
“Memang benar akan ada seleksi internal OSN, Rania. Tetapi nama kamu tidak ada dalam daftar calon peserta,” ucap Bu Karnanik ketus. Ia adalah ketua tim OSN tingkat sekolah.
“Bukannya saya menjadi kandidat bidang studi Biologi, Bu?” tanya Rania bingung.
Salah seorang siswa kelas satu mengatakan bahwa ia dipanggil guru pembina olimpiade. Jika tidak, mana berani ia menemui Bu Nanik seperti saat ini.
“Mulanya iya. Tetapi mengingat keadaanmu yang kurang baik, akhirnya kami sepakat untuk menukarnya. Kamu harus sadar, bukan kamu saja yang memiliki potensi dan kesempatan di sekolah ini,” jelas Bu Karnanik lagi.
“Begitu, ya Bu. Apakah saya boleh tahu siapa saja pesertanya, Bu?” ucap Rania kecewa.
“Aiden, Novita Sari dan Anjani Sulaiman,” jawab Bu Karnanik.
“Anjani?” batin Rania terkejut. Mengapa kemarin dia tidak mengatakan apa pun waktu mengunjunginya di rumah sakit.
“Berarti mereka bertiga yang diusulkan oleh para guru?” gumam Rania.
“Tidak juga. Yang diusulkan guru hanya Aiden dan Novita Sari. Kalau Anjani mengusulkan dirinya sebagai penggantimu,” jelas Bu Karnanik. “Sudah, kan? Ibu sibuk,” lanjut guru Biologi kelas tiga tersebut. Sikapnya memang tidak pernah ramah pada siswa.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Kenapa wajahmu lesu begitu? Kapan kalian akan tes internal?” tanya Anjani pada Rania.
“Kamu tidak ingin meminta maaf padaku?” ujar Rania ketus.
“Minta maaf?” tanya Anjani.
“Iya. Kenapa tidak kamu bilang saja kalau kamu menginginkannya. Tetapi saat itu kamu malah pura-pura mendukungku hingga aku pun jadi berharap,” kesal Rania.
“Apa maksudmu, Rania? Aku tidak mengerti?” ucap Anjani.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu, deh. Meski sahabat, aku juga bisa merasa marah dan kesal. Selamat, deh. Semoga kamu bisa sampai Bucharest dengan selamat,” ucap Rania.
"Bucharest?" Anjani bergumam dengan wajah bingung.
Alvi membisikkan sesuatu pada Anjani.
“Astaga! Yang benar? Aku saja baru tahu hal ini,” ujar Anjani
“Baru tahu? Bukannya kamu yang mengajukan diri?” ucap Rania.
“Mana mungkin,” bantah Anjani.
“Tidak usah bohong, deh. Apa mungkin seorang guru berbohong pada siswanya?” kesal Rania.
“Lalu kalau memang aku menjadi kandidat kenapa? Menurutmu aku tidak pantas?” marah Anjani. Ia kesal karena dituduh, direndahkan pula.
“Bukan begitu. Hanya saja aku kesal karena kamu tidak jujur dari awal,” balas Rania.
“Aku sudah jelaskan tapi kamu tidak percaya. Lalu aku harus apa?” teriak Anjani.
__ADS_1
“Sudah hentikan! Kalian bertengkar hanya karena olimpiade. Lalu aku yang tidak bisa apa-apa ini bagaimana? Apakah itu lebih penting dari persahabatan kita?” sela Alvi. Diantara mereka bertiga, nilai Alvi memang paling pas-pasan. Tidak remedial saja sudah bersyukur.
“Untuk saat ini biarkan aku sendiri,” ucap Rania.
“Ya sudah kalau begitu,” balas Anjani.
“Astaga…” gumam Alvi.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Bu Beva ke mana, ya?” tanya Rania pada salah seorang pegawai perpustakaan.
“Oh, beliau lagi makan siang sebentar,” jawab pegawai baru itu.
“Begitu, ya. Terima kasih.”
Rania memilih meja di salah satu tepi ruangan. Matanya memandang bebas menuju ke jendela. Hatinya masih sesak. Ini pertama kalinya ia bertengkar dengan temannya. Bagaimana nanti mereka di kelas? Mereka kan sebangku?
“Mau membaca atau melamun, nih?” tegur salah seorang siswa.
“Eh, Valen? Sejak kapan kamu datang?” ujar Rania.
“Baru saja. Ada apa, nih? Wajahmu kok terlihat murung begitu?” tanya cowok chubby itu.
Rania mengembuskan napas dalam-dalam. Lalu menatap Valen cukup lama. Ia bukanlah orang yang mudah untuk cerita masalahnya kepada siapa saja. Apalagi orang yang tidak terlalu dekat dengannya.
“Tenang. Rahasiamu aman bersamaku,” ujar Valen, memahami perasaan gadis di depannya.
"Semoga saja keputusanku ini tidak gegabah," batin Rania.
“Aku tidak ingin memihak siapa pun, Rania. Tetapi ia pasti memiliki alasan mengapa dirinya seperti itu. Terlebih ia terus mempertahankan pendapatnya,” ujar Valen hati-hati. Rania mendengarkannya tanpa menyela.
“Tetapi aku juga memahami kekecewaanmu. Pasti kamu berharap banyak di kompetisi kali ini,” lanjut Valen. “Karena semua telah terlanjur, lihat sisi positifnya. Kamu bisa beristirahat lebih lama agar tulang kakimu membaik. Dan Anjani juga memiliki pengalaman baru dalam hidupnya.”
“Tetapi aku masih kesal padanya. Kenapa ia tidak jujur saja dari awal,” sela Anjani.
“Ia pasti tidak sengaja melakukannya. Kamu pasti lebih mengenal sahabatmu dari siapa pun, kan?” balas Valen. Tak disangka, pria bertubuh gempal yang jenius ini juga memiliki sikap bijaksana.
“Kalau kamu jadi aku, apa yang kamu lakukan?” tanya Rania.
“Laki-laki dan perempuan itu berbeda. Tetapi jika aku menjadi dirimu, aku akan dukung dia sepenuhnya di dalam lomba ini. Kita lihat, sejauh mana ia mampu melaluinya. Jika ia memang berani mengajukan diri, artinya ia memiliki nyali yang besar untuk mengalahkanmu,” jawab Valen.
“Benar juga,” kata Rania.
“Bagaimana pun juga kalian itu sama. Sama-sama siswa biasa yang tidak bisa mengatur-ngatur seorang guru. Jadi menurutku, pasti ada sesuatu yang tidak beres di balik ini,” pikir Valen.
“Kok kamu lama-lama kesannya memihak dia, sih?” ujar Rania kesal.
“Nah, kan? Ini yang tidak aku pahami dari seorang wanita,” ucap Valen sambil tertawa.
__ADS_1
“Apaan, sih? Ngomong-ngomong kamu ikut serta OSN ini?” tanya Rania penasaran.
“Hmmm..." gumam Valen ragu.
"Jawab aja napa sih?" desak Rania.
"Iya, rencananya aku ikut," jawab Valen.
“Bidang apa?”
“Sudah tentu Fisika,” jawab Valen mantap.
“Iya juga, sih? Wajah kamu udah kayak sirkuit listrik gitu. Abstrak abis,” tawa Rania.
“Maksudmu? Awas dihantui para fisikawan nanti malam lho,” kata Valen.
“Gak takut, weeek. Lebih seram Nyai Kunti sama Bang Pocay,” kata Rania terbahak-bahak. Untung saja perpustakaan bukan tempat favorit bagi para siswa. Hanya ada mereka berdua pengunjung perpustakaan saat ini.
“Ngobrol denganmu ternyata seru juga, ya,” ucap Rania kemudian.
“Emang. Baru tahu, ya? Kalian para cewek selalu melirik ke arah Mikko yang wajahnya kayak boyband, sih. Padahal aku nggak kalah cakep, lho,” kata Valen.
Untung saja bel segera berbunyi. Kalau tidak, Rania pasti sudah mengeluarkan kata-kata ‘mutiara’ pada Valen yang terlalu kepedean.
“Yah, gagal deh pinjam buku kemarin sama Bu Beva,” gumam Rania. Padahal tujuan utamanya ke perpustakaan adalah ingin memninjam buku sejarah Rumania kemarin.
“Ehem! Lemes banget kayak bayam masuk piring pecel. Lagi berantem, ya?” kata Qiandra.
“Ya ampun. Udah emosi sedang di ubun-ubun, malah ketemu nenek lampir di sini. Tahu dari mana kalau aku lagi bertengkar?” ucap Rania. Ia tak percaya berjalan beriring dengan musuh bebuyutannya ke kelas.
“Tahu aja. Kalian kan biasanya kemana-mana bertiga. Gimana rasanya dihianati teman?” ucap Qiandra.
“Kenapa tanya-tanya? Gak usah sok peduli kalau cuma ingin mentertawakanku,” kata Rania.
“Aku memang hanya ingin mentertawakanmu, kok. Turut berbela sungkawa, ya. Oh iya. Aku sangat berterima kasih pada murid kelas satu yang penakut tadi,” kata Qiandra sambil mendahului Rania yang sudah ingin menjambak rambutnya.
"Murid kelas satu?" gumam Rania. "Ah, jadi begitu? pantas saja ada yang aneh tadi," ucapnya kemudian.
“Ah, akhirnya aku harus berhadapan lagi dengan Anjani,” keluh Rania di depan pintu kelas. Ia malu plus kesal pada sahabatnya itu.
“Mau tukar tempat duduk denganku?” ucap Alvi dengan Bahasa isyarat.
“Tidak usah,” balas Rania dengan Bahasa isyarat juga. Sementara Anjani tampak membuang wajahnya.
“Duh, bakalan berat, nih,” gumam Rania. Mau tidak mau ia pun duduk di kursinya, tepat di sebelah Anjani. Selama beberapa jam kemudian, keduanya pun dilanda musim dingin yang berkepanjangan.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi
__ADS_1