Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 119 - Mencari Anak yang Hilang


__ADS_3

[Halo teman-teman... Sebelum membaca episode ini, sebaiknya membaca ulang episode117 & 118 dulu ya... Karena ada banyak revisi. Selamat membaca...πŸ’•πŸ’•πŸ’•]


"Kok beda, ya? Perasaan yang diajarin Rania artinya gak gini, deh? Apa ini aplikasi translete abal-abal?" ucap Qiandra bingung. Jemarinya yang lentik membalikkan halaman buku itu dengan sangat hati-hati bak memperlakukan artefak kerajaan kuno.


Buku-buku berusia ratusan tahun yang mengeluarkan aroma apek dan debu yang kuat berserakan di depan Qiandra.


Dari empat belas buku yang diambilnya dari ruang bawah tanah sore tadi, baru satu buku saja yang dibukanya. Itu pun satu halaman belum juga khatam di terjemahkannya.


"Apa aku harus belajar dari Rania lagi besok? Ini sedikit ada Bahasa Rumania, Jerman, dan sepertinya beberapa bahasa lain yang tidak aku pahami."


Tekad Qianda untuk menyelesaikan masalah ini semakin kuat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah semua orang kembali mengingat Rania, tetapi ia tetap berharap semua kembali ke keadaan normal.


Qiandra bahkan tidak keberatan jika nantinya ia harus hidup sebatang kara di jalanan. Ia bukanlah gadis penakut dan manja seperti dulu lagi.


Tok... Tok... Tok...


"Ya, masuk."


Qiandra mengemas semua buku-buku yang sedang dibacanya ke atas sebuah meja onsen.


"Permisi, Nona. Ini saya, Wilbert," sapa Wilbert setelah membuka pintu kamar.


"Ah, Wilbert. Kamu sudah kembali. Bagaimana hasilnya? Apa kata polisi tadi?" tanya Rania tak sabaran.


Remaja cantik itu memang menugaskan Wilbert, salah satu orang kepercayaannya saat ini untuk membantu polisi menyelidiki dan menangkap satu dugaan tersangka lagi. Siapa lagi kalau bukan Malfoy Ansley.


"Polisi mengatakan, kalau Tuan Malfoy tidak ditemukan di apartemennya. Semua barangnya juga sudah tidak ada lagi. Jejak teleponnya dan maupun kartu identitas juga tidak terlacak." lapor Wilbert


"Maaf, saya sudah membuat Nona kecewa," lanjut Wilson dengan nada kecewa.


"Tidak apa-apa. Kalian sudah berusaha semaksimal mungkin. Bagaimana dengan pelacak yang ditempelkan di mobil dan beberapa barang miliknya?" ucap Qiandra tenang.


"Tidak terdeteksi juga, Nona. Tapi para polisi sudah memberi perintah kepada setiap pos lalu lintas untuk menyelidiki setiap penumpang yang akan melintas," ucap Wilbert.


"Bagus. Semoga nanti cara itu berhasil. Tetapi aku masih berpikir kalau dia masih belum pergi jauh dari sini, terutama jika memang benar ia memiliki anak di kota ini," tukas Qiandra.


"Semoga saja, Nona."


"Sekarang kamu beristirahatlah. Wajahmu kelihatan lelah sekali. Dan tolong panggilkan Felix suruh menemuiku," ucap Qiandra.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona. Saya mohon undur diri," balas supir pribadi sekaligus bodyguard tersebut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Permisi... Nona memanggil saya?" tanya Felix di depan pintu kamar Qiandra yang terbuka lebar.


"Iya. Masuk aja," ucap Qiandra tanpa khawatir.


"Tapi, Nona..."


"Tenanglah. Aku nggak akan menggigitmu," ucap Qiandra sambil menepuk-nepuk karpet Turki, mempersilakan Felix untuk duduk.


"Hmm... kayaknya kebalik, deh. Harusnya dia yang khawatir sama aku," gumam Felix tersenyum kecil.


"Apa kamu bilang?"


"Ng-nggak, kok. Saya bilang Nona kayaknya lagi sibuk," kilah Felix.


Pria muda yang telah berganti pakaian kasual itu pun duduk di sebelah Qiandra.


"Gimana hasil pencarian anak dari Malfoy?" tanya Qiandra.


"Masih belum ada titik terang, Nona. Teman-teman dekat mereka malah tidak ada yang tahu, kalau Malfoy dan Fania pernah memiliki anak," ucap Felix.


