Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 28 – Kasih Ibu


__ADS_3

“Bu…”


“Nak… Syukurlah kamu sudah sadar,” ucap ibu. Ia mengecup kening putrinya.


Air mata Rania mengalir. Bagaimana bisa ia meragukan kasih sayang keluarga ini. Lihatlah, ayah dan ibu yang menunggunya dengan wajah cemas dan lelah. Kedua saudaranya juga terlihat kurang tidur menemaninya di rumah sakit.


Mungkin saja mereka bukan keluarga kandungnya, seperti dugaan Rania. Tetapi kasih sayang mereka benar-benar tulus.


“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanya ayah.


“Aku baik-baik saja,Yah. Hanya terasa agak ngantuk. Dan kaki kiriku terasa keram,” sahut Rania.


“Syukurlah,” ucap ayah lega.


“Sudah bisa kentut apa belum?” celetuk Arka.


“Hah? Apaan, sih?” protes Rania diikuti tawa Livy.


“Lho, katanya kalau orang selesai operasi itu harus kentut dulu baru dinyatakan sehat,” kata Arka.


“Iya, iya. Nanti aku bakalan kentut. Tapi harus tahan sama aromanya yang wangi dan segar, ya,” ucap Rania. Livy benar-benar sakit perut mendengar obrolan kedua saudaranya.


“Oh ya, Nak. Tadi beberapa guru mengunjungimu. Tetapi saat itu kamu masih berada di ruang operasi. Pak Rayhan juga meminta maaf padamu,” cerita ayah.


“Kenapa harus meminta maaf? Itu kan bukan kesalahannya. Aku yakin semua rak di perpustakaan sekolah itu sudah tua. Apa raknya pernah diganti, sejak sekolah itu didirikan empat puluh tahun yang lalu?” ucap Rania.


“Yah, tetapi bagaimana pun juga, mereka sangat menyesali insiden ini. Pihak sekolah bahkan melunasi seluruh biaya rumah sakit hingga kamu sembuh,” kata ayah.


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu,” ucap Rania. Ia sungguh lega. Ayah dan ibunya tidak menanggung beban yang terlalu berat karena dirinya.


“Nah, ibu waktunya makan. Ibu tadi janji kan, kalau Rania telah sadar ibu akan makan. Lihatlah sekarang sudah jam sebelas,” pinta Arka.


“Eh, sudah jam sebelas? Dan ibu belum makan?” tanya Rania.


“Iya benar. Ayo, Bu. Ibu tak ingin menjadi pasien rumah sakit juga, kan?” bujuk Arka dan Livy.


“Iya… Iya… Ibu makan, nih,” ucap ibu sambil meraih nasi ramas yang dibeli Arka tadi.

__ADS_1


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Tap… Tap… Tap… suara langkah kaki di lorong kamar rumah sakit, terdengar sangat jelas di malam hari. Rania bisa menebak, jika itu para dokter dan perawat yang sedang jaga malam.


Pandangan Rania beralih ke karpet yang dibentang keluarganya di lantai. Mereka berempat berjajar rapi meluruskan tubuh yang sedari siang belum ada istirahat.


“Mereka pasti lelah sekali. Kasihan harus tidur di beralas karpet seperti itu. Padahal mereka besok harus bekerja dan sekolah,” batin Rania.


Jika dahulu Rania selalu mendapatkan perawatan eksklusif dari dokter pribadinya ke rumah, maka saat ini ia harus bersabar dengan segala fasilitas kamar kelas tiga tempat ia dirawat. Masih untung segala biaya ditanggung sekolah.


Pukul 02.30, mata Rania belum mau terpejam. Pasti ia sudah terlalu lama tertidur karena suntikan anestesi tadi. Nyeri bekas operasi, sesekali juga terasa sakit sekali.


“Penyihir di Eropa.” Rania mengetikkan kata kunci di gugel search.


Beruntung, rumah sakit ini memiliki akses free wifi. Ia menjadi lebih mudah untuk terhubung dengan internet.


Banyak sekali artikel yang muncul terkait kata kunci yang ditulisnya. Namun pada umumnya, semua berakhir pada mitos dan legenda.


“Yang aku tahu, penyihir itu memang hanya legenda, sih. Tetapi kenapa aku bermimpi tentang itu ya tadi? Wajah wanita yang dipanggil penyihir itu mirip sekali dengan Mama. Mereka juga menggunakan Bahasa Rumania,” batin Rania.


