
"Felix! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menutup pintunya? Bukannya kamu bilang masih ada dua tikus di sana?"
"Lalu kamu akan membiarkan semua orang di rumah ini tahu, kalau rumah ini memiliki banyak jalan dan terowongan rahasia?" balas Felix.
"Lagian jalan keluarnya tidak hanya satu, jika beruntung mereka pasti akan menemukannya," lanjut Felix.
"Jika beruntung? Bagaimana kalau yang di dalam sana adalah Nona? Kau mau bertanggung jawab? Kau tadi lihat sendiri, kan? Nona tidak ada di ruangan mana pun sampai kita mengetahui pintu itu terbuka."
"Duh, Wilson. Kamu terlalu penakut. Nona kan bukan anak kecil lagi. Kamu tadi juga melihatnya, kan? Dia bersama teman lelakinya," jawab Felix santai.
"Justru itu masalahnya, kita kan nggak tahu bagaimana temannya? Dan hingga sekarang belum ada yang bisa keluar dari sana dengan selamat kecuali tuan, kan?" ujar Wilson.
"Iya... Kau benar. Kita pun hanya tahu sebatas lapisan pertama. Selanjutnya hanya tuan dan nyonya yang menyimpan rapat peta dan teka-teki ini. Kalau Nona memang pintar seperti orang tuanya, dia pasti akan selamat."
Brak!!!
"Apa yang kau rencanakan pada Nona, Felix?" Wilson menarik baju Felix dengan geram.
"Ckk... Lepaskan tangan kotormu dari bajuku yang mahal ini," kata Felix.
"Tidak! Sampai kau mengatakan yang sebenarnya. Apa kau sengaja mengurung dia hari ini? Apa kau juga yang dulu menyekapnya di bawah tanah? Ku rasa, orang sepintar kamu bukanlah hal yang susah memecahkan teka-teki di ruang bawah tanah itu," kata Wilson.
Gigi-gigi pria yang pernah berprofesi sebagai atlet tinju itu merapat. Napasnya mendengus kesal. Wilson paling tidak suka siapa pun yang mengganggu keluarga tuannya.
"Duh, ribet ngomong sama kamu." Felix masih belum berniat untuk buka suara.
"Cepat katakan!" Wilson semakin memperkuat cengkeraman tangannya di baju Felix.
"Ckk... Aku memang bukan pegawai yang loyal sepertimu. Tapi aku juga punya alasan untuk mempertahankan pekerjaanku di sini," ujar Felix.
Wilson masih belum mau merenggangkan cengkeraman tangannya.
"Impianku sedari dulu adalah bekerja semudah mungkin dengan gaji yang sangat tinggi. Dan aku sudah menemukannya, di sinilah tempat yang paling tepat," kata Felix.
"Itu artinya, jika ada yang membayar lebih tinggi kau akan berpaling, kan?" ucap Wilson.
"Aku nggak berpikir demikian. Karena kalau seseorang berani membayarku dengan sangat tinggi, artinya dia membutuhkan sesuatu dariku dan aku harus bekerja lebih berat untuknya," kata Felix.
Wilson melepaskan baju Felix dari cengkeramannya, "Kuanggap kau tidak membahayakan Nona untuk saat ini."
"Tapi ingatlah, kalau sampai hal itu terjadi, aku akan menghabisimu," lanjut Wilson lagi.
"Tenanglah Wilson, aku yakin Nona akan keluar dengan selamat sebelum tuan pulang. Ia adalah anak yang cerdas. Pasti nanti ia akan muncul sebagai orang pertama yang berhasil melalui teka-teki labirin di rumah ini," kata Felix.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
__ADS_1
"Ini hanya sebuah tengkorak plastik, Qian." Mikko mengangkat benda yang berwarna putih kehijauan dengan sebelah tangan.
"Kau yakin itu cuma plastik?" Qiandra masih enggan membuka kelopak matanya.
"Ya... Dengar saja suaranya." Mikko menepuk-nepuk salah satu bagian tengkorak palsu tersebut.
"Menurutku, semua benda di sini tidaklah asli. Mungkin ini property untuk film atau apa... Gitu..." ujar Mikko.
"Tapi kenapa harus disimpan di sini? Dengan segala macam kunci penuh misteri pula. Kau yakin semua ini nggak ada artinya?" kata Qiandra.
