
Rania terkejut melihat Qiandra dan juga Malfoy yang bisa mengingat semua masa lalu mereka.
"Apa sihirnya benar-benar telah hilang? Apa semua telah kembali ke keadaan semula?" pikir Rania.
30 Desember 17 tahun yang lalu.
"Sayang, bagaimana ini? Rania terus menangis. Lihatlah warna biru di sekujur tubuhnya. Kau yakin tidak mau melakukan hal itu?" tanya Chloe panik.
Rania kecil, yang masih berusia dua bulan menderita penyakit aneh yang membuat seluruh badannya membiru. Ia juga selalu menangis kala melihat sinar matahari yang turun, tapi tertawa sendiri di tengah kegelapan.
"Tidak. Aku tidak percaya dengan sihir. Ia pasti menderita penyakit medis yang belum diketahui dokter," jawab Geffie.
"Kita harus membawanya ke dokter mana lagi? Apa dokter di Inggris, Amerika dan Jerman masih belum cukup baik?" ucap Chloe di tengah isak tangisnya.
"Sayang.. Nanti kita usaha lagi dengan cara lain. Satu-satunya cara menyelamatkan bayi kita hanya dengan cara itu. Ia pasti terlahir terkutuk. Sama seperti ibuku," ucap Chloe lagi dengan nada putus asa.
"Itu nggak benar. Anak kita lahir karena rahmat dari Tuhan. Dan ibumu meninggal juga bukan karena kutukan. Ia menderita kolera selama di kapal menuju ke Indonesia, kan?" jelas Geffie.
"Lalu gimana kamu menjelaskan, mereka yang meninggal setiap habis mengunjungi makam mama?"
"Itu pasti hanya kebetulan. Toh buktinya kita baik-baik saja sekarang," jawab Geffie.
Chloe memeluk erat buah hatinya yang semakin melemah. Napasnya melambat. Chloe dan Geffie semakin cemas.
"Kita ke dokter, ya?" ucap Geffie sambil mengambil kunci mobil.
Chloe berlari keluar kamar secepat kilat. Ia menuruni tangga dan berlari ke arah berlawanan dengan garasi mobil.
"Chloe, berhenti! Mau ke mana kamu?" teriak Geffie.
Chloe terus berlari hingga menuju ke ruang bawah tanah. Ia lalu meletakkan bayinya di atas sebuah karpet.
Chloe itu akhirnya mengucapkan mantra sambil membalurkan beberapa ramuan herbal di tubuh bayi mungil tersebut.
Rania kecil hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Gerakannya semakin lemah.
"Kau sudah gila? Anakmu kesulitan bernapas dan kau malah membawanya ke ruang bawah tanah yang pengap ini?" marah Geffie yang baru saja berhasil menyusul Chloe.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Anakmu bisa saja mati kalau kalau aku tak melakukan apa pun. Lihatlah, kurasa sebentar lagi badannya akan menghitam. Hanya ini yang bisa kulakukan," tangis Chloe putus asa.
Wanita muda itu terus membisikkan kalimat yang tidak dipahami Geffie. Ia lalu meletakkan sebuah gelang ke lubang bulang di salah satu sisi dinding.
__ADS_1
Di tengah tangisannya, ia mencari beberapa benda dalam peti kecil yang berukiran tulisan kuno berwarna emas.
"Chloe, kita harus membawa Rania ke rumah sakit sebelum terlambat," bujuk Geffie. Ia menggendong putri kecilnya.
"Letakkan bayi itu kembali ke atas karpet! Jangan bawa dia ke mana-mana!" perintah Chloe.
Geffie tidak mendengarkan perkataan istrinya. Ia melangkahkan kaki hendak ke luar ruang bawah tanah.
"Ada apa dengan kalian? Pak Yahya baru saja menjemputku ke rumah di tengah hujan lebat begini."
"Nyonya Esther. Syukurlah Anda datang. Tolong hentikan istriku. Dan aku harus membawa Rania ke rumah sakit," ucap Geffie.
Mereka bertemu di tangga menuju ruang bawah tanah.
"Astaga, Chloe. Apa yang kamu lakukan?"
"Aku harus menghindarkan bayiku dari kutukan sihir hitam," jawab Chloe.
"Kamu salah, Nak. Perbuatanmu itu justru menciptakan segel sihir yang baru," nasehat Nyonya Esther.
"Kalian tidak tahu betapa hancurnya aku melihat ibuku meninggal setelah menderita penyakit aneh cukup lama! Aku juga melihat ayahku yang sekarat. Sekarang aku tidak mau lagi kehilangan anakku!" ucap Chloe histeris.
