Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 95 - Lalu Aku Anak Siapa?


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Qiandra? Kamu lagi ngapain, Nak? Sudah makan?" panggil Nico.


Tok! Tok! Tok!


Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar. Tetapi samar-samar Nico mendengar suara obrolan dua orang perempuan.


"Ah, mungkin Qiandra sedang bersama temannya."


Nico berbalik badan menuju ke kamar. Ia urung mengunjungi cucunya.


"Tuan Nico? Ada perlu dengan Nona?" tanya salah seorang pelayan.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin makan bersama Qiandra saja. Tetapi sepertinya dia sedang sibuk," sahut Nico.


"Nona tidak sedang sibuk, Tuan. Ia hanya mengeobrol dengan asisten barunya," ujar pelayan tersebut.


Ia tahu, jika orang tua Nyonya mereka sangat kesepian sejak anak dan menantunya ditangkap atas kasus pemakaian dan pengedaran narkoba.


Hingga saat ini, mereka masih ditahan. Pengajian rehabilitasi pun di tolak, karena mereka mengedarkan barang terlarang tersebut dalam jumlah besar.


Hukuman penjara puluhan tahun pun menanti mereka. Sidang demi sidang juga bakal mereka hadapi nantinya.


Jadi saat ini, sang cucu lah yang dapat menghiburnya.


Seperti saat ini, pelayan pun membantu Nico untuk menemui cucunya.


Ceklek! Pintu kamar terbuka.


Dua orang gadis seumuran sedang duduk berhadapan. Wajah mereka tampak tidak bersahabat. Bagaikan warna rambut mereka yang bertolak belakang, hitam dan putih pirang.


Nico terfokus pada sang pemilik rambut hitam.


"Astaga! Rania cucuku!" seru Nico di depan pintu.


Secara bersamaan, Rania dan Qiandra menoleh ke pintu.


"Mampus aku! Baru saja aku berpikir, bagaimana caranya agar mereka berdua nggak saling bertemu," pikir Qiandra dalam hati.


Nico terus melangkah ke dalam kamar. Matanya sama sekali tidak berkedip memandang gadis blasteran tersebut.


"Kakek?" ucap Qiandra. "Kenapa kakek di sini?" ucap Qiandra dengan ramah.


"Ah, tadinya kakek ingin mengajakmu makan bersama, Qian. Tak kusangka justru kamu membawa Rania ke sini," jawab Nico dengan wajah sumringah.


"Bagaimana ini? Kenapa kakek bukannya di Irlandia, malah di sini? Aku harus pura-pura nggak kenal, atau menyapa kakek sebagai cucunya?" Rania melirik ke arah Qiandra untuk meminta jawaban.

__ADS_1


Tetapi sepertinya, Qiandra justru lebih bingung dibandingkan Rania.


"Nak, terima kasih ya. Kamu memenuhi permintaan kakek kala itu. Kamu benar-benar membawa Rania ke sini."


"Sepertinya kakek salah paham," ucap Qiandra dengan gigi rapat. Matanya memerah. Jelas sekali ia menahan tangis.


"Maafkan kakek. Apa kalimat kakek barusan menyinggungmu?" ujar Nico menyesal.


"Aku tidak sebaik yang kakek pikirkan. Aku tidak membawa Rania ke sini. Justru dia lah yang datang untuk bekerja sebagai asistenku," jelas Qiandra.


"Ah... Maaf, Nak. Tapi bagaimana pun sikapmu, kakek tetap memandangmu sebagai anak yang baik."


"Aku cucu kakek! Aku putri dari keluarga ini! Kalau dia adalah cucu kakek, lalu siapa keluargaku? Siapa orang tuaku? Di mana keluargaku? Dan kenapa aku bisa ada di sini?"


Tangis Qiandra pecah. Ia histeris sambil menangis tersedu-sedu.


Entah mengapa, Rania pun turut menangis. Bukankah seharusnya ia senang? Salah satu keluarganya mengenali dirinya.


"Nak, siapa pun dirimu, kamu tetap cucu kakek. Kamu juga tetap bagian dari keluarga ini." Nico mengusap bahu Qiandra untuk menenangkan gadis itu.


"Maafkan kakek. Kita bicarakan ini lain kali. Sekarang kita makan saja dulu, ya?" bujuk kakek.


Beberapa pelayan yang tak sengaja mendengarnya pun menjadi heboh. Rania bergegas keluar kamar dan menemui mereka.


