
“Wah… seleramu sudah berubah, ya. Biasanya rak favoritmu itu yang di dekat jendela.” Mikko menunjuk sebuah rak penuh dengan buku dongeng petualangan. "Kamu juga selalu bercita-cita menjadi princess di hari pernikahanmu," lanjut pria berambut hitam itu.
“Aku hanya ingin membaca hal-hal baru. Sepertinya buku-buku ini menarik juga. Dan aku bukan anak-anak lagi yang membaca cerita dongeng,” jawab Rania. “Jadi aku tidak boleh meminjamnya, nih?”
“Aku tidak pernah bilang tidak,” sahut Mikko. “Terutama untuk teman baruku, Rania Austeen,” bisik Mikko di telinga Rania.
“A-apa?” Rania tergagap mendengar nama yang disebut Mikko di telinganya.
"Kenapa? Kamu terkejut?" Mikko melangkah semakin mendekati Rania. Wajahnya tidak terlihat ramah.
"A-aku gak paham maksud kamu?" ujar Rania berbisik.
Dada Rania berdegup kencang. Bukan karena pria yang disukainya itu mendekatinya. Melainkan karena pernyataan yang dilontarkan pria yang hanya berjarak setengah inchi dari tempatnya berpijak saat ini.
Gadis keturunan Turki-Rumania itu bingung. Apakah Mikko sudah mengetahui identitas aslinya? Tapi dari mana? Apakah Qiandra telah mengingat semuanya?
"Kok diam?" desak Mikko. Kini jarak di antara mereka semakin tipis. Rania bahkan bisa mencium aroma sampo dari rambutnya yang tersisir rapi itu.
"Mi-kko... I-ini terlalu dekat. Aku gak bi-bisa berna-pas," ucap Rania.
Ia harus berhati-hati memberikan jawaban. Remaja itu belum tahu maksud Mikko sebenarnya. Apakah ia memang telah mengetahui semuanya? Jika benar begitu, apa Mikko akan membantunya menyelesaikan masalah ini? Atau hanya menjebak Rania saja?
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu tahu, kalau aku gak akan menyentuh gadis sepertimu," ucap Mikko.
Rania terkejut mendendengarnya, "Jadi, kamu benar sudah berpacaran dengan Qiandra?"
"Kalau iya kenapa? Kamu mau marah?" jawab Mikko dengan nada agak tinggi. "Lalu kamu sendiri, kenapa kamu selama ini berpura-pura jadi teman akrabku? Kamu mau ambil kesempatan ini, lalu membuatku jatuh hati padamu?"
Rania benar-benar terpukul mendengar ucapan pria yang sudah disukainya setahun lebih itu, "Jadi ini sifat asli Mikko sebenarnya?" batin Rania.
"Masih mau bungkam? Atau perlu aku bongkar siapa jati dirimu sebenarnya di sekolah?" Mikko mulai mengancam.
"Dari mana kamu berfikir kalau aku Rania Austeen?"
"Kamu sendiri yang paling tahu hal itu. Tetapi, Rania yang aku kenal tidak suka dongeng princess, apalagi bermimpi menikah dengan tema princess. Mengapa kamu tidak menyangkal hal itu tadi?" ucap Mikko.
__ADS_1
"Itu kan masa kecil. Wajar saja kalau aku lupa," kilah Rania.
"Tapi kenapa kamu tidak tahu tentang ibuku? Padahal aku sudah ratusan kali bercerita padamu sejak kita berteman," kata Mikko lagi.
"Nah, benar kan dia menjebakku?" batin Rania. "Dulu aku ingin sekali orang-orang mengetahui jika aku bukan Rania Putri, tapi sekarang aku takut," batinnya lagi.
"Mikko, kamu tahu kan kalau aku baru saja menderita cidera di kepala. Banyak sekali hal yang aku lupakan. Dan tentang ibumu salah satunya," jawab Rania. Suaranya terdengar gemetar. Namun ia berusaha tetap tenang di depan Mikko.
"Ooh... gitu... " jawab Mikko datar.
"Apa ini? Dia hanya menggertakku saja?" pikir Rania sedikit lega.
"Terus bagaimana dengan ini?" Mikko menunjukkan selembar foto berlatarkan perbukitan indah.
Rania hampir saja menjerit saat melihatnya, " bagaimana dia bisa punya foto ini?" batin gadis itu.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Tuan, ada kabar buruk,” ujar beberapa asisten Gefie.
“Ya?” tanya Geffie cemas. Demikian juga dengan istrinya.
