Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 39 - Terkunci Bersama


__ADS_3

"Ckk... jadi terkunci di sini kita, kan?" gerutu Qiandra. Ia mengatur napasnya yang tadi hampir berhenti mendadak karena disekap dan masuk ke ruangan gelap.


"Dih, padahal kamu yang kayak ukat jengkal, jadi pintunya tertutup, deh," balas Mikko. Ia mendorong tubuh Qiandra jauh-jauh.


"Ulat jengkal?" ucap Qiandra tidak terima. Tangannya menepuk-nepuk seragam yang terkena debu dan sarang laba-laba.


"Iya, ulat jengkal. Uget-uget gak bisa diem. Mana pake teriak-teriak segala lagi. Bisa-bisa kita ketahuan," jelas Mikko.


"Ya kamu yang salah. Ngagetin dari belakang, kaya guru BP gitu. Kupikir aku bakalan ketangkap basah ngikutin dia," kata Qiandra lagi. Wajahnya masih terlihat berkerut.


"Kamunya aja yang penakut, weeekkk...! Lagian ngapain kamu takut banget sama dia? Biasanya juga maen bully aja."


Beberapa menit yang lalu, Qiandra yang kehilangan Rania akibat serangan semut, dipanggil dan ditepuk bahunya dari belakang. Membuat jantung Qiandra bekerja lebih cepat dibandingkan sebelumnya.


Ia pun berteriak, sembari memikirkan hal yang bukan-bukan. Siku Mikko menyentuh pintu dan membukanya secata tidak sengaja.


Mereka pun terjatuh ke gudang barang-barang bekas, tepat di belakang ia mengintai Rania tadi. Pintu gudang yang terkenal angker pun terkunci otomatis. Sama sekali tak bisa dibuka dari dalam, karena sudah agak rusak.


Sialnya, tempat mereka adalah lokasi yang sepi karena jarang dilalui guru dan para siswa, kecuali petugas kebersihan pagi dan sore hari.


Suara mereka saja udah mulai serak-serak bengek karena teriak-teriak minta tolong tadi.


"Dih... Sial banget aku terkunci di sini bareng hantu macam dia," gumam Qiandra.


"Hei! Siapa yang kamu sebut hantu?" seru Mikko. " Padahal dalam hati kamu pasti jingkrak-jingkrak kesenangan karena bisa berduaan sama aku, kan," lanjutnya.


"Ih, kepedean," sahut Qiandra. Bibirnya bertambah panjang lima senti ke depan menunjukkan rasa tidak sukanya.


"Elah... Ngaku aja... Aku tahu kok, kamu sering curi-curi pandang padaku. Walau pun kedua teman kamu yang sering menggodaku," kata Mikko.


"Terus, kamu ngapain nguntit Rania kayak tadi?" Qiandra mengalihkan pembicaraan.


"Duh, masa aku bilang sih kalau belakangan ini Rania aneh. Hasil browsing internetnya serem-serem. Mulai dari tumbal, ritual, apa deh gitu. Bahkan ia di sekolah pun masih mencari buku-buku terkait seperti itu," batin Mikko.


"Lah, ni orang. Ditanyain malah melamun..." Qiandra menepuk lengan Mikko. Yah, curi-curi skinsip dikit gapapa lah...


Mikko menatap wajah Qiandra yang tersembunyi di bawah remang cahaya mentari. Sorot mata gadis itu sangat tajam. Menanti jawaban dari Mikko.


"Duh, kok jadi terintimidasi gini sama cewek gini, sih?" batin Mikko. Ia bukan takut. Hanya malas berurusan dengan perempuan yang sifatnya sulit ditebak.


"Hmm.. Aku...? Karena aku mulai naksir dia," jawab Mikko asal.

__ADS_1


Ia tidak tahu jika jawaban itu bisa membuat para siswi di sekolah itu mengalami hari patah hati. Tetapi sepertinya Qiandra tidak tertipu. Ia terlalu cerdas untuk bisa mengamati ekspresi wajah Mikko di bawah sorot cahaya matahari yang tembus dari lubang ventelasi.


"Yah... Tersesah, deh. Yang penting dia bukan mata-mata Rania," pikir gadis bule itu.


"Terus alasanmu sendiri apa? Kulihat kadang-kadang kamu membully Rania juga," ucap Mikko pula.


"Aku? Kenapa aku harus kasih tahu kamu?" jawab Qiandra ketus.


"Kok kesel, yak? Aku tadi dipaksa untuk menjawab, walau pun hanya menggunakan bahasa mata. Tetapu endingnya malah kayak dikerjain gitu," batin Mikko.


"Kenapa? Muka kamu kayak nggak senang gitu," ucap Qiandra.


"Haaahh... Ya jelaslah. Aku sudah bilang alasanku. Lalu kamu malah begini?" Mikko membuang napas dengan kesal.


