
"Ya ampun... Mama simpan berkasnya di mana, sih? Di kantor mama nggak ada, di kantor pusat nggak ada."
Sudah satu jam yang lalu, Qiandra mengomel terus. Berkas untuk laboratorium CL Cosmetics belum juga ditemukan.
"Sania, apa mama beneran nggak bisa di telepon? Cuma tanyain ini doang..." Qiandra garuk-garuk kepala.
"Nggak bisa Nona, dari kemarin para direktur sudah mencobanya, tetapi tetap tidak diizinkan.
" Ayo, kita pulang."
"Lho, kok pulang? Terus berkasnya gimana? Perusahaan menunggu, Nona," ucap Sania.
"Ya terus? Kita mau cari ke mana lagi? Semua isi kantor sudah kita bongkar. Kita minta salinannya dari laboratorium uji klinis nasional, paling cepat juga dikasihnya lusa," ucap Qiandra dengan suara tinggi.
"Kenapa kita nggak coba cari di rumah aja? Bsrangkali mama menyimpannya di kamar," lanjut Qiandra.
"Ba-baik, Nona."
Sania sama sekali tidak menyangka, kalau rencana majikannya itu begitu luas.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Masih di hari yang sama, di sekolah Internasional.
"Duh, mereka ulangan apa, sih? Lama banget keluarnya? Padahal jam istirahat udah mulai sepuluh menit yang lalu," ucap Rania.
Gadis manis itu sedari tadi mondar mandir di depan kelas sambil memantau kondisi kelas IPS yang sangat tenang.
"Hei, Nak. Ada perlu apa?" tanya Pak Zulham Siregar, guru akutansi.
Rania melihat sekeliling, tidak ada siapa pun selain dirinya.
"Ya, kamu. Yang dari tadi mondar mandir di depan kelas. Ada keperluan apa?"
Mata Pak Zulham yang menatap tajam dan suaranya yang menggelegar khas orang Batak, membuat nyali Rania ciut.
"Maaf, Pak. Nggak ada apa-apa. Permisi, Pak."
Rania segera ambil langkah seribu dari depan kelas tersebut.
"Dari pada dihukum sama guru killer IPS, mending kabur dulu, deh," batin Rania.
"Lho, kok malah kabur? Padahal aku sudah berusaha ramah agar anak IPA nggak takut lagi padaku," pikir Pak Zulham kecewa.
"Ayo anak-anak... Udah siap apa belum? Jam istirahat tinggal lima belas menit lagi," ucap Pak Zulham di depan kelas.
"Belum, Pak," jawab anak-anak serempak.
"Ya sudah. Kalian salin soalnya di kertas lain, lalu soal yang belum selesai boleh dikumpulkan siang nanti sebelum jam pulang. Tapi yang sudah kalian tulis di lembar jawaban kumpulkan sekarang," ujar Pak Zulham.
"Wah, asyik. Bapak baik, deh."
Para siswa berseru riang. Mereka pun segera mengerjakan yang diminta Pak Zulham barusan.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Rania, dari mana aja? Gak ke kantin?" tanya teman-teman sekelasnya.
"Nggak. Aku bawa bekal hari ini," jawab Rania dengan lesu.
__ADS_1
"Kamu kok santai banget? Pasti belum dengar berita hot pagi ini, ya?" ucap Alvi.
"Emang ada berita apaan lagi?" Tubuh Rania bergetar mendengarnya.
"Semoga bukan berita tentang mama dan papa lagi," pikirnya.
"Nih, lihat foto ini."
Teman-temannya yang lain menyodorkan sebuah foto dari portal berita artis.
"Malam tadi, di depan rumah Qiandra kedatangan seorang cowok misterius. Bahkan Qiandra saja sampai berlari menyambutnya."
"Kalau diperhatikan baik-baik, itu mirip Mikko nggak sih?"
"Hmm...iya juga. Walau pun gelap dan pakai masker, tetapi style rambut dan jaket seperti itu mirip banget sama Mikko."
"Nggak heran juga, sih. Belakangan ini kan Mikko memang terlihat dekat dengan Qiandra."
Rania hanya menyimak obrolan teman-temannya sambil memikirkan lain.
"Nah, itu orangnya. Baru aja diomongin."
"Kenapa ke sini?" tanya Rania pada Mikko.
"Tadi kamu mencariku, kan? Ada apa?" Mikko balik bertanya.
Cowok itu meletakkan sekantung plastik berisi roti, "Ini untukmu. Kamu tadi nggak sempat ke kantin karena menungguku, kan?" ujar Mikko.
"Tapi kenapa banyak sekali?"
