Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 43 - Pajak Sihir


__ADS_3

"Permisi, Pak," sapa Rania.


"Ya..." sahut Pak Rayhan.


"Saya mau ambil soal tugas, Pak," lanjut Rania.


"Oh... Iya... iya... bentar." Pak Rayhan membuka laci mejanya, lalu memberikan selembar kertas bertulisan tangan.


"Ini tugasnya. Dikumpulkan paling lambat besok siang, saat jam istirahat kedua," ujar Pak Rayhan.


"Baik, Pak. Terima kasih. Permisi, Pak," ucap Rania.


"Ya..."


"Uh, syukurlah. Masih sempat buat tugas. Karena banyak memikirkan hal lain, aku jadi gak fokus dengan sekolah," gumam Rania.


Mulutnya menguap beberapa kali. Ia pun berjalan agak sempoyongan. Semalaman ia tidak bisa tidur, memikirkan banyak hal.


Biasanya, jika ia sedang ada masalah tak pernah merasa sendiri. Selalu ada Mama dan Papa sebagai tempat curhatnya. Namun saat ini, ia harus cerita pada siapa? Akankah ada yang percaya? Bahkan Mikko dan Qiandra saja sudah mencurigai dirinya. Memangnya Qiandra tak ingat, siapa orang tua aslinya?


Jedug!! Kaki Qiandra menabrak sesuatu yang agak besar dan empuk. Bola matanya spontan beralih ke ujung kaki.


"Astaga!" seru Rania kaget.


"Duh, maaf. Lulu mengagetkanmu, ya?" ujar Bu Beva sambil mengangkat benda bulat berbulu abu-abu itu.


"Lulu? I-ni namanya Lulu?" ucap Rania. Ekspresinya bercampur aduk. Antara gemas dan kaget.


"Iya. Ini kucing milik Ibu," jawab Bu Beva.


"Jangan-jangan kotoran kucing yang ku pijak di perpustakaan dulu karena ulah Lulu," pikir Rania.


"Kalau begitu Ibu duluan, ya," ucap Bu Beva.


"Tunggu, Bu," seru Rania. Ia tiba-tiba teringat sesuatu.


"Ya?"


"Anu... Apa ibu ada menyimpan buku tentang sejarah Rumania?" tanya Rania.

__ADS_1


"Buku sejarah Rumania? Hmm... Ibu tidak ingat. Memangnya kenapa? Itu buku kamu?" sahut Bu Beva.


"Bukan, Bu. Tetapi saya ingin meminjam buku itu, sebelum kejadian rak buku yang roboh waktu itu," jelas Rania.


"Ooh... Iya... iya... Buku yang kamu pegang saat terjatuh itu, ya? Ada sih ibu simpan. Tetapi itu tidak ada kode perpustakaan, jadi ibu tidak tahu itu milik siapa," ujar Bu Beva.


"Bisa saya ambil sekarang, Bu?" bujuk Rania.


"Sekarang? Tapi lima menit lagi bel masuk," kata Bu Beva.


"Saya perlu sekali buku itu. Saya akan segera kembali ke kelas, Bu. Janji," bujuk Rania lagi.


"Okelah. Tapi pegang janji kamu, ya. Setelah itu segera kembali ke kelas. Jangan cabut," ujar Bu Beva mengalah.


"Siap, Bu," ujar Rania.


Rania berjalan beriring dengan Bu Beva, penjaga perpustakaan ke lantai tiga. Hatinya riang, akhirnya ia bisa meminjam buku tersebut. Tetapi buku itu milik siapa, ya? Apa yang fotonya terselip di buku waktu itu?


"Ah, sudahlah. Nanti saja dicari pemiliknya. Aku hanya ingin membaca tentang buku itu. Sepertinya menarik. Aku juga harus mencari tahu jawaban dari mimpi tentang penyihir waktu itu," batin Rania.


Tiba-tiba langkah Rania terhenti. Ia melihat pemandangan suram di salah satu sisi teras lantai dasar.


Sepasang siswa yang sedang berbincang dengan akrabnya. Sesekali mereka tertawa bersama. Tetapi kenapa mereka berada di wilayah kelas satu? Apa yang sedang mereka bicarakan?


"Iya, Bu." Pandangan Rania pun beralih dari Mikko dan Qiandra menuju ke Bu Beva.


"Kenapa melamun? Ayo, sebentar lagi bel berbunyi," tegur Bu Beva.


"Ah, benar. Aku harus mengutamakan masalahku dulu," batin Rania.


