Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 131 - Ada Bersamamu


__ADS_3

[Episode ini mengandung adegan yang tidak patut ditiru. Mohon bijak dalam membaca. Selamat membaca. πŸ’•πŸ’•πŸ’•]


Beberapa orang lalu berusaha membuka paksa pintu kamar Qiandra. Tapi ternyata sangat tidak mudah. Sekuat apa pun mereka mendorong dan mencongkelnya, pintu kamar yang terbuat dari kayu ulin itu tidak bergeser satu sentimeter pun.


Mereka pernah mendengar tentang jalan rahasia menuju kamar nona, tapi tak ada satu pun yang tahu jalannya.


"Percuma kita buka dengan kunci cadangan. Karena Nona menggunakan kunci double slot dari dalam," ucap Wilbert kemudian.


"Aku ada ide," ucap Joe si tukang kebun. Ia mengangkat sebuah gergaji mesin.


"Kau gila?" teriak beberapa pelayan wanita.


"Itu akan merusak pintunya," seru yang lain.


"Ini jauh lebih baik, untuk segera menyelamatkan Nona," ucap Joe.


"Lakukan segera," kata Wilbert.


Dua puluh menit kemudian, mereka pun mendapati sang Nona muda dengan tubuh pucat dan kejang. Buih berwarna putih keluar dari tubuh sang Nona muda.


"Nona?" Wilbert mengguncang tubuh Qiandra beberapa kali. Wilbert terlihat sangat panik.


"Hei, segera panggil dokter pribadi Nona," seru Wilbert.


"Aku sudah meneleponnya. Sebentar lagi ia sampai," kata salah seorang pelayan.


"Nona... Sadarlah... Nona... Ingatlah kami masih ada di sisimu. Ingatlah kakek yang selalu menanti Nona untuk sarapan bersama. Bangunlah..."


Wilbert terus mengguncang tubuh yang beku itu. Air mata Wilbert jatuh ke tubuh mungil remaja tersebut, yang semakin hari semakin bertambah kurus hingga menampakkan tulang belulangnya. Wilbert meletakkan tubuh lunglai remaja itu dalam pangkuannya.


Tidak hanya Wilbert, semua pelayan yang ada di situ turut menangis. Mereka masih tidak rela kehilangan sosok nona muda itu dengan cara yang sangat tragis.


"Uh..." kelopak mata Qiandra berkedip perlahan.


Qiandra tak bisa mengatakan apa pun. Kepalanya terasa sangat sakit. Badannya panas. Perutnya sangat mual, tapi ia tidak bisa memuntahkan apa pun. Air matanya meleleh ke pipinya yang tirus.


"Nona... Syukurlah... Bertahanlah, sebentar lagi Dokter akan datang," ucap Wilbert di tengah tangisnya.


"Nona... Kami semua sayang pada Nona. Jangan pergi..." tangis para pelayan.


"Maaf... maafkan aku... Maaf karena telah menyulitkan kalian semua," ucap Qiandra lirih dan terbata-bata. Napasnya masih terasa sesak.


"Nona sama sekali tidak menyulitkan kami. Bukankah Nona sendiri yang bilang, kalau kita adalah keluarga? Tolong kuatkan diri Nona. Kami semua ada di sini bersama Nona."

__ADS_1


"Te-ri-ma ka-sih," bisik Qiandra.


"Ternyata menelan lima pil sakit kepala sekaligus tidak membuatku pergi meninggalkan dunia ini. Justru merepotkan banyak orang," batin Qiandra.


Hatinya merasa sangat pilu. Ia tidak menyangka, kalau masih ada orang yang menangisi kepergiannya, meski mereka bukanlah keluarga.


Bahkan Wilbert, Wilson, Felix dan Musliha yang mengetahui siapa dia sebenarnya, sikapnya tak berubah sedikit pun. Mereka tetap menghormati Qiandra.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Keadaan Nona sudah lumayan baik. Tapi harus istirahat total hari ini. Saya sudah membuat surat izin sakit untuk sekolah."


"Terima kasih, dokter."


"Saya juga akan merahasiakan kejadian ini dari publik," lanjut dokter muda itu.


Felix, Wilbert dan Wilson saling berpandangan dan mengangguk tanda setuju.


"Rahasiakan juga dari kakek. Kalau beliau bertanya, katakan saja aku demam biasa," pinta Qiandra.