"Nggak gitu. Masalahnya, kalau aku cerita pasti kamu bakal gak percaya. Seisi rumahku aja pada gak percaya," kata Qiandra. Kepalanya menengadah ke langit-langit yang menjadi habitat laba-laba.


"Aku nggak dekat sama kamu. Apa pantas aku ngomongin ini?" tanya Qiandra pada dirinya sendiri.


"Ya dicoba aja dulu, kecuali itu memang masalah khusus perempuan," kata Mikko. Ia menyadari, sepertinya Qiandra tidak sejahat rumor yang beredar.


"Aku curiga, Rania melakukan ritual gaib," jawab Qiandra.


"Hah! Kenapa kamu mikir gitu?" tanya Mikko terkejut. Ia heran kenapa berpikiran sama dengan cewek ini tentang Rania.


"Eit, tunggu dulu. Kalau cerita jangan setengah-setengah dong," ucap Mikko. "Aku bukan gak percaya padamu. Tapi kasih alasan dulu dong," lanjutnya.


"Ckk... Males," ucap Qiandra.


"Dih, ngambekan. Gak asik, ah," pancing Mikko.


"Mending cari cara keluar dari sini, deh," kata Qiandra.


"Coba jelaskan gimana caranya. Aku gak bawa HP, sedangkan HP kamu rusak karena terjatuh tadi. Kita juga udah puas teriak-teriak, kayak peserta idol lagi latihan vokal," kata Mikko. Ia mengangkat iphone yang telah hancur berkeping-keping.


"Tapi, kan..."


"Sstt... Aku tahu sekarang kamu pelajaran Pancasila sama Bu Erlina, kan? Aku juga tahu kamu gak suka banget dengannya. Mending di sini aja dulu," ajak Mikko.


"Maksudnya kamu ngajak cabut?" ucap Qiandra. Dalam hatinya ia girang, ternyata Mikko banyak mengetahui tentang dirinya.


"Buman cabut, tetapi diskusi. Lanjut gih, cerita yang tadi."

__ADS_1


"Janji ya gak ada interupsi," kata Qiandra. Mikko menganggukkan kepalanya.


"Jadi waktu itu di perpus, aku pernah lihat Rania meminjam buku aneh gitu. Banyak darah dan pisau dan ramuan gitu. Apalagi coba kalau bukan ramuan ritual," cerita Qiandra.


"Hah, emang ada buku begituan di perpus kita? Buku resep kali." Mikko lupa akan janjinya untuk tetap diam.


"Hisss... dengar dulu. Terus kan..." Qiandra pun menceritakan kejadian lengkap malam kemarin.


"Ih, masa sih? Seram banget," ujar Mikko. "Tapi kamu yakin itu bukan mimpi?" kata Mikko.


"Ih, beneran lah. Masa aku bohong, sih. Bukti-bukti CCTVnya kan ada," kata Qiandra. "Aku juga gak tahu kenapa selalu membully dia.


" Apa jangan-jangan dia mau balas dendam, ya? Kamu kan sering banget bully dia. Apa sih alasannya? Padahal jelas-jelas kamu lebih dibandingkan dia," gumam Mikko.


"Sebel aja gitu lihat wajahnya. Dia juga selalu ceria, padahal hidupnya gak kaya-kaya amat. Gak pernah kesepian..."


"Emang kamu selalu kesepian?" tanya Mikko.


"Ih, jangan fokus ke situ dulu," ucap Qiandra. "Terus belakangan ini, dia kayak mau mengklaim kalau orang tuaku itu adalah orang tuanya. Dia juga banyak tahu tentang kehidupan kami yang gak pernah dipublikasikan. Nyebelin banget gak sih?" kata Qiandra dengan nada marah.


"Hmm... Jadi gitu..." gumam Mikko.


"Eh, tunggu dulu. Artinya kamu percaya kalau Rania mengganggu hidupku sampai mau santet-santet gitu," ucap Qiandra. Ia tak mendengar lagi protes dari cowok di depannya.


"Entah, ya. Aku kan cuma dengerin cerita kamu aja," jawab Mikko. Ia melihat perubahan wajah cewek didepannya yang semula seperti kucing, kini jadi induk singa.


"Duh, iya... iya... Tapi menurutku, sebenarnya kamu tuh bukan orang jahat seperti yang dibilang teman-teman," kata Mikko.


"Terus?"


"Ya kamu itu sebenarnya baik. Cuma mungkin kamu gak dapat tempat yang pas untuk berteman atau cerita. Tuh, buktinya kamu gak suka Rania karena ada alasannya," kata Mikko.


"A-apa, sih? Aku tuh gak mau jadi orang baik," sahut Qiandra sambil menutupi wajahnya yang tersipu malu.


"Lha, kenapa?"


"Jadi orang baik itu repot," kata Qiandra.


Duk! Duk! Duk!


"Anak-anak! Keluarlah... Kami tahu kalian ada di dalam," seru beberapa orang guru laki-laki.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2