
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Mikko ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Apa? Nggak dengar," jawab Rania.
Mikko menurunkan kecepatan sepeda motornya.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan? Apa ini soal masalahmu dan Qiandra?" Mikko mengulang pertanyaannya.
"Ah.. Bagaimana kau tahu?" seru Rania dari boncengan.
"Aku cuma menebak aja. Seorang Rania itu jarang banget minta nebeng sama aku. Aku juga melihatmu seperti habis nangis tadi," kata Mikko.
"Tumben ya kamu peka," kata Rania.
"Apa kamu mau singgah dulu ke suatu tempat untuk mengobrol?" usul Mikko.
"Boleh. Kita ke alun-alun saja sambil cari jajanan," kata Rania.
"Makan lagi? Memangnya makan siang tadi kamu nggak kenyang?" sahut Mikko dengan ekspresi terkejut.
"Hei, kamu nggak tahu, ya? Perempuan itu kalau lagi galau bakal banyak ngemil," kata Rania.
Tapi abis itu jadi tambah galau, karena lemak ditubuhnya semakin banyak," sindir Mikko.
"Duh, udah deh. Gak usah banyak protes," ucap Rania merajuk.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Alun-alun kota di hari minggu begini ternyata cukup ramai. Banyak pasangan yang mengajak anaknya bermain di luar rumah sambil olahraga, atau sekedar duduk-duduk santai menikmati keindahan bunga-bunga yang ditata sangat apik.
Aneka pedagang kaki lima juga tak kalaj meramaikan tempat wisata lokal tersebut. Kali ini, Rania menyerbu gerobak kaki lima yang menjual makanan khas sumatera, ada salalauk Pariaman, tahu gunting Medan, dan juga pisang kipas Pekanbaru.
"Hmm... Gorengan semua tuh. Apa bakal habis?" komentar Mikko nggak yakin menatap tentengan di tangan Rania.
"Ya, pasti gak bakal abis. Sebagian aku beli untuk aku bawa pulang. Nih untuk Om Ganendra." Rania memberikan sebuah kantong plastik berisi makanan pada Mikko.
"Thanks, Ra. Jadi apa yang mau kamu ceritain?" ucap Mikko.
"Ah..." Rania menghela napasnya dan mempersiapkan hati. "Jadi gini..."
Selama hampir tiga puluh menit, Rania menceritakan apa yang barusan ia ingat saat melihat lukisan danau miliknya.
"Astaga. Jadi kalau misalnya itu beneran, apa artinya Rania Putri benar-benar udah meninggal?" komentar Mikko setelah Rania menyelesaikan ceritanya.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu. Selama ini aku terus berharap, kalau dia hanya menghilang di suatu tempat. Tapi makin lama, harapan itu sepertinya semakin tipis," kata Rania.
"Benar. Aku juga juga sangat berharap, kalau Rania Putri hanya menghilang saja, bukan meninggal," ucap Mikko lirih.
"Mikko, apa kasus ini nggak bisa di selidiki oleh ayahmu? Barangkali saja kita bisa membongkar kasus ini, kan?"
"Hal itu hanya bisa dilakukan kalau ada laporan orang hilang dan.."
"Ada! Aku punya buktinya," seru Rania bersemangat.
Orang-orang di sekitar mereka sampai menoleh kaget ke arah kedua pasangan muda-mudi tersebut.
"Hee? Serius? Kamu dapat dari mana?" Mikko tak kalah kaget.
"Aku dapat dari sekolah. Nih, aku kirimkan padamu, ya."
Rania lalu mengirimkan rekaman percakapannya dengan petugas data base sekolah beberapa waktu lalu, yang menyatakan kalau data Rania Putri tercatat telah meninggal dunia.
"Astaga! Kenapa dunia bisa melupakan kejadian seperti ini?" ucap Mikko.
"Nah, makin aneh kan?" kata Rania.
"Apa Qiandra sudah tahu?" tanya Mikko.
Rania menggeleng, "Aku masih belum tahu apa hubungan kejadian ini dengan Qiandra. Aku pun belum tahu, siapa pelaku yang membuat Rania Putri menghilang. Tapi aku merasa sangat mengenalnya," kata Rania.
"Oh... Tapi tadi aku belum selesai bicara lho. Selain bukti orang hilang, orang tuanya harus tahu," kata Mikko.
