Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 94 - Jangan Sampai Bertemu Dia


__ADS_3

Glek! Glek! Glek!


Qiandra menenggak air putih hangat di ruang makan. Tak seperti biasanya, ia mengambil sendiri air minum tersebut. Ia pun sangat menghindari kamarnya yang terkesan angker.


Tiba-tiba matanya menangkap suatu bayangan di kaca lemari es dua pintu tersebut.


Rambut panjang terurai, mata besar dan senyum yang khas. Sosok itu duduk tepat di belakangnya.


"Aaaaaa...!!!"


Crang! Gelas yang dipegang Qiandra terlepas dan pecah berkeping-keping memenuhi ruangan berlantai marmer itu.


"Qiandra, kamu nggak apa-apa?"


"Kyaaa!!! Kamu siapa? Jangan mendekat. Pergi! Pergi!"


Tanpa sadar, nona muda tersebut menyentuh pecahan gelas di lantai. Telapak kakinya berdarah.


"Ini aku." Wanita itu berusaha membantu Qiandra untuk berdiri.


Namun sebaliknya, Qiandra justru semakin menjauhinya. Ia tidak peduli berapa banyak kepingan kaca menusuk kulitnya.


"Astaga, Nona. Ada apa? Cepat panggilkan dokter!"


Felix dan beberapa orang pelayan datang membantu.


"D -dia..."


Qiandra menunjuk ke arah meja makan dengan tangan gemetar.


"Ya?" Felix melihat ke arah yang ditunjuk oleh nona muda.


"Maaf, Nona. Saya terlambat," ujar Sania. "Beliau adalah asisten baru Nona. Rania Putri," lanjutnya.


"Apa? Jadi dia manusia asli?"


Semua pelayan dan asisten yang ada di ruangan tersebut mengernyitkan dahi. Mereka saling berpandangan.


Sementara Felix tak banyak bicara. Ia segera menggendong nona cantik itu ke kamarnya. Wajah tirus Qiandra menempel di dada pemuda yang berbalut jas abu-abu itu. Aroma parfumnya begitu lembut dan menenangkan.


Di saat yang sama, Qiandra dan beberapa pasang mata lainnya, mampu melihat perubahan di wajah sang asisten. Hembusan napasnya begitu kasar. Sania tampak cemburu melihat pria tampan itu menyentuh gadis lain.


Kisah cinta mereka yang masih abu-abu, sudah jadi konsumsi sehari-hari bagi para penghuni rumah tersebut. Kapankah Felix akan menyadari perasaan Sania?


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Lukanya tidak dalam, tapi cukup banyak. Beberapa hari akan segera sembuh," ucap dokter pribadi keluarga Austeen.


Satu per satu kepingan kaca yang menusuk kulit kaki dan telapak tangannya pun di keluarkan dengan hati-hati. Rasa perih merayap ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Setelah tidak ada lagi benda asing di dalam kulit wanita kaukasian itu, sang dokter pun memberikan antiseptik dan obat luka tetes.


Qiandra mengatupkan bibirnya, menahan rasa sakit.


"Apa ini berbekas, dokter?" tanya Qiandra khawatir.


"Seharusnya tidak, jika kamu tidak menggarukklnya ketika akan sembuh," jawab dokter tampan itu.


"Tetapi nanti akan kuberikan sebuah salep, untuk lebih cepat memudarkan bekas lukanya.


Seteah dokter pribadi mereka pergi, perhatian Qiandra kembali kepada gadis berambut panjang yang duduk di sudut kamarnya.


" Jadi, jelaskan padaku. Mengapa kamu bisa menjadi asiaten di sini? Kamu menipu pengawas gerbang depan?" cecar Qiandra pada Rania.


"Izinkan saya menjawabnya, Nona," ujar Sania.


Asisten cantik tersebut berusaha jadi penengah. Jangan sampai pegawai baru tersebut malah down mendengar omelan Qiandra.


"Hmm...? Silakan."


"Jadi, mengingat kondisi Nona yang semakin kekurangan waktu istirahat dan kemarin sempat drop. Kepala rumah* tangga pun berinisiatif mencarikan asisten baru untuk Nona."


(*Beberapa budaya eropa, memperkerjakan seorang kepala rumah tangga di kediaman mereka. Tugasnya adalah bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga/keluarga tersebut.)


