
"Tenang. Jangan marah-marah dulu. Aku dapat sesuatu yang lebih menarik. Dijamin bukan hanya kamu yang kaget, tapi juga dia," kata Mikko.
"Apa, tuh?" Qiandra kembali semangat membacanya.
"Eits, nanti dulu. Kamu pasti pegang janji kan, gak disebarkan ke mana-mana dulu tentang ini?" Mikko membuat kesepakatan.
"Ya tergantung. Lihat dulu informasi apa yang kamu kasih," ujar Qiandra waspada.
"Hmm... Kalau gitu aku pikir-pikir lagi, deh," balas Mikko.
Tuuut....
"Halo?"
"Kasih tahu, dong. Apa yang kamu temuin di sana? Kalau nggak..."
"Kenapa? Kamu mau ngancam anak polisi?" potong Mikko.
Gadis manja yang tak sabaran sampai menelepon Mikko pun terdiam.
"Gini ya Nona manja yang bisanya cuma suruh-suruh aja... Aku bukan babu kamu. Kalau kamu kayak gini terus bisa-bisa aku membatalkan janji denganmu. Kamu urus sendiri aja, deh," ucap Mikko dengan suara agak tinggi.
"Bu-bukab begitu maksudku..."
Mikko menyengir mendengar kalinat Qiandra barusan.
"Ya udah, deh. Aku gak akan bilang siapa-siapa tentang ini," lanjut Qiandra lagi.
"Termasuk Rania?" desak Mikko.
"Eh... I-iya," jawab Qiandra terbata-bata.
__ADS_1
"Kita cari tempat yang aman, deh. Aku nggak mau ada yang merekam dan menyadap obrolan kita lagi," jelas Mikko.
"Iya, deh. Sorry," bisik Qiandra.
"Gini, deh. Kamu yang tentukan waktu dan tempat kita bertemu. Tapi jangan malam ini. Besok aku ada ulangan sama Pak Raymond," ujar Mikko.
"Ckk... Anak teladan," batin Qiandra. "Yaudah. Di cafe Mochi, jam 7 besok malam. Gimana?" lanjut gadis pirang itu.
"Pegang janjimu, ya. Jangan ada yang tahu, termasuk ajudan dan asistenmu."
"Iya."
πΊπΊπΊπΊπΊ
Sruk! Rania menumpahkan isi tasnya ke lantai kamar. Ia mencari-cari benda yang diberikan nenek misterius tadi.
"Ah, ini dia! Syukurlah."
"Benar-benar mirip banget," gumam Rania. Matanya terus meneliti benda pemberian Nenek Ester Soniva tadi.
Rania merasa sangat mengenali benda indah itu. Namun di saat yang sama ia pun merasa asing.
Ketika ulang tahun yang ke tujuh, Rania diberi hadiah sebuah gelang emas cantik berlukiskan tulisan-tulisan indah yang tak pernah Rania pahami.
Meski puluhan kali Rania menanyakan arti tulisan itu pada sang mama, namun Chloe tetap enggan menceritakannya. Ia hanya mengatakan jika gelang tersebut adalah warisan nenek moyang dan harus dijaga.
Gelang tersebut sama persis dengan gelang milik Rania Putri. Bedanya, jika yang gelang Rania Putri berhiaskan batu permata dan zamrud, maka milik dirinya berhiaskan berlian dan batu safir.
Tapi tentu saja saat ini ia tidak memiliki gelang itu lagi, karena berada di rumah sang Mama, Chloe Eilaria Austeen.
Jika gelang itu sangat penting, mengapa sang mama tidak pernah mengatakan jika gelang tersebut ada dua? Atau hanya kebetulan sama?
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Nak, sudah tidur?" panggil ibu.
"Belum, Bu," jawab Rania.
Remaja enam belas tahun tersebut berusaha menyimpan kembali isi tasnya. Terlambat, sang ibu sudah membuka pintu terlebih dahulu.
"Astaga! Gelang itu...!" Mata ibu langsung tertuju pada benda paling berkilau di lantai kusam tersebut.
"Bu, dengarkan aku dulu," ucap Rania panik. Ia sempat berpikir kalau ibu pasti akan menuduhnya mencuri.
"Dari mana kamu dapatkan benda itu?"
"Nah, kan benar... Masa aku harus jawab dapat dari nenek-nenek di tengah hutan... Mana mungkin ibu percaya?" pikir Rania.
"Ini sudah lama sekali menghilang. Ketemu di mana?"
"Eh?" Rania memasang wajah bingung. "Jadi ibu mengenali benda ini?"
"Ya iya lah. Ini kan hadiah dari teman.. Eh, maksudnya hadiah ibu untuk ulang tahun kamu yang ke tujuh..." ibu meralat kalimatnya secepat mungkin.
"Hadiah ulang tahun yang ke tujuh? Tapi di awal ibu bilang ini hadiah dari teman..." pikir Rania.
"Bu, siapa pemilik gelang ini?" tanya Rania tiba-tiba.
"Ya punya kamu. Kok tanya lagi?" ibu bingung.
"Maksudnya, sebelum ibu berikan padaku... Oh, bukan. Ini hadiah dari siapa?"
"Ya milik Ibu."
__ADS_1
Rania menatap sang ibu dengan curiga," Apa jangan-jangan benar, aku punya kembaran yang terpisah sejak kecil?" Rania mulai beranalisa liar.