"Baiklah. Akan kami rahasiakan dari Tuan Nico. Tapi Nona harus janji, tidak melakukan hal ini lagi," kata dokter pribadi keluarga Austeen.


Qiandra tidak menyahut, tapi air matanya mengalir di pipinya.


"Maafkan aku. Aku akan selesaikan ini segera. Dan kalian bisa kerja dengan tenang lagi seperti dulu," ucap Qiandra.


"Jangan begitu. Kami semua pasti akan sedih kalau Nona pergi."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Udah dengar kabar tentang Mikko?"


"Mikko juara umum IPS itu? Emang dia kenapa?"


"Ah, ketinggalan berita, Lu. Dengar-dengar dia ketangkap karena membobol data sekolah."


"Masa? Dia kan anak teladan? Ngapain dia bobol data sekolah?"


"Ya mana gue tahu."


"Bisa aja kan, dia mau nyuri soal ujian. Kan bentar lagi musim ujian."


"Gak mungkin. Gak percaya gue anak pinter kayak dia nyuri soal."

__ADS_1


"Loh, bisa aja kan? Jangan-jangan selama ini dia bisa juara karena nyuri soal."


"Nggak. Gue masih nggak percaya. Gue dulu waktu SMP satu sekolah sama dia. Dia emang pinter dari dulu, kok."


"Lihat aja ntar reaksinya kalau dia datang."


"Aku jamin sih dia nggak bakal datang. Eh, tapi nggak tahu juga, ya. Bapaknya kan polisi, masalah kayak gini entenglah ya..."


"Ckkk.. orang-orang ini menggosip gak lihat tempat. Ini kan di kelas. Emang sih gak ada guru. Gosip tentang Mikko udah nyebar rupanya," batin Rania sambil mengerjakan tugas Bahasa Jerman.


"Hei, Rania. Qiandra ke mana?" bisik Anggit di ketua kelas.


"Aku nggak tahu, dari tadi aku udah telepon dia dan para pelayan, tapi nggak ada jawaban," jawab Rania cuek.


"Ooo..." gumam Anggit. "Btw, kenapa dari tadi kamu ngemil bawang putih? Kamu lagi darah tinggi, ya?"


"Upps... Baunya ke mana-mana, ya?" ucap Rania sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Nggak, sih. Tapi aku bisa lihat dari belakang," balas Anggit.


"Oh.. Aku emang lagi darah tinggi dan kolesterol. Hehehhe," jawab Rania asal.


"Fyuh... Untung aja Anggit percaya. Aku harus lebih hati-hati," batin Rania.


Sejak pagi, ia memang banyak memakan bawang putih, walau pun rasanya bikin perut terasa mual. Cerita Mikko kemarin, ditambah dengan informssi dari internet, membuat Rania percaya kalau bawang putih mampu memurnikan jiwa. Kali aja dengan begini mantra sihirnya bisa terlepas dari dia.


Tiba-tiba ia teringat pada Qiandra yang juga sibuk mempelajari ilmu sihir.


"Semua orang khawatir padanya. Padahal dia mungkin hanya pura-pura sibuk untuk menghindar dariku karena masalah kemarin. Dasar orang kaya, seenak jidatnya aja mengatur hidup," batin Rania kesal.


(Bersambung)


Hai... Author mau cerita sedikit nih, tentang inspirasi episode kemarin dan hari ini, khususnya tentang Qiandra.


Jadi, kisah Qiandra menelan pil obat sakit kepala beberapa buah sekaligus, itu adalah kisah nyata yang pernah author alami.


Jadi dulu, author pernah sangat depresi (Yang pernah membaca Novel "Suami Tetangga" karya author, pasti udah pada tahu).



Yah, Akhirnya sempat pingin menghilang selamanya dan menelan pil. Efeknya gak bikin kehilangan nyawa. Tapi selama empat hari, merasa pusing dan seluruh tubuh seperti di tusuk-tusuk. Mual kayak mau mengeluarkan semua isi perut, tapi nggak bisa muntah. Dan seluruh badan terasa panas dan kejang.


Tapi author menekankan, kalau itu benar-benar tindakan yang tidak pantas ditiru. Dengan alasan apa pun, bunuh diri itu sangat-sangat tidak baik. So, kalau ada masalah, segeralah cari pertolongan pada orang yang tepat.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca.


__ADS_2