"Kenapa kalian tak mengatakan padaku terlebih dahulu soal ini? Dan kenapa pula dia yang dipilih?" protes Qiandra.


"Maaf, Nona. Menurut kami ini hal yang sangat mendesak, jadi kami tidak sempat mendiskusikannya dahulu pada Nona," jawab Sania.


"Kriteria?" Qiandra masih tidak terima.


"Percaya atau tidak, dia lolos empat jenis bahasa asing. Dia mampu menganalisis dan membuat dokumen dalam waktu singkat. Dia juga terlatih mengatur keuangan dalam bisnis. Lalu, sangat memahami dunia design dan fashion," jawab Sania.


"Kalian percaya pada anak seumuran dia? Mungkin saja itu hanya kebetulan, atau ada orang dalam yang membantu," tolak Qiandra.


Sementara Rania yang mendengarkannya duduk dengan tenang sambil menikmati secangkir teh rossela di sudut ruangan.


"Tidak, Nona. Semua diuji sebagai mana para asisten yang bekerja di rumah ini. Bahkan beberapa penguji dari tim HRD memberikannya nilai plus," sahut Sania.


"Kelebihan lainnya, ia juga satu kelas dengan Nona. Jadi ia bisa bersama dengan Nona setiap saat."


"Cih, bahaya ini. Jangan sampai ia bertemu dengan kakek," pikir Qiandra dalam hati.


"Apa kalian tahu, sosok dia lah yang selalu menghantuiku beberapa waktu terakhir," ujar Qiandra tiba-tiba.


"Apa?"


Sania dan beberapa pelayan di sana hampir saja teriak mendengarnya. Bola mata mereka langsung tertuju pada Rania.


"Itu tidak benar. Saya tidak pernah mengganggu, Nona," ucap Rania. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sangat elegan.

__ADS_1


"Mungkin ada pihak lain yang tidak suka pada kami berdua, dan menggunakan cara tersebut untuk menganggu," lanjut Rania lagi.


"Kalian keluarlah dulu. Aku ingin bicara berdua dengannya," perintah Qiandra.


Sania menatap majikannya dengan ragu.


"Tidak akan ada apa-apa, selama dia beneran manusia," kata Qiandra lagi.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Kenapa kamu di sini?" tanya Qiandra setelah mereka tinggal berdua.


"Lho, kamu nggak dengar ucapan Sania tadi? Aku di sini bekerja sebagai asisten pribadimu."


"Maksudku, apa tujuan mu di sini?" ujar Qiandra lagi.


"Tentu saja ingin membantumu," jawab Rania.


Gadis itu bangkit dari kursinya, dan duduk di tepi tempat tidur di samping Qiandra.


"Ahh... Sudah lama sekali aku tidak merasakan kasurku," ucapnya tanpa mempedulikan pandangan kesal dari Qiandra.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Usia kira hampir sama. Sania saja masih belum bisa menguasai semuanya," bantah Qiandra.


"Kamu pasti tahu, aku lebih berpengalaman darimu dalam mengatur perusahaan ini. Aku sudah belajar dari usia enam tahun," kata Rania. "Ingatanku terhadap karakter orang-orangdi perusahaan pasti cukup membantu juga."


"Tapi karena posisi kita tertukar, aku tak bisa mengerjakannya langsung. Bukankah ini memberikan banyak keuntungan padamu? Semua pekerjaanmu akan beres di tanganku, dan kamu mendapatkan nama di perusahaan," lanjut Rania.


Qiandra terdiam dan berpikir cukup lama. "Tetapi menurutku ini tindakan gegabah," ucapnya kemudian.


"Kalau kita hati-hati, semua akan aman. Bahkan aku bisa mengembalikan kedudukanmu di tim fashion," ujar Rania.


"Lalu apa yang kamu harapkan dariku?"


"Kerja sama yang baik, untuk memecahkan misteri ini. Salah satunya, aku memerlukan gelang itu," ucap Rania tegas.


"Ha! Jadi ujung-ujungnya barang mewah? Sindir Qiandra.


"Tidak. Aku hanya akan meminjamnya sebentar, setelah itu akan aku kembalikan lagi padamu," ujar Rania.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek! Pintu kamar terbuka.


"Astaga! Rania cucuku!" seru Nico di depan pintu. Sudut matanya berkaca-kaca melihat remaja wanita berambut hitam di sana.


"Kakek?"


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2