
"Ckk, Mikko ke mana sih?" ujung jari kaki Qiandra mengetuk-ngetuk lantai. Bola matanya bolak-balik menatap layar ponsel dengan Resah.
Tok... Tok...
"Permisi, Nona," ucap Sania.
"Hmm?"
Sania menundukkan kepalanya. Terlihat sekali kalau majikannya sedang tidak bisa diganggu.
"Ada apa? Katakan saja," tanya Qiandra tak sabar.
"Ketua tim fashion summer show bertanya, apakah Nona sudah memilih model untuk kegiatan tersebut?" lapor Sania.
"Model? Ketuanya kan sudah diganti? Kenapa aku juga harus memikirkan hal-hal seperti itu?" protes Qiandra.
"Benar, Nona. Untuk masalah desain, bahan, hingga pemilihan warna sudah diputuskan oleh tim. Tapi masalah pemilihan model masih diserahkan kepada Nona."
"Duh, merepotkan banget sih. Memangnya gak bisa mereka saja yang tentukan?"
"Apa Nona sudah tak berminat lagi jadi desainer handal?" Sania balik bertanya.
"Yah... Aku bukannya tak berminat lagi. Tapi malas saja bertemu dengan 'Nyonya Besar Sok Tahu' itu," jawab Qiandra.
"Jadi sekarang gimana?" Sania sedikit mendesak Qiandra untuk membuat keputusan.
"Aku harus lihat dulu desain yang mereka pilih. Baru bisa tentukan modelnya. Apa mereka sudah mengirimkannya kepadaku?"
"Belum, Nona. Nanri akan saya sampaikan pada Tuam Sigmon, agar segera dikirim ke email Nona,"ujar sang asisten sebelum undur diri.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
βThanks banget ya Anjani, udah bolehin aku kerja di sini,β ucap Rania.
βEits, siapa bilang kamu boleh kerja di restoran aku,β jawab Anjani. Ia memasang wajah sangar.
βLoh, tapi isi We-A kamu?β Hati Rania sedikit ciut, βApa lagi ini? Aku dikerjain lagi?β pikirnya.
"Kamu di sini untuk mengajarkan aku persiapan olimpiade. Tenang aja, bayarannya sama kok dengan tutor profesional lainnya. Gimana? Mau, kan?" jelas Anjani. Ia tidak ingin berlama-lama mengerjai sahabatnya itu dan membuat kesalahpahaman.
__ADS_1
"Mau aja, sih... Tapi apa kamu yakin minta ajarin aku? Kan banyak les privat dengan guru atau tutor lebih berpengalaman lainnya?" kata Rania.
"Emang banyak, sih. Tapi aku nyamannya belajar sama orang yang sudah kenal dekat. Dan aku percaya kok sama kamu." Sorot mata Anjani menunjukkan bahwa ia tidak bohong.
Tidak ada alasan Rania untuk menolak. Saat ini ia butuh modal yang cukup besar dalam waktu cepat untuk menyelidiki semua keanehan ini. Untuk permulaan, ia akan menyelidiki email 'Rania Putri'. Sepertinya di sana ada banyak petunjuk.
Menurut Rania, ini bukan sekedar kecelakaan dan kehilangan ingatan biasa. Sepertinya ada seseorang yang menghilang, dan ia pun menggantikan posisi itu.
Tapi bagaimana kejadian persisnya? Terlebih setelah Mikko menunjukkan foto ibunya masa muda sambil menggendong seorang bayi cantik berambut hitam kecoklatan dengan mata biru. Jelas sekali itu bukanlah Qiandra.
"Oh, iya. Novel kamu di aplikasi itu kok gak update lagi? Kontrak kamu udah habis, ya? Padahal belum tamat, kan?" celetuk Anjani. Jemarinya menuliskan bagan reproduksi algae di buku latihannya.
"Eh?" ucap Rania. "Anjani juga tahu kalau aku menulis novel? Ku pikir ia hanya tahu kalau aku ini asisten rumah tangga," pikir Rania.
"Kalau yang ini apa pembahasannya?" tanya Anjani membuyarkan pikiran Rania.
"Hei Anjani, apalagi yang kamu tahu tentang aku selain novel dan asisten rumah tangga?" tanya Rania.
"Ha?" respon Anjani kebingungan.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Halo, Qian."
