
"Apakah ada yang ingin di sampaikan lagi, dari pihak terdakwa, atau tergugat? Jika tidak, sidang akan dilanjutkan empat hari dari sekarang."
"Mohon izin yang mulia, saya ingin mengajukan satu kejahatan lagi yang dilakukan oleh Saudari Fania." Qiandra memberikan interupsi sebelum Hakim Ketua memukul palu untuk menutup sidang.
"Ya, silakan."
"Saya ingin kasus tabrak lari di jalan lingkar danau tahun lalu kembali diangkat," ucap Qiandra lantang.
Deg! Fania menoleh ke arah Qiandra yang duduk di belakang. Sorot matanya sangat tajam, menyiratkan kebencian disertai beribu pertanyaan, "Siapa yang memberi tahunya soal ini? Bahkan Darrent saja tidak tahu."
"Tetapi hal itu tidak berkaitan dengan ini. Dan tidak ada laporan resmi dari keluarga korban untuk membuka kasus itu kembali," tolak Hakim.
"Justru sangat berkaitan, Tuan Hakim. Karena ini merupakan pembunuhan berencana untuk menyingkirkan putri keluarga Austeen. Ini buktinya, black box mobil pribadi Fania dan sang suami."
Qiandra mengangkat sebuah benda berbungkus plastik bening, "Beberapa waktu lalu para penyidik menemukan ini di sekitar lokasi tabrak lari, saat menyelidiki Saudari Fania dan suaminya," lanjut.
Wajah Fania pucat seketika, "Dasar! Bagaimana
si b*doh itu bisa meninggalkan barang bukti sepenting itu?" gerutu Fania dalam hati.
"Apakah kata 'BEBAS' akan semakin menjauh dariku jika itu terbukti?" batin Fania lagi.
Di saat yang bersamaan, Geffie dan Chloe saling berpandangan. Apa yang dikatakan putri mereka itu benar? Mengapa Qiandra tidak pernah menceritakaannya?
Sementara itu tanggapan Hakim Ketua, "Baik, silakan masukkan berkas laporan beserta bukti-bukti pendukung kepada tim penyidik. Nanti pada sidang berikutnya akan kita tindaklanjuti."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Bagaimana, Nona?" tanya Wilson dan juga Felix yang menunggu di luar ruang sidang.
"Hhhahhh... Lumayan lancar, tapi tetap bikin sakit kepala. Aku juga nggak bisa ngomong sama mama papa walau sedetik pun," keluh Qiandra.
"Sabar, Nona. Semoga nanti ada jalan terbaik untuk Tuan dan Nyonya agar segera bebas," ujar Wilson menyemangati majikannya.
"Yah... Semoga saja. Sekarang aku mau pulang aja," kata Qiandra.
Sepanjang perjalanan pulang, Qiandra tak bisa berhenti berpikir.
"Mengapa aku angkat fakta tentang tabrak lari itu? Jika hal itu terbukti, sama saja aku membongkar jati diriku sendiri yang juga..."
Qiandra melemparkan pandangannya ke jalanan ibukota yang tak pernah sepi. Kerumunan remaja menggunakan seragam putih abu-abu dan juga putih biru juga memenuhi jalanan.
__ADS_1
"Ah, sudah jam pulang sekolah ternyata," gumam Qiandra.
Gadis remaja bermata indah itu teringat masa-masa di sekolah.
"Dulu aku di sekolah sebelum berpindah tempat dengan Rania gimana, ya?" pikir Qiandra.
Ah, tanpa sengaja air matanya menetes. Ia sangat merindukan masa-masa sekolah bersama teman-temannya. Tanpa disadarinya, ternyata keberadaan Mikko, dan juga gengnya Rania membuat hari-harinya di sekolah lebih berwarna.
"Ya, ini pasti sudah takdirku. Mungkin saja sikapku dulu jauh lebih jahat dari membully. Makanya aku dihukum begini. Aku harus menanggung semua ini untuk menebus kesalahanku. Aku nggak mau lagi jadi pribadi yang buruk seperti dulu," batin Rania.
"Kenapa, Nona? Ada masalah?" tanya Wilson yang duduk di kursi kemudi.
Felix yang duduk di sebelah Wilson juga menatap Nona muda itu dari spion tengah.
"Ah, tidak apa-apa. Aku cuma rindu sekolah," jawab Qiandra sambil menyapu air matanya dengan selembar tisu.
