
"Apa? Qiandra terkurung di sekolah bersama seorang cowok? Siapa cowok itu? Anak siapa? Berani-beraninya mengganggu anak kesayanganku," seru Geffie.
"Duh, mulai lagi deh," batin Chloe sambil menatap suaminya.
"Sayang, dengarkan dulu cerita lengkapnya," kata Chloe menengahi.
"Apa pun cerita lengkapnya, tetap gak bisa terima kalau putriku di perlakukan seperti itu. Aku mau kenal sama cowok itu," kata Geffie.
"Emm... Begini Tuan, Nona dan cowok itu sama-sama sudah mengakui kalau itu hanya ketidaksengajaan," jelas Sania.
"Ya mungkin saja kan Qian di paksa bungkam?" cecar Geffie tak mau kalah.
"Mengapa tidak ditanyakan langsung saja pada Qian?" usul Chloe.
"Ya, nanti akan aku tanyakan, jika suasana hatinya sudah sedikit membaik," kata Geffie.
"Pa, dia cowok baik, bahkan dia telah membantumu. Kejadian itu benar-benar ketidak sengajaan," kata Qiandra tiba-tiba muncul.
"Dia pacar kamu?" tanya Geffie pada putrinya.
"Bukan. Dia hanya temanku," ucap Qiandra.
__ADS_1
"Terus, kenapa kamu membelanya terus?" ucap Geffie.
"Pa, dia cowok baik. Dia juga udah banyak bantu aku. Udah deh, jangan curigaan mulu," kata Qiandra mulai kesal.
"Sayang, sudahlah. Kita sudah dengar cerita lengkapnya dari Sania. Kita juga sudah dengar pengakuan dari Qiandra. Jangan terlalu protektif. Putri kita sudah besar," kata Chloe kembali menengahi.
"Aduh sayang.. Kamu tuh gak paham perasaan seorang ayah," ucap Geffie pura-pura merajuk. "Mana fotonya?Papa mau lihat yang mana orangnya," kata Geffie lagi.
"Duh, Papa... Nih, fotonya," ujar Qiandra sambil menyodorkan ponselnya.
"Wih, ganteng," komentar Chloe.
"Jelek," ucap Geffie bersamaan dengan istrinya.
"Kalian tuh gak ngerti deh, yang mana kategori cowok ganteng," kata Geffie merasa tersaingi.
"Ish, Papa tuh yang kalah saing. Masa, mata tiga wanita kalah sama penilaian satu pria?" balss Qiandra, disusul anggukan kepala mama dan asisten pribadinya.
"Huh, awas saja. Nanti ada apa-apa, kalian pasti mengadunya sama Papa juga," kata Geffie pura-pura merajuk.
"Aduh... Papa kayak anak kecil deh. Udah, ah. Aku mau mandi aja. Sania, bilang sama Sania, bikinkan sarapan untuk aku. Hari ini aku mau menu oriental," ujar Qiandra kemudian.
__ADS_1
"Baik, Nona," jawab Sania.
"Jadi kamu beneran gak ikut Papa pergi memancing, nih?" tanya Geffie pada putrinya.
"Nggak. Mending aku luluran di rumah, dari pada panas-panasan tepi danau. Banyak nyamuk lagi," sahut Qiandra.
"Oh iya. Aku masih penasaran banget sama pintu kamar yang kemarin, termasuk hasil investigasi kemarin," kata Qiandra menagih ucapan orang tuanya tempo hari.
"Sayang, hasil investigasi menyatakan ada penyusup di rumah kita, dia mau menyakitimu tetapi gagal," kata Geffie.
"Buktinya apa? Sini deh aku tunjukkan di mana lokasi pintu tempat aku masuk kemarin. Gimana juga penjelasan tentang pelayan yang sudah meninggal kemarin," desak Qiandra.
Chloe dan Geffie saling berpandangan. Sementara Sania tampak menunggu penjelasan majikannya juga.
"Aku yakin Mama dan Papa juga kenal dengan Rania Putri, kan?" lanjut Qiandra.
"Rania... Rania cucuku... Di mana dia sekarang?" sahut kakek yang baru saja muncul.
Semua orang di ruangan itu terkejut mendengar pengakuan kakek, terutama Qiandra.
"Apa maksiud Papa? Putriku itu Qiandra. Dan aku tidak mengenal siapa itu Rania," bantah Chloe.
__ADS_1
"Justru aku tidak mengenal gadis ini," kata kakek.
"Sudahlah, Ma. Aku sudah dengar langsung dari Rania. Meski belakangan ini dia menolak mengakuinya lagi," ucap Qiandra dengan penuh kekecewaan.