Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 100 - Makam dalam Rumah


__ADS_3

Satu hari yang lalu, sesaat setelah pertemuan dengan Rania.


"Jadi bagaimana? Apa kalian sudah bisa menemukan Pak Yahya dan Bu Rohaya?" tanya Qiandra kepada Hendra dan Jupri, Private Detective yang sengaja di sewanya.


"Sudah, Nona. Malam ini juga kita bisa bertemu dengan mereka," jawab Jupri.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu. Kalian harus awasi sekeliling, jangan sampai ada yang menguntit kita," perintah Qiandra.


"Baik, Nona."


"Nona mau ke mana?" tanya Sania yang tiba-tiba muncul di dekat tangga.


"Aku hanya ingin keluar sebentar, menemui teman. Sebelum pukul sepuluh aku akan segera pulang," ucap Qiandra.


"Oh, begitu. Baiklah," ujar Sania.


Qiandra pun pergi diantar supir pribadinya. Berjarak dua puluh meter di belakangnya, Jupri dan Hendra pun mennyusulnya.


Ttuuut...


"Halo?" Qiandra mengangkat telepon dari Mikko.


"Halo, Qian. Betul katamu tadi. Sania langsung meneleponku untuk memastikan, apa kamu datang ke sini atau tidak," ucap Mikko.


"Benarkah? Untung saja aku antisipasi lebih dulu membuat rencana ini denganmu," kata Qiandra. "Sebelum kamu, pasti ia juga sudah menelepon Nurul dan Dewi juga."


"Tapi untuk apa dia memantaumu sampai seperti itu? Dia kan hanya seorang pelayan?" tanya Mikko.


"Entahlah. Aku tidak tahu, apakah kecurigaanku benar, atau hanya kesalahpahaman saja. Yang jelas mulai saat ini, aku harus lebih menjaga informasi darinya. Sampai semua motifnya jelas," kata Qiandra.


"Nona, kita sudah sampai," ujar supir pribadi Qiandra.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"A-apa maksud Nona?" tany Bu Rohaya.


"Duh, Bu. Berapa kali lagi saya harus mengulang pertanyaan? Apa Geffie dan Chloe Austeen punya anak selain saya?" tanya Qiandra pada mantan pelayan yang sudah sepuh itu.


"Tidak, Nona."

__ADS_1


"Lalu, apa Cloe punya anak lain selain dari Geffie?" tanya Qiandra lagi.


"Astaga! Tidak ada, Nona."


"Terus... Apa mereka pernah merawat anak asuh?" Qiandra terus bertanya.


"Hmmm... Setahu saya, mereka memang memiliki banyak anak asuh di panti, Nona," jawab Bu Rohaya.


"Hmm begitu, ya. Anak asuh di panti yayaysan Mama memang ada banyak. Tetapi aku tidak pernah mengeceknya satu per satu. Apa Rania salah satu anak panti tersebut?" pikir Qiandra.


"Oh iya.Tujuan saya ke sini bukan hanya untuk menanyakan itu. Tetapi juga untuk meminta denah lengkap rumah kami. Bapak dan Ibu mengetahuinya, kan?" ujar Qiandra.


"Ah... Itu..."


"Sudahlah, Pak Yahya. Jangan ditutupi lagi. Saya sudah tahu, jika Bapak dan Ibu sudah bekerja bersama kedua orang tua saya, sejak mereka belum menikah dan memiliki rumah," kata Qiandra meyakinkan pelayan senior tersebut.


Gadis blonde itu menyeruput teh melati, dan juga mencicipi ubi jalar goreng yang dihidangkan, sambil menunggu jawaban Pak Yahya.


"Hmm... Enak juga ternyata kue sederhana ini," ucapnya. "Jadi bagaimana, Pak? Saya masih menunggu, lho," lanjutnya.


"Saya tidak bisa memberikannya, Nona. Saya sudah berjanji pada Tuan dan Nyonya untuk menjaga rahasia ini," tolak Pak Yahya dengan halus.


"Pak, ini demi mama dan papa juga. Bapak sudah mendengarnya dari berita, bukan? Bagaimana kabar mama dan papa sekarang." Qiandra masih belum menyerah.


"Mungkin Bapak ragu, saya akan terkejut setelah melihat isi rumah itu selengkapnya. Tapi apa bapak tahu? Saya sudah melihat sebagian besarnya, bahkan ke gudang penyimpanan peti."


"A-apa? Kamu sudah melihatnya?" seru Pak Yahya dengan mata membesar. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan tersebut. "Bagaimana ini, Bu?"


