Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 8 – Dunia dalam Cermin


__ADS_3

“Guys, aku mau tanya dong. Kalian merasa ada yang aneh nggak dengan kehidupanku beberapa hari ini?” tanya Rania pada kedua temannya, ketika berjalan di lorong sekolah. Mereka tadi bertemu di depan gerbang ketika Rania turun dari angkot.


“Hmm… Kalau dipikir-pikir memang ada yang aneh, sih,” gumam Anjani.


“Iya. Aku juga berpikir begitu,” kata Alvi sambil memperhatikan Rania dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Nah, betul kan-“


“Kamu beberapa hari ini selalu mengaku-ngaku keluarga Austeen, melupakan banyak hal, bahkan angkot tujuan rumahmu sendiri.” Alvi memotong ucapan Rania.


“Eehhh?!” Rania mengacak poninya sendiri karena geram. “Aku yang aneh atau mereka yang aneh, sih?” gumam Rania dalam hati. Ia rasanya masih tidak ikhlas kehidupannya berubah begitu saja, hanya dalam semalam.


“Eh. Sstt… sssst… Tuh, pangeran Es arah jam dua belas,” bisik Anjani.


Beberapa langkah di depan mereka, terlihat Mikko sedang bersenda gurau dengan teman-temannya. Kelas XI IPA memang harus melalui kelas IPS terlebih dahulu.


“Pagi…” sapa Alvi dan Anjani.


“Pagi juga,” sapa Valen, teman Mikko, dengan ramah. Sementara Mikko yang menjadi sorotan utama hanya menganggukkan kepala degan malas.


“Tuh, lihat. Benar-benar dingin dan kaku kayak es lilin dalam freezer,” bisik Alvi setelah mereka melewati kelas IPS.


“Iya, ih. Coba kalau misalnya kamu kaya raya seperti Qiandra Austeen. Dia bakalan cuekin kamu juga nggak ya?” tambah Anjani.


“Qiandra Austeen?” Rania terkejut. Bahkan teman-temannya tak canggung menyebut nama Austeen, yang tak lain adalah nama keluarga Rania sebelum hidupnya berubah.


“Wah, ada apa nih pagi-pagi sudah menyebut namaku? Mau jadi tumbal?” ucap seorang wanita angkuh di belakang mereka.


“Hoho... Nona Qiandra yang baik hati. Kami hanya membicarakan tentang dirimu dan Mikko yang sepertinya cukup serasi. Tetapi sepertinya kamu tidak begitu suka,” ucap Alvi. Pandai sekali dia menjinakkan Nona kaya yang angkuh ini. Yah, walaupun sebenarnya itu hanya sebuah sindiran.


“Oh, wow. Tumben kamu cerdas. Aku memang cocok dengannya. Tetapi aku tetap tidak akan berbaik hati dengan para penjilat seperti kalian. Aku tahu, kalian hanya mengambil muka denganku,” jawab Qiandra tidak terkecoh.


“Haduh, kenapa gadis sombong dan angkuh seperti ini yang menggantikan posisiku? Bagaimana nasib mama dan papa jadinya?” keluh Rania dalam hati.

__ADS_1


“Oh iya, Rania. Aku harap, kamu jangan anggap Austeen sebagai nama keluargamu. Aku nggak suka. Candaanmu nggak lucu, tahu nggak?” ucap Qiandra.


“Apa? Siapa yang bercanda?” marah Rania.


Meski sadar kini posisi mereka sudah berputar, tetapi tetap saja hatinya panas melihat ulah Qiandra. Keluarga Austeen dikenal dengan konglomerat yang ramah dan rendah hati. Bukan seperti nenek sihir begini.


“Apa kamu tahu, siapa nama kapan ulang tahun pa- maksudku Tuan Geffie Austin?” tanya Rania.


“11 Agustus. Aku anaknya, tentu saja aku tahu,” jawab Qiandra ketus.


“Lalu, di mana Nyonya Chloe Eilaria Austeen debut pertama kali sebagai model?” tanya Rania. Ia sengaja memberikan pertanyaan yang cukup sulit.


“Di Thailand. Saat itu umurnya baru empat belas tahun,” jawab Qiandra tak mau kalah.


“Bagaimana bisa Qiandra menjawabnya dengan tepat tanpa ragu. Padahal semua orang tahunya mama pertama kali menjadi model di Taiwan, saat usia enam belas tahun,” batin Rania.


“Hah, kamu pikir pasti mama pertama kali jadi model saat umur enam belas tahun di Taiwan, kan? Itu adalah debutnya dipanggung besar pertama kali. Tetapi saat umur empat belas tahun, ia telah berjalan di catwalk untuk membawakan baju-baju designer siswa seni dan design di Thailand,” jelas Qiandra.


