
"Kalian belum tidur?" Ibu memperthatikan ketiga buah hatinya yang sibuk berdiskusi.
"Belum, Bu," jawab ketiga anaknya kompak.
"Lagi ngapain sih, serius amat? Bikin PR?" tanya ibu lagi.
"Lagi diskusi main detektif-detektifan, Bu. Udah lama kami nggak ngumpul bareng."
"Haduhh... Aneh-aneh aja kalian ini. Tidurnya jangan terlalu malam, ya. Besok kalian sekolah."
"Iya, Bu."
"Udah disalin semua apa belum?" tanya Arka setelah ibu pergi.
"Belum. Puyeng nih nulisnya. Vy, cerinnya tegakin dong, biar jelas bayangannya," ucap Rania.
"Kaya gini?" Livy memperbaiki letak cermin yang menghadap ke gelang.
"Iya, gitu. Jangan gerak-gerak, ya." Rania menyalin tulisan atau simbol di gelang itu ke kertas. Agar lebih mudah di baca.
"Emang ini apa sih, Kak?" Livy masih bingung.
"Jadi, di belakang gelang ini kan ada ukirannya. Nah ukiran ini ternyata simbol atau tulisan gitu," jelas Arka.
"Terus, sekarang kita lagi mencari arti tulusan tersebut?" ucap Livy.
"Iya, begitu."
"Selesai! Uh, pegel tanganku," seru Rania. Hatinya cukup lega. Satu langkah telah mereka lalui.
"Jadi apa bacanya? Ini bahasa apa?" tanya Arka penasaran.
"Kalau nggak salah sih bahasa Yunani. Aku juga nggak begitu paham, tapi bisa baca dikit-dikit," kata Rania.
"Gimana kalau pakai aplikasi terjemahan?" usul Arka.
"Emangnya nanti artinya nggak melenceng? Bahasa inggris aja artinya sering nggak tepat. Aneh-aneh gitu," ucap Rania.
"Kita coba aja dulu."
Tak butuh waktu lama, mereka pun segera mendapatkan hasilnya.
"Dua yang saling melengkapi, dua yang saling melindungi, tetapi hanya satu yang mampu bertahan. Temukanlah keduanya, maka kunci akan terbuka."
"Hmm... Kira-kira apa maknanya, ya?" ucap Arka dan Rania bersamaan.
Mereka terdiam hingga beberapa detik berikutnya.
"Mungkin maksudnya dua gelang saling melengkapi? Atau dua orang saling melindungi?" ucap Livy ikutan bingung.
"Dua gelang saling melengkapi? Nah itu dia, seharusnya gelang ini ada dua. Jadi pasti kelanjutan kunci misterinya ada di sana," seru Rania.
__ADS_1
"Tapi masih ada kalimat selanjutnya, Rania. D**ua yang saling melindungi, tetapi hanya satu yang mampu bertahan," ucap Arka.
"Ah, iya juga ya."
"Ibu beli gelang ini di mana sih, Kak?" tanya Livy.
"Ini nggak beli. Tapi diberikan sama sahabat lama ibu," jawab Rania.
Ia tidak mengerti, kenapa adiknya tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Hmm... Kalau begitu... Mungkin saja ada dua orang yang memiliki dua gelang yang serupa. Tetapi takdir mereka hanya satu yang hidup atau bertahan dari sesuatu hal, demi melindungi orang yang satu lagi. Dan rahasia itu terdapat pada gelang satu lagi. Makanya harus ditemukan kedua gelangnya," ujar Livy mengungkapkan isi kepalanya.
Rania dan Arka saling berpandangan. Mereka bukan tidak setuju dengan pendapat adik bungsu mereka.
Tetapi, mereka berharap jika analisa itu tidaklah benar. Karena kalau yang dibilang Livy itu tepat, artinya Rania Putri benar-benar sudah tiada.
Selama ini tidak ada seorang pun yang pernah melihatnya lagi, kan?
"Kenapa? Pendapatku nggak masuk akal, y?" Livy tampak berkecil hati melihat reaksi kedua saudaranya.
"Justru pendapatmu sangat luar biasa. Kami sama sekali nggak terpikir ke sana. Tapi... Semoga aja hal itu nggak benar," sahut Arka.
"Kenapa?" tanya Livy penasaran. "Emang apa kaitannya gelang itu sama kita?"
"Kita harus menemukan gelang satu lagi, agar bisa mengetahui mengungkap rahasia selengkapnya," kata Rania.
"Di mana kita menemukannya?" tanya Livy. Gadis cilik itu benar-benar bingung.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Nona, PT. Bumi Perkasa minta kepastian kontrak hari ini," ujar Sania, didampingi beberapa direktur.
