Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 11 – Pedagang Cantik yang Licik


__ADS_3

“Ibu!” teriak ayah dari dapur.


“Ada apa, Yah?” sahut ibu. Ia buru-buru menuju ke dapur dan meninggalkan cucian yang hendak di jemuran.


“Dagangan Ayah mana? Kok kulkasnya kosong begini? Hanya tinggal Sanole saja,” tanya Ayah panik.


“Waduh! Iya, ya. Ibu juga nggak tahu. Di makan anak-anak, mungkin?” jawab ibu.


“Tidak mungkin. Dagangan Ayah masih sisa banyak sekali tadi malam. Terutama roti kering kenari dan pisang asar. Tidak mungkin mereka menghabiskannya sebanyak ini,” kata ayah.


“Semua dagangan Ayah di bawa ke sekolah Kak Rania. Ia sudah berangkat sejak jam enam lebih seperempat tadi. Saat ayah dan ibu masih di pasar,” jelas Livy sambal menyisir rambutnya yang basah.


“Oh, dibawa ke sekolah. Kenapa? Rania tidak sempat sarapan dan membawa bekal?” tanya ibu.


“Tidak, kok. Kak Rania tadi sudah membuat sarapan dan bekal untuk kita semua,” kata Livy.


“Lalu?” tanya ayah dan ibu tidak mengerti.


“Katanya sih akan dijual di sekolah,” kata Livy lagi.


“Jualan di sekolah? Di sana para siswa kan dilarang berjualan,” ucap ibu panik.


“Tidak apa-apa, Bu. Kak Rania pasti sudah memikirkan caranya agar tidak ketahuan,” jawab Livy. Sesungguhnya ia pun ragu, bagaimana cara kakaknya berjualan dengan aman.


“Rania. Anak itu selalu saja keras kepala membantu orang tua,” ujar ayah sedih.


“Dari pada itu, sebaiknya cobain deh masakan Kak Rania pagi ini.” Livy membuka tudung saji.


“Eh, apa ini? Lemper? Tapi kok nggak dibungkus dengan daun pisang?” ujar ayah bingung. Ia mengambil satu potongan dan mengunyahnya.


“Bukan, Yah. Itu Namanya Sushi. Masakan Jepang. Kak Rania ingin kita mencoba masakan luar negeri,” jelas Livy dengan sabar.


“Oh, ya? Enak, nih. Ayah suka. Praktis juga untuk bekal,” kata ayah sambal mengambil sepotong lagi. Ibu yang penasaran pun turut mencobanya.


Sushi sederhana yang berisi mentimun, wortel, telur dadar dan sosis itu mendadak jadi makanan favorit ayah dan ibunya.


“Syukur, deh. Ayah dan ibu suka. Tidak sia-sia tadi malam Kak Rania mengajakku ke minimarket, untuk beli nori* dan beberapa sosis murah,” batin Livy.


*Nori (Jepang) : Rumput laut kering.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur, sinarnya yang lembayung perlahan berubah menjadi biru. Memanjakan mata bagi siapa pun yang memandangnya.


“Humm… Segar sekali udara di sini. Emang aktivitas di pagi hari itu bikin sehat, ya,” ujar Rania.


Pukul 06.30, ia telah berdiri di seberang jalan gerbang sekolahnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, suasana jalanan pagi ini masih cukup lengang. Pohon-pohon akasia yang sengaja ditanam sepanjang jalan, membuat udara semakin segar dan sejuk.


“Kenapa aku baru tahu, kalau di seberang sekolah ada pemandangan seindah ini, ya,” gumam Rania sambil berjalan di sepanjang trotoar.

__ADS_1


Tentu saja ia tidak mengetahuinya, selama ini ia hanya duduk manis di dalam mobil mewahnya, lalu turun tepat di halaman sekolah. Ia tidak pernah tahu apa yang ada di sekitar sekolah. Jajan di luar pagar sekolah pun bisa di hitung hanya beberapa kali.


Pagi ini, dengan semangatnya yang membara, ia bertekad menjalankan misi yang sudah disusunnya matang-matang tadi malam. Apalagi kalau bukan berdagang kue tradisional Maluku. Semua sudah dipanaskan sejak subuh.


“Bismillah, semoga laku semua. Aamiin,” doa Rania.


Sejak ia berangkat tadi, dagangannya sudah laku lima buah. Ia berhasil membujuk supir angkot yang belum sarapan untuk membeli dagangannya. Yah, permulaan yang cukup baik.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Rania pada petugas keamanan sekolah, target Rania selanjutnya.


“Selamat pagi, Rania. Bawa apa tuh?” tanya Pak Jupri dan Pak Rudi, melihat Rania menenteng sebuah box plastik ukuran sedang.


“Oh, ini. Ada roti kering kenari dan pisang asar. Bapak mau?” ujar Rania.


“Pisang asar? Tapi sekarang masih pagi, Nak,” kata Pak Jupri.


“Ih, bukan. Itu cemilan khas Maluku,” sanggah Pak Rudi. “Boleh, deh. Saya mau,” lanjutnya.


Rania membuka boksnya dan mengeluarkan beberapa buah dagangannya ke kotak plastik, “Kue Kenarinya 3 buah lima ribu. Kalau pisang asar, empat buah lima ribu. Bapak mau berapa?” tanya Rania.


“Lah, dijual toh. Kirain mau dikasih tadi,” kata Pak Jupri.


“Yah, kalau saya bagi-bagi gratis, nanti untuk biaya makan sehari-hari kami dari mana?” kata Rania pura-pura memelas.