“Lalu, di manakah tempat liburan favorit Nyonya Chloe?” tanya Rania lagi.


“Tentu saja Desa Sirnea,” jawab Qiandra tegas.


Tepat sekali. Rania semakin tidak mengerti. Kenapa Qiandra bisa mengetahui semua hal tentang keluarganya? Pertanyaan terakhir, tidak ada yang tahu jawabannya selain papa dan dirinya sendiri. Mamanya tidak ingin orang mengetahui, kalau ia memiliki darah Rumania di dalam tubuhnya.


“Sudahlah, jangan membuatku muak dengan pertanyaan anehmu itu lagi. Kamu hanya membuat dirimu semakin rendah dan memalukan,” kata Qiandra sambal berlalu.


“Benar, aku memang terlihat memalukan saat ini. Menolak keadaan yang kini menjadi anak pembantu rumah tangga,” gumam Rania dalam hati.


“Hei, Rania. Kamu ini kenapa,sih? Tidak ada yang berani melawan Qiandra selama ini. Ia adalah Nona besar di sekolah ini,” ucap Anjani setelah Qiandra menghilang.


“Benar. Aku malu banget tadi kamu tanya-tanya begitu padanya. Kamu kenapa sih dari kemarin? Kecemplung got bikin pikiranmu agak geser, ya?” tambah Alvi.


“Geser? Enak aja. Aku masih normal,” sahut Rania disambut gelak tawa kedua temannya.

__ADS_1


Rania mengerutkan wajahnya. Ia melangkah dengan gontai ke dalam kelas, “Aku kenapa sih? Sepertinya hanya aku saja yang mengingat, kalau aku ini dulunya putri tunggal Geffie dan Chloe Austeen,” rutuknya dalam hati.


*****


“Alvi, boleh… pinjam HPmu?” tanya Rania rag-ragu ketika jam istirahat.


“Nih, pakai aja. Tetapi jangan menelepon orang-orang kayak kemarin, ya,” ucap Alvi ragu.


“Aku.. boleh menggunakan internet?” tanya Rania lagi.


“Pake ajaaa… Biasanya kalian juga selalu pakai hotspot dari HPku kok.,” jawab Alvi santai. Jadinya mau pinjam HP atau hotspot nih?” lanjut gadis manis itu.


“Hotspot aja, deh,” ucap Rania kemudian.


Rania melanjutkan aksi mata-matanya yang tertunda tadi malam. Ia browsing semua hal tentang Geffie Austeen dan Chloe Eilaria Austeen. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan tadi malam. Tidak ada sedikit pun informasi tentang Edlyn Rania Austeen, alias dirinya sendiri, di semua artikel yang ia baca. Semua hilang tanpa jejak.


Sebaliknya, informasi tentang Qiandra Ansley, yang kini dikenal dengan Qiandra Austeen, bertebaran di semua media. Baru-baru ini, berita bahwa Qiandra meluncurkan brand make upnya sendiri menjadi trending topic.


Geffie dan Chloe Austeen adalah public figure dan pengusaha sukses yang sangat diperhitungkan di negeri ini. Setiap gerak-gerik mereka akan menjadi sorotan masyarakat. Jadi sangat mudah menggali informasi mereka melalui internet. Hampir semua rekam jejak mereka terdapat di sana. Meskipun tidak semua hal pribadi diketahui oleh publik.


“Apa yang terjadi dengan dunia ini? Apakah ini yang dinamakan dunia dalam cermin? Isi yang sama tetapi cerita yang bertolak belakang,” bisik Rania dalam hati.


“Apa aku harus menerima keadaan ini begitu saja? Semua bukti sudah menunjukkan, bahwa aku bukanlah anak mama dan papa lagi. Mereka bahkan tidak merasa kehilangan dan mencari keberadaanku. Hanya aku sendiri saja yang mengetahui hal itu.” Rania mengusap sudut matanya yang mulai berair.


Jika keadaannya masih seperti dulu, Rania menghilang tanpa kabar selama satu jam saja, pasti sudah menjadi sorotan semua media. Pihak berwajib akan langsung melacak keberadaannya. Tapi ini? Semua tenang-tenang saja.


“Rania, kamu menangis? Maaf jika kata-kata kami tadi pagi terlalu kasar. Kami hanya tidak ingin dirimu direndahkan oleh Qiandra,” ujar Alvi dan Anjani.


Rania menggeleng. Meski air matanya terus mengalir, tetapi hatinya sedikit membaik. Untung saja sahabatnya tidak turut berubah haluan, meski Rania yang sekarang bukanlah seorang milyarder. Ia juga memiliki keluarga yang baik dan menyayanginya, bukan?


Sepertinya Rania harus bersabar lebih lama, sampai semua misteri ini terpecahkan.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2