"PT. Bumi Perkasa itu perusahaan apa? Mau kontrak dengan cabang kita yang mana?" Qiandra balik bertanya.
Sejak sarapan tadi pagi, Nona muda tersebur sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan di balik tumpukan berkas yang menggunung.
"PT. Bumi Perkasa itu salah satu perusahaan travel krlad menengah. Sebulan yang lalu, mereka mengajukan kontrak kerja sama ddngan hotel kita di Maluku, Medan, Bengkulu dan Samarinda," jelas direktur Holly Hotel.
"Lalu bagaimana hasil evaluasi pengajuan kontrak mereka? Menurut pendapat mama saat itu bagaimana?" tanya Qiandra lagi.
"Antusias masyarakat dengan agensi travel tersebut cukup baik. Dengan biaya yang cukup terjangkau, mereka mampu menyediakan fasilitas pelayanan yang memadai. Tanggapan Nyonya juga cukup baik," jawab direktur tersebut.
"Akan tetapi, diketahui perusahaan tersebut masih memiliki hutang senilai tujuh puluh lima juta dengan salah satu peminjam modal, sebagai modal awal mereka," lanjut direktur tersebut.
"Sebelumnya hutang mereka berapa? Berapa persen yang sudah mereka lunasi sejak perusahaan tersebut berjalan?" tanya Qiandra benar-benar kritis.
"Data yang kami dapatkan, mereka baru membayar sekitar 47% hutang mereka sejak delapan bulan berjalan."
"Mereka menawarkan benefit berapa persen pada kita?"
"Sekitar 15-22 % dari setiap occupancy*."
__ADS_1
"Hmm... Kalau begitu kita buat saja perjanjian kontraknya. Untuk sementara dua tahun saja dulu, kalau memang bagus, kita perpanjang lagi," ujar Qiandra.
"Segera siapkan surat kontraknya dan berikan draftnya padaku hari ini. Besok kita adakan rapat internal sebelum tanda tangan kontrak," perintah Qiandra.
"Baik, Nona."
"Selanjutnya, Nona," kata Sania.
"Ada lagi?" tanya Qiandra sambil membaca beberapa berkas.
"Iya. Untuk para model di summer show minggu depan, apa sudah final?" lanjut Sania.
"Iya, tetapi aku akan mengundang satu model papan atas untuk pertunjukan terakhir. Aku sedang menyiapkan undangannya," jawab Qiandra.
"Baik, Nona. Nanti akan saya sampaikan pada ketua Tim," jawab Sania. "Lalu yang terakhir..."
"Apa lagi? Pekerjaanku hari ini saja sudah sangat menumpuk," ucap Qiandra semakin pusing.
"Para analis CL cosmetics belum bisa melanjutkan analisis mereka, karena hasil uji klinis yang di daftarkan ke lembaga uji nasional kemarin masih di tangan Nyonya," lapor Sania.
"Aku tidak mengerti. Di saat perusahaan besar tersebut berlomba-lomba membuka lowongan kerja bagi para lukisan terbaik di bidangnya, kenapa mereka malah mengandalkan semua pekerjaan padaku yang cuma anak SMA?"
Bukannya menjawab laporan Sania, nona muda tersebut malah menggerutu kesal. Kepalanya sudah mau pecah karena dipenuhi berbagai macam pekerjaan berat.
"Hmm... Maaf, Nona. Tetapi ini semua amanah dari Tuan dan Nyonya," jawab Sania hati-hati."
"Ckk... Ya sudah. Nanti bantu aku mencari berkas yang mereka minta itu," kata Qiandra.
"Sekarang bikinkan Foie Gras. Aku lapar," pinta Qiandra.
"Foe gres?" Kening Sania berkerut. "Makanan sejenis apa itu?" pikirnya.
"Nih tulisannya." Qiandra menulis menu tersebut di secarik kertas. "Aku nggak mau tahu bagaimana caranya, pokoknya aku mau makan itu secepatnya."
Nah, mulai lagi deh sifat nyebelinnya.
"Nona, bagaimana kalau kita cari berkas itu sambil menunggu menunya jadi," usul Sania.
"Bilang aja kamu mau mengulur waktu karena kalian nggak tahu menu ini?" tebak Qiandra.
(Bersambung)
*Occupancy: tingkat hunian kamar hotel yang di sewa pelanggan.
Halo teman-teman... Kalian pasti penasaran sama tulisan aneh yang dipecahkan oleh Rania bersaudara, kan? Ini dia.
Ukiran di gelang (ditulis terbalik):
Ukiran yang dilihat di cermin:
__ADS_1