Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 134 - Ingatan Pahit yang Kembali


__ADS_3

Halo teman-teman. Untuk hari ini episodenya cukup spesial. Karena dua episode di jadikan satu. Semoga nggak bosan ya... Selamat membaca.


...❤❤❤...


Rania segera menuju ke ruang bawah tanah beserta beberapa pengawal. Ia harus menyelesaikan masalah ini dari sumbernya.


Ia membawa salinan denah ruang bawah tanah yang dimintanya langsung pada Pak Yahya.


"Ukh... Bau dan berdebu," gumam Rania.


Sudah lebih tiga puluh menit berkeliling ruang bawah tanah, namun mereka tidak menemukan makam maupun jasad Nyonya Freya di dalam peti. Ia pun bingung harus melakukan apa dan memulai dari mana.


"Apa benar kalau nenek di makamkan di sini? Atau Qiandra hanya ngibul saja?" pikir Rania.


Otaknya berpikir keras untuk menyelesaikan ini. Ia harus mengembalikan semuanya ke keadaan semula, sebelum Qiandra membuat keputusan fatal di persidangan.


Rania mengerahkan semua pelayan dan pegawainya untuk mencari petunjuk. Beruntung, Felix sudah menjelaskan permasalahannya pada mereka semua sebelum Rania datang.


"Nona, kami menemukan coretan nama Freya, Edlyn dan angka-angka di atas buku-buku tua di kamar Nona Qiandra," ucap salah seorang pelayan melalui telepon.


"Nama?" Rania berpikir keras.


Apakah Qiandra ingin mengirim sihir pada ia dan nenek? Tidak mungkin. Nenek kan sudah meninggal.


"Jika rumah ini menyimpan banyak teka-teki, artinya semua yang ada di ruang ini juga mengandung teka-teki. Qiandra saja mampu memecahkan banyak teka-teki, aku juga harus bisa," tekad Rania.


"Ah... Nama. Freya dalam bahasa Norse Kuno berarti 'Dewi Cinta'. Cinta... disimbolkan dengan jantung atau hati. Artinya di sebelah kiri," pikir Rania menebak-nebak.


"Lalu angka? Nama Freya jika ditulis dengan alfabet mempunyai jumlah angka F \= 6, R \= 18, E \= 5, Y \= 25, A \= 1. Jadi jumlah angka untuk nama "Freya" adalah 55. Apa ini bergerak 55 langkah ke kiri? Tapi dari mana?" gumam Rania.


"Kalau arti nama Edlyn?" tanya salah satu pengawal.


"Edlyn memiliki banyak arti. Dalam bahasa Anglo-Saxon, artinya '(Seseorang yang) Agung'. Dalam bahasa inggris kuno artinya 'Putri' atau 'Permaisuri yang cantik'. Ah, Permaisuri?" Rania membelalakkan matanya.


"Hei, kalian tadi lihat ukiran berbentuk mahkota, kan? Permaisuri pasti mengenakan mahkota."


"Benar, Nona. Ada di sebelah kanan tangga."


"Fyuh... Baiklah. Kita coba. Semoga saja dugaanku benar."


Rania menuju tepat ke depan dinding berbentuk ukiran mahkota, lalu bergeser ke kiri sebanyak lima puluh lima langkah.


Tepat di langkah yang terakhir, ia menemukan lubang kecil berbentuk angka delapan di dinding yang berlukiskan ular naga.


Rania pun mencoba memasukkan kedua gelang di lubang tersebut. Tanpa diduga, pas sekali. Tapi tak terjadi apa-apa.


Rania mencobanya lagi. Kali ini posisinya diubah.


Drrrrkkk... Ruang bawah tanah itu bergetar seperti akan runtuh. Sebuah relief berbahasa Yunani Kuno muncul di dinding.


"Η καθαρή ψυχή είναι το παν. Η αγνή ψυχή είναι υψίστης σημασίας. Η φύση είναι καθαρή μαγεία".


"Jiwa yang bersih adalah segalanya. Jiwa yang murni adalah yang utama. Alam adalah sihir yang murni."


