
"Model terkenal, pengusaha... Tapi dulunya kesulitan ekonomi? Dan gelang itu, aku sangat mengenalinya," gumam Rania.
"Bu." Rania menahan lengan ibunya. "Apa... Teman Ibu itu bernama Chloe Eilaria Austeen?" Rania memberanikan diri untuk bertanya.
Mata ibu membulat mendengar pertanyaan Rania, "Dari mana kamu berpikir seperti itu."
"Emm... Itu..." Rania memutar bola matanya. "Aku pernah melihat Nyonya Chloe menggunakan gelang yang mirip seperti itu di salah satu fotonya."
Rania akhirnya berbohong.
"Nyonya Chloe?"
"Aduuuh... Kalian jadi makan nggak, sih? Nanti sardennya aku habiskan, lho." Arka kembali protes.
"Iya, nih. Jatah Kak Rania untukku aja." Livy turut melayangkan protes.
"Ah, iya.. Ibu ke sana."
Ibu bergegas meninggalkan Rania tanpa menjawab pertanyaannya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Kalau kata Kak Wilda, sih, petunjuknya bisa aja ada di sekitar aku." Rania mengamati setiap senti gelang tersebut.
"Dan gelang ini juga satu-satunya bukti yang ditinggalkan Rania Putri."
Remaja cantik itu berbaring di tempat tidur. Pandangannya belum terlepas dari gelang cantik tersebut.
"Kalau bisa dilihat sidik jari yang tertinggal di sini, mungkin bisa dicari pelakunya." Rania bergumam sendirian.
"Ah, kenapa di saat begini, aku justru berantem sama Mikko, sih? Padahal bisa aja dia membantu, kan?" sesal Rania.
Prang!!
"Astaga!" Rania sengaja melepaskan gelang tersebut dari genggamannya.
"Sidik jariku pasti sudah banyak tertinggal di sini," ucap Rania panik.
Rania teringat, Nenek Ester yang waktu itu memberikannya gelang, mengalasi telapak tangannya dengan sapu tangan.
"Gawat! Gimana ini?"
Rania kembali memungut barang bukti tersebut, kali ini dialasnya menggunakan taplak meja. Dia lalu meletakkan gelang tersebut ke dalam kotak parfum, lalu menyimpannya ke dalam lemari.
"Sudahlah, gelang itu kapan-kapan aja ku selidiki lagi. Lebih baik aku mencari informasi lain."
Rania berselancar di dunia maya. Ia membuka website perusahaan untuk mencari informasi tentang Wilda. Ia masih penasaran dengan motif perempuan itu, memberinya semua petunjuk.
"Gini amat yak jadi orang biasa? Susah banget mengakses informasi."
Rania menghembuskan dalam-dalam. Seperti yang sudah bisa ditebak, hasil pencariannya nihil.
Website perusahaan hanya bisa diakses oleh pihak-pihak tertentu, termasuk dirinya dahulu.
"Ugh! Lagi-lagi jalan buntu!" Rania menelungkupkan tubuhnya ke tempat tidur.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Apaan, nih?"
Sebuah kotak kue mewah berada di atas meja Rania."Nggak, tahu. Pagi-pagi tadi udah ada di situ," jawab salah seorang teman Rania yang piket hari ini.
"Dari siapa, ya?" Rania membuka paket itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Sebuah surat terselip di dalamnya.
"Black forest? Ini kue kesukaan aku?" Rania menatap kue itu dengan bingung. Rania adalah pecinta pedas dan gurih.
"Ah, pasti maksudnya kue kesukaan Rania Putri. Atau, jangan-jangan dia menjebakku lagi?" pikir Rania. "Ya sudahlah, rezeki nggak boleh di tolak," lanjutnya lagi.
"Teman-teman, siapa yang mau kue?" seru Rania.
Jam istirahat...
"Rania, bukannya kamu ada janji sama Mikko?" tanya Alvi.
"Ah, males banget. Lagian ngapain sih ngajak ketemuan?" ujar Rania.
"Yah, barangkali dia mau ngajak baikan," ucap Alvi lagi.
"Ogah, ah. Mana di sana terkenal angker." Rania bersikeras pada pendiriannya.
"Astaga. Kuenya udah kamu makan, lho."
"Ya rezeki kan nggak boleh ditolak," ucap Rania dengan ekspresi tak bersalah.
"Eh, btw kalian nonton apa, sih? Wajahnya kaku kayak karpet abis dicuci semua?" tanya Rania.
"Sini, nonton bareng. Reality show terbaru produksi papaku -Catatan Jurit Malam-. Seru, lho," jawab Alvi.
"Catatan jurit malam? Siaran apaan tuh? Horor, ya?" Rania bergidik ngeri.