Cess... Mikko menyalakan sebuah lilin dengan pemantik api.
"Hei, lilin dari mana itu?" tanya Qiandra.
"Lilin yang ada di sini. Kenapa? Nggak boleh?" Mikko bersiap meniup kembali lilin itu.
"Jangan. Biarkan saja. Coba kamu hirup aromanya. Ini mirip sekali dengan aroma aneh yang aku cium malam itu, sebelum aku menghilang," ujar Qiandra.
"Jadi maksudmu pelakunya sudah lebih dulu masuk ke sini?" Mikko meletakkan lilin tersebut di tengah ruangan agar aman.
"Mungkin," gumam Qiandra.
Satu per satu mereka memeriksa benda di ruangan tersebut. Ada beberapa tombak dengan beragam bentuk dan warna, peti-peti besar yang menyerupai peti mati, tengkorak manusia yang sudah tidak utuh lagi, lalu benda-benda lainnya yang lebih mirip aksesoris.
Qiandra mengambil buku paling atas. Sampulnya sangat tebal, ciri kahs buku lama. Beberapa bagiannya tampak lepas dan terkelupas.
Gambar sampul buku tersebut sulit diidentifikasi dengan jelas, karena sudah sangat pudar. Tapi sepertinya menggambarkan anatomi tumbuhan.
"Apa isinya?" tanya Mikko.
"Aku tidak tahu. Bukunya berbahasa asing," ujar Qiandra.
"Bukan bahasa Inggris?" tanya Mikko lagi.
Qiandra menggeleng, "Sepertinya juga bukan bahasa Prancis dan Jerman."
Mikko mengerutkan dahinya. Ia mendekatkan wajahnya ke tubuh Qiandra, "Coba lihat," katanya.
Mikko merogoh tasnya lalu mengeluarkan ponsel. Ia mengarahkan kamera ke permukaan buku sambil membuka aplikasi translete by picture.
"Ini buku obat herbal," ucap Mikko kemudian.
"Wah, luar biasa ya teknologi sekarang," ucap Qiandra kagum.
"Nah, seharusnya aku yang bertanya padamu. Ini kan bahasa Romania. Kamu nggak ngerti bahasa kampung halaman ibumu?" tanya Mikko.
__ADS_1
Qiandra mematung. Dia baru saja mengetahui satu hal baru, yakni tak mengetahui apa pun tentang kampung halaman sang ibu, termasuk bahasanya.
"Ayo kita lihat buku lainnya," ajak Mikko.
Buku kedua, ketiga dan keempat masih berisi tentang obat-obat herbal.
"Sudalah, ayo menyerah saja. Ku rasa buku berikutnya juga tentang obat herbal," kata Qiandra yang mulai bosan.
"Kamu nggak penasaran, siapa pemilik buku-buku ini?" ucap Mikko.
"Mungkin mamaku, untuk mengobati kakek dulu," kata Qiandra.
"Tapi ini cetakan tahun 1880."
"Heh? Apa?" Qiandra mendekatkan kepalanya dengan buku yang dipegang Mikko.
"Qian, buku ini bukan tentang herbal seperti tadi. Ini sihir. Lihatlah gambar tombak dan peti-peti mati ini, sama seperti yang ada di belakang kita."
"Kamu jangan menakut-nakutiku, dong," kata Qiandra.
"Coba saja kamu lihat gambar-gambar ini. Kamu baca juga terjemahannya," kata Mikko.
"I-iya juga," gumam Qiandra.
"Aku jadi semakin penasaran, apa isi peti itu," kata Mikko.
"Mikko! Please. Yang ini jangan. Aku nggak mau terjadi apa-apa nantinya."
"Semoga tidak ada apa-apa." Mikko tetap bersikeras.
Ternyata peti tersebut mulai berkarat dan sulit dibuka. Mikko pun mengeluarkan satu lagi senjata rahasianya. Ternyata sunblock cukup berguna sebagai pelumas besi yang teroksidasi tersebut.
Kreeettt....
Mikko berusaha membuka tutup besi yang beratnya diperkirakan mencapai puluhan kilogram tersebut.
Qiandra menahan napas.
Akhirnya peti tersebut terbuka. Bau tak sedap menguar dari kotak tua yang entah berapa lama tidak pernah dibuka itu.
"Nenek?" gumam Qiandra dengan mulut menganga dan mata membulat. Ia benar-benar terkejut.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1