"O, ow... Sorry Nona. Saya tadi lagi sibuk," sahut Mikko. Ia menghentikan kemudinya saat melihat lampu lalu lintas menyala merah.
"Halah bo'ong. Bilang aja lagi mabar sama geng kamu," ujar Qiandra.
"Kok dia bisa tahu, sih? Dia itu spy, ya? Apa begini rasanya dimarahin sama pacar posesif?" Mikko larut dalam lamunannya.
"Haloooo... Udah mati apa belom orangnya, nih?" seru Qiandra.
"Iye... Bawel amat, Neng. Kaya emak-emak nyeret anaknya pulang. Ada apaan dari tadi cari aku? Kangen, ya?"
"Hih! Lama-lama ku jadikan tumbal pesugihan juga nih orang," kesal Qiandra. "Gimana respon Rania tadi melihat foto yang ku kirim?"
"Ah... Dia memang sedikit terkejut. Tapi aku nggak nyangka kalau dia ketakutan banget. Emangnya kenapa, sih? Itu beneran foto dia?" ujar Mikko.
"Nggak, lah. Itu foto editan. Di rumah ini sama sekali gak ada jejaknya," jawab Qiandra.
__ADS_1
"Terus, kok kamu bisa nuduh kalau dia anak mama kamu?" ujar Mikko tak mengerti. Mana ada kan orang yang mau membuka aib keluarga sendiri kayak gitu?
"Dulu dia pernah mengakui itu padaku. Terus sekarang, kakek aku nggak mengakui kalau aku cucunya, dan malah mengingat Rania. Walau pun buktinya enggak ada," kata Qiandra.
"Wah, kapan dia bilang hal kayak gitu sama kamu?" Mikko memutar kemudinya ke kanan. Memasuki kompleks perumahannya.
"Udah lama, sih. Waktu itu di sekolah. Di depan geng kami masing-masing pula."
"Tapi kalau ku pikir-pikir, nih. Looknya emang Rania yang lebih mirip sama Mama Papa kamu. Matanya, warna kulit dan rambutnya, hidungnya... Ya gak, sih?" ceplos Mikko.
"Benar juga. Hanya rambutku yang piramg di keluarga ini. Kenapa aku gak kepikiran dari dulu, ya? Aku... Bukan anak pungut, kan?" risau gadis manis itu.
"Qian? Halo? Kamu marah, ya? Maaf, deh. Aku gak bermaksud menyinggung kamu," ucap Mikko merasa bersalah. Ia tidak mendengar jawaban dari seberang sejak tadi.
"Nggak. Aku nggak marah, kok," ucap Qiandra pelan. Diam-diam matanya mulai basah.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Yakin gak perlu di antar? Sore-sore gini susah lho cari angkot dari sini? Kalau pesan ojek online, ongkosnya pasti mahal banget," tanya Anjani.
"Nggak apa-apa. Aku bisa jalan sedikit ke sana lalu naik bus kota," jawab Rania santai. Sebenarnya ia hanya mengulur waktu pulang ke rumah, agar bisa mencari tahu banyak tentang 'Rania Putri'.
"Hati-hati, ya," ucap Anjani. "Oh, iya. Aku nggak tahu kenapa kamu cari kerjaan, padahal kamu sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah dan membantu ibu kamu bekerja. Kalau ada masalah ceritakan saja pada aku," lanjut gadis keturunan India itu.
"Nggak ada masalah, kok. Aku cuma ingin beli sesuatu, tapi tak mau merepotkan orang tuaku," kilah Rania.
"Terus pertanyaan kamu tadi, soal seberapa kenal aku denganmu?" tanya Anjani lagi.
"Lain waktu aku kasih tahu, deh. Udah ya. Aku pulang dulu. Udah kesorean." Rania melambaikan tangannya sambil mengedipkan sebelah mata.
Ditemani matahari senja dan debu halus yang menghiasi jalanan kota sore ini, Rania melangkahkan kakinya menuju halte terdekat.
"Rania."
Kantuk Rania hilang seketika, saat seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dengan hati-hati, "Ini bukan hipnotis, kan?" pikirnya
"Ya, Tuhan. Rania... Rupanya kamu masih hidup. Aku pikir gak bakal ketemu kamu lagi selamanya?" seorang wanita seusia anak kuliahan menatap Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Siapa?" tanya Rania bingung.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...