"Duh, apa lagi ini?" Rania semakin gelisah. Waktunya semakin sedikit.

__ADS_1


"Nona, akar mandrake tadi untuk apa?" tanya salah seorang pengawal.


"Oh, benar. Akar Mandrake." Rania teringat akar mandrake yang ia cabut dengan hati-hati dari balkon kamar sang mama.


"Jun, tolong bawa ke sini! Aku juga butuh lilin lavender itu," seru Rania.


Ia kini baru menyadari, lilin-lilin lavender di sana bukan sekedar untuk penerangan saja.


Rania lalu membakar akar mandrake tepat di depan lingkaran gelang. Aroma lavender yang khas, bercampur dengan akar mandrake menyelimuti seluruh ruangan.


"Aku selama ini salah. Aku selalu mencurigai Qiandra. Aku menghianati segala usahanya untuk membantuku. Akulah yang tidak memiliki jiwa yang bersih. Akulah yang diliputi perasaan iri. Aku membawa sifat kegelapan dan kejahatan," tangis Rania.


Tidak ada sesuatu yang terjadi, selain asap lilin yang semakin memenuhi ruang bawah tanah.


Ah, tapi sepertinya Rania merasakan sesuatu. Tempat lilin itu terlepas dan terjatuh ke tanah. Air mata mengalir semakin deras di pipinya.


"Rania Putri! Qiandra! Aku mengingat semuanya!" seru Rania kemudian.


"Apa kalian tahu di mana Qiandra sekarang? Kita harus segera menyusulnya," ucap Rania kemudian.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Apa kalian bilang? Rekaman black boxnya nggak kedengaran jelas?" ujar Qiandra gelisah.


"Benar, Nona. Rekaman itu hanya terdengar sampai mereka menabrak sesuatu dan mengucapkan nama seseorang. Tapi kemudian tidak terdengar apa-apa lagi selaian suara ribut seperti angin kencang dan hujan deras," jawab Jupri.


"Hah... emang benar sih, kalau kecelakaan itu terjadi saat cuaca sedang buruk. Tapi kalau begini, gimana caranya kita menemukan keberadaan Rania Putri?" komentar Qiandra.


"Gimana kita bisa tahu apa yang dilakukannya selanjutnya? Bisa aja kan korban itu bawa lalu disekap di suatu tempat? Atau... kalau dia sudah tewas, mereka menguburnya di suatu tempat untuk menghilangkan bukti," ucap Qiandra gelisah.


Qiandra melirik jam dari layar HPnya. Masih pukul 09.15. Masih ada sedikit waktu sampai menjelang sidang siang nanti.


"Di wilayah pasar ring road, Nona."


"Baiklah. Kita ke sana sekarang," ucap Qiandra.


Di tempat yang berbeda, Malfoy memohon dan berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan buah hatinya, sebelum ia menyerahkan diri dan menghabiskan siswa waktunya di penjara.


Hati pria itu sangat perih. Namun air matanya sudah mengering sejak berhari-hari yang lalu.


Sambil berjalan menjauhi pusat pertokoan, hati Malfoy terus mengucapkan doa.


Tiba-tiba, air matanya yang telah mengering, kembali membasahi pipinya. Ia melihat seorang wanita yang memiliki warna rambut sama persis dengan dirinya di seberang jalan.


Tidak hanya itu, wajahnya yang marah dan memandang ke arah dirinya, mengingatkan dirinya pada kemarahan besar dari gadis cilik yang ditinggalkannya beberapa tahun yang lalu.


"Putriku... Itu putriku. Aku ingat sekali. Dia... Dia yang memberiku sapu tangan ini," seru Malfoy sambil menggenggam sebuah sapu tangan.


"Putriku... Izinkan aku bertemu denganmu."


Malfoy bergegas menyeberang jalan.


Tiiiin!!!! Brakkkk!!!


"Astaga!!!" seru orang-orang di sana.