“Gudang bahan baku di Kota Bandung terbakar. Kabarnya hampir semuanya hangus,” lapor Heru, penanggung jawab cabang Kota Bandung.
“Kapan terbakarnya? Penyebabnya apa? Ada korban jiwa?” Geffie melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Pukul sembilan tadi, Tuan. Tidak ada korban jiwa. Hanya salah seorang petugas keamaan sempat tidak sadarkan diri karena asap tebal,” jelas Heru.
“Pukul sembilan, sedangkan sekarang baru pukul sembilan lewat dua puluh menit. Cepat sekali api melalap Gudang,” sahut Chloe.
“Jadi apa penyebabnya” Geffie mengulan pertanyaannya.
“Saat ini polisi sedang menyelidiki penyebabnya. Tetapi dugaan sementara, karena ada korsleting listrik alias arus pendek,” jawab Heru lagi.
“Jadi, sama sekali tidak ada yang tersisa?” tanya Chloe cemas. Bagaimana ia harus mengumpulkan kembali bahan-bahan tersebut? Padahal mereka sudah susah payah keliling benua untuk mencari yang terbaik. Sebagian besar di antaranya bahkan harus di pesan terlebih dahulu.
__ADS_1
“Menurut tim kita di lapangan, sekitar delapan puluh persen bangunan dan isinya habis terbakar. Dan belum diizinkan oleh polisi untuk masuk ke TKP.” Kali ini Udin, kepala bagian keuangan cabang Kota Bandung yang menjawab.
“Sayang, tolong kemas pakaianku. Aku akan mengecek langsung ke lapangan,” ujar Geffie pada istrinya.
“Tunggu dulu, Tuan,” ucap Jefry menyela. Wajah koordinator tim transportasi ini terlihat sangat takut dan cemas.
“Ada apa lagi?” ujar Geffie dengan suara bergetar.
“Kapal kita yang mengangkut produk bulan ini, di amankan oleh pihak keamanan pelabuhan internasional Batam, saat kapal kita akan berangkat,” jawab Jefry. Kepalanya menunduk. Matanya menghindari kontak langsung dengan atasannya tersebut.
“Loh, memang apa masalahnya?” Geffie mengambil ponselnya, untuk melihat berita terkini.
“Saya masih belum mendapat informasi yang jelas, Tuan. Tetapi menurut telepon yang saya terima, kapal kita membawa barang illegal. Sayangnya, mereka belum mau bicara lebih terbuka, sampai investigasi selesai,” jawab Jefry.
“Illegal bagimana? Kita sudah lengkapi semua surat-suratnya, kan? Surat jalannya juga sudah kita urus,” tanya Geffie. “Cek seluruh pegawai yang bertanggung jawab atas distribusi barang tersebut! Kalau bisa periksa sekalian tim produksi,” perinta Geffie, tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya.
“Baik, Tuan,” jawab Jefry.
“Untuk semua, laporkan padaku setiap info terbaru. Bentuk tim untuk inspeksi mendadak ke seluruh cabang dan juga distributor,” perintah Geffie lagi.
Kepala pria keturunan Irlandia itu berdenyut keras. Baru saja perusahannya memperoleh keberhasilan, malah terkena musibah lagi.
“Sayang, apa ini ada hubungannya dengan dugaan penyusup ke rumah kita kemarin?” bisik Chloe.
“Entahlah. Kita tidak bisa ambil kesimpulan, sebelum hasil investigasi keluar,” ujar Geffie. Tetapi kemudian, ia mengurungkan niatnya untuk mengunjungi cabang Bandung.
“Sayang, pastikan ayah dan Qiandra tetap di rumah hari ini. Aku khawatir ini adalah sabotase dari perusahaan rival kita,” bisik Geffie.
“Tentu. Aku akan mengurus semuanya,” jawab Chloe sambil merangkul suaminya. Hal yang sangat sederhana, tapi sangat ampuh untuk menenangkan perasaan Geffie.
“Jangan khawatirkan ayah. Kalian urus saja semuanya. Ayah cukup senang walau seharian di rumah sambil membaca buku,” ucap Nico ketika Chloe bercerita. Ternyata sedari tadi ia menyimak dari kamarnya.
“Terima kasih, Ayah. Aku janji akan memasakkan Ayah masakan enak hari ini. Dan di hari lain, Kami akan mengajakmu berlibur di tempat yang tenang,” ujar Chloe.
“Wah, Ayah senang sekali mendengarnya,” sahut Nico sambil membelai rambut putrinya.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...