"Nak. Semua benda sihir yang kau pesan dari Rumania ini tidak ada gunanya selama kau tidak mempercayai sihir itu ada. Tapi kalau kau melalukan ritual sihir, itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri."
Nyonya Esther, sahabat ibunda Chloe saat kecil memberi nasehat panjang lebar.
"Kecil kemungkinan menemukan kembaran di antara Milayaran manusia di bumi ini, terutama yang memiliki zodiak yang sama dengan putriku. Itu nyaris mustahil. Lagian aku memberikannya pada seseorang yang sangat kupercaya," bantah Chloe.
"Saat ini nyawa anakku lebih penting dari pada memikirkan hal-hal memusingkan seperti itu," kata Chloe dengan tatapan tajam.
Sementara itu, Geffie yang ingin membawa putri kecilnya ke rumah sakit, hanya bisa membeku di tempat ia berdiri saat ini.
Kakinya tidak bisa melangkah, dan suaranya tidak keluar. Seakan-akan ada sesuatu yang menahannya untuk tetap disitu.
Pria itu hanya bisa berdoa dalam hati, agar sang putri baik-baik saja.
Sring!
Chloe menemukan benda yang ia cari-cari sedari tadi. Ia mengacungkan benda itu ke depan dadanya.
"Atas nama leluhur Freya Rudmilla, aku bersaksi akan melindungi putriku dari apa pun. Hanya keturunanku yang berhati suci lah yang mampu menghancurkan segel sihir ini."
__ADS_1
"Astaga, Nak! Hentikan! Itu sihir hitam!" Nyonya Esther berusaha mencegah Chloe.
Blam!
Nyonya Esther terbanting ke belakang, seakan-akan ada yang mendorongnya menjauhi Chloe.
Terlambat!
Chloe menyayat lengan kirinya dengan pisau berukir mantra kuno. Tetesan darahnya mengalir ke gelang dan lukisan naga di sekitarnya.
"Ya Tuhan... Selamatkan lah keluarga ini di kemudian hari," tangis Nyonya Esther.
Ajaib! Bayi Rania yang semula lemah dan membiru, secara perlahan kembali normal.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Jadi, kamu tahu kalau hanya aku yang bisa menghancurkan segel sihir itu?" tanya Rania pada Qiandra.
"Iya. Aku tak sengaja menemukan catatan ini di buku harian mama kamu."
"Dan yang menghancurkan sihir hitam itu bukanlah gelang atau akar mandrake, tetapi air mataku yang tulus?" tanya Rania lagi. Qiandra mengangguk.
"Terus, kamu yang menyuruh Felix untuk menemuiku?" Rania masih penasaran.
"Iya. Tapi sepertinya ia bercerita lebih banyak dari dugaanku. Padahal aku hanya memintanya untuk menjemputmu kemari. Dasar tukang drama," gerutu Qiandra.
Rania tertawa kecil.
"Aku minta maaf, telah mwmbawa kamu dan Mikko dalam kesulitan besar. Tapi gimana seandainya aku masih tidak bisa berbaik sangka padamu? Tentu rencana ini akan gagal," ucap Rania.
"Tentu aku menyiapkan plan B. Aku akan menjadi saksi di pengadilan untuk menyelesaikan semuanya. Setelah itu, aku akan menunjukkan hasil tea DNA pada orang tua kita."
"Mungkin dengan cara itu, masalah sihir tidak akan berakhir. Tapi setidaknya, masalah di dunia nyata bisa ku selesaikan," kata Qiandra.
"Uh..." Rania meneteskan air matanya.
"Hei, jangan terharu dulu.Kita masih punya PR besar. Menjadi saksi di pengadilan, membawa Tuan Mal-... Ah, maksudnya ayahku untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. Dan menemukan keberadaan Rania Putri," balas Qiandra.
"Aku sudah tahu keberadaan Rania Putri," jawab Rania percaya diri.
(Bersambung)
__ADS_1
Sihir hitam adalah ritual yang lumrah dilakukan pada abad pertengahan di Eropa. Bahkan dari cayatan sejarah, beberapa Ratu Eropa melakukan ritual sihir hitam, untuk menarik perhatian pria bangsawan. Mereka akan mandi darah segar diikuti pembacaan mantra tertentu untuk bersekutu dengan iblis yang akan mengabulkan setiap permintaan mereka. Sumber: BritanicaHistory