?"
"Apa jangan-jangan, bertukar posisinya aku dan Qiandra mereka juga yang mengatur? Tapi rasanya tetap nggak mungkin. Bagaimana mereka mengubah dan merekayasa data serta ingatan orang-orang?"
"Nggak. Semoga aja pikiranku ini nggak benar. Gimana nasib orang tuaku nanti, kalau ternyata ada musuh dalam selimut?" Rania benar-benar nggak bisa mengenyahkan pikiran buruknya.
"Ternyata masalah ini lebih rumit dari yang ku pikirkan. Aku harus minta tolong pada siapa? Semua kenalanku nggak ada yang menduduki jabatan tinggi dalam perusahaan," batin Rania.
"Dan nggak ada yang bisa ku percaya," lanjutnya lagi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Dia ada di sekitarmu. Dia ada di dekatmu."
Ucapan Wilda tadi terus terngiang-ngiang di telinga Qiandra.
"Malam ini dia menerormu!"
"Arrgghhh...! Aku nggak tahan lagi!" Qiandra menghidupkan semua lampu kamarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Gawat, besok aku ada ulangan di sekolah. Sorenya juga ada meeting untuk memilih model summer show ini."
Qiandra memandang dirinya di depan cermin. Matanya benar-benar hitam dan berkantung.
Tuuuut... Tuuuut...
"Halo? Ada apa, Nona?" suara Sania terdengar mengantuk.
"Ke kamarku segera," pinta Qiandra.
"Baik."
Tak lama kemudian..
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," ucap Qiandra.
Sania masuk membawa bantal dan selimut tebalnya. Ia lalu membentangnya di lantai.
Tanpa banyak bicara, Sania pun langsung tidur.
"Aneh? Tumben ia nggak merasa sungkan tidur di sini? Apa karena terlalu ngantuk?" pikir Qiandra.
"Hmmm... Tapi kok perasaanku aneh, ya? Aku trauma sama kejadian malam itu," pikirnya lagi.
"Udah, ah. Tidur aja. Jangan pikir aneh-aneh." Qiandra menarik selimutnya lalu berbaring.
__ADS_1
Sruk! Tiba-tiba kasurnya seperti dinaiki oleh seseorang.
"Si-siapa, ya? Sania nggak mungkin berani," batin Qiandra semakin ketakutan.
Sruk! Seseorang itu semakin dekati tubuhnya.
"Sania?" Qiandra memberanikan diri membuka mata.
"Aaa...!" Qiandra terpekik, wajahnya berhadapan langsung dengan sosok yang rupanya abstrak itu.
Tok! Tok! Tok!
"Nona...? Ada apa? Buka pintunya. Nona?"
"Itu suara Sania. Lalu ini siapa?" Tubuh Qiandra semakin membeku.
"To...long...!" Entah kenapa lidah Qiandra terasa kaku. Ia tidak bisa bersuara.
"Nona... Nona... Anda tidak apa-apa?" Kali ini suara Felix.
Ceklek, pintu dibuka dari luar menggunakan kunci cadangan.
"Qian? Apa yang terjadi padamu, Nak?"
"Mama?"
"Ada apa? Kamu berteriak kencang sekali," ujar Chloe.
Geffie, Sania dan Felix juga berada di sana.
"I-tu... Sosok itu..." Qiandra menunjuk ke sebelah kiri, berseberangan dengan pintu kamar.
Felix bahkan mengecek semua jendela dan kamar mandi. Sama sskali nggak ada tanda-tanda orang lain masuk ke kamar.
"Kamu bermimpi buruk?" tanya Geffie pada putrinya.
"Nggak, Pa. Aku yakin, tadi melihat sosok menyeramkan. Sebelumnya aku meminta Sania untuk menemaniku tidur. Lalu... Sania berubah menjadi menyeramkan."
"Astaga..." gumam Geffie dan Chloe.
Tentu saja yang dilihat Qiandra tadi bukan Sania. Asisten pribadi gadia itu baru saja datang, bersamaan dengan yang lain.
