
"Sudah kubilang, kami tak pernah melakukan hal itu," bantah Geffie di depan penyidik.
"Aku dan istriku orang baik-baik. Kami memiliki anak perempuan yang beranjak dewasa. Bagaimana mungkin kami melakukan hal tercela seperti itu?" marah geffie lagi.
"Bahkan kami nggak punya waktu untuk melakukan kegiatan nggak bermanfaat itu." Geffie terus membela diri.
"Ya... Ya... Semua orang yang duduk di situ, pasti akan mengatakan hal yang sama, kalau dia adalah orang baik-baik, yang tidak mungkin berbuat kriminal," kata Siswoyo, penyidik reserse narkoba yang memeriksa Geffie dan istrinya saat ini.
"Semua bukti sudah ada. Kapal kalian terbukti membawa puluhan kilogram narkotika," kata Siswoyo.
"Produk kami aman. Beberapa kali diperiksa oleh pihak beacukai dan imigrasi, dan semuanya 'bersih.' Bukan baru sekali dua kali kami melakukan bisnis bedar seperti ini," Geffie terus membantah.
"Ya... Produk kalian memang aman, tapi kapal yang membawahya tidak. Kalian mau mencoba mengelabui kami?" Siswoyo menghentak meja dengan tangan kirinya.
Chloe yang tidak terbiasa dibentak pun merasa shock. Seluruh tubuhnya gemetar. Untuk memandang ke depan saja ia tidak bisa, apalagi melawan para penyidik itu.
Kepalanya masih belum bisa mencerna seluruh kejadian yang menimpanya sejak satu jam yang lalu.
"Lihat ini. Tim kami sudah memeriksa seluruh bagian kapal. Tidak hanya di tempat-tempat yang terabaikan seperti engsel pintu, tetapi material kapal kalian dua puluh tujuh persen komposisinya terbukti mengandung bahan narkotika untuk kemudian diekstrak lagi," jelas Suyoto.
Geffie dan Chloe ternganga mendengar kalimat Suyoto, "Siapa yang melakukannya?"
"Siapa yang melakukannya? Kalian mau coba mengecoh kami lagi? Seakan-akan tidak tahu apa-apa dan ini perbuatan orang-orang yang tidak berada dalam pengawasan kalian. Begitu, kan?" marah Suyoto.
"Aku akan buktikan, kalau aku benar-benar tidak melakukannya. Seseorang pasti menjebak kami," ucap Geffie.
"Bung, setiap orang yang tertangkap pasti mengatakan hal yang sama. Tapi jika sudah terbukti, mereka akan mengatakan 'kami khilaf'. Sudahlah, trik kalian itu sudah basi." Siswoyo sama sekali tidak terpengaruh.
"Bagaimana kalau ternyata kami tidak terbukti? Apa kalian mau bertanggung jawab atas kerugian yang kami terima? Aku tidak akan memaafkan semua ini," ancam Geffie dengan penuh kemarahan.
"Katakan hal itu nanti di pengadilan, setelah hasil urin kalian keluar. Tapi kalau ternyata positif, siap-siaplah kehilangan segalanya," ujar Siswoyo.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Sania, bagaimana keadaan di sana?"
"Benar-benar kacau, Nona. Tuan dan Nyonya baru saja di bawa ke kantor polisi sekitar tiga puluh menit yang lalu," lapor Sania.
"Para wartawan juga sudah memenuhi jalanan di depan rumah kita," lanjut asisten pribadi itu lagi.
"Lalu kakek gimana?" tanya Qiandra cemas.
"Tuan Nico tadi terlihat sedih. Tetapi saat ini Wilson berusaha menenangkannya," sahut Sania.
__ADS_1
"Jika nanti hasil tes urin dan darah Tuan positif, maka kita semua juga akan diperiksa," lanjut Sania lagi
"Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Air mata Qiandra mengalir semakin deras. Gadis remaja masih belum percaya dengan berita yang di dengarnya itu.
Beberapa saat setelah ia sampai ke sekolah, ponselnya berulang kali berdering. Banyak sekali pertanyaan dari para kolega dan wartawan yang menanyakan kebenaran berita tentang orang tuanya.
Tentu saja Qiandra terkejut. Sebelum ia pergi sekolah, semuanya baik-baik aja. Tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan.
Tok! Tok! Tok!
"Hoi! Siapa di dalam. Lama banget, sih? Kami mau pakai toilet juga."
Beberapa orang siswi menggedor pintu toilet.