"Agni, Riska, Ayu... Sini sebentar," panggil Rania.


"Aku tahu, kalian mendengar semuanya. Tapi ku harap, kalian tidak mengatakannya kepada siapa pun, jika masih ingin kepala dan tubuh kalian menyatu," ujar Rania.


Deg! Menyeramkan.


Ketiga pelayan tersebut lalu mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Qiandra, maafkan aku. Aku nggak tahu, kalau kakek sedang ada di sini," ucap Rania.


Qiandra sudah sedikit lebih tenang dari pada tadi, dan kakek sedang memanggil para pelayan untuk membawakan cemilan ke kamar.


"Aku yang mengatakan pada kakek, kalau memiliki teman bernama Rania," sahut Qiandra.


"Eh?" Rania tidak percaya.


"Kakek terus-terusan mengatakan, kalau Edlyn Rania Putri lah cucunya. Bukan aku. Tapi aku terus membantahnya. Dan lagi, yang ku kenal itu Rania Putri," jelas Qiandra.


"Qian, aku tahu sesungguhnya hatimu sangat baik. Tapi entah bagaimana, lingkungan terpaksa mengubah dirimu," ucap Rania.


"Kamu pernah bertemu dan sangat mengenal Edlyn Rania Putri, jauh sebelum kita bertukar tempat," cerita Rania. "Tetapi, sama seperti sekarang, hubungan kita tidak bisa dikatakan baik."

__ADS_1


"Tanpa kamu mengakui statusmu sebagai keluarga Austeen, aku juga sudah merasakan keanehan dari dulu. Meskipun aku tak bisa mengingat apa pun," ungkap Qiandra.


"Apa kamu tahu betapa sakitnya hatiku? Setiap ada yang berkata, mengapa aku berbeda dari kedua orang tuaku? Mengapa aku tidak kompeten? Dan mengapa-mengapa lainnya," curhat Qiandra.


"Lalu aku bisa apa selain menjalani kehidupanku sekarang? Aku tidak tahu siapa orang tuaku, jika memang bukan keluarga ini. Aku juga tidak tahu harus pergi ke mana, jika kamu mengambil kembali posisiku ini."


"Belum lagi para penjilat di sana sini. Mana yang harus aku percaya, dan mana yang harus aku ikuti?"


Qiandra terlihat sangat frustrasi. Matanya sayu dan tubuhnya gemetar.


Rania baru menyadari satu hal, setelah berbincang lebih dekat dengan Qiandra. Gadis itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan dulu. Hingga tulang-tulangnya menonjol keluar. Apa yang sebenarnya terjadi padanya, sih?


"Aku memang tak bisa menjawab semua pertanyaan itu, Qian. Tetapi yang bisa kulakukan saat ini padamu hanyalah, mendukungmu dari belakang. Seperti rencana kita semula," ucap Rania.


Nico memandang kedua remaja tersebut dengan bangga. Qiandra mampu mengendalikan emosinya, walau saat ini ia berada di titik terendah. Sementara Rani mampu berpikir dewasa, demi kebaikan bersama.


Padahal beberapa menit yang lalu, mereka terlihat seperti dua harimau betina yang memperebutkan satu pejantan. Kasar dan brutal.


Nico sama sekali nggak keberatan, jika kedua gadis tersebut menjadi cucunya.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Nona."


"Ya, silakan masuk."


"Ada kabar dari Jupri dan Hendra, tentang Fania," ucap Sania.


"Apa itu?"


"Mereka menemukan suami Fania yang bersembunyi hampir setahun. Kini ia muncul kembali dengan perusahaan sendiri, dan langsung meluncurkan brand baru."


"Apa berita anehnya?" tanya Qiandra tidak sabar.


"Hah, Qiandra menyelidiki Nyonya Fania dan Tuan Malfoy? Ini bahaya," pikir Rania dalam hati.


"Mobil tersebut adalah mobil yang sama dalam laporan kasus tabrak lari satu tahu yang lalu di danau. Saat itu Fania tampak sedang berdua dengan suaminya. Sejak saat itah Malfoy hilang tanpa jejak," kata Fania.


"Apa kaitannya dengan masalah kita?"


"Kami curiga, kecelakaan itu adalah rekayasa, untuk menyamarkan jejak mereka dalam kegiatan lain," ucap Sania menutup laporannya.


"Itu tidak benar. Kecelakaan itu adalah nyata dan awal dari semua masalah ini," ujar Rania lantang.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2