
Qiandra berulang kali menggigit kukunya yang pendek dan bersih. Kakinya yang gemetar menimbulkan suara ribut di dalam mobil dinas milik polisi setempat.
"Gimana ini?" gumamnya berkali-kali.
"Cobalah untuk tenang, Nona," bisik Sania yang mendampingi majikannya.
"Gimana bisa tenang? Apa nanti aku bakal dipenjara seperti mama dan papa juga?" sahut Qiandra dengan suara sangat rendah.
"Tidak. Nanti Nona hanya dimintai keterangan sebagai saksi. Ini kesempatan Nona untuk meringankan hukuman Tuan dan Nyonya," jawab Sania.
Sebenarnya asisten pribadi itu pun merasa gelisah. Ia tidak tahu harus bagaimana ke depannya. Tapi wanita itu tidak bisa menunjukkannya di depan Qiandra.
"Apa hasil tes mama dan papa beneran positif? Bisa aja kan mereka ditipu lagi?" ucap Qiandra dengan nada curiga.
"Ehem!" sang pengemudi yang juga berpangkat cukup tinggi itu memberikan kode tanda tak setuju.
"Pemeriksaan ini nggak main-main, Nona. Kami mengemban tugas dan tanggung jawab yang besar dalam pekerjaan ini," jawab pria berkumis tebal itu.
"Bukan hanya sekedar memeriksa dan mengeluarkan tuduhan saja. Tapi kami harus memeriksa semua bukti dari berbagai aspek, lalu kami juga sangat mempertimbangkan kesiapan mental dari setiap tersangka," lanjutnya lagi.
Qiandra mengerutkan wajahnya tanda tidak setuju.
"Boleh saja berpikir kalau ini adalah jebakan dari pihak-pihak tertentu. Tentu nanti dari setiap bukti dan perkataan saksi akan kami tindak lanjuti. Tetapi semua prosedur harus tetap diikuti dengan baik. Kami dari aparat hukum tentu tidak sembarangan mengeluarkan dakwaan," kata pria yang belakangan diketahui bernama Jupri itu.
"Terus kenapa media sudah menyorotinya, seakan-akan orang tuaku adalah orang paling rendah saat ini?" protes Qiandra.
"Itu karena orang tuamu adalah publik figur. Kita tentu tidak dapat mencegah media. Tapi perlahan kita bisa meluruskannnya nanti," jelas Jupri.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Hampir dua jam Qiandra berada di ruangan pengap berukuran dua meter persegi itu. Tidak ada siapa pun di sana, selain dirinya dan dua orang wanita berambut pendek yang selalu memasang tampang kejam.
Berbagai pertanyaan dilemparkan padanya. Dengan dihantui rasa gugup, Qiandra menjawab semuanya. Beberapa pertanyaan sengaja dibolak-balik. Hanya untuk membuktikan, apakah dirinya berbohong?
"Apa aku beneran gak boleh ketemu mama dan papa?" tanya Qiandra setelah proses pemeriksaan selesai.
Tetapi pada intinya, Qiandra tetap bersikukuh, jika orang tuanya tidak bersalah.
__ADS_1
"Iya. Sampai seluruh proses pemeriksaan selesai, kamu gak diizinkan untuk bertemu mereka," kata salah seorang di antara wanita itu.
"Dan semua keterangan kamu tadi sangat dibutuhkan untuk prmeriksaan selanjutnya. Jadi kami harap, semua yang kamu katakan itu adalah kebenaran," ujar yang satunya lagi.
"Udah berapa kali aku bilang, aku nggak bohong. Orang tuaku sama sekali tidak mengkonsumsi barang terlarang itu. Apa kalian bisa melihatnya? Kalau orang tuaku tampak segar bugar, tidak seperti mereka yang menggunakannya."
Qiandra kembali menumpahkan kekesalannya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sungguh mencengangkan. Di saat berita keluarga Austeen berkumandang di seluruh negeri, kamu malah mengumumkan perusahaan baru? Kamu mau menyerahkan diri ke polisi dengan cara itu?" kata Fania ketika menelepon Malfoy, suaminya.
"Kamu menuduhku menghancurkan mereka, lalu mengambil keuntungan di atasnya?" balas Malfoy dengan santai.
"Wah, Fania. Kamu melebihi detektif Internasional. Sangat tidak berdasar," lanjut Malfoy lagi.
