Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 98 - Meninggal Dunia


__ADS_3

"Meski hanya berbeda satu angka, tetapi aku tahu, jika NISN ini adalah milikku dengan nama Edlyn Rania Austeen, bukan milik Rania Putri. Artinya, data lamaku masih ada di sekolah ini," pikir Rania sepanjang jalan.


"Tapi nanti, aku harus berperan sebagai siapa, ya? Rania Putri atau Edlyn Rania Austeen?"


Langkah kaki Rania berdiri tepat di depan pintu ruang tata usaha sekolahnya.


Dada Rania berdebar dengan cepat. Tiba-tiba ia menjadi ragu, "Haruskah aku menyelidiki datanya?"


"Ada apa, Nak?" Pak Ridwan, yang juga pegawai tata usaha menyapanya dengan ramah.


"Ehm... Ini, Pak. NISN saya kayaknya salah, deh."


Rania menyodorkan kertas kepada Pak Ridwan.


"Eh, kenapa aku bilang begitu, ya? Jadi seakan-akan aku mengakui kalau aku ini Rania Putri? Duh, nggak tahu deh." Rania pasrah.


"Oh, ini kuesioner tadi, ya. Ayo masuk. Kita cek di komputer," ajak Pak Ridwan.


Rania melangkah masuk ke dalam ruangan besar yang terbagi atas beberapa ruang kecil lainnya.


Pak Ridwan membawa Rania ke sebuah ruangan bertuliskan "Database Room." Tidak main-main, ruangan ini diawasi ketat. Hanya dengan scanning iris mata, yang bisa membukanya.


Kekaguman Rania tidak berhenti sampai di situ. Di ruangan tersebut terdapat puluhan komputer yang berjajar rapi. Semuanya dilindungi dengan pasword. Beberapa orang operator tampak sedang bekerja.


"Uh, dingin sekali di sini. Aku tebak, pasti mereka menyalakan AC hingga suhu terendah." Rania menggosok kedua telapak tangannya untuk menciptakan kalor.


"Coba ke sini. Bacakan NISN yang tertulis di kertas itu," ucap Pak Ridwan.


Komputer di meja itu telah dibuka passwordnya.


"Apa saya boleh memasuki ruangan ini, Pak? Sepertinya semua dijaga ketat," tanya Rania khawatir.


Dulu saja saat memastikan datanya kepada Bu Rosilah, Wakil Kepala Sekolahnya, hanya diberikan buku tebal. Itu pun terus diawasi.


"Boleh saja. Asal didampingi para petugas dan melihat data seperlunya. Tidak dibenarkan melihat data milik siswa lain," ucap Pak Ridwan.


Nah, ini dia. Bagaimana caranya Rania merekam data milik dirinya sebagai Edlyn Rania Austeen, kalau tidak diperbolehkan sekolah. Memotretnya pasti dilarang.


"Kok melamun? Ayo coba bacakan." Pak Ridwan mengulang perintahnya.


"224... ... ... ... ... ..." ucap Rania membacakan angka yang tertulis di kertas.


Tuk! Pak Ridwan menekan enter.


Hufft... Detak jantung Rania serasa berhenti menunggu hasilnya.

__ADS_1


"Ah, ini dia. Benar, kok ini milikmu. Rania," ujar Pak Ridwan lagi.


Pandangan Rania terfokus pada layar komputer. Ia merekam data yang tertera sebanyak-banyaknya dan menyimpannya di kepala.


"Maaf, Pak. Tapi itu Edlyn Rania Austeen. Sedangkan saya Rania Putri," pancing Rania.


"Oh, begitu ya? Jadi ada dua Rania di sekolah ini?" ucap Pak Ridwan.


Nah, itu dia kalimat yang ditunggu Rania sedari tadi. Tetapi sayangnya, Pak Ridwan segera menutup data tersebut dan mengetik nama Rania Putri di kolom pencarian.


Ya sudahlah.


"Nah, ini dia Rania Putri. Benar ini NISN mu?"


"I-iya, benar," jawab Rania tergagap. Yah... Bohong lagi.


"Ehem! Benar nama kamu Rania Putri?" ulang Pak Ridwan. Suaranya terdengar gemetar.


"Benar, Pak."


"Se-sepertinya ada kesalahan," ucap Pak Ridwan tanpa menoleh. Bicaranya semakin gugup, seperti orang takut.


"Kesalahan bagaimana, Pak?" Rania menatap layar komputer dengan seksama.


"Datamu tidak ditemukan," ucap Pak Ridwan.


"Lho, kenapa begitu, ya?" Rania mengerutkan dahinya.


