Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 27 – Sang Penyihir


__ADS_3

“Prinde-o pe vrăjitoare*!” (Tangkap Penyihir itu!)


*Bahasa Rumania.


“E un fraude!” (Dia penipu!)


“Ne-a ucis fetele cu medicamentul pe care l-a făcut! Uite, trupurile lor sunt toate înnegrite!”


(Lihatlah, tubuh mereka semua menghitam! Dia membunuh anak gadis kita dengan obat yang dibuatnya!)


“Așteptați un minut. Voi, băieți, ați înțeles greșit. Fetele suferă de malaria. Unii dintre ei suferă de ciumă bubonică și de lepră. Dacă nu sunt salvați imediat, viața lor va fi amenințată.”


(Tunggu dulu. Gadis-gadis tersebut menderia malaria. Sebagian lagi menderita pes dan lepra. Jika tidak segera diselamatkan nyawa mereka akan terancam.)


“Merida este suficientă pentru a fi victima! Trebuie să mori pentru viața lui!” (Cukup Merida saja yang menjadi korbannya. Kalian harus mati menggantikan nyawanya!” marah seluruh warga.


Perang yang terjadi bekepanjangan di negara penuh kastil tersebut, membuat wabah penyakit menyebar. Tikus, lalat dan kutu yang memakan jasad manusia korban perang yang telah membusuk, membuat penyebaran virus dan bakteri semakin cepat. Para penduduk di area Piatra Craiului dan Pegunungan Bucegi menderita berbagai gejala penyakit yang aneh.


Gejala wabah berawal dengan sakit kepala yang parah, mata yang merah, dan sakit tenggorokan, hingga batuk berdarah dan kesulitan bernafas. Gejala yang lebih parah lagi, membuat kulit penderita menghitam karena pendarahan subdermal.


Penyakit tersebut disebut juga dengan ‘PES’ yang juga pernah melanda Eropa berabad-abad yang silam, dan dikenal sebagai ‘Black Death’.


Sayangnya, para penduduk desa yang memiliki pengetahuan rendah di negara yang melegalkan praktek sihir, mistik dan ramalan itu, justru lebih percaya kepada kiblat ilmu hitam. Mereka tidak akan mengampuni para peramal dan penyihir yang salah memprediksi bahkan memakan korban nyawa.


~ ~ ~ ~ ~


Tiiiit…. Tiiiiit…. Tiiit…


“Dokter, sepertinya ada gelombang aneh di otaknya. Pendarahan di kakinya juga banyak sekali. Ini berbahaya,” ujar dokter Fadil, salah satu dokter bedah.


“Ini aneh sekali. Padahal saat kita CT Scan tadi, seluruh tubuhnya baik-baik saja, selain fraktur di kaki,” sahut dokter Maria, dokter ahli tulang.


“Tidak. Pasien ini pernah mengalama cidera di kepala. Dan beberapa hari yang lalu, ia juga dirawat di rumah sakit sebelah karena keluhan yang sama. Oleh karena itu saya juga memanggil dokter Yusuf kemari,” ucap dokter Hardi, ketua tim bedah.


“Rizky, usap lukanya dengan drap*,” perintah ketua tim.


*Drap: kertas peeling untuk mencega infeksi di bagian operasi.


“Siap, dokter,” ucap perawat tersebut.


“Fadil, Maria, kita harus lakukan dengan cepat. Kita harus memperhatikan kondisi vitalnya* dengan seksama,” perintah ketua tim.


*Kondisi vital merupakan ukuran fungsi vital tubuh, seperti denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan laju pernapasan.


“Baik, dokter,” jawab kedua anggota tim.

__ADS_1


Seluruh tim dengan sigap melakukan operasi ortopedik. Sesungguhnya operasi ini tergolong operasi sedang dan konservatif, tidak mengancam nyawa. Namun dalam kondisi khusus seperti ini, para dokter tidak boleh lengah dan menganggapnya sepele.


~ ~ ~ ~ ~


“Sayang, lari!” Suami Freya menarik tangan wanita muda yang dituduh penyihir itu. Tangan kirinya menggendong gadis kecil yang baru berusia lima tahun.


“Ta-tapi, bagaimana dengan rumah kita? Mereka pasti akan membakarnya. Semua peninggalan orang tuaku ada di sana,” ucap Freya.


“Itu kita pikirkan nanti. Sekarang kita harus segera lari dari sini. Sebelum mereka membakar kita hidup-hidup.”


“Baiklah. Ayah… Ibu… Maafkan aku… Aku harus pergi dari kampung halaman kita,” ucap Freya sambil melangkahkan kaki sekencang-kencangnya.


“Oprește-te aici, vrăjitoare!” (Berhenti di sana wahai penyihir!) Teriak para penduduk desa.


"Ia fiica! Omoară-o pe fiică!" (Tangkap putrinya! Bunuh putrinya!) Marah yang lain.


Kabut tebal mulai menyelimuti hutan lebat di Pegunungan Bucegi. Suasana semakin bertambah kelam dan dingin. Pandangan yang terbatas membuat para penduduk kesulitan menembus pepohonan yang kian rapat. Demikian juga dengan pasangan suami istri yang sedang menghindari amukan masa tersebut.


