
"Sudah sepuluh hari aku di sini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana keadaan Geffie dan anakku?"
Seorang wanita meringkuk di sudut ruangan dengan rambut terurai menutupi wajahnya yang kusam. Kukunya panjang dan kotor. Kulitnya mengering dan terkelupas di beberapa bagian, terutama siku.
"Heh orang baru, kamu model papan atas yang sering disebut Dewi Kebaikan itu, kan? Apa kebaikanmu juga berlaku di sini juga?"
Seorang tahanan bertubuh besar dan berwajah sangar menendang tubuh ringkih Chloe. Kabarnya, dia adalah residivis pelaku pencurian kendaraan bermotor bersama komplotannya.
"Hei! Jangan sembarangan padaku, ya! Aku akan laprkan perlakuanmu pada sipir yang berjaga nanti," balas Chloe dengan kesal.
"Wah, benar-benar pecundang. Kamu pikir para sipir itu akan peduli dengan keadaanmu di sini? Mungkin uangmu banyak untuk menyogok mereka. Mungkin juga kamu dipuja-puja di luar sana. Tapi asal kamu tahu, di dalam sini, yang terkuatlah yang menang," ujar wanita bernama Vera itu panjang lebar.
Chloe membuang wajahnya dari wanita itu, "Mengganggu saja. Aku lagi pusing, dia malah hanya menambah beban saja," pikir Chloe.
"Ayo, serahkan uangmu! Aku tahu, kamu pasti menyimpan beberapa lembar uang di balik baju bermerk mu itu," pinta Vera lain.
Penghuni lain hanya menatap pertengkaran kedua wanita itu tanpa berkomentar. Keganasan Vera telah dikenal bahkan di kalangan para sipir penjara. Namanya yabg manis, sama sekali tidak menunjukkan sifatnya.
"Aku tidak bawa uang. Bahkan aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun sebelum digeret ke sini," balas Chloe lagi.
"Orang bod*h! Bisa-bisanya orang kaya raya yang bisa tidur tanpa memikirkan besok makan apa, justru berbuat masalah dan mendekam di sini," sindir Vera. "Apa kau tidak sayang pada dirimu sendiri?"
"Aku tidak melakukannya, brengs*k! Mesti berapa kali lagi harus ku katakan, aku tidak memakai barang terlarang itu! Kami pasti dijebak saat menghadiri pesta malam itu!"
Chloe benar-benar mengeluarkan amarahnya?
"Begitu kah? Aku sudah dengar alasan seperti itu puluhan kali dari semua orang yang ditangkap," jawab Vera sinis. "Sudahlah, serahkan saja semua uang yang kau miliki, setelah itu aku akan diam," lanjutnya lagi.
"Apa aku harus tel*nj*ng di depanmu, agar kamu percaya kalau aku tidak memiliki uang sepeser pun?" balas Chloe dengan frontal. Ia benar-benar muak berada di sini.
"Ya sudah, lakukan saja. Kau pikir aku akan menolaknya? Hah, sayang sekali pikiranmu itu salah. Aku akan lakukan apa pun demi uang."
Tanpa basa-basi, Chloe pun mulai melepaskan lembaran kain yang menempel di tubuhnya. Bukan karena takut, tapi anggap saja ia sudah gila. Tidak bisa berpikir jernih lagi.
Baru saja ia melepaskan satu lapisan, Chloe menghentikan aksi gilanya. Suara riuh yang mendekati sel tahanan membuat semua mata beralih ke lorong yang gelap dan pengap.
"Wah, penghuni baru lagi rupanya. Makin sesak aja di sini," gumam salah seorang tahanan.
__ADS_1
Chloe membuka lebar matanya. Berkali-kali ia memastikan apa yang dilihatnya. Ya, tidak salah. Itu memang mereka.
"Fania? Sania? Kenapa mereka di sini juga? Apa yang terjadi?" pikir Chloe dalam hati.
Wanita itu semakin tidak sabar untuk segera keluar dari jeruji besi tersebut. Rasa ingin tahunya sudah tidak dapat dipendam lagi. Hatinya semakin yakin, ada sesuath yang tidak benar terjadi di perusahaannya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Jadi Ayah beneran ketemu dengan Qiandra tadi malam?" tanya Rania penasaran.
