
"Mobil tersebut adalah mobil yang sama dalam laporan kasus tabrak lari satu tahu yang lalu di danau. Saat itu Fania tampak sedang berdua dengan suaminya. Sejak saat itulah Malfoy hilang tanpa jejak. Sementara Fania muncul beberapa bulan kemudian di perusahaan kita," kata Sania.
"Apa kaitannya dengan masalah kita?" tanya Qiandra masih sedikit bingung.
"Kami curiga, Malfoy lah dalang di balik semua masalah ini. Karena saat dia menghilang, ada beberapa catatan kemunculan kaki tangan dia di tempat-tempat yang kita curigai, termasuk ladang opium yang ditemuman dalam dokumen Fania."
"Jadi kami curiga, kecelakaan itu adalah rekayasa, untuk menyamarkan jejak mereka dalam kegiatan lain." Sania menutup laporannya.
"Itu tidak benar. Kecelakaan itu adalah nyata dan awal dari semua masalah ini," ujar Rania lantang.
"E-ehhh?? Kenapa begitu?" Sania sedikit terkejut melihat reaksi Rania yang tiba-tiba.
"Y-ya?" ternyata Rania sendiri juga terkejut dengan kalimatnya barusan.
Dia juga baru tahu, tentang kasus yang menimpa Fania di kantor. Wanita itu bergabung dengan tim fashion saja sudah membuat Rania sangat terkejut. Apalagi menjadi ketua Tim. Mengapa mama dan papa sampai meloloskan dia di perusahaan?
"Jadi beberapa waktu lalu, aku main ke danau. Di sana mendengar para pengelola danau mengatakan, waktu mereka mencari korban hilang di perkemahan pramuka, salah seorang dari mereka melihat tabrak lari dari kejauhan," ujar Rania kemudian.
"Ehm, Rania. Kejadian pramuka itu baru terjadi tiga bulan yang lalu. Sementara kasus tabrak lari satu tahun yang lalu," sela Qiandra.
"Hmm? Ya, pokoknya begitu lah. Terkait atau tidak dengan masalah perusahaan, tetap saja ini tindakan kriminal," lanjut Rania kemudian.
"Tapi aku setuju dengannya. Untuk apa dia susah payah ke sana dan membuat rumor tabrak lari, hanya untuk mengalihkan perhatian polisi? Itu sama saja dia menggali lubang satu lagi," ucap Qiandra.
"Begitu, ya?" komentar Sania.
"Jangan luput dari satu informasi pun. Semua pasti berguna untuk penyelidikan selanjutnya," lanjut Qiandra lagi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Maafkan Kakek, Nak. Kita bertemu dalam suasana yang tidak tepat," ujar Nico.
Setelah urusan dengan Sania selesai, Qiandra pun mengizinkan Rania untuk bicara berdua dengan sang kakek.
"Hanya lima belas menit. Tidak lebih," ucap Qiandra tadi.
Hal itu saja sudah membuat Rania senang. Ia malah tadi sempat berpikir, kalau Qiandra akan menjauhkannya dari kakek.
"Tidak apa-apa, Kek. Aku senang bertemu kembali dengan kakek. Terlebih, kakek masih mengenaliku," ucap Rania.
"Justru kakek yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Dan mengapa semua orang seakan tidak mengenalimu?" ucap Nico lagi.
"Ini mungkin terdengar aneh, tetapi kakek harus mendengarnya."
Rania lalu menceritakan semua yang ia tahu, semua yang terjadi padanya maupun Qiandra.
Ekspresi wajah Nico berubah-ubah. Sebentar ia terlihat sedih, lalu terkejut. Dan terkadang juga terselip rasa marah.
__ADS_1
"Meski demikian, aku cukup bersyukur karena mendapat keluarga yang hangat dan sangat menyayangiku," ucap Rania menutup ceritanya.
"Rania sayangku, betapa banyak hal berat yang sudah kamu lalui seorang diri." Nico memeluk cucunya dengan erat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Saat ini Qiandra lebih membutuhkan kita, Kek. Di kehidupannya dahulu, maupun sekarang, ia selalu kesepian," bisik Rania.
"Lalu, siapa orang tua kandungnya? Apakah kamu tahu?" tanya Nico.
Rania mengucapkan dua buah nama yang sangat tidak asing di telinga Nico.
"Benarkah begitu? Ini sangat berbahaya. Bagaimana nanti jika ingatan Qiandra kembali?" ujar Nico.
