
Sret… Sret… Sret…
Tangan Rania menggunakan vakum dan mengepel lantai dua rumah majikannya dengan cekatan. Sepertinya ia telah terbiasa dengan pekerjaannya kini. Ia bahkan sudah bisa melakukan dua kerjaan dalam satu waktu, misalnya saja mencuci piring sambil memasak sayur.
“Uh… pinggangku mulai pegal. Padahal rumah ini lebih kecil dibandingkan rumahku yang dulu,” gumam Rania. “Pantas saja kakak-kakak para asisten dulu sering menggunakan koyok dan minyak kayu putih disekujur tubuhnya,” lanjutnya lagi.
Rania membayangkan betapa lelahnya para sisten rumah tangga membersihkan rumahnya yang memiliki lima kamar tidur utama, dua kamar tamu, ruang kerja ayah, ruang musik, ruang baca dan perpustakaan, delapan kamar mandi, ruang keluarga, dua ruang tamu, dapur, kolam renang, belum lagi balok dan halaman yang sangat luas. Wow, mengucapkannya saja sudah lelah, apalagi mengerjakannya setiap hari.
“Semangat Rania. Kamu tinggal menjemur kain dan membersihkan dapur,” ucap Rania pada dirinya sendiri.
Hari ini ibu ada acara di sekolah Livy. Oleh karena itu, ibu berpesan Rania lah yang mengerjakan semua tugas hari ini. Rania tentu saja tidak keberatan melakukannya, kecuali menyeterika. Ia belum mahir mengerjakan tugas satu itu.
“Jaga sikapmu baik-baik, ya. Jangan menggoda Tuan Muda. Ingat itu,” pesan ibu sebelum pergi tadi pagi.
“Uh, ibu pikir aku ini siapa? Harusnya Mikko yang diberi pesan seperti itu, agar tak selalu menjahiliku,” jawab Rania pagi tadi. Tetapi ibunya justru pura-pura tidak dengar.
Langkah Rania berhenti di sebuah ruangan dengan pintu berwarna hijau muda, berbeda dengan pintu lain yang berwarna coklat kayu. Di samping pintu terdapat sebuah meja kecil. Di atasnya terletak sebuah bingkai foto dan bucket bunga yang masih baru. Ia sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di sini. Biasanya lantai dua adalah wilayah kerja Livy.
“Apakah ini ibu Mikko. Cantik sekali?” pikir Rania.
“Ibuku cantik, kan?” ujar Mikko yang tiba-tiba berada di belakang Rania.
“Eh, iya cantik sekali,” jawab Rania gugup.
“Ibuku itu sangat cantik dan baik hati. Tetapi kenapa ia masih dibully, ya?” kata Mikko.
“Dibully? Yang benar saja? Kenapa?” tanya Rania. Ia baru mendengar hal ini.
“Aku juga tak tahu. Mereka hanya mengatakan bahwa ibuku tidak pantas menikah dengan ayah. Ia juga meninggal karena korban bully,” kenang Mikko.
“Bagaimana bisa? Ayahmu kan polisi,” sahut Rania.
Raut wajah Mikko berubah seketika. Kedua alisnya bertaut. Bibirnya melengkung ke bawah.
__ADS_1
“Maaf jika pertanyaanku terlalu lancang,” kata Rania merasa bersalah.
“Tidak, kok. Aku memang mau cerita padamu. Sedari kecil kamu ingin tahu tentang ibuku, kan? Saat itu aku belum siap untuk menceritakannya,” kata Mikko kemudian.
“Saat itu aku masih kecil, tetapi bukan berarti aku tidak tahu apa-apa. Ibuku sering bersedih akibat omongan orang yang tak bermartabat,” ucap Mikko memulai ceritanya. Ia mengajak Rania duduk di anak tangga.
“Ia selalu menerima kata-kata kasar dan makian. Mereka mengatakan, ibuku tidak pantas bersama ayah. Ia terlalu lemah dan kampungan,” kenang Mikko. Rania mendengarkan dengan seksama.
“Suatu hari, aku menunggu ibu menjemputku di sekolah. Hingga sekolah sepi, ibuku tak kunjung datang. Berapa lama kemudian, beberapa orang guru datang dan memberi kabar bahwa ibuku tertidur di rumah sakit. Ibuku telah pergi. Mobilnya diakali oleh para wanita jahat itu sehingga ia kecelakaan.”