"Iya. Hahahha... Gadis itu benar-benar jutek, dingin dan cuek," ujar Ayah.
"Hah? Iya, kan?" seru Rania bersemangat.
"Tapi, sebenarnya dia itu anak baik yang kesepian. Dari sorot matanya terlihat jelas."
"Uh, kenapa Ayah dan semua orang selalu membelanya sih? Dia itu pernah membullyku," kata Rania merajuk.
"Wah... Jadi anak Ayah cemburu, nih? Kamu juga anak yang baik, kok," kata Ayah.
"Uh, iya deh. Anggap aja gitu," balas Rania. "Jadi gimana? Apa aku boleh tinggal dengannya?"
"Selain itu, kamu kan juga masih berada di bawah tanggung jawab Ayah. Bukan wajib mencari nafkah," lanjut pria tua lagi.
"Begitu, ya?" Aku juga kaget karena dia tiba-tiba mengajakku tinggal di sana," kata Rania.
"Selain itu, Ayah juga khawatir, karena baru-baru ini keluarga mereka tersandung kasus. Takutnya nanti kamu ikut terseret juga kalau tinggal di sana," lanjut ayah lagi.
Rania tidak membantah ucapan ayahnya. Semua yang dikatakannya cukup masuk akal. Hati Rania pun masih ragu untuk menerima tawaran Qiandra tersebut. Ia masih curiga dengan rencana wanita itu.
"Ah, tapi kalau kamu sangat ingin menginap di sana, Ayah izinkan pada saat akhir minggu. Itu tidak akan mengganggu jam belajarmu, kan?" usul ayah.
"Hhmm... Boleh juga. Nanti aku pikir-pikir lagi, deh," ucap Rania.
"Hei Rania, ayo pukang," seru Qiandra.
"Loh, sudah selesai?" bisik Rania pada majikan barunya.
__ADS_1
"Ayah, kita lanjut nanti, ya," Rania menutup teleponnya.
"Yah, sebenarnya semua persiapan untuk fashion summer show itu sudah hampir kelar. Jadi, ditinggal Fania pun juga nggak masalah," jawab Qiandra santai.
"Lagi pula, memang sejak seminggu yang lalu ketua timnya juga sudah diganti," lanjut remaja itu.
"Oh...gitu... Kalau begitu, kita masih cukup istirahat sebelum rapat dengan para investor hotel nanti malam," jelas Rania.
Qiandra menggelengkan kepalanya, "Kita memang pulang ke rumah. Tetapi bukan untuk istirahat," ujar gadis mungil itu.
"Lalu?" tanya Rania bingung.
"Ajari aku bahasa Rumania," kata Qiandra tanpa ragu.
"Bahasa Rumania? Untuk apa?" protes Rania. Ia merasa, Qiandra mulai terang-terangan ingin mengambil tempatnya.
"Nggak ada salahnya kan aku belajar bahasa asing? Aku sudah bisa bahasa perancis dan juga bahasa mandarin. Jadi sekarang aku ingin mempelajari bahasa lainnya," kata Qiandra lagi.
Rania masih bergelut dengan pikirannya sendiri, "Apa lagi yang mau direncanakannya kali ini?"
"Kenapa? Kamu nggak mau?" Qiandra melirik Rania dengan tajam.
"Ya... Ya... Akan aku ajari," ucap Rania kemudian.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Tidak terasa, tinggal H-1 menjelang ajang besar summer fashion show.
Livy sudah sangat antusias menyambutnya. Ia bahkan sudah memilih baju terbaik untuk menghadiri undangan royal night tersebut.
"Ahh... Hangatnya sinar matahari di negara tropis ini. Sudah sangat lama aku tidak merasakannya. Tapi aku penasaran, apa saja hal seru yang akan aku temui di sini nanti."
Seorang remaja cantik bermata biru, turun dari jet pribadinya dengan senyum merekah.
"Nona Audrey, apa anda ingin langsung beristirahat ke villa?" tanya salah seorang asisten.
"Tidak. Antarkan aku ke suatu tempat. Aku harus bertemu dengannya segera," jawab Audrey.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...