"Kenapa mereka ke sini, sih? Toilet sekolah ini kan nggak cuma satu," rutuk Qiandra dalam hati. Ia lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku.
"Woi! Cepetan buka. Keburu bel masuk, nih," seru mereka lagi.
Ceklek! Pintu toilet pun terbuka.
"Oh... Pantesan lama. Anak bandar narkoba, toh?" komentar para siswi tersebut.
Qiandra berjalan melalui mereka sambil pura-pura tidak mendengar. Ia malas berurusan dengan geng yang dikenal kasar dan sering bermasalah dengan guru BK itu.
"Hei, mau ke mana? Sungkem dulu sama kami. Minta maaf karena dulu membully kami."
"Bukannya tadi kalian heboh mau ke toilet? Ya lakumanlah secepatnya sebelum bel masuk," balas Qiandra.
"Tadinya sih begitu. Tapi ada hal yang lebih menarik di sini," kata salah satu siswa sambil menarik rambut Qiandra.
"Hati-hati sama tindakan kalian. Aku bisa melaporkannya ke pihak sekolah," ancam Qiandra.
"O ow... Mau coba mengancam kami? Sekarang mana ada lagi yang mau mendengarmu. Dasar anak pengedar narkoba," balas para siswi itu.
"Apa kasus orang tuaku membuat orang tuamu naik pangkat? Nggak kan? Orang kalian tetap aja harus meminum keringat dari pagi sampai sore untuk menyekolahkan anak gak beradab seperti kalian," balas Qiandra tanpa rasa takut.
"Apa katamu?" salah seorang di antara mereka semakin naik darah dan mencoba menyiram seragam Qiandra.
"Hei, aku sudah merekam semua pembicaraan kalian! Kalau mau selamat, singkirkan tangan kalian darinya."
"Rania? Kenapa kamu membelanya? Dia udah jelas salah. Orang tuanya sudah ditangkap polisi karena kasus narkoba."
__ADS_1
"Kalau kalian bicara sepatah kata lagi, maka rekaman ini akan sampai ke para guru detik ini juga," ancam Rania.
Tanpa perlawanan, meraka lalu melepaskan Qiandra dan mengurungkan niat untuk menyiramnya.
"Bagus! Kasus orang tuanya adalah ranah para penegak hukum. Bukan hak kalian untuk menghakiminya," ujar Rania.
"Kamu aneh, Rania. Bukannya dia dulu membullymu juga? Tetapi sekarang kamu membelanya?"
Rania tidak menyahut. Ia hanya menarik lengan Qiandra dan mengajaknya meninggalkan toilet.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Lepaskan tanganku! Mereka sudah tidak melihat kita lagi."
Rania menuruti permintaan Qiandra.
"Kenapa kamu sok membelaku? Apa aku terlihat lemah di matamu?" ucap Qiandra tak terima dengan perlakuan Rania tadi.
"Nggak. Aku percaya, tanpa bantuanku kamu tetap bisa melawan mereka seorang diri," kata Rania.
"Terus kenapa?"
"Tentang kasus orang tuamu, ini adalah sabotase. Seseorang menjebak mereka untuk menggulingkan posisi mereka dari kursi CEO dan pemegang saham tertinggi. Masalah ini pasti akan jadi pembicaraan di kalangan investor," jelas Rania.
"Ckk... Masalah itu aku juga tahu. Aku lebih paham darimu," sahut Qiandra kesal.
"Tetapi aku bisa menolongmu. Aku mengenal beberapa orang yang patut dicurigai," kata Rania berusaha meyakinkan.
"Di saat seperti ini aku memang harus waspada. Setiap orang bisa saja menusukku dengan jarum beracun ang sangat kecil, termasuk kamu."
Qiandra berusaha menghentikan pembicaraan ini.
Trrinng.... Ponsel Qiandra berbunyi.
"Nona, hasil tes Tuan dan Nyonya positif menggunakan beberapa jenis narkotika. Dan sekarang pihak berwajib juga akan menjemput Nona ke sekolah untuk diperiksa." Sania memberi kabar terbaru.
Prang! HP di tangan Qiandra terlepas dari genggamannya. Benda elektronik itu terbelah menjadi beberapa kepingan.
"Qiandra, apa yang terjadi? Sania mengatakan apa?" Rania turut panik.
Beberapa orang guru yang melihat mereka segera menghampiri. Mereka membawa Qiandra ke ruang kesehatan untuk menenangkan diri.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.