"Ya, kamu harus jujur pada orang tuamu, siapa dirimu yang sebenarnya. Lalu orang tuamu juga yang membuat laporan ke kantor polisi agar kasus ini bisa dibuka kembali," jelas Mikko.
"Ah... Harus, ya? Aku takut nanti ayah dan ibu bakal sedih dan kecewa."
"Tidak apa, Rania. Cepat atau lambat, mereka harus tahu, kan? Dan tadi kamu bilang kalau Bang Arka juga udah mengetahuinya. Pasti ia akan membantumu," ujar Mikko menguatkan Rania.
"Begitu, ya? Nanti aku coba deh. Thanks, Mikko," balas Rania.
"Selow, bebs. Jadi, kita pulang nih? Udah mau hujan, tuh."
"Tunggu dulu, sebelumnya aku mau minta maaf padamu, Mikko. Sedari tadi kita ngobrol gini aku terus merasa bersalah, seakan-akan mengabaikan perasaanmu."
"Maksudmu? tanya Mikko tak mengerti.
"Intinya, aku belum bisa menjawab pernyataanmu semalam. Aku harus memastikan dulu, siapa yang kamu sukai, aku atau Rania Putri. Hmm... Kenapa kedengarannya jadi kayak rebutan pacar sama kembaran, ya?"
Mikko tertawa kecil mendengarnya, "Santai aja, Rania. Yang terpenting bagiku, aku sudah menyampaikan perasaanku padamu. Tapi, soal kita pacaran atau nggak, itu terserah kamu," jawab Mikko sambil tersenyum manis.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sampai kapan kamu mau berada di situ?" tanya Qiandra di depan cermin.
__ADS_1
"Apa kamu akan terus menatapku seperti itu? Dan kenapa kamu malah tidak muncul waktu Rania ada di sini?" tanya Qiandra lagi.
Sosok menyeramkan dengan mata hitam dan penuh darah, muncul di bayangan cermin rias Qiandra dan menatap remaja itu dengan tajam. Padahal tidak ada siapa pun di belakang Qiandra.
Sebaliknya, bayangan Qiandra yang sedang berias justru tidak muncul di cermin.
Belakangan ini, sosok itu memang lebih sering muncul di hadapan Qiandra. Tetapi berbeda dengan dulu, sosok itu hanya berdiri mematung sambil terus menatap Qiandra, ke mana pun gadis itu bergerak.
Tapi bukan berarti Qiandra sudah nggak takut lagi. Berkali-kali Qiandra mengalihkan pandangan dari pemandangan seram itu. Qiandra sudah tidak tahu lagi, bagaimana mengatasinya.
Sruk! Sruk! Qiandra mengacak-acak rambutnya yang baru saja di sisir. Ia lalu mengempaskan dirinya ke kasur.
"Apa sih salahku? Kenapa aku harus menanggung hukuman seberat ini?" seru Qiandra seorang diri.
Dalam waktu sekejab, ia menjadi sangat frustrasi. Terutama saat sosok itu menatapnya semakin tajam.
"Aaaarrggghhhh! Qiandra kembali menjerit sejadi-jadinya. Mau menangis pun, air matanya sudah tidak bisa lagi.
Jika saja ada yang melihatnya saat ini, pasti sudah menganggapnya gila.
"Aku tahu, aku salah. Aku selalu membully orang, agar mereka lebih memperhatikanku. Tapi aku sudah berubah. Hati kecilku juga ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku sedang berusaha. Tolong, jangan hukum aku seperti ini. Aku bahkan tidak tidak tahu siapa orang tuaku. Aku hanya ingin hidup tenang."
Tubuh Qiandra sangat melemah. Semua energinya meluap bersamaan dengan keluh kesahnya. Remaja cantik itu benar-benar tertekan dengan yang ia alami.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Crip... Crip... Crip...
Matahari mulai terbit di ufuk timur. Burung-burung berlompatan di pepohonan mencari buah-buah segar untuk sarapan.
"Oh, tidak! Ini sudah pagi. Aku tertidur semalaman," seru Qiandra panik.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, Nona. Ini Wilson dan Felix."
"Ya, sebentar."
Qiandra bergegas merapikan pakaiannya yang agak terbuka dan berantakan.
Ceklek!
"Ada apa?" tanya Qiandra.
"Pagi ini adalah sidang pertama kasus Tuan dan Nyonya. Apa Rania selaku asisten Nona tidak perlu diberi tahu?" tanya Wilson.
"Tidak," jawab Qiandra.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.