
"Ayo, buka pintunya. Kalian ada di dalam, kan?" teriak beberapa orang guru.
"Iya Pak, kami di dalam. Tetapi pintunya tidak bisa dibuka," sahut Mikko dan Qiandra dari dalam.
"Jangan bohong kalian! Bapak terima laporan dari tim pengawas CCTV, kalau kalian berdua terakhir terlihat di sekitar sini, dan tidak kembali ke kelas hingga jam pelajaran," seru Pak Salamun sambil berusaha membuka pintu, dibantu beberapa orang guru.
"Benar, Pak. Kami tak sengaja terkunci di dalam, dan pintunya tidak bisa dibuka. Sedari tadi kami memanggil bantuan tapi nggak ada yang datang," jelas Mikko dari balik pintu.
"Betul, Pak," kata Qiandra pula.
Tak ada jawaban lagi dari luar, hanya saja para guru masih berusaha membuka pintu yang membandel tersebut.
"Maaf, Pak. Itu pintu otomatisnya rusak. Sejak beberapa hari yang lalu memang bermasalah. Tersenggol dikit aja langsung tertutup dan terkunci," seru Pak Jhon sambil berlari tergopoh-gopoh.
"Ya ampun! Jadi gitu? Terus anak-anak ini gimana?" ucap Pak Rayhan pula.
"Saya sudah memanggil teknisi. Sekitar lima belas menit lagi mereka sampai," jawab Pak Jhon.
"Ya sudah, kita tunggu saja," ujar Pak Salamun.
"Kalian di dalam, jangan ambil kesempatan ya," seru Pak Rayhan.
"Iya, Pak," jawab Mikko dan Qiandra Pasrah. “Kami anak baik-baik, kok,” lanjut Mikko lagi.
"Kami juga gak sabar pengen keluar, Pak. Di sini udah pengap banget," sambung Qiandra pula.
"Gara kamu, nih," kesal Qiandra.
"Kok aku lagi? Kalau kamu gak ada di sini juga gak akan terjebak, kan? Toh, akhirnya kamu bisa curhat padaku," ujar Mikko.
Beberapa saat kemudian, para teknisi pun akhirnya datang.
"Wah, kalau ini mengerjakannya cukup lama. Bisa sampai satu atau dua jam," ujar teknisi muda tersebut.
Waduh, gawat nih... Drama baru lagi... Bisa-bisa mereka kehabisan napas di dalam.
"Buka pintu doang butuh satu atau dua jam?" keluh Mikko. Qiandra menganggukkan kepala tanda setuju.
“Coba kalau ada pintu ke mana aja milik robot kucing,” celetuk Qiandra.
Mikko tersenyum mendengarnya, “Ni anak umur berapa, sih?”
🌺🌺🌺🌺🌺
"Hei, lihat. Itu yang kakak kelas yang katanya berduaan di gudang dekat gedung olahraga."
"Widih! Gudang itu kan terkenenal seram dan sepi."
__ADS_1
"Masa sih mereka pacaran di sana? Padahal katanya mereka itu 'pentolan' sekolah ini, lho. Masa berani berbuat gitu?"
"Mereka menggosipnya terang-terangan banget," batin Mikko.
"Hebat kamu, Qiandra. Masalah kemarin belum selesai, menggali informasi tentang Rania juga gak berhasil, sekarang malah bikin gosip baru di sekolah," pikir Qiandra.
"Ayo, kalian ikut ke ruangan wakil kepala sekolah," seru Pak Salamun.
"Meskipun kalian mengaku tidak sengaja terkurung di sana, kalian tetap harus menjelaskan, mengapa bisa berada di sana bersamaan," kata Pak Rayhan.
"Benar. Padahal wilayah sana sangat jarang dikunjungi para siswa," ucap guru lainnya.
"Mampus! Aku harus jawab apa, nih?" batin Qiandra dan Mikko.
"Hei, Qian. Maafkan aku," bisik Mikko. Ia kasihan melihat wajah Qiandra yang sangat lelah.
"Hei, serius dia minta maaf padaku? Seorang Mikko?" batin Qiandra. Pipinya memerah.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Udah pada dengar kabar belum? Mikko sama Qiandra ketangkap basah berduaan di gudang dekat gedung olahraga," seru Lola.
"Udah tahu, Lola..." jawab teman-teman kompak.
"Eh, emangnya Mikko sama Qiandra pacaran?" sahut yang lain.
"Mikko dan Qiandra berada di gedung olahraga? Kok bisa bersamaan dengan aku tadi?" pikir Rania. "Atau jangan-jangan... Mereka beneran pacaran?" Pikiran Rania bercampur aduk.