"Informasi data milikmu tidak ditemukan di base siswa aktif. Tetapi dialihkan ke base data siswa meninggal dunia."


Rania terkejut mendengar kalimat terakhir Pak Ridwan, "Meninggal dunia?"


Rania tidak tahu bereaksi apa. Haruskah ia jujur mengakui dirinya ssbagai Rania Austeen, atau kah mengatakan jika Rania Putri sebenarnya masih hidup?


"Kenapa bisa ada kesalahan fatal begini, ya?" gumam Pak Ridwan. "Apa mungkin yang sebenarnya, Edlyn Rania Austeen yang tiada?"


"Hush, sembarangan," ucap Rania dalam hati.


"Memangnya sejak kapan datanya berubah, Pak?"


"Hmm... Sebentar. Kalau di sini sih... Tanggal 3 September tahun 20xx."


"Itu tahun lalu. Tepatnya tiga minggu setelah kejadian di danau. Artinya pada saat itu semua orang sempat mengetahui, bahwa Rania Putri tidak ditemukan kembali," pikir Rania.


"Pantas saja waktu aku mengeceknya bersama Bu Rosilah dahulu tidak ketahuan perubahan ini. Karena saat itu aku mengeceknya hanya dari buku*," batinnya.

__ADS_1


(*Eps. 3)


"Tetapi apa yang terjadi setelah itu, ya? Kenapa tidak ada satu pun yang mengingatnya. Aku pun tidak mengingat apa pun tentang dirinya. Pasti dahulu aku juga mengenal Rania Putri. Kami kan satu angkatan."


Duh, pikiran Rania semakin ruwet, "Kenapa masalahnya jadi semakin berat?"


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Penyelidikan demi penyelidikan atas kasus yang menimpa Chloe dan Geffie terus berlanjut. Beberapa nama pun ikut terseret. Tidak terkecuali dengan Fania dan Malfoy Ansley.


Tetapi dari bukti-bukti yang ada justru semakin menjauhkan Malfoy dari tuduhan tersebut. Lalu bagaimana dengan Fania?


Kabar terakhir, Fania masih berada di bawah pengawasan polisi, hingga statusnya ditetapkan. Jadi setiap hari, ia pun wajib lapor.


"Kamu sudah bisa bernapas lega, Darrent. Mereka sudah tidak mencurigaimu lagi," ucap Malfoy melalui telegram, yang terdaftar bukan atas nama dirinya.


"Ya. Itu juga berkat kamu," balas Darent.


"Tapi aku tetap mengingatkanmu. Jangan sampai lengah. Mereka tidak akan pernah tidur, sampai menemukan kelemahan kita untuk dijadikan mangsa," kata Malfoy.


"Tentu. Aku masih ingin hidup bebas dan menikah. Apa aku pensiun saja ya sekarang?" ucap Darrent diselingi tawa kecil.


Yah... Memang sih, Malfoy bisa mengatakan pada Darrent untuk bernapas lega. Tetapi dirinya sendiri nggak bisa. Pikirannya tidak terlepas dari sang istri, Fania Ansley.


Meski dia tahu, selama ini Fania bersamanya hanya untuk batu loncatan mencapai tujuannya, Malfoy sama sekali tidak keberatan. Ia benar-benar telah dibutakan oleh cinta.


Malam itu, Malfoy datang sangat terlambat ke apartemen Fania menggunakan mobil yang bolak balik mogok. Kondisi wanita itu sangat buruk. Hampir semua benda di rumah itu telah berpindah ke lantai. Beberapa di antaranya telah berubah menjadi kepingan.


"Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakiti istriku. Aku pasti akan membalas mereka. Lihat saja, keadaan ini tidak akan berlangsung lama. Kami akan mendapatkan kursi kami kembali," tekad Malfoy malam itu.


Siang ini ia kembali menemui Fania. Sekantung daging kualitas terbaik sudah di tangannya. Ia ingin memasakkan Fania menu spesial.


"Malfoy, pergi dari sini. Pergi!" usir Fania ketika Malfoy baru saja datang ke rumahnya.


"Kenapa aku harus pergi?" tanya Malfoy.


Bukannya menghiraukan seruan Fania, lelaki itu malah menuju ke dapur dan mempersiapkan bahan masakan.


"Sepertinya aku tak bisa meloloskan diri lagi. Sebentar lagi statusku akan berubah menjadi tersangka. Kamu harus pergi dari sini, demi anak kita. Kamu tidak boleh tersangkut padaku," ucap Fania sambil menangis.


"Anak? Memangnya kita punya anak?"


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...

__ADS_1


__ADS_2