Belum sempat Bu Rohaya menjawab, Qiandra sudah menyambarnya duluan.


"Bagaimana jika nanti mama dan papa bernasib buruk di tahanan, dan harus di sana untuk waktu yang lama? Dan saya tidak tahu apa-apa tentang rumah itu."


"Belakangan ini, ada banyak para pelayan lama yang digantikan dengan pelayan baru tanpa sepengetahuan mama dan papa. Begitu juga dengan para pegawai di kantor. Saya sendiri sekarang tidak tahu, siapa yang ada di pihak kami dan siapa musuh."


"Emm... Begini, Nak. Banyak hal besar yang terdapat di rumah itu, bukan hanya gudang penyimpanan bawah tanah saja," ucap Pak Yahya.


"Saya harus tahu semuanya," ucap Qiandra ngotot.


"Salah satunya adalah makam Nyonya Freya."

__ADS_1


"Nyonya Freya? Ah, maksudnya nenek? Tetapi bukannya nenek sudah meninggal lama, sejak mama masih remaja?" tanya Qiandra.


"Iya. Nyonya Freya sudah meninggal lama sekali. Tetapi ketika Tuan dan Nyonya membangun rumah itu, ia memindahkan makam Nyonya Freya kesalah satu ruang bawah tanah di sana," jelas Pak Yahya.


Qindra bergidik ngeri mendengarnya, "Apa di salah satu peti kemarin ada jasad nenek?" pikirnya.


"Dan makam Nyonya Freya di pemakaman umum itu, hanya simbolis saja untuk tempat ziarah orang-orang yang mengenalnya," lanjut Pak Yahya lagi.


"Terus, apa gunanya benda-benda di ruang bawah tanah itu? Apa itu juga milik nenek?"


"Sebagian besar memang milik nenekmu, yang dibawa dari kampung halamannya di Rumania. Sebagian lagi dibeli oleh ibumu," ujar Pak Yahya.


"Semua benda itu digunakan untuk melindungi nenekmu dari kutukan dan roh-roh jahat, seperti yang dipercayai orang tuamu," sambung Bu Rohaya.


"Kutukan?" Qiandra mengulum bibirnya sambil melemparkan pandangan ke luar beranda rumah itu.


Pemandangan kebun pisang dan ubi yang gelap, seperti menggambarkan suramnya suasana hati Qiandra saat ini. Ia sudah bosan mendengar kata-kata yang berkaitan dengan hal di luar sains. Tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.


"Jadi selama ini kami kena kutukan?"


"Bukan begitu, Nak. Percaya atau nggak percaya, tetapi sejak lahir nenekmu sudah di anggap pembawa kutukan. Oleh karena itu makamnya dipindahkan dan diberi segel berupa benda-benda dengan tulisan mantra seperti itu," jelas Bu Rohaya.


"Jadi yang saya alami beberapa waktu terakhir itu karena kutukan?" Qiandra menceritakan semua yang dialaminya belakangan ini.


"Emm... Bapak tidak bisa menjawabnya benar atau tidak. Tetapi selama Bapak dan Ibu bekerja dengan orang tuamu, tidak ada suatu hal buruk yang pernah menimpa keluargamu," jawab Pak Yahya.


Pria sepuh itu lalu beranjak dari kursi bambu tempatnya duduk, dan pergi ke sebuah ruangan. Cukup lama ia berada di sana dan kembali keluar membawa sebuah amplop coklat yang warnanya mulai pudar.


"Ini denah asli rumahmu pada saat di bangun. Arsiteknya orang Belanda, tetapi yang mendesain secara umumnya adalah Tuan Geffie, ayahmu."


Ruang bawah tanah terbagi atas lima belas ruangan kecil yang berbentuk labirin. Dan dua ruangan besar yang sama persis.


Kata Pak Yahya, kedua ruangan besar itu memiliki tata ruang yang sama persis, untuk mengelabui penyusup yang masuk. Letak perbedaannya, satu ruangan terdapat makam sang nenek dan satunya lagi tidak.


Bulu kuduk Qiandra berdiri seketika. Jantungnya berdetak lebih cepat. Memori tentang ruang bawah tanah muncul di kepalanya.


"Ruang yang aku datangi kemarin itu, ada makamnya atau tidak ya?"


Keterkejutan Qiandra tidak hanya sampai di situ. Ia mendapati sebuah lorong bawah tanah yang sangat panjang, dan berakhir di suatu tempat yang sangat ia kenal.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2