Matanya membulat dan tangannya mengepal erat. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jadi, Kek. Apa kakek tahu rahasia di balik gelang itu? Mungkin saja ini bisa mengembalikan keadaan," tanya Rania.
"Ehem! Udah la belas menit."
Tiba-tiba Qiandra muncul di belakang mereka.
"Ah, sudah ya? Rasanya cepat kali waktu berlalu," ujar Rania.
"Tidak apa, Nak. Lain kali kita mengobrol lagi," ucap Nico. Diam-diam dia menyelipkan secarik kertas di genggaman tangan Rania.
"Pulanglah. Hari sudah malam. Bahaya kalau pulang terlalu larut," ucap Nico lagi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Ah, rupanya kakek memberiku nomor teleponnya," seru Rania senang.
Tanpa menunggu lama, Rania langsung menghubungi sang kakek.
"Kakek, ini aku," seru Rania ketika Nico mengangkat teleponnya.
"Ah, tak disangka secepat itu kamu menelepon kakek," sahut Nico.
"Habisnya, aku masih rindu pada kakek. Coba saja kita bicara lebih lama. Ah, tidak. Seharunya aku tinggal bersama kakek."
"Hehehe... Qiandra itu mau pura-pura jahat sama kita. Padahal kakek tahu, hatinya sungguh baik. Semoga suatu hari nanti bisa terwujud ya, Nak. Untuk sementara kita harus bersabar dulu," ujar Nico.
"Iya, Kek. Tapi apa kakek tahu? Aku dulu pernah dibully sama dia, lho?" rajuk Rania.
"Oh, ya? Tapi menurut kakek nggak begitu, tuh. Mungkin dia hanya butuh perhatian lebih dari sekitarnya," banyah Mikko.
"Ah kakek membela Qiandra terus, nih. Jangan-jangan, kakek sudah mulai lupa kalau aku cucu kakek."
"Hehehe... Kalian berdua itu cucu kakek. Sama-sama bawel." Nico tertawa lepas mendengar reaksi Rania.
__ADS_1
"Tapi kenapa berisik sekali? Apa kamu sudah sampai rumah, Nak?" tanya Nico.
"Uh, belum. Aku masih berada di bus."
"Oh... Kalau begitu hati-hati, ya. Nanti kita sambung lagi teleponnya," ucap Nico.
"Oke."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Keesokan harinya...
"Apa kamu bilang? Rania resmi menjadi asistenmu?" tanya Mikko tak percaya.
"He'em. Dan dia juga sudah bertemu dengan kakek," ujar Qiandra.
"Benarkah?"
"Kenapa wajahmu riang gitu?" ucap Qiandra sebal.
"Entahlah. Tapi rasanya hatiku jadi lega, setelah Rania ada bersamamu," ucap Mikko.
"Jadi kamu sekarang percaya, kalau Rania itu keturunan langsung keluarga Austeen?" Qiandda memasang wajah masam.
"Bukan begitu. Tetapi Rania memang memenuhi semua kualifikasi untuk jadi asistenmu. Dan dia jauh lebih baik dari kedua temanmu," jelas Mikko.
"Coba katakan, di mana Nurul dan Dewi saat kamu sulit dan membutuhkan mereka?" lanjut Mikko.
"Ah, jangankan melihatnya. Namanya saja sudah lama tak kudengar," kata Qiandra sedih.
Memang dari awal Qiandra sudah tahu, kalau Dewi dan Nurul hanya memanfaatkan kekayaannya saja.
Tetapi ia pun memanfaatkan mereka berdua untuk mengusir dan menjauhkan para pengganggu. Karena lebih dari separuh isi sekolah tidak menyukai Dewi dan Nurul. Secara tidak langsung, orang-orang pun akan menjauh dari geng mereka.
"Btw tumben kamu bawa mobil ke sekolah? Sepeda motormu mana?" tanya Qiandra.
"Kamu pikir aku bisa tenang pergi sekolah setelah gosip kita berdua tersebar? Rasanya aku muak, setiap detik melihat wajahku muncul di media sosial," ucap Mikko.
"Hahaha... Ternyata kamu nggak ada bakat jadi artis, nih." Qiandra tertawa lepas.
"Jadi apa nih solusinya? Dari pada capek dikira pacaran, mending kita pacaran beneran. Jadian, yuk," lanjut gadis blonde itu.
"Hah? Gimana?" Mikko terkejut.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1