Meski ia berkata demikian, hatinya berkata lain. Hatinya campur aduk. Bagaimana bisa Mikko yang sedemikian benci pada Qiandra, kini menjadi sangat dekat?


🌺🌺🌺🌺🌺


"Pada zaman pertengahan, Rumania dikenal dengan nama Vlachs, oleh orang Jerman Kuno untuk menunjukkan tetangganya yang berbahasa Celtic dan Rumania."


"Transylvania berarti tanah di luar hutan. Pertama kali disebut dalam dokumen Latin abad pertengahan sekitar tahun 1075, dituliskan Ultra Sivam."


"Rumania adalah negara Eropa yang paling kaya akan sumber tambang emas."

__ADS_1


"Ah, pantas saja Mama banyak tahu tentang industri perhiasan emas. Pasti karena sudah ada pengalaman sedari kecil," celetuk Rania. "Tetapi kenapa tidak ada satu petunjuk pun tentang penyihir, ya? Apa itu emang cuma mimpi random aja?"


Rania yang sudah membaca hampir setengah isi buku tersebut sepanjang malam, mulai merasa jenuh, karena tak ada memuat informasi yang ia cari. Padahal ia rela menahan kantuk, demi mendapatkan kunci jawaban semua masalahnya tersebut.


"Kira-kira komentar Mikko tentang mimpi aku apa, ya?" gumam Rania.


Tiba-tiba ia teringat Mikko yang bicara santai dengan rivalnya. Bahkan, menjadi gosip terhangat di sekolah. Ah, jadi merasa sebal lagi, kan...


Tetapi jika diingat-ingat, ia dan Mikko memang baru mulai dekat akhir-akhir ini saja. Rania tidak tahu, bagaimana hubungan mereka dahulu di luar sekolah.


"Baca buku lagi, deh. Barangkali di bagian akhir ada informasi lainnya." Rania menyemangati dirinya sendiri.


"Museum Brukenthal di Sibiu berdiri pada tahun 1790 oleh Gubernur Transylvania. Tiga tahun lebih dulu dari pada pembangunan museum Louvre di Perancis. Ah, tidak, tidak... ganti yang lain.


"Nama Bucharest berasal dari legenda... Ah, ini juga bukan," gumam Rania sambil menguap. Matanya sangat mengantuk.


Ia melirik jam dinding. Ah, sudah pukul 01.20. Pantas saja ia merasa ngantuk. Rania membuka halaman lainnya tanpa semangat.


"Karakter vampir drakula yang diciptakan oleh Bram Stroker terinspirasi dari pangeran Rumania..." Rania tidak melanjutkan bacaannya. Ia membolak-balik halaman buku itu dengan bosan.


"Duh, masa sih yang terkenal dari Rumania hanya vampir dan Transylvania-nya saja? Padahal Rumania itu kaya akan keindahan alam dan budayanya, lho?" batin Rania.


Meski ia jarang sekali pulang ke tanah kelahiran ibunya, ia selalu mendengar cerita ibunya dengan berbagai pesta budaya yang menarik. Ibunya juga sering bercerita tentang keindahan alam yang tiada habisnya.


"Ah, jika aku masih diriku yang dulu, pasti bepergian ke Rumania bukanlah hal yang sulit. Setelah tamat SMA, mungkin aku bisa berkunjung ke sana seorang diri. Aku ingin sekali mengenal kampung halaman ibuku," gumamnya.


"Kalau begitu, aku harus cari jalan keluar masalah ini secepat mungkin." Bola mata Rania kembali fokus ke tulisan yang terketik rapi di kertas buram tersebut.


"Romania memberlakukan pajak sihir... Ah, ini juga bukan. Udah sampai ke masalah ekonomi pula."


Rania menutup buku tersebut, dan bersiap tidur.


"Eh, tunggu dulu. Pajak sihir?" Rania menyadari sesuatu. Ia kembali menghidupkan lampu kamar, dan membuka lembaran buku itu.


"Ah, ini dia... Rumania memberlakukan pajak sihir bagi para peramal dan tukang sihir. Rumania, negara yang penuh mistik itu, menganggap bahwa peramal dan tukang sihir adalah pekerjaan yang sah dan legal, jika memiliki izin. Namun jika mereka membuat kesalahan, maka akan dihukum hingga dikenai denda."


"Ah, jadi begitu rupanya..." gumam Rania. Ada kemungkinan jika mimpi itu adalah kejadian dulu.


(Bersambung)

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


Sumber info Rumania: semestafakta.wordpress.com.


__ADS_2