Air mata Mikko mengalir di pipinya yang halus. Rania turut sedih mendengarnya. Ia tak menyangka, sosok dingin yang dikaguminya menyimpan masa lalu yang begitu berat.
“Kamu pasti berat sekali menahan ini seorang diri,” ucap Rania lirih.
“Kurasa, ayahku yang lebih menderita. Ia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Seorang polisi namun tidak bisa menjaga istrinya. Meskipun semua pelaku akhirnya tertangkap, namun itu tidak bisa mengembalikan sosok wanita yang sangat kami sayangi,” ujar Mikko.
“Itulah sebabnya, aku tidak cukup dekat dengan para wanita. Mereka bisa menjadi musuh yang paling berbahaya. Tetapi keluargamu berbeda. Kalian begitu hangat dan lembut.”
“Kamu harus mencoba berteman dengan Alvi dan Anjani. Mereka itu orang yang luar biasa baik,” hibur Rania.
“Kenapa kamu cerita padaku?” tanya Rania.
“Memangnya aneh jika aku cerita padamu?” tanya Mikko. Ia mengernyitkan keningnya tak mengerti.
“Nggak juga. Tapi… seharusnya kamu cerita pada Qiandra, kan?” jawab Rania.
“Kamu masih berpikir kalau aku pacarana dengannya?” ucap Mikko sambil tertawa kecil.
“Kalau tidak, kenapa kamu akrab sekali dengannya? Lagian, ibu kamu korban bully. Tetapi kamu malah berteman dengan para pembully,” ucap Rania.
“Kamu pasti masih merasa marah pada Qiandra, karena ia beberapa kali membully kamu di sekolah. Tetapi percayalah, dia bukan orang jahat, seperti yang dipikirkan orang-orang. Dia hanya kesepian dan salah memiliki teman,” kata Mikko.
Wajah Rania berkerut, mendengar Mikko membela gadis yang juga musuh bebuyutannya itu. Mikko tadi juga tak mengelak waktu ditanya soal hubungannya dengan Qiandra, kan?
__ADS_1
“A-aku lanjut dulu, ya. Pekerjaanku belum selesai,” ucap Rania menghindar.
“Oke,” ucap Mikko. Sudut bibirnya naik. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan teman kecilnya itu saat ini.
“Hei, Rania. Nanti aku sekalian minta tolong bersihkan ruangan ini, ya,” pinta Mikko. Ia menunjukkan sebuah ruangan di sebalik lemari.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Wow, aku baru tahu kalau rumahmu memiliki perpustakaan seluas ini,” ujar Rania. Ruangan ini mengingatkannya pada ruangan perpustaan miliknya dulu. Besarnya hampir sama, dan koleksi bukunya cukup lengkap.
“Apa maksudmu? Kamu kan sering tertidur di sini saat menemani ibumu bekerja.” Sahut Mikko.
“Ah, maksudku… koleksi bukumu semakin bertambah banyak,” Rania meralat ucapannya.
Mikko mengerutkan keningnya. Selama tiga tahun terakhir ia hanya membeli enam buku baru. Dan itu semuanya sudah dibaca oleh remaja cantik ini.
“Hei, apa kamu suka baca buku supernatural?” Mikko mengambil sebuah buku di rak paling ujung. Sampulnya sedikit buram karena berlapis debu.
“Tidak terlalu,” jawab Rania. Ia berjalan mendekati Mikko sambil membawa vacuum cleaner.
“Time travel? Reinkarnasi?” Rania membaca sinopsis buku-buku itu. “Aku tak pernah percaya hal-hal mistis seperti ini. Tetapi mungkin aku bisa mulai membacanya. Barangkali ada jawaban dari kasusku di sana,” batin Rania.
Ia mengumpulkan beberapa buku sejenis, “Bolehkah aku meminjam buku-buku ini?” tanya Rania.
“Wah… seleramu sudah berubah, ya. Dahulu kamu mana pernah menyentuh buku itu sama sekali. Biasanya rak favoritmu itu yang di dekat jendela.” Mikko menunjuk sebuah rak penuh dengan buku dongeng petualangan.
“Aku hanya ingin membaca hal-hal baru. Dan aku bukan anak-anak lagi yang membaca cerita dongeng,” jawab Rania. “Jadi aku tidak boleh meminjamnya, nih?”
“Aku tidak pernah bilang tidak,” sahut Mikko. “Terutama untuk teman baruku, ‘Rania ….’,” bisik Mikko di telinga Rania.
“A-apa?” Rania tergagap mendengar nama yang disebut Mikko di telinganya.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.