Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 57 - Saksi Mata


__ADS_3

Srek... Srek... Srek...


"Suara apa itu? Bukan hewan liar, kan?"


Rania menajamkan indra pendengarannya. Kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Akan tetapi indra penglihatannya belum menangkap yang menyebabkan suara barusan.


"Srak... Srak..." Suara itu terdengar lagi.


Kaki Rania melemah. Saat ini ia benar-benar menyesali kebodohannya, yang nekat pergi seorang diri ke tengah hutan.


"Sst... Aduh!" Terdengar suara rintihan seperti orang sakit.


"Eh, suara perempuan?" Rania memberanikan diri mendekati sumber suara.


Dari balik ranting pepohonan, terlihat seorang nenek. Kain bajunya tersangkut di duri pepohonan. Pakaiannya cukup unik. Tidak seperti pakaian tradisional orang Indonesia kebanyakan. Rambutnya yang putih, digulung rapi dan disematkan dengan jepit kayu yang artistik.


"Nenek-nenek di tengah hutan? Beneran manusia atau makhluk dari dimensi lain?" Rania bergidik ngeri.


Rania terus mengamati wanita tua tersebut, tanpa berani mendekat. Tanpa bantuannya, nenek tersebut mampu melepaskan duri-duri yang menjerat kainnya. Wajahnya terkejut, saat melihat Rania dari kejauhan.


"Kenapa wajahnya tidak asing, ya?" pikir Rania.


Wanita yang telah terbebas dari duri, jalan tergesa-gesa menjauhi tempat Rania bersembunyi.


"Hei, nenek itu mirip sekali dengan wanita di foto yang terselip dalam buku waktu itu," tiba-tiba Rania teringat.


Dengan susah payah, Rania pun mengejar nenek yang cepat sekali menghilang di tengah lebatnya pepohonan.


"Nek, tunggu aku."


Tanpa disadari, Rania kini masuk semakin jauh ke dalam hutan.


"Maafkan aku. Maafkan aku," ucap Nenek itu berulang kali, ketika Rania telah berdiri sekitar sepuluh langkah di belakangnya. Sepertinya itu adalah pondok milik Nenek tersebut.


Rania menghentikan langkahnya, "Kenapa ia takut denganku? Apa karena ia sudah lama tidak bertemu orang lain, jadi menganggapku sebagai ancaman?" pikirnya.


Hutan yang didatangi Rania bukanlah hutan belantara, melainkan kawasan konservasi. Meski jarang dikunjungi orang, tetapi hutan ini tidaklah sesepi hutan lainnya.


Terkadang, beberapa kelompok peneliti maupun pecinta alam datang. Tapi tentu saja tidak seorang diri seperti Rania saat ini.


Lalu bagaimana dengan nenek ini?


"Nek, ada apa?" ucap Rania lembut.


"Maaf saat itu saya tidak menolongmu. Saya takut," jawab Nenek itu tanpa menoleh.


"Eh?"


Meski masih diliputi banyak pertanyaan, tetapi sepertinya Rania sedikit mengerti. Nenek ini sepertinya mengira, jika ia adalah Rania Putri.

__ADS_1


"Kalau dugaanku benar, artinya nenek ini adalah salah satu saksi penting yang aku cari selama ini," pikir Rania.


"Nak, pulanglah. Kembali ke jalan yang kamu lalui tadi. Sebentar lagi langit mulai gelap," ucap Nenek itu sambil melangkah pergi.


"Tunggu, Nek. Maaf kalau aku mengganggu Nenek. Tapi aku datang bukan untuk tujan yang jahat. Aku... Hanya..."


"Bagaimana kamu menyelamatkan diri waktu itu? Sa- Nenek tidak menyangka, kalau kamu masih hidup. Syukurlah kamu selamat. Padahal mereka telah memperlakukanmu dengan sangat kejam?" ucap Nenek itu dengan suara sedih. Sudut matanya basah.


Rania kembali tercengang mendengarnya, "Jadi benar Audrey dan keluarganya mau melenyapkan aku?" batin gadis bermata biru itu.


"Nek, orang yang Nenek lihat waktu itu bukan aku," ujar Rania kemudian.


"Kalian kembar?" Wanita itu mengerutkan keningnya. Matanya menjengkali setiap tubuh Rania dengan seksama.


Rania menggeleng, "Aku sendiri tidak tahu. Sedari kecil kami hidup di keluarga yang berbeda dan tidak saling kenal. Tapi, saat ini mereka mengira kalau aku adalah dia yang dulu pernah hilang," ucap Rania.


Rania merasa, tidak ada yang perlu ditutupi lagi kalau ia ingin masalah ini segera menemukan jalan keluar.


Nenek itu mengernyitkan keningnya, "Nenek tidak begitu paham apa yang kamu maksud. Jadi, apa tujuanmu datang ke sini?"