“Tetapi mereka kan gak pernah terlihat dekat?" pikir Rania. "Emang sih, mereka ketangkap basah berduaan di dalam gudang." Ah, Rania rasanya berat menerima jika mereka berdua benar-benar berpacaran.
"Rania...! Ya ampun... dari tadi dipanggil-panggil kok nggak menyahut, sih? Melamun soal apa nih? Mikko?" seru Alvi di samping meja Rania.
"Eh, ada apa? Aku nggak melamun, kok," ucap Rania.
"Huh... nggak ngaku dia. Itu... namamu di tempel di mading sekolah, belum mengumpulkan tugas dari Pak Rayhan tempo hari. Segera menghadap, gih. Waktu mengumpulkannya tinggal dua hari lagi, lho," kata Alvi.
Astaga! Rania lupa. Minggu lalu kan Pak Rayhan memberikan tugas mandiri melalui email. Dan ia belum menerima email sejak ia sakit.
"Iya deh. Pulang sekolah nanti aku ke sana. Trims, ya," ucap Rania.
"Benar, Rania. Kamu harus lebih fokus pada sekolah, dan keluarga dulu. Bukan saatnya mikirin cinta-cintaan," ucap Rania pada dirinya sendiri.
🌺🌺🌺🌺🌺
Sementara itu di ruang wakil kepala sekolah...
"Pak, Bu, ini gak adil. Masa cuma kami berdua yang ditanya, padahal Rania saat itu juga berada di sana," protes Qiandra.
__ADS_1
"Rania? Maksudnya Rania putri? Rania di sana karena ada kerja," ucap Pak Salamun.
Semua mata langsng menuju ke Pak Salamun.
"Tadi Bapak minta tolong Rania untuk memindahkan buku dan peralatan olahraga ke sini. Kenapa? Kalian hampir ketahuan olehnya?" jelas Pak Salamun.
"Bu-bukan," jawab Mikko dan Qiandra kompak. Para guru saling berpandangan.
"Tetapi kenapa Rania yang dimintai tolong, Pak? Kan murid lain banyak?" protes Mikko. "Um.. Maaf, Pak. Bukan bermaksud lancang," lanjutnya.
"Tidak apa-apa," jawab Pak Salamun sambil menatap Mikko. Sorot matanya seakan menunjukkan bahwa isi hatinya tidak sesuai dengan ucapan di bibirnya.
"Bapak minta tolong padanya, karena hari ini dia sedang piket. Dia kan juga tidak sendiri. Ada Sari dan Ikmal yang juga piket hari ini," jelas Pak Salamun.
Apa benar ada Sari dan Ikmal juga? Qiandra dan Mikko menggali ingatannya.
"Ah, benar. Tadi memang ada Ikmal yang membawa sekotak bola voli di tangga. Tetapi aku tidak melihat Sari," pikir Qiandra. "Duh, terlalu fokus pada Rania sampai tidak memperhatikan sekeliling," sesalnya.
"Jadi, apa alasan kalian berada di sana?" Bu Rosilah, sang wakil kepala sekolah kembali menegaskan pertanyaan tadi.
"Mampus. Harus jawab apa, nih?" Pikiran Mikko sejalan dengan Qiandra.
Duk! Mikko menyentuh ujung sepatu Qiandra dengan kakinya. Seakan ia mengatakan, 'kamu yang menjawab, ya'.
Qiandra menatap Mikko dengan tajam, "Masa aku yang jawab? Kan kamu laki-laki. Tanggung jawab, dong," ujar Qiandra dengan bahasa kaki juga.
"Jadi kenapa? Kok malah pandang-pandangan? Satu detik lagi tidak menjawab, ibu akan mengeluarkan surat panggilan untuk orang tua," kata Bu Rosilah.
"Ja-jangan, Bu. Saya tadi mengikuti Rania, karena saya pikir ia hanya seorang diri ke gedung ahraga dan hendak menolongnya. Sa-saya lupa kalau hari ini jadwal piketnya," kata Qiandra.
"Bola mata gadis itu kembali berpurar ke arah Mikko, "Awas, ya. Kamu berhutang padaku," ucap Qiandra. Kali ini dengan bahasa mata.
Ia rasanya ingin sekali menarik kembali rasa berdebar, saat Mikko meminta maaf padanya tadi.
"Baik, Ndoro Putri," balas Mikko dengan isyarat kedipan mata pula.
"Benar begitu? Terus kok bisa terkurung bareng Mikko? Kalian gak coba-coba masuk ke dalam gudang, lalu terkunci di dalam, kan?" tanya Bu Rosilah.
"Tidak."
"Benar."
"Eh, kenapa jawaban kalian berbeda? Qiandra bilang tidak dan kamu sebaliknya," sahut Pak Rayhan curiga.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1