
"Kamu terlihat sangat sedih, Qian. Apa ini karena persidangan tadi? Gimana kabar mama dan papa?" tanya Rania.
"Yah... sebagian memang karena sidang, tapi sebagian juga tidak. Kabar mama dan papa... lumayan baik. Semoga ada jalan agar segera bebas," tutur Qiandra sambil memandang jauh ke depan.
Lalu lintas yang tidak terlalu ramai, dan aktivitas para pedagang menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi Qiandra untuk melepaskan penat.
"Apa perlu aku dan Mikko menemanimu hari ini di rumah?" tawar Rania.
"Tidak. Jangan berteman denganku, Rania. Aku tidak mau berteman denganmu," ucap Qiandra tegas.
"Eh, kenapa?" Rania sedikit terkejut dengan tanggapan Qiandra yang tiba-tiba.
"Ah... Betul juga. Sekarang status sosial kita berbeda jauh. Aku tidaklah pantas menjadi temanmu," kata Rania sedih.
"Hei, bukan begitu maksudku. Aku lah yang tidak pantas menjadi temanmu. Aku tidak tahu siapa diriku. Aku juga tidak ingat bagaimana kehidupanku dulu," ucap Qiandra.
"Rania, mungkin dulu aku sangat jahat pada semua orang, termasuk dirimu. Makanya sekarang aku dihukum seperti ini," lanjut wanita itu lagi.
"Siapa dirimu dulu, itu tidak penting. Sekarang dirimu sudah jauh berubah. Bahkan mungkin lebih baik dariku. Jangan berkecil hati, Qian," hibur Rania.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Dasar orang-orang bod*h! Aku membantu hidup mereka, tapi mereka menghianatiku seperti ini," ucap Malfoy geram.
Pria paruh baya itu sibuk mengumpulkan isi lemari dan memindahkannya ke koper besar.
Beberapa hari yang lalu, Darrent meneleponnya dan mengatakan dirinya siap menyerahkan diri ke polisi. Dengan begitu, cepat atau lambat, polisi pasti akan menemukannya juga.
Saat ini hati Malfoy diliputi keraguan, apakah ia harus melarikan diri dan meninggalkan Fania di penjara? Lalu bagaimana caranya menyelamatkan wanita itu nanti?
Dan kalau ia tetap berada di sini, nasibnya akan sama dengan Fania dan Darrent.
Tapi ia masih tidak ikhlas jika ia dihukum. Seperti pikirannya tadi, ia berbuat sejauh ini demi mendukung karir Fania, wanita yang sangat dicintainya.
Dan ia melibatkan Malfoy bukan untuk menjadikannya tumbal, tapi untuk memberikannya modal usaha agar tidak selalu berada di bawah kekuasaan Geffie yang dinilai memberi gaji terlalu kecil. Malfoy juga berharap, agar Darrent segera menikahi pacarnya, Diana.
Pluk! Sebuah pita berwarna merah jatuh dari lemari, saat Malfoy hendak meraih gulungan kaus kaki.
"Lagi-lagi aku menemukan pita? Milik siapa? Fania tidak pernah menemukan benda seperti ini," pikir Malfoy.
__ADS_1
Ia membolak-balik pita itu. Sayangnya tidak ada satu petunjuk siapa pemilik benda mungil tersebut.
Sruk!
Rasa penasaran yang cukup tinggi, membuat Darrent membongkar semua isi lemari. Dugaannya pun terbukti, ternyata tidak hanya satu aja dia menemukan benda-benda milik perempuan, tapi ada banyak pernak-pernik lainnya. Lebih tepatnya, untuk anak perempuan.
Darrent pun kembali teringat ucapan wanita beberapa minggu lalu soal anak. Apa benar ia dan Fania punya anak? Tapi kenapa ia tidak ingat? Dan saat ini anak mereka ada di mana?
Ketika kembali membereskan barang-barang ke dalam koper, pandangan Malfoy tertuju pada selembar sapu tangan biru muda yang mencuat dari saku jasnya.
