Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 120 - Jejak Lainnya


__ADS_3

"Kamu tahu nggak, sih? Kamu itu imut banget kalau lagi santai begini?" ucap Qiandra dengan polosnya.


"Ah, masa sih?" Felix tersipu malu.


"Beneran. Sering-sering deh ngobrol santai kayak gini. Jangan formal-formal banget sama aku. Aku kadang kesepian di rumah ini," kata Qiandra.


"Aku di sini juga butuh teman, bukan hanya orang yang setiap saat melayaniku seperti ratu."


Qiandra masih sangat ingat, bagaimana bingungnya ia ketika baru berada di rumah ini. Belum lagi rasa sepi yang terus menerpa, ketika papa dan mama pergi bisnis ke luar negeri.


Sayangnya, saat itu ia masih belum tahu, kalau dirinya bukanlah penerus tunggal keluarga ini.


"Tapi itu sulit banget. Kami di latih para buttler untuk menghormati setiap majikan kami. Dan... apa Nona tahu? Hingga beberapa bulan yang lalu, Nona hobi banget pecahin barang-barang, dan membuat para pelayan hampir mati ketakutan," ucap Felix jujur.


"Ha? Gitu ya? Uh, sifatku dulu memang jelek banget." Qiandra sangat malu mengakui dirinya yang dulu.


"Hmmm... Ya... Tapi sekarang Nona jauh berubah. Jadi makin ramah, makin sering senyum dan juga tambah cantik," ujar Felix sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Eh?"


Tanpa disadari, ternyata Qiandra juga bisa tersipu malu karena serangan damage dari asisten satu ini.


"Dia mau membalas dendam rayuanku tadi, ya?" pikir Qiandra kesal campur malu.


"Tapi Nona jangan sampai suka padaku, ya?" sambung Felix lagi.


"Kenapa? Kamu takut menyakiti hati Sania?" tebak Qiandra.


"Ha? A-apa? Kenapa bisa tahu?" Wajah Felix terlihat memerah seperti kepiting rebus. Lucu sekali.


"Siapa sih di rumah ini yang tidak tahu, kalau kamu naksir padanya? Bahkan kakek aja tahu?" kata Qiandra sambil tertawa jahil. Rasanya ia baru saja memiliki teman baru, yang bisa diajak mengobrol.


"Ya ampun, bod*h banget aku," ucap Felix sambil menutup wajahnya.


"Entah kenapa aku rasanya senang banget. Sosok sempurna sepertimu ternyata punya kelemahan juga, yang gak bisa menyimpan hubungan kasmarannya." Qiandra terus terbahak-bahak.


"Seneng banget ya ngetawain orang..." ucap Felix pura-pura kesal.


"Apa kamu kecewa, setelah tahu Sania terlibat dalam masalah ini?" tanya Qiandra.


"Yah.. Aku sedikit kecewa. Tetapi entah kenapa, rasa khawatirku justru lebih besar. Aku semakin bod*h, ya?"


"Kamu nggak bod*h, Felix. Itu artinya, kamu sangat sayang padanya."


Felix terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Apa Sania akan tinggal lama di penjara?" ucapnya kemudian.


"Masih belum tahu. Tapi sejauh ini, ia terbukti terlibat dalam kasus itu, walau nggak secara langsung. Lebih tepatnya, dia membiarkan orang asing menggunakan fasilitas rumah ini untuk berbuat kejahatan," jawab Qiandra.


"Gitu, ya..." Felix menghela napas dalam-dalam.


"Kenapa? Kangen, ya? Atau cintanya udah mulai luntur? Udahlah... pindah ke aku aja."


"Ih, apaan? Nggak kangen, tuh. Tapi aku ini orangnya setia, lho," jawab Felix tegas.


"Dih, gak bisa diajak bercanda banget nih orang." Qiandra memonyongkan bibirnya tanda kesal.


"Tapi apa kamu ingat, aku dulu orang yang seperti apa? Maksudku... Seperti apa kehidupanku sebelum SMA. Kamu udah kerja di sini sejak aku kelas satu SMP, kan?" pancing Qiandra.


"Dulu... " Felix berpikir cukup lama.


Ia baru menyadari, kalau dirinya tidak punya ingatan apa pun tentang Nona mudanya ini. Mungkin...bisa dibilang ia hanya mengingat kejadian tiga atau empat bulan ini saja.