Jemari lentik gadis tujuh belas tahun itu kembali menetikkan kata kunci yang baru, “Penyihir Transilvania,” tulisnya. Tetapi lagi-lagi artikel yang muncul tidak memuaskan rasa ingin tahunya.


Sruk. Rania merebahkan badannya ke kasur. Matanya memandang langit-langit rumah sakit yang putih kusam. Pikirannya melayang jauh. Mengulang kembali kejadian tak masuk akal yang menimpanya.


Semua berawal dari mimpi ia tenggelam dan terbangun ditempat asing, lalu mendengar rumor dirinya hilang di danau. Kemudian ingatan-ingatan aneh yang sering terlintas di kepalanya. Itu semua bukan suatu kebetulan bukan? Apa dirinya sedang krisis identitas karena kepalanya cedera?


Sepertinya tidak. Ia yakin sekali musim dingin lalu masih berlibur di Eropa bersama keluarganya. Mengunjungi kampung halaman mamanya di Desa Șirnea, yang telah lama ditinggalkan. Lalu bulan Oktober sebelumnya, ia mewakili olimpiade Biologi di Jepang.


“Ah, benar juga. Olimpiade Biologi. Aku kan memenangkan medali perak. Tak mungkin beritanya hilang begitu saja,” gumam Rania.


Dalam waktu 0,001 detik, informasi yang ia inginkan pun ketemu. Mbah gugel + wifi yang kencang memang teman belajar yang baik.


“Apa ini? Fotoku memang ada sebagai pemenang. Tetapi kenapa di tulis Rania Putri?” jerit Rania dalam hati. Ia marah sekali. Seperti ada yang bersekongkol mempermainkan dirinya saat ini.


“Kalau begitu, kita ubah taktiknya. Kita mulai dari media sosial ‘Rania Putri’,” gumam Rania sambil memencet ikon aplikasi media sosial nerwarna merah. Karena keterbatasan kuota dan kesibukan lainnya, ia belum sempat mengecek media sosialnya.


“Wah, tak bisa dipercaya. Follower IGnya hanya 42 orang?” batin Rania. Dulu ia sudah memiliki 2,3 M follower dari berbagai negara.

__ADS_1


Sudah bisa ditebak. Tidak ada yang spesial dari media social ‘Rania Putri’. Jumlah postingannya saja hanya sebelas buah.


“Ah, ternyata aku dan Mikko sudah saling kenal sejak SMP?” ucap Rania seorang diri. Sepasang siswa SMP yang memegang ijazah berfoto bersama. Namun corak seragam mereka sedikit berbeda. Mungkin mereka berbeda sekolah.


“Kenapa semakin lama aku seperti tidak mengenal Rania Putri, ya?” gumamnya.


Pikiran Rania lalu terbesit untuk mengecek media sosialnya sendiri, meski hatinya cukup pesimis melihat beberapa keanehan yang terjadi belakangan ini.


“Tuh, benar kan?” gumam Rania. Ia tidak bisa login ke halaman media sosialnya. Karena akun yang ia maksud tidak ditemukan.


“Hah… Padahal itu bisa menjadi bukti dan petunjuk,” keluhnya.


Sepertinya ia harus menggali informasi lebih banyak lagi. Ia juga harus meminjam buku sejarah Rumania itu pada Bu Beva, sang penjaga perpustakaan.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


“Dokter, bisakah warna mata seseorang berubah?” tanya Rania ketika visit dokter pagi hari. Saat itu ayah dan ibunya sedang sibuk mengurus administrasi, sementara kedua saudaranya telah pulang.


“Secara medis bisa. Kenapa?” tanya dokter Maria.


“Seingatku, dulu warna mataku tidak seperti ini,” ucap Rania. “Lebih tepatnya dahulu warna mataku tidak coklat,” sambungnya dalam hati.


“Apa kamu memiliki penyakit genetik serius?” tanya dokter itu.


“Tidak,” jawab Rania.


“Kalau begitu, apakah kamu mengalami perubahan pola makan ekstrim?” tanya dokter Maria lagi.


“Tidak juga,” jawab Rania.


“Kalau begitu tidak mungkin warna matamu bisa berubah,” jawab dokter Maria.


“Maaf, dokter. Sudah menyita waktu Anda,” ucap Rania.


“Tidak apa-apa, Nak.”


“Jika memang begitu, pasti ada Rania lain selain diriku. Atau semua ini hanya tipuan,” gumam Rania setelah dokter Maria pergi.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi..


__ADS_2