"Ih, coba lihat dulu, seru lho. Talent pertamanya asik banget." Alvi menarik tangan Rania untuk duduk di sebelahnya.
"Ah!" Tiba-tiba Rania terlonjak kaget.
"Ada apaan?" Alvi dan beberapa teman lain turut terkejut.
"Coba mundurin lagi videonya," pinta Rania.
Alvi memundurkan videonya dengan tangan gemetar, "Ada apa, sih? Kok aku nggak lihat apa-apa tadi?" batinnya.
"Lihat, itu! Kamu kenal cewek itu?" tanya Rania.
"Maksudmu talent itu? Dia peserta pertama acara ini."
"Kenapa dia bisa ikut acara ini?" tanya Rania lagi.
"Kenapa? Ya karena dia diundang untuk ikut acara ini? Dia harus bisa komunikasi sama makhluk dimensi lain." Alvi menatap Rania dengan bingung.
"Dia indigo?" tanya Rania lagi.
Alvi mengangguk.
"Namanya Wilda, bukan?"
"Hmm? Iya, Wilda Ningsih. Kamu kenal dia?"
Punggung Rania merinding. Ia melihat ke seluruh bagian kelas, "Aman, gak ada Qiandra," pikirnya.
"Guys, berarti kemungkinan Rania Putri beneran udah meninggal," seru Rania.
"Maksudmu gimana, sih?"
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, aku bertemu sama dia."
Rania lalu menceritakan pertemuannya dengan Wilda.
"Astaga! Masa sih?" seru teman-teman.
"Gimana kalau kita ketemu langsung sama dia? Kita tanyain lagi," usul Alvi.
"Apa dia mau? Lagian aku juga nggak tahu, kenapa dia mau cerita sama aku. Alasannya apa?" sahut Rania.
"Ya kita coba aja dulu, dari pada jalan ditempat gini, kan?" ujar teman-teman lain.
"Iya, tuh. Mira juga harus tahu. Dia kan salah satu saksi malam itu," kata Anjani yang baru bergabung.
"Guys, apa sekarang hantunya ada di dekat kita? Kok aku tiba-tiba merinding, ya?" ujar Alvi.
"Ya Tuhan... Ini siang, Vi. Lagian rame gini..." celetuk Anjani.
"Ya mana tahu, kan? Dia cari pelaku pembunuhnya di sini."
"Nggak mungkin. Menurut Kak Wilda, dia lebih sering berada di Qiandra," kata Rania.
"Qiandra? Apa hubungannya sama dia, sih? Bukannya lebih mencurigakan Audrey Eikberg?" ucap Alvi dan Anjani bersamaan.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Rania Putri? Sudah meninggal? Maksudnya apa? Emangnya Rania punya kembaran?" Qiandra masih memikirkan kata-kata Rania di ruang kelas tadi.
Saat Rania bercerita tadi, ia berdiri di belakang kelas menunggu kedua temannya.
Tak disangka, ia justru mendengar cerita menarik.
"Eh, tunggu. Kalau Rania Putri udah meninggal, lalu Rania yang sekarang siapa, dong? Apa ini ada kaitannya dengan sosok Rania yang mendatangiku malam itu?"
Qiandra terus berjalan di antara lorong rak makanan minimarket tersebut sambil bergumam sendirian.
Jedug! Qiandra menabrak seseorang.
"Duh, kalau jalan lihat-lihat dong, Om!"
Rupanya Qiandra menabarak seorang pria dengan jaket lusuh dan memakai topi. Sekilas ia melihat seluruh rambutnya berwarna pirang.
"Apa dia bule? Tapi kok kere?" pikir Qiandra.
"Maaf, Nona," ucap pria itu.
Meski dia tahu remaja itulah yang salah, tapi ia sama sekali tidak membalasnya. Berbeda dengan sikapnya seperti biasa yang mudah emosi.
"Kenapa hatiku sedih ya melihat gadis ini? Seperti rindu yang sangat dalam?" gumam Malfoy dalam hati.
Iya, dia lah yang ditabrak oleh Qiandra tadi, Malfoy Ansley.
Tanpa disadari, Malfoy berjalan ke arah aksesori lalu mengambil sebuah jepit rambut imut berwarna hitam.
"Om mengikuti saya, ya? Ngapain Om beli jepit rambut?" sergah Qiandra.
Malfoy tertegun menyadari kesalahannya, "Iya juga, ya? Kenapa aku mengambil jepit rambut ini? Aku merasa seseorang menyukai dan menungguku membelikan jepit rambut ini."
"Ah, apa aku sangat pingin punya anak perempuan?" Malfoy bingung sendiri.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1