“Tidak apa-apa. Kami bakal beli, kok,” kata Pak Rudi. “Saya beli roti kenari lima ribu, pisang asar lima ribu,” katanya.


“Saya juga, beli pisang asarnya sepuluh ribu,” kata Pak Jupri pula.


“Wah, sogokan ya?” celetuk Pak Rudi diiringi gelak tawa.


“Haduh, bukan sogokan, Pak. Ini namanya kesepakatan dengan mitra bisnis,” kata Rania. “Semoga bisnis kita semakin lancar ke depannya.” Rania mengedipkan mata.


Tak berapa lama kemudian, para siswa mulai berdatangan. Rania siap menjajakan dagangannya di parkiran sekolah. Namun tidak begitu berhasil.


Selain karena para siswa di sini rata-rata orang mampu yang tidak jajan sembarangan, mereka juga takut kena hukum. Karena yang berdagang dan yang membeli sama-sama kena sanki jika ketahuan bertransaksi. Alvi dan Anjani pun membelinya sebatas karena rasa kasihan.


“Hei, kamu ngapain jualan di sini. Memangnya ini pasar?” tegur Qiandra. Tumben ia datang pagi.


“Biasalah. Kasta rendahan. Di dalam pikirannya cuma ada uang,” timpal Dewi. Manusia cantik bak Dewi dari surga, tetapi hatinya lebih jahat dari pada iblis.


“Bicara yang lebih sopan bisa, kan?” tegur Alvi.


“Haduh… Rambut mie diam aja, deh. Kamu itu jadi teman mereka hanya karena kaya. Kalau kamu miskin, mereka pasti juga gak mau berteman dengan orang jelek kayak kamu,” tambah Nurul pula.


“Teman-temanku yang merasa paling cantik dan kaya, daripada ribut mending beli daganganku, deh. Lebih berfaedah,” kata Rania melancarkan trik marketingnya.


“Kue macam begini kamu jual pada kami?” ujar ketiga cewek sombong itu bersamaan.


“Katanya orang kaya, beli kue murah begini aja nggak mampu,” sindir Rania.

__ADS_1


“Ish, kamu mengejek, ya? Ini gak selevel dengan kami,” ujar Dewi kesal.


“Hishh… Udah, diam. Berapa sih harganya? Sini aku beli,” kata Qiandra. Hatinya panas disebut tak mampu membeli kue tradisional tersebut.


“Wah, tuan putri yang ini baik hati ternyata. Kue kering kenari lima ribu sepotong, sementara pisang asarnya tiga ribu sebuah,” kata Rania sambil tersenyum pada kedua temannya yang hendak protes.


“Ya udah, hitung deh. Aku beli semua,” kata Qiandra lagi.


“Serius?” tanya Rania tak percaya.


“Udah buruan hitung, sebelum ketahuan guru-guru,” desak Qiandra.


“Kue kering kenari 30 potong dan pisang asar 36 buah, totalnya jadi 258.000.” Rania menghitung dagangannya.


“Nih.” Qiandra menyerahkan tiga lembar uang seratus ribu. “Kembaliannya ambil aja. Terus bawakan kue itu ke ruang kelas. Bagi-bagi deh sama teman yang lain,” lanjutnya.


“Hei, aku kan mau coba juga,” bisik Nurul dan Dewi pada Qiandra.


“Lah, tadi kenapa nggak mau beli?” ujar Qiandra ketus.


“Aduh… Aku tidak menyangka, ternyata kamu baik banget, ya. Sebagai bonus, aku mau beri tips deh untuk kamu yang ingin menjadi ketua tim summer show.” Rania memancing Qiandra.


“Hei, dari mana kamu tahu hal rahasia itu?” ujar Qiandra kaget.


“Yah… Tahu aja. Aku nggak tahu gimana hasil pertemuan saat gala dinner kemarin. Tetapi kuberi tahu satu hal. Tuan Gunawan senang dipuji, lalu Dolce M. Sigmon penggemar berat bunga dan kupu-kupu, itu cukup untuk memberinya ide corak musim panas. Lalu Nyonya Magda dan Tuan Alberto, mereka tidak suka jika omongannya di potong. Dan Aska Vilton adalah orang yang cukup pendendam, jadi hati-hati bicara dengannya. Untuk Fania… kurasa kamu yang lebih memahaminya,” bisik Rania.


“Dari mana kamu dapat semua informasi kelas atas itu? Posisimu bukanlah orang yang mudah untuk berhubungan dengan mereka,” ujar Qiandra curiga.


“Yah… Anggap saja aku dapat wangsit dari mimpi semalam. Tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Sudah ah, aku mau bagi-bagi kue dulu.” Riani berlalu dari hadapan Qiandra.


Rania, Anjani dan Alvi terkikik setelah ketiga gadis itu pergi menuju kelas.


“Hei, aku jadi ragu, Qiandra itu orang jahat,” kata Rania.


“Aduh, itu mah dia nya aja yang sombong dan gak mau kalah darimu. Tapi nggak apa-apa. Kamu jadi dapat untung banyak gini, kan?” kata Alvi sambil tertawa.


“Benar juga, ya,” kata Rania.


“Tetapi apa yang kamu bisikkan padanya? Wajahnya langsung berubah panik, lho?” tanya Anjani.


“Aku katakan, kalau tadi malam aku saling mengirim pesan dengan mesra pada Mikko,” bohong Rania. Eh, tetapi gak bohong juga, sih.


“Apa?!!” seru kedua temannya. Ini berita besar.


(Bersambung)



__ADS_1



Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2