"Di depan nanti, kita putar aja ke arah Kampung Sungai. Aku ingin beli jajanan enak di sana," kata Qiandra.
"Baik, Nona," jawab Wilson.
Tak berapa lama kemudian, mobil mewah milik Chloe yang digunakan Qiandra memasuki kawasan street food Kampung Sungai yang cukup terkenal.
"Beneran Nona mau beli makanan di sini?" tanya Felix tak yakin. Ia merasa, Nona muda tersebut semakin banyak berubah belakangan ini.
Rasa galau yang tadi sempat menyelimuti dirinya, pelan-pelan tersapu oleh angin sepoi-sepoi yang membawa harum berbagai makanan.
Berbeda dengan Qiandra yang sangat antusias, para pedagang justru sedikit khawatir melihat mobil mewaj parkir di dekat mereka. Ditambah lagi ketika Wilson yang berbadan besar bak preman keluar dari mobil.
Yah, maklum saja. Waktu Qiandra datang bersama Wilbert saat itu, kan pada malam hari.
"Pak, saya mau beli kue kenari, dong," kata Qiandra ketika mendatangi sebuah gerobak.
"Nak, kamu datang lagi?" ucap pedagang tersebut.
"Iya. Aku ketagihan sama kue-kue di sini," jawab Qiandra ramah.
Felix yang mengawal Qiandra terus menerus menelan ludah mencium asap wangi bakso bakar yang berada tepat di sampingnya.
"Felix, Wilson, kalian mau yang mana. Pilih aja," kata Qiandra lagi.
"Ehm, Nona. Kalau gak salah, ini suami dari temannya Nyonya Chloe. Waktu sebelum ke Inggris, Nyonya beberapa kali ingin menemuinya tapi tak berhasil," bisik Wilson.
__ADS_1
"Eh, benarkah?" kata Qiandra.
"Kalau begitu, apa Rania berpindah tempat ke keluarga ini juga ada kaitannya dengan hubungan Mama dan temannya?" pikir Qiandra dalam hati.
"Qiandra! Kamu jajan di sini?"
Suara wanita yang sedikit melengking, membuat Qiandra menoleh cepat ke samping.
"Rania? Kamu udah pulang sekolah?"
"Udah. Gimana sidangnya tadi?" balas Rania.
"Oh... Ya... Lumayan lancar," ucap Qiandra merasa bersalah. "Maaf, aku nggak memberi tahumu," lanjutnya.
"Nggak apa-apa. Aku tahu, kalau pun aku di sana nggak bisa banyak membantu juga. Orang luar nggak bisa masuk, kan?" kata Rania sambil tersenyum.
"I-iya, sih."
"Ah, maaf Qian. Hari ini aku membantu ayah di sini. Ku pikir kamu bakal sibuk sampai sore karena sidang," kata Rania.
"Gak apa-apa. Aku hari ini juga ingin istirahat, kok. Mampir ke sini juga untuk beli kue aja," ucap Qiandra.
"Ehm, maaf ganggu. Ayah baru ingat, nih. Dulu kamu jual berapa kue ini di sekolah?" tanya ayah pada Rania.
"Eeh?" tiba-tiba Rania teringat sesuatu. "Hehehe... Itu kan karena Qian jahat padaku," jawab Rania malu.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Ah, sudah mau pulang, Nona?" tanya Felix sambil berlari kecil.
"Belum. Kamu lanjutin aja jajannya. Nih, duitnya," ujar Qiandra sambil memberikan lima lembar pecahan lima puluh ribuan.
Rania tertawa melihat ulah Felix yang seperti anak-anak, ketika membeli cilok dan batagor kesukaannya. Sememtara sedang asyik mengobrol bersama tukang cendol.
"Aku baru lihat sisi Felix yang begini. Selama ini, sosok yang kulihat hanya serius dan tegas," ucap Rania. "Ah, maaf. Waktu itu aku menipumu. Nanti aku kembalikan uangnya," lanjutnya.
"Tidak usah. Aku sudah ikhlas, kok," tolak Qiandra. Sesaat, wajahnya kembali terlihat sedih.
"Kamu terlihat sangat sedih, Qian. Apa perlu aku dan Mikko menemanimu hari ini di rumah?" tawar Rania.
"Tidak. Jangan berteman denganku, Rania. Aku tidak mau berteman denganmu," ucap Qiandra tegas.
__ADS_1
(Bersambung)