"Apa isu kalau dia memiliki anak itu memang benar? Jangan-jangan hanya pengalihan isu saja?" ucap Qiandra.


"Nanti akan terus kita telusuri, Nona," jawab Felix.


"Kalau kamu sendiri gimana? Apa kamu mau bercerita tentang latar belakang keluargamu?" pinta Qiandra.


"Eh, maksudnya? Nona tidak mencurigaiku, kan?" seru Felix.


"Menurutmu?" Qiandra menatap alisnya sambil menatap pria dua puluh tahunan di sebelahnya dengan tajam.


"E... Ya.. "


"Hihihi... Lucu banget sih kamu kalau lagi gugup gitu. Salah sendiri kamu menutup rapat identitas latar belakangmu. Kalau emang gak ada yang harus ditutupi ya ceritain, dong," pancing Qiandra.


"Itu karena saya malu dengan diri saya sendiri," ujar Felix setengah bergumam.

__ADS_1


"Huh? Malu kenapa? Kamu ganteng, stylish kayak boneka porselen gini, mana pinter lagi... kenapa masih insecure juga?" seru Qiandra tak terima.


"Hahaha... Terima kasih pujiannya." Felix tertawa melihat sikap polos majikannya itu.


"Tapi saya ini nggak sebaik yang Nona lihat. Say... anak yang durhaka pada orang tua," lanjut Felix lagi.


Qiandra menatap pria tampan itu cukup lama tanpa berkata apa-apa.


"Jadi... Aku adalah anak seorang petani biasa. Keluargaku juga berada di kalangan menengah ke bawah. Aku yang berbeda dari kedua adikku dan orang-orang di desa pun merasa sangat sombong dengan kepintaranku. Aku menganggap semua irang desa itu sangat kolot karena berpendidikan rendah," Felix memulai ceritanya.


Qiandra mengunggu lanjutan ceritanya dengan sabar.


"Aku setiap hari selalu belajar dengan tekun dan berambisi untuk keluar dari desa yang terpencil. Hingga aku berhasil mendapatkan beasiswa dan kelas akselerasi dengan mudah. Suatu organisasi pun melirikku, lalu aku bersekolah di Amerika hingga selesai S-2."


"Lalu..." Felix tiba-tiba menghentikan ceritanya. Raut wajahnya berubah menjadi sangat sedih dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau kau berat untuk menceritakannya tak usah dipaksakan. Aku sudah tak mencurigaimu lagi," ucap Qiandra.


"Tidak, Nona. Aku tak ingin merahasiakan identitasku lagi," ucap Felix dengan suara bergetar.


"Setelah selesai S-2, Tuan pun merekrutku untuk bekerja dengannya. Aku sama sekali tidak pernah berkabar dengan keluargaku apalagi pulang."


"Tapi belakangan aku baru tahu, kalau organisasi itu memberiku beasiswa penuh, adalah berkat usaha ayahku yang selalu mengirimkan CV ku ke mana-mana. Ia sangat ingin aku bisa menempuh pendidikan yang lebih baik."


"Sayangnya, ketika aku mengetahui itu semua dan pulang kampung. Ayahku sudah tiada, dan adik-adikku putus sekolah. Aku... sangat menyesal," tutup Felix.


"Ah... Itu kan kamu yang dulu. Sekarang pasti kamu sangat berubah. Bagaimana kabar adik-adikmu sekarang?"


"Mereka sudah bersekolah lagi dengan home school."


"Ayahmu pasti sangat bangga padamu Felix. Kamu berhasil memenuhi keinginannya untuk sekolah tinggi. Kamu sekarang juga bisa membiayai adik-adikmu. Jangan berlarut dalam penyelasan," hibur Qiandra.


"Terima kasih, Nona." Felix melemparkan senyum manis.


"Kamu tahu nggak, sih? Kamu itu imut banget kalau lagi santai begini?" ucap Qiandra dengan polosnya.


"Ah, masa sih?" Felix tersipu malu.


"Beneran. Sering-sering deh ngobrol santai kayak gini. Jangan formal-formal banget sama aku. Aku kadang kesepian di rumah ini," kata Qiandra.

__ADS_1


"Tapi itu sulit banget. Kami di latih para buttler untuk menghormati setiap majikan kami. Dan... Nona jangan sampai naksir padaku, ya," goda Felix.


(Bersambung)


__ADS_2