"Aku takut, Ma. Aku takut tidur di sini sendiri," tangis Qiandra.
Ini sudah kedua kalinya ia dihantui.
"Iya, sayang. Kamu tidur di kamar mama saja. Biar papa yang pindah ke sini," ujar Chloe.
"Benar. Papa saja yang tidur di sini," sambunh Geffie.
"Tapi siapa sosok menyeramkan itu, Pa? Aku yakin itu bukan mimpi."
"Papa juga nggak tahu. Sekarang istirahatlah, biar Papa dan Felix yang mencari tahu," ucap Geffie.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Keesokan harinya.
"Kenapa tuh mata? Habis syuting film horor?" Mikko menggoda Qiandra.
"Diem, Lu. Aku udah pake concelear tebel-tebel nih biar nggak kelihatan. Hargain, dong," ujar Qiandra sebal.
__ADS_1
"Apaan tuh konseler?" Kening Mikko berkerut.
"Concelear, Mikko. Concelear itu... Ah, udahlah. Cowok gak bakal ngerti. Aku kekelas dulu."
"Eh, tunggu dulu. Kamu kenapa, sih?" Mikko masih penasaran.
"Nggak lihat nih, aku kurang tidur. Ngantuk banget tahu." Qiandra terlihat semakin bad mood.
"Kenapa? Mimpi buruk? Atau diteror lagi?"
"Ya... Gitu deh. Aku ke kelas, deh. Mau tidur sebelum bel masuk."
"Cieee... Yang makin dekat sama Qian... Jadi Rania boleh kudeketin, kan?" goda Valen setelah Qiandra pergi.
"Jangan macem-macem, Lu." Mikko pura-pura marah.
"Yaelah, jangan kemaruk dong, Bro. Pilih satu aja kali. Masa mau digebet dua-duanya." Valen terus mengganggu Mikko.
"Mau mati, Lu?" Mikko mengepalkan tangannya di depan wajah Valen.
Cowok bertubuh gempal itu hanya terkekeh melihat reaksi Mikko.
"Pagi Rania. Kok lesu banget pagi ini? Sarapan bareng, yuk," ujar Valen.
Rupanya Rania baru saja datang. Nggak jauh berbeda dengan penampilan Qiandra, matanya juga menghitam karena kurang tidur.
"Hai Valen," balas Rania. Ia mengabaikan Mikko.
"Yuk lah sarapan bareng. Aku ada bawa omelet jagung, buatanku sendiri, lho," lanjutnya lagi.
"Wow, beneran? Makan di kantin yuk. Sekalian aku pesankan susu biar lebih semangat," kata Valen pula.
"Heh, memangnya kalian anak TK, sarapan pakai susu?" Hati Mikko memanas melihat kedekatan dua temannya itu.
"Sejak kapan mereka jadi akrab begini?" batin Mikko.
"Apa, sih? Sirik aje, Lu," ujar Rania jutek. Bersama Valen, mereka pun melangkah pergi ke kantin.
"Hei Rania, tunggu. Ada yang mau kubicarakan padamu." Mikko menarik tas ransel Rania.
"Apa?"
"Kamu kan yang membuat Qiandra begitu? Pasti tadi malam kamu meneror dia lagi," bisik Mikko.
"Dih, apa sih? Pagi-pagi udah main tuduh aja." Rania kesal.
"Emang siapa lagi yang melakukannya selain kamu? Kenapa bisa kamu juga kurang tidur seperti dia?"
"Emangnya kerjaanku cuma gangguin dia?" Rania berbalik badan.
"Kalau terbukti, kamu harus tanggung jawab, ya," ancam Mikko.
"Apaan sih, Mik. Sotoy amat. Rania bilang nggak ya nggak. Pagi-pagi udah cari ribut, Lu." Valen membela Rania.
"Emang kamu tahu apa? Jangan ikut campur, deh," ucap Mikko.
"Aku emang gak tahu pasti masalah kalian apa. Tapi bukan baru sebentar aku berteman dengannya. Aku tahu dia nggak bohong," balas Valen lagi. "Ayo Rania. Keburu bel ntar."
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1