Gusrak!


“Aduh!” pekik Freya.


Sepertinya ia baru saja tersandung akar pohon karena keadaan yang semakin gelap. Lantai hutan yang berlumut juga telah basah akibat kabut.


“Sayang, bertahanlah,” ucap Nico, suami Freya.


Ia tidak berani menghidupkan obor yang disimpannya di dalam jaket sejak tadi. Ia tak mau, warga yang suaranya mulai terdengar jauh, menemukan posisi mereka.


“Huaaaa…” gadis kecil yang berada di pangkuan Nico menangis. Ia pasti ketakutan melihat semua yang terjadi.


“Tenang, sayang. Ayah dan ibu ada di sini melindungimu,” bisik Nico sambil memeluk gadis kecilnya. Suaranya terdengar bergetar, menahan tangis.


~ ~ ~ ~ ~


Tiiiit…. Tiiiiit…. Tiiit…


“Keadaan pasien kembali menurun. Adit... berapa tekanan darahnya?"


“Tekanan darahnya 60/40, dokter. Sepertinya tekanan otaknya meningkat,” jawab Adit, dokter anestesi.


“Maaf, dokter. Saya terlambat.” Dokter Yusuf, dokter ahli syaraf memasuki ruang operasi.


“Tidak apa. Kamu belum terlambat. Tetapi kami memang sangat membutuhkanmu di sini,” jawab dokter Hardi tanpa menoleh.


Para dokter segera mengambil tindakan darurat, demi menyelamatkan pasien yang kondisinya kian menurun itu. Meski demikian para dokter tak mengerti, apa yang menyebabkan kinerja otaknya meningkat berkali-kali lipat dan kondisi vitalnya terganggu?

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Kenapa operasinya lama sekali? Padahal kata dokter hanya memakan waktu sekitar satu sampai dua jam. Tetapi ini sudah lebih dari empat jam,” ucap ibu khawatir. Sedari tadi ia mondar-mandir di depan ruang operasi.


“Sabar, Bu. Rania pasti baik-baik saja,” ujar Pak Gelfara merangkul istrinya. Padahal sesungguhnya hatinya juga kalut.


Arka dan Livy berusaha tetap tersenyum. Mereka tidak mau menambah risau kedua orang tuanya.


“A-aku beli makan malam dulu untuk kita ya, Yah,” ucap Arka. Ia segera menuruni tangga. "Pasti ada warteg atau ampera minang di sekitar sini,” pikirnya.


Sementara itu di rumah sakit yang sama tetapi berbeda ruangan.


“Kaki Ibu tidak ada masalah. Ototnya hanya keram saja. Mungkin Ibu kelelahan karena terlalu sering berdiri menggunakan sepatu hak tinggi. Kondisi vital Ibu juga normal semua,” jawab dokter magang yang sedang berjaga di ICU itu.


“Tetapi tadi rasanya sakit sekali, dokter. Seperti luka disayat pisau,” ujar Chloe meyakinkan.


“Iya, memang terkadang rasanya bisa separah itu. Untuk menghindari terjadi lagi, kurang-kurangi menggunakan sepatu berhak tinggi. Sering-seringlah berjemur di bawah sinar matahari pagi sambil olahraga ringan” saran dokter muda tersebut.


“Baik, dokter. Terima kasih,” ucap Geffie. “Sayang, waktu kita untuk menuju bandara tinggal dua jam lagi,” bisik pria tampan itu pada istrinya.


“Eh, benarkah?” jawab Chloe. Entah kenapa hatinya terasa berat meninggalkan rumah sakit ini.


“Ka-kamu ngapain?” ucap Chloe terkejut. Geffie memasangkan sepatu miliknya di kaki istrinya.


“Memasangkan sepatu untuk ratuku. Kamu nggak boleh menggunakan sepatu hak tinggi, kan?” ucap Geffie datar.


Sang dokter dan Wilson kompak mengalihkan pandangan dari kedua pasangan di hadapan mereka. Para jomblo itu tidak tahan melihat keuwuan Geffie pada istrinya.


Beberapa menit kemudian, mobil mereka meluncur ke bandara. Kedua pasangan itu baru sempat mengecek ponselnya masing-masing.


“Sayang! Lihat!” ucap Chloe dan Geffie bersamaan.


“Ah, kamu pasti mau bilang kalau ternyata Jennie berada di rumah sakit tadi, kan?” ucap Chloe kemudian.


“Iya, benar. Kita terlambat membaca pesan dari Felix,” sesal Geffie.


Mereka tak mungkin memutar kembali kendaraan menuju rumah sakit. Jalanan malam hari begitu padat. Dan agenda mereka esok hari di Amsterdam sangatlah penting.


“Tidak apa. Tuhan pasti sudah mengatur semuanya. Aku yakin suatu hari nanti kami dapat bertemu,” bisik Chloe.


“Ya, aku juga meyakini itu.” Geffie menggenggam tangan istrinya dengan sayang.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1



__ADS_2