"Terus kenapa kamu mengumunkan perusahaan dan produk baru di tengah kemelut ini? Bahkan kamu memamerkan kalau baru saja memenangkan trading bulan ini," kata Fania.
"Siapa yang tahu, kalau mereka bakal tersangkut kasus? Sementara aku membangun usahaku ini sejak berbulan-bulan yang lalu," kata Malfoy.
"Kamu tahu? Aku sedih banget, lho. Padahal aku merintis perusahaan ini dari nol, hanya demi dirimu. Agar kamu mau kembali lagi padaku," ujar Malfoy lagi, sebelum Fania sempat menyela.
"Jadi secara nggak langsung, kamu mengakui kalau aku hebat, bukan?" ucap Malfoy diselingi tawa kecil.
"Kau bahkan nggak bisa membedakan mana sindiran dan mana pujian, ya?" sahut Fania semakin kesal.
"Sudahlah... Akui saja kalau kamu sebenarnya sangat merindukanku," goda Malfoy.
"Dari pada itu, aku lebih mengkhawatirkan hal lain. Apa produkmu bakal laku di tengah berita nomor satu yang sedang viral ini?" ejek Fania.
"Kurang ajar! Kamu meremehkan produkku?"
"Lihat saja. Orang-orang akan lebih tertarik kepada berita yang mana?"
"Boleh saja berita tentangku tenggelam oleh kepopuleran mereka. Tetapi lihat saja nanti, aku akan segera menguasai pasar internasional," kata Malfoy percaya diri.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1
"Nona, jangan melamun terus. Hari ini istirahat saja dulu di rumah. Nanti saya akan izin ke sekolah," bujuk Sania.
"Aku merasa lumpuh, Sania. Bagaimana aku akan hidup tanpa mama dan papa?" kata Qiandra.
"Sabar, Nona. Selama ini kan Nona juga sudah terbiasa ditinggal Tuan dan Nyonya ke luar negeri, hingga berbulan-bulan. Semua pasti akan baik-baik aja."
"Ini sangat berbeda dengan saat mereka keluar negeri. Meski mereka jauh, tetapi mereka tetap mengontrol semuanya. Lalu sekarang? Aku seperti nggak punya tangan dan kaki," Qiandra mengacak rambutnya yang panjang.
"Benar, juga," batin Sania.
"Apa Nona tahu, sekarang perusahaan diambil alih sementara oleh Tuan Mc. Caught. Selaku wakil CEO, dia mengkoordinir semua aspek," jelas Sania.
"Meski demikian, setiap departemen tetap di handle oleh masing-masing direktur. Nona jangan khawatir." Sania terus berusaha menenangkan sang Nona muda.
"Tetapi aku tetap khawatir, Sania. Kita tidak tahu siapa teman dan siapa lawan. Kasus mama dan papa ini jelas-jelas perbuatan suatu kelompok besar. Dan tidak menutup kemungkinan, hal ini dilakukan oleh orang dalam dan orang-orang terdekat papa."
Sania terdiam. Semua yang dikatakan Qiandra ada benarnya.
"Pak Andi dan Pak Norman, kuasa hukum kita, beserta tim penanganan hukum di kantor sedang berusaha keras menyelidikinya. Semoga saja kita segera mendengar kabar baik." Hanya itu yang bisa dikatakan Sania saat ini.
"Oh iya, saya baru ingat. Beberapa departemen yang sebelumnya ditangani oleh Nyonya, untuk sementara dialihkan kepada Nona. Karena bagaimana pun juga, Nona merupakan salah satu pemegang saham tertinggi dan termasuk dewan direksi," jelas Sania.
"Aku? Yang hanya anak SMA ini?"
Qiandra benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa mereka meminta seorang anak SMA dengan pengalaman dangkal, mengawasi kegiatan besar?
"Iya, Nona. Tapi nanti Nona tetap akan didampingi oleh para kepala seksi, kok."
"Itu artinya aku akan memegang CL cosmetics, CL Shoes, Holly Hotel, Nutt Restauran dan juga yayasan panti asuhan?"
"Benar, Nona."
"Gawat! Apa yang harus aku lakukan?"
Rasanya sebentar lagi rambutnya bakal rontok semua, karena kepalanya dipenuhi oleh pikiran yang sangat berat.
"Bye... Bye... Free time ku yang berharga," gumam Qiandra.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.