Sapu tangan itu berbeda dengan sapu tangan lain miliknya. Jahitan tepinya tidak rapi. Sulaman dari benang wol berbagai warna membentuk kalimat yang sangat indah.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Selamat ulang tahun, Papa," ucap seorang gadis kecil berusia tujuh tahun sambil mencium pipi Malfoy.
"Terima kasih, sayang," ucap Malfoy balas mengecup kening gadis itu.
"Ini untuk Papa." Gadis mungil itu menyodorkan sebuah kado pada Malfoy.
Terlihat jelas kado itu ia bungkus sendiri, lipatannya sangat tidak rapi. Tapi sikap tulus gadis itu membuat harganya menjadi tak ternilai.
"Wah, kamu bikin hadiah juga untuk Papa. Ini manis sekali," ucap Malfoy.
"Ya ampun. Pintar sekali gadis Papa. Ah, suatu saat nanti kamu pasti bisa membuat kue yang enak. Tidak hanya kue, kamu pasti bisa memasak apa pun jadi lezat."
"Hihihi... Semoga ya, Pa."
"Nah untuk sekarang, kita beli kue saja dulu. Nanti kita makan sama Mama. Mau kan?" ucap Malfoy.
"Mau dong, Pa. Tapi kapan mama pulang? Mama janji sebelum ulang tahun Papa akan segera pulang, tapi ini sudah hari ulang tahun Papa," kata gadis kecil itu dengan sedih.
"Eh, jangan sedih dong. Mama kan pergi bekerja untuk masa depan kita semua. Nanti mama pasti pulang, kok," hibur Malfoy.
"Tapi, Papa bekerja juga. Kok bisa ketemu aku tiap hari?" protes gadis mania itu.
"Ya karena tempat kerja Papa dekat. Kalau tempat kerja mama kan pindah-pindah, bahkan sampai ke luar negeri," jelas Malfoy.
"Oo... Gitu ya, Pa."
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Astaga! Bagaimana aku bisa melupakan ini semua?" tangis Malfoy.
Sebagian ingatannya baru saja kembali. Dan ternyata benar, bahwa ia dan Fania pernah memiliki anak.
"Kenapa aku bisa melupakan gadis selucu itu? Pantas saja aku selalu menangis sedih setiap melihat anak perempuan."
Malfoy meremas sapu tangan itu dengan kuat. Sapu tangan itu adalah sapu tangan terbaik yang pernah dimilikinya.
Setiap ada acara penting, ia selalu menyelipkan sapu tangan itu dalam saku jas atau tuxedonya, meskipun Fania tak menyukainya.
Masih dalam ingatan yang samar, Malfoy bisa melihat masa lalunya yang kelam. Karena cintanya yang terlalu besar pada Fania, lambat laun ia pun terus menjadi budak untuk mempertinggi pijakan Fania menuju model kelas dunia.
Di saat yang sama, Malfoy pun mulai menelantarkan samg putri. Gadis pintar itu sering mereka tinggalkan seorang diri di rumah. Bahkan tak jarang Fania meninggalkan buah hatinya itu di depan rumah orang tuanya yang diselimuti salju tebal.
"Di mana anakku sekarang? Bagaimana hidupnya? Ah, sial! Karena terlalu lama tak berjumpa dengannya, aku bahkan sampai melupakan wajahnya. Ia pasti sekarang sudah dewasa."
Malfoy menangis penuh penyesalan di dalam ruangan apartemen itu seorang diri.
"Aku... Aku harus bagaimana? Kenapa aku bisa mentelantarkan anak itu?"
Malfoy terus menggali-gali ingatannya. Ia bahkanelupakan niat awalnya yang hendak melarikan diri dari ibu kota.
Tapi sayangnya, ia hanya bisa sedikit mengingat nama anaknya yang mirip dengan nama sang ibu, dan memiliki 'Putri yang sangat cantik'.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Tok... Tok... Tok...
"Ya, masuk."
Qiandra mengemas semua buku-buku yang sedang dibacanya.
"Permisi, Nona."
"Ah, Wilbert. Kamu sudah kembali. Bagaimana hasilnya? Apa kata polisi tadi?"
"Polisi mengatakan, kalau Tuan Malfoy... "
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...