"Aku ingin tahu, tentang kejadian yang Nenek lihat waktu itu," jawab Rania.


Wanita tua itu menjauhi Rania beberapa langkah.


"Aku tidak akan membawa Nenek dalam bahaya. Aku hanya ingin mendengar kejadian yang sebenarnya saja."


"Apa kamu mau melaporkannya ke polisi?"


Sang Nenek terdiam cukup lama.


Ah, ia baru menyadarinya, "Kalau nanti nenek menjadi saksi, kami akan menjaga keselamatan nenek. Karena nenek tidak bersalah," bujuk Rania.


"Sebenarnya Nenek pun selama ini hidup dalam rasa bersalah karena tidak menyelamatkanmu malam itu." Sang Nenek memulai ceritanya.


"Aku mengerti posisi Nenek saat itu. Pasti sulit untuk membantu di saat Nenek pun tidak punya kekuatan," ujar Rania.


"Saat cuaca memburuk, Nenek mendengar seorang gadis berlari sambil berteriak di tengah kepungan angin." Wanita itu menghentikan ceritanya sejenak.


"Tapi waktu keluar hendak membantunya, Nenek terkejut dengan apa yang Nenek lihat," lanjutnya lagi.


Rania menunggu kelanjutannya dengan tidak sabar.


"Kamu... Ah, bukan. Gadis itu telah ditabrak sebuah mobil dengan sengaja. Mereka mengikat tubuh gadis lemah itu dengan sebongkah batu besar dan membuangnya ke dalam danau."


"Astaga!" seru Rania. "Jadi mimpiku selama ini adalah nyata?" Tubuhnya bergetar kuat saking ketakutan. Tanpa terasa air matanya mengalir.


"Itu sebabnya Nenek sangat terkejut saat melihatmu tadi," ucap Nenek itu pilu.


"Apa Nenek melihat jelas pelakunya saat itu?"

__ADS_1


"Tentu saja. Mereka sepertinya pasangan suami istri berambut pirang."


Deg! Jantung Rania seakan berhenti. Apakah keluarga Audrey Eikberg bersekongkol dengan keluarga Ansley?


Tapi apakah ucapan Nenek ini bisa dipercaya? Bukanlah kejadiannya pada malam hari?


"Ah, tunggu sebentar di sini." Sang Nenek bergegas masuk ke dalam pondoknya.


"Hanya ini yang bisa kuselamatkan dari gadis malang itu. Terjatuh saat ia tertabrak."


Wanita tua itu memberikan sebuah gelang emas berukiran unik mirip tulisan kuno. Beberapa sisinya berhiaskan batu permata dan zamrud.


Rania kembali terkejut melihat benda yang sangat dikenalnya. Bagaimana Rania putri memiliki benda itu?


🌺🌺🌺🌺🌺


Dengan langkah tergesa-gesa, Rania meninggalkan tempat itu. Hanya berbekal penerangan dari suluh yang diberikan sang nenek, Rania menembus rimbunnya pepohonan yang mulai diselimuti kegelapan.


Bermandikan peluh dan beberapa duri yang tersangkut di bajunya, Rania merasa lega ketika melihat deretan sepeda air yang terparkir. Itu artinya dia telah kembali ke area wisata.


"Loh?


Rania mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kepalanya menengadah untuk memastikan sesuatu.


Ternyata sang mentari belum turun dari singgasananya. Suasana tepi danau masih diwarnai dengan sinar keemasan berlatarkan langit biru.


"Bukannya tadi sinar matahari sudah berubah menjadi jingga, ya?" gumam Rania berdecak heran.


Tangannya yang mungil merogoh tasnya mengambil sesuatu.


"Ah, ternyata baru pukul 16.20." Itu artinya masih empat puluh menit lagi hingga wisata di danau tutup.


"Ini nggak mungkin. Aku saja cukup lama di dalam hutan, sedangkan tadi sudah menunjukkan pukul 15.50." Rania duduk di sebuah batu. Ia cukup lelah dengan semua keanehan ini.


"Eh, tapi kenapa nenek tadi tinggal sendirian di hutan, ya?" Rania baru tersadar.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Semoga saja ibu tidak banyak bertanya, ke mana aku pergi hari ini," harap Rania.


Sebelum pergi ia memang telah pamit pada ibunya, tanpa menjelaskan secara spesifik ia pergi ke mana.


Tinggal dua puluh hasta lagi mencapai rumahnya. Tapi Rania mendadak menghentikan langkahnya. Raut wajahnya berubah masam, melihat seseorang yang berkecak pinggang tepat di depan pintu.


"Mikko?" gumam Rania.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lahi.

__ADS_1


Jangan lupa like & komen ya... biar author makin semangat nulisnya..


__ADS_2