"Aku nggak tahu kamu suka rasa apa. Jadi kubelikan saja semua jenis yang ada di kantin."
"Duh, kalian kenapa, sih? Ini nggak seperti yang kalian pikirkan," balas Rania.
"Nggak Rania. Yang dipikirkan mereka benar," jawab Mikko tegas.
"Uwaw. Cinta segita!" seru mereka.
"Jadi, kenapa kamu mencariku tadi?" tanya Mikko lagi.
Sayangnya bunyi bel masuk memaksa mereka menghentikan obrolan.
"Istirahat kedua kita bicara," ucap Rania.
"Uwwwooo... Ada apa, nih?" seru teman-teman heboh.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Bagaimana keadaan Qiandra?" tanya Rania saat bertemu Mikko di perpustakaan.
"Kamu menanyakan Qiandra?" ujar Mikko.
"Aku nggak akan mengulang pertanyaanku lagi."
"Yah.. Ku pikir kamu bakal bertanya tentang gosip hangat pagi ini?" kata Mikko pura-pura kecewa.
"Aku sedang nggak tertarik tentang hubungan kalian berdua. Ada hal lain yang lebih penting." Rania menunjukkan wajah serius.
"Qiandra nggak baik-baik aja. Kamarnya semakin sering diteror, entah siapa pelakunya. Ia juga dijejali berbagai macam urusan perusahaan," jawab Mikko.
__ADS_1
"Jadi karena itu dia nggak masuk sekolah? Bagaimana keadaan mama dan papa? Ehm.. Maksudku Tuan dan Nyonya."
"Sudahlah Rania. Kamu bisa bicara santai padaku sekarang. Maaf aku pernah menuduhmu macam-macam beberapa waktu yang lalu," ucap Mikko lembut.
Cowok itu menatap wajah Rania dalam-dalam. Seperti ada kerinduan yang sangat mendalam pada wanita di depannya.
"Memang, berita tentang keluarga Austeen di take down sejak kemarin. Tetapi kabar terbaru yang aku dengar, pihak berwajib menolak pengajuan rehabilitasi untuk Tuan dan Nyonya," kata Mikko.
Wajah Rania berkerut, mendengar kalimat Mikko. Hatinya hancur, tanpa tahu harus melakukan apa pun.
"Mereka terbukti tidak hanya mengkonsumsi benda terlarang itu, tetapi juga mengedarkannya," lanjut Mikko.
"Astaga...!" Tangis Rania pecah. Ia masih tak percaya, orang tuanya melakukan hal itu.
"Mikko, aku harus bertemu Qiandra. Kejadian aneh yang menimpa kami berdua, mungkin juga disebabkan oleh dunia lain."
"Dunia lain bagaimana maksudnya? Hantu?" sahut Mikko bingung.
Rania lalu menceritakan tentang mimpinya dan juga gelang itu. Mikko tertegun mendengarnya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi nggak ada salahnya kita coba," kata Rania lagi.
"Jadi, kamu mau meminta Qiandra untuk menemukan gelang satu lagi?" tanya Mikko.
Rania mengangguk, "Selama ini aku selalu menyembunyikannya. Tetapi apa kamu tahu? Kalau orang tua kandung Qiandra itu ..."
Rania membisikkan dua nama di telinga Mikko.
"Masa? Tapi... Kalau dipikir-pikir mereka memang mirip," komentar Mikko.
"Aku bisa membantu Qiandra menyeleaaikan urusan perusahaan. Lalu kita juga bisa mencari bukti untuk meringankan hukuman mama dan papa. Ini pasti ada pembelot," kata Rania.
"Kita harus mengembalikan semuanya seperti semula, agar masalah ini selesai. Maka aku butuh kerja sama Qiandra dan juga gelang itu," Rania terus berusaha meyakinkan Mikko.
"Lusa Qiandra sekolah. Kita coba bicarakan lagi padanya," ucap Mikko.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Gubrak... Gubrak...
"Nona, sudahlah. Kita tunggu saja salinan dari laboratorium klinis," ucap Sania.
Ia khawatir melihat majikannya, sejak tanpa henti membongkar semua sudut kamar orang tuanya.
"Aku yakin, pasti ada di rumah ini. Aku akan menemukannya."
Kali ini Qiandra membongkar lemari buku ibundanya.
"Lihat, aku menemukannya, kan?" Qiandra mengangkat sebuah amplop putih yang berisikan berkas penting.
Sruk!
Sebuah amplop kecil bercorak bunga jatuh dari balik sebuah buku. Qiandra lalu mengambil dan membacanya.
"Apa maksudnya ini?" ucapnya marah.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1