"Maaf, Nona. Sepertinya saya terlalu fokus untuk mengejar karir saya di sini, sampai tidak memperhatikan sekeliling."


"Maksudmu tidak memperhatikan sekeliling selain Sania?"


"Mmm... i-iya mungkin."


Qiandra kembali tertawa kecil melihat wajah merona Felix.


"Huh? Apa?" Felix sangat yakin kalau ia salah dengar.


"Aku nggak tahu gimana awalnya, tapi aku berpindah tempat dengan seseorang. Putri kandung keluarga ini sekarang malah menjadi anak pembantu rumah tangga. Dan aku yang entah siapa, malah menikmati hidup mewah di sini."


"Apa buktinya?" tanya Felix.


"Sudah banyak buktinya, Felix. Anak itu sangat ingat bagaimana masa lalunya. Kakek juga mengatakan aku bukanlah cucunya. Sekarang, tinggal menjelaskan hal ini pada mama dan papa," ujar Qiandra.


"Mungkin sebentar lagi, putri sombong ini akan berubah menjadi gadis jalanan," kata Qiandra.


"Tapi, bagaimana bisa terjadi? Kenapa semua orqng bisa nggak tahu? Ini nggak masuk akal," bantah Felix. "Apa Nona sudah melakukan tes DNA?"


"Belum. Tapi akan aku lakukan. Dan mungkin, hal.ini terjadi karena suatu sihir ilmu hitam yang berada di luar nalar manusia," ucap Qiandra sambil melirik ke arah Felix.


"Jadi ini sebabnya, Nona membaca buku-buku tua ini?"


"Ya, mungkin aja buku-buku kuno tentang sihir ini bisa membantuku mengembalikan keadaan. Sayangnya, aku sama sekali tidak mengerti bahasanya."


"Aku mengerti bahasa ini. Aku pernah mempelajarinya dari seseorang, aku lupa siapa."

__ADS_1


"Ah, itu pasti Rania," pikir Qiandra.


"Apa Nona mau kubantu? Tapi buku-buku ini dari mana?" ujar Felix.


"Ini kuambil dari ruang bawah tanah. Kamu pernah hampir menangkap basah aku di sana, kan?" ucap Qiandra.


"Jadi benar, Nona menyusup ke ruang bawah tanah?"


"Bukan menyusup, tetapi aku memang menyelidiki seluruh ruang bawah tanah. Bahkan aku memiliki denah lengkapnya. Jadi, kamu mau membantuku mentraslete buku-buku ini, kan?" pinta Qiandra.


"Ya, tentu. Saya ingin membuktikan kalau sihir itu tidak ada," kata Felix.


"Kamu pasti akan berubah pikiran setelah mengetahui faktanya nanti," tawa Qiandra.


"Oh, iya. Ini rahasia kita berdua saja, ya. Jika semua ini sampai bocor, maka akan aku pastikan bahwa kepala dan badanmu akan terpisah," ancam Qiandra.


"Ah... Hehehe.. Nona bercanda ah. kayak film Tom and Jerry aja," sahut Felix kaku.


"Ini emang kayak film Tom and Jerry, tapi ini bukan candaan."


Jleb! Serem amat.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Rania... Sudah ketemu atau belum?" seru ibu dari ruang tengah.


"Belum, Bu. Ibu yakin menyimpannya di sini?" balas Rania.


Hampir setengah isi lemari Rania turun, untuk menemukan jam tangan milik ayah.


Beberapa waktu yang lalu, ayah membawa jamnya untuk diperbaiki. Di sana, ayah pun baru menyadari, kalau jam tangan miliknya yang asli, tertukar dengan milik Rania Putri yang merupakan imitasi.


Rania masih terus berusaha mencari jam tangan mahal pemberian salah seorang kerabat tersebut. Nilainya memang tidak cukup mahal dibandingkan koleksi jam tangan milik Geffie, tetapi bagi keluaega ini tentu sangat berharga.


"Loh, ini kan?"


Rania mengangkat selembar kaus lengan oanjang dan juga celana kulot berwarna hitam.


"Ini kan baju yang aku pakai terakhir kali ke danau? Bekas cat airnya juga masih ada," gumam Rania.


"Apa jangan-jangan... jam tangan itu juga di bawah oleh Rania putri sebelum menghilang?"


(Bersambung)


__ADS_1



__ADS_2