__ADS_1


Darah segar mengalir dari bawah mobil. Trotoar yang terbuat dari batu beton pecah berkeping-keping. Tak terkecuali dengan bemper depan mobil truk tersebut. Kejadian itu membuat para pengguna jalan lain menghentikan kendaraannya.


"Pak, kalau nyebrang lihat-lihat, dong. Itu kan lagi lampu hijau. Hampir aja saya jadi pembunuh," seru pengemudi truk sambil turun dari mobil. Sepertinya ia masih belum sadar kalau kendaraannya baru saja melindas seekor kucing hingga mati.


"Maafkan saya. Maaf," ucap Malfoy lemah.


Meski ia sangat penasaran dengan gadis yang dilihatnya tadi, tapi Malfoy tak lantas meninggalkan tempat itu. Ia merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang baru saja terjadi.


"Maaf? Saya maklumi karena Anda sudah tua. Tapi bagaimana dengan kerusakan mobil saya?" ucap pria dua puluh tahunan itu.


"Nih. Saya akan ganti rugi. Pakai aja semua uang yang ada di rekening ini. PINnya angka depan dan angka belakang nomor kartu."


Seorang gadis berambut pirang, memberikan sebuah kartu ATM platinum pada pria tersebut.


"Tapi..."


"Saya sudah memanggil polisi lalu lintas dan bantuan lainnya untuk mengevakuasi mobil Anda. Jadi Anda bisa tenang. Sekarang biarkan pria ini pergi. Oh, iya.. Ini kartu nama saya. Kalau ada apa-apa hubungi saja," lanjut gadia itu.


Semua orang di sana tercengang melihat aksi gadia itu.


"Ayo, Pak Tua. Kamu harua ikut aku ke pengadilan sekarang juga."


"Putriku..." Malfoy menangis terharu melihat gadis di depannya. Ia tak menyangka, bahwa Tuhan mengabulkan doa dari orang hina ini.


"Tunggu apa lagi. Kita nggak punya waktu untuk bicara. Ayo, pergi. Pengawal, tarik dia," perintah gadis itu.


"Qiandra, anakku. Maafkan Papa. Tolong maafkan Papa," bisik Malfoy di tengah isak tangisnya.


Para bodyguard berseragam meminta Malfoy untuk berpindah dari tempat itu. Sementara Qiandra terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


"Qiandra! Tunggu!" Tiba-tib Rania datang dan mencegah Qiandra membawa Malfoy.


"Jangan menghalangiku!" seru Qiandra.


"Apa kau tahu siapa dia? Dia ayahmu. Jangan seperti ini," bujuk Rania.


"Dia bukan Ayahku!" teriak Qiandra histeris.


"Dia Ayahmu. Maaf aku terlambat memberi tahumu," ucap Rania.


"Qian... Ini Papa," ucap Malfoy lemah.


"Aku tahu dia siapa! Aku ingat semuanya!" teriak Qiandra.


"Orang tua mana yang tega menjual anaknya? Ayah mana yang tega mengganti identitas anaknya hanya demi karir?" tangis Qiandra di tepi jalan.


"Aku ingat bagaimana mereka berulang kali meninggalkanku sendirian di tengah badai salju, hingga nenek menjemputku. Mereka lebih mementingkan fasion show di luar negeri dari pada aku."


"Aku juga ingat,seperti apa bahagianya mereka ketika Tuan dan Nyonya Gregory mau menerimaku."


"Aku bahkan ingat, bahwa ia berpura-pura menjadi donatur anak yatim, untuk membiayai sekolahku yang tidak ditanggung oleh Tuan Gregory."


"Apa itu yang disebut orang tua? Apa itu yang disebut Ayah? Jawab!"


Qiandra terus menangis dan meracau, tanpa mempedulikan pandangan orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Benar! Aku adalah pria bejat yang menelantarkan anak sendiri. Akulah ayah tak bertanggung jawab yang lebih mencintai istri dari pada anak sendiri. Silakan hukum aku," ucap Malfoy